
"Mari kita sama-sama mendengarkan apa isi rekaman dalam HP itu".ucapku menjawab rasa penasaran mereka, sambil menunjukan HP yang sudah ku letakkan di atas meja.Dengan gerakan kilat ku tekan tombol play yang berada di layar HP,
"Iya sudah tante, jadi tante Kapan mentransfer uangnya, kalau enggak, Aku tidak mau lagi jadi simpanan tante! masih ada tante-tante yang lain yang lebih cantik, lebih kaya, yang ingin merasakan tubuhku juga!"
Mas Galih dan Rena menatapku dengan tatapan bingung! aku mengisyaratkan kepada mereka, untuk tetap mendengar kelanjutan percakapan di dalam HP yang sudah aku rekam itu!
"Pelankan suaramu Sayang, jangan coba-coba mengancam tante! tante akan berusaha mentransfer uang untukmu secepatnya!"
"Loh, Itu kan suara ibu!" ucap Mas Galih dan Rena berbarengan sambil menatap ibu mereka! kulihat ibu mertua sangat ketakutan. getaran tubuhnya sangat kentara sampai baju-baju yang dia kenakan pun ikut bergetar!
"Oke Tante sayang, aku pegang janjimu!"
"Apa maksud semua ini Runi?" tanya Mas Galih padaku!
"Iya, apa maksud semua ini Mbak Runi?" belum Aku menjawab pertanyaan Mas Galih, Rena juga sudah ikut geregetan menanyakan hal yang sama!
"Jadi Setelah kalian mendengar semua itu pun, kalian belum mengerti-Mengerti saja? tanyakan saja pada ibu kalian, biar dia yang menjelaskan semuanya pada kalian berdua. dan untukmu ibu mertua tersayang, Jika kamu bilang ini adalah fitnah, maka sekarang juga aku menyeretmu ke rumah sakit atau puskesmas terdekat, Biar apa yang kau sembunyikan selama ini dari kedua anakmu, terbongkar hari ini juga."
"Ibu tolong katakan padaku,bilang bahwa apa yang aku dengar tadi dari mulut Runi dan rekaman tadi adalah fitnahkan?" ucap Mas Galih pelan.
Ibu mertua hanya menunduk, tidak mampu menjawab pertanyaan anaknya! aku tersenyum remeh menatap mereka bertiga satu per satu!
"Tolong jelaskan pada mereka berdua, kalau enggak, biar aku saja yang menjelaskan untuk kedua anak ibu!"
__ADS_1
"Jadi selama ini, uang gaji yang aku berikan pada ibu, Ibu gunakan buat menyewa lelaki untuk memuaskan hasrat ibu?" tanya Mas Galih dengan suara lemah. sedangkan, Rena hanya diam mematung di tempat.
"Galih maafkan Ibu nak, ibu kilaf," ucap ibu mertua dengan suara gemetar menahan takut dan Tangis. beliau mencoba menggapai tangan mas Galih, tapi ditepis kasar oleh Anaknya, sebelum tangan tua itu benar-benar memegangnya.
"Dan satu lagi Bu, aku hampir lupa! apa Maksud Runi ingin menyeret mu ke rumah sakit, rahasia apa yang Ibu sembunyikan dari kami? apa Ibu terkena penyakit AIDS karena kebanyakan berhubungan seksual dengan sembarang orang tanpa memakai pengaman?." tanya Mas Galih lagi pada ibunya.
"Ibu tidak terkena penyakit apapun Galih.dan juga tidak berhubungan badan dengan sembarang kelaki" ucap lemas Ibu mertua.
"Terus rahasia apa yang ibu sembunyikan?" teriak Mas Galih membentak ibunya.
"I..ibu tidak menyembunyikan apa-apa dari kalian berdua.seperti yang kalian tau,Istrimu itu memfitnah ibu.."ucap ibu mertua mengelak.
"Betul itu mas, bisa saja Mbak Runi merekayasa itu semua, dengan bersekongkol dengan orang lain lalu merekamnya seolah-olah ibu yang sedang melakukan pembicaraan itu." Rena yang dari tadi diam ikut menimbrung pembicaraan antara kaka dan ibunya.
Mas Galih kembali menatapku tajam."Kali ini aku benar-benar tidak memaafkanmu Runi..Rena hubungi kantor polisi sekarang juga." titah Mas Galih pada Adik iparku."Dan seperti janji yang kita sepakati tadi,Rumah beserta Isinya menjadi hak milikku, termasuk hak asuh Abi jatuh ke tanganku."ucap Mas Galih tidak berperasa'an dan juga tidak tau Malu.
"Tunggu dulu mas." ucapku dengan suara bergetar.bukan bergetar karna takut, tapi bergetar karena menahan emosi dan sakit hati.
"Ada apa lagi Runi. jangan buang-buang waktu. jangan bilang kau menyesal, dan membatalkan semua perjanjian yang kita sepakati tadi." Mas Galih menatapku dengan senyum remeh.
"Baiklah, kalau kalian semua bilang aku yang merekayasa rekaman itu untuk menjatuhkan ibu. tapi sebelum kalian memanggil polisi, tolong hubungi juga seorang dokter kandungan untuk memeriksa ibumu." ucap ku sambil terus menunduk, Aku tidak mau menatap Ketiga orang munafik yang sedang duduk di hadapanku ini.
"Apa hubungannya dengan dokter kandungan? jangan berusaha mengelak terus deh Runi! aku sudah muak mendengar bualanmu terus-menerus dari tadi! cepat Rena, hubungi kantor polisi sekarang juga." titah Mas Galih sekali lagi pada adiknya. ibu mertua yang tadi sudah tenang kembali gemetar dengan keringat bermunculan di sekitar wajah sebesar biji jagung.
__ADS_1
"Ibumu sedang bunting! bunting diluar nikah dengan seorang bocah remaja seumuran Rena." teriakku lantang.
"Mas dan Rena sendiri kan dengar tadi, ibu menyatakan bahwa dirinya khilaf melakukan semua itu. Apa itu belum membuktikan bahwa yang berbicara dalam rekaman di dalam HP itu adalah ibu? gimana kalau kita sama-sama ke Puskesmas atau rumah sakit, memeriksakan kandungan ibu untuk membuktikan, bahwa aku tidak memfitnah siapapun di sini."
Ibu mertua hampir jatuh mendengar teriakanku, jika seandainya Mas Galih tidak menahan nya. sedangkan Rena diam mematung ditempat, Mungkin dia tidak berpikir bahwa aku bisa mengeluarkan kata-kata sekasar itu pada ibunya. kata-kata "bunting" yang seharusnya digunakan hanya untuk binatang. tapi mau bagaimana lagi, Aku sudah sangat emosi melihat tingkah ketiga orang ini.
"Bagaimana Mas? coba tanyakan pada ibu, apa dia bersedia kita membawanya ke rumah sakit? Jangan pikirkan tentang biaya taksi dan biaya rumah sakit, karena aku sendiri yang akan membayarnya nanti." ucapku lagi sambil mengambil hp-ku yang tadi kuletakkan di atas meja!
"Ibu pingsan Mas." teriak Rena pada mas Galih! mas galih tersentak mendengar teriakan adiknya, ibu yang masih berada dalam pelukannya, dengan sigap dia menidurkan nya di sofa.
"Rena, cepat ambil minyak kayu putih." titahku pada adik iparku.semarah-marahnya aku, tapi aku masih mempunyai hati Nurani.
Rena beranjak masuk ke dalam kamar dengan sedikit berlari, beberapa saat kemudian dia kