Serakahnya Keluarga Suamiku

Serakahnya Keluarga Suamiku
Terbongkarnya Kehamilan Ibu Mertua


__ADS_3

Mengingat rumah sakit yang begitu jauh, Mas Dimas mengambil jalan pintas, ibu mertua kami bawa ke Puskesmas terdekat.


Ibu mertua sudah dimasukkan di ruang pemeriksaan dari tadi.


"keluarga Ibu Rossa,"Panggil seorang petugas medis! aku dan Mas Galih berdiri bersamaan. berjalan beriringan menghampiri Seorang perawat wanita yang baru saja memanggil kami.


"Anda berdua keluarga pasien yang bernama Ibu Rossa?" tanya perawat wanita itu.


"Ya sus! Aku anaknya, dan Ini istriku." tunjuk Mas Galih padaku.


"Apa ibuku baik-baik saja, ataukah Ibuku mengidap penyakit yang berbahaya?" tanya Mas Galih beruntun. perawat wanita itu menanggapi pertanyaan Mas Galih dengan senyum manis.


"Anda tidak perlu khawatir Pak. ibu anda dalam keadaan baik-baik saja.untuk mengetahui informasi yang selengkapnya, lebih baik bapak dan ibu masuk ke dalam, agar Dokter yang memeriksa Ibu Rossa yang menjelaskan dengan sedetail-detailnya pada Ibu dan Bapak." ucap sang perawat ramah.


Aku dan Mas Galih mengekori perawat cantik itu dari belakang.kami di persilahkan duduk di kursi yang yang tersedia di ruangan ini.ku lihat ibu mertua yang masih berbaring di atas tempat tidur, dia memperbaiki pakaiannya yang menyingkap ke atas,ketika melihat aku dan Mas galih..


"Nggak usah tegang begitu Pak." ucap seorang wanita cantik, yang baru saja selesai memeriksa Keadaan ibu mertua, dia membuka sarung tangan yang dipakainya lalu membuangnya di tempat sampah yang terletak di balik pintu ruangan itu.


"Kenalkan Pak, Bu, Saya dokter Risa," wanita yang baru saja mengenalkan namanya itu mengulurkan tangannya kepadaku dan Mas Galih.


"Ibuku sakit apa Dok?" rupanya Mas Galih sudah tidak tahan untuk menanyakan perihal Penyakit apa yang diderita ibunya, sehingga sampai pingsan seperti tadi.


"Ibu anda tidak sakit apa-apa pak," jawab dokter Risa ramah sambil meletakkan pulpen yang dia pegang di atas tumpukan kertas yang berada di atas meja. dokter muda ini memperhatikan aku dan Mas Galih bergantian.

__ADS_1


"kalau bukan sakit terus apa Dok, apa di lemah jantung? tadi di rumah, beliau pingsan makanya kami membawanya ke sini." aku hanya diam menyimak pembicaraan dokter Risa dan Mas Galih.


"Apa Ayah Anda masih ada Pak?" tanya dokter Risa.


"Iya Dokter, Ayahku masih ada. tapi Apa kaitannya ada dan tidak adanya Ayahku dengan pingsannya ibuku?" dokter Risa melebarkan senyumannya mendengar jawaban dari Mas Galih.


"Ya jelas ada kaitannya dong Pak, jika tidak ada ayahmu yang bekerja keras bersama ibumu, maka tidak terbentuk Adikmu yang sekarang berada di dalam kandungan ibumu." ucap dokter Risa tenang.


"Maksud dokter bagaimana? aku tidak mengerti."


"Begini Pak... "dokter Risa menggantung ucapannya. "Galih, Namaku Galih dok.jawab mas Galih cepat. "Begini Pak Galih, ibu anda sekarang sedang mengandung 9 Minggu, dan Anda harus bersyukur karena di umurnya yang sekarang, beliau masih bisa mengandung, dan ini mukjizat loh pak, hanya satu satu orang yang bisa hamil di umur yang sudah 50-an, dan salah satunya adalah ibu anda, aku yakin ayahmu pasti senang mendengar kabar bahagia ini." ucap dokter Risa semangat.


Berbanding terbalik dengan suamiku, muka Mas Galih langsung pucat Pasih, kulihat ke arah tempat tidur di mana ibu mertua sedang berbaring, tadi kulihat matanya masih melek, tapi sekarang matanya sudah tertutup, Aku yakin dia hanya berpura-pura tidur untuk mengurangi rasa Gugup dan takutnya.


"Iya Pak Galih, seperti yang aku bilang tadi. ibu anda sekarang sedang mengandung 9 Minggu, tolong jaga kandungannya ya pak, bilang sama ayahmu agar tidak boleh membuat ibu anda stres, karena sangat berbahaya sekali bagi orang yang sedang hamil muda, stres juga mengakibatkan kandungan keguguran, mengingat Ibu Rossa yang sudah berumur, aku yakin ayahmu Pasti sangat mengerti." jelas dokter Risa panjang lebar.


"Bagaimana Bu? ada yang perlu Ibu tanyakan juga? kulihat dari tadi ibu terus diam, hanya bapak saja yang banyak bertanya." kini pertanyaan dokter Risa Tertuju Padaku.


"Enggak apa-apa dokter, aku rasa Mas Galih lebih berhak bertanya pada dokter karena yang mengandung sekarang adalah ibunya bukan Ibuku."jawabku enteng tanpa beban. dokter Risa menyerngitkan dahinya, bingung mendengar jawabanku. Mas Galih menatapku dengan tatapan yang entahlah, Aku tidak tahu apa arti dari tatapan itu. aku berdoa dalam hati, semoga dokter Risa tidak bertanya macam-macam lagi.


"Aku pamit duluan pulang ya Dok, kasihan anakku yang masih bayi, tadi aku titipkan sama Tantenya," setelah dipersilahkan pulang oleh dokter Risa, aku langsung keluar ruangan tanpa pamit pada masa Galih dan ibu mertua.


Segera aku pesan ojek online, agar segera sampai di rumah, Aku tidak yakin dengan Rena. apa Dia betul-betul menjaga anakku atau tidak.

__ADS_1


Tidak sampai 10 menit, aku sudah tiba di rumah. dugaanku benar, Abi menangis kencang suaranya kedengaran sampai luar pagar rumah. cepat-cepat aku membayar tukang ojek tanpa menunggu kembaliannya.


"kembaliannya Bu." teriak Kang ojek. "Buat Akang saja." Aku balik berteriak pada tukang ojek, lalu berjalan sedikit berlari masuk ke dalam rumah.


Rena tersentak kaget dengan kedatanganku. Dia baringkan anakku yang sedang menangis histeris di atas sofa di sampingnya, dirinya tidak peduli seolah-olah tidak mendengar tangis bayi yang berada di sampingnya. tangannya terus saja mengkotak-katik HP. kuraih anakku dan kutenangkan dirinya dengan memberikan ASI padanya.


"Jika kau tidak mau menjaga anakku, bilang supaya aku membawanya ikut bersamaku ke Puskesmas, jangan sok-sokan mengiyakan permintaan kakakmu, dan bersedia menjaga anakku, tapi buktinya kau biarkan anakku menangis sampai kedua matanya memerah dan membengkak seperti ini," teriakku pada Rena dengan muka merah padam menahan amarah, aku sangat jengkel dengan kelakuan adik iparku itu!


Aku berjalan menuju ke dapur mengecek botol susu anakku, Apakah dia memberi susu kepada Abi atau tidak. dadaku kembali bergemuruh, amarah ku kian menjadi, ternyata Rena membiarkan anakku kehausan hingga beberapa jam, buktinya botol susu masih bersih tersimpan rapi di atas rak piring.


Aku kembali mendekati Rena di ruang tamu, ku bawa serta Abi yang mulutnya masih menempel ketat di payudaraku.


"Apa maksudmu tidak memberikan ASI kepada Abi, Rena? atau kau sengaja ingin membunuh anakku dengan menyiksanya menangis hingga tenggorokannya kering? atau nafasnya putus?" cecarku pada Rena.


Rena gelagapan, "itu Mbak, anu mbak," ucapnya gugup.


"Itu mbak, anu mbak, bicara yang jelas." ucapku tertahan.


"Aku tidak melihat, di mana Mbak meletakkan susunya, sudah kucari ke mana-mana Tapi tidak ku temui." jawab Rena lancar.


Dasar tukang bohong, jelas-jelas aku menyimpan susu di atas meja makan, sengaja kusimpan di sana, supaya Siapa saja yang ku minta tolong untuk membuat susu Abi, mereka tidak kewalahan untuk mencari kemana-mana karena, kadang aku menyuruh Mas Galih yang membuatkan susu untuk anaknya.


"Jika aku tidak cepat pulang, maka anakku sudah meregang nyawa, dan sebuah toples sedang yang tersimpan di atas meja makan di dapur sana, dengan tulisan susu formula di samping kiri kanannya, akan tertawa terbahak-bahak, bila benda mati itu bisa berbicara, dia akan menyatakan kepadamu seperti ini, dasar tukang penipu!" setelah berbicara seperti itu, aku langsung melenggang masuk menuju kamarku, tidak lupa kusematkan senyum mengejek pada adik iparku itu.

__ADS_1


__ADS_2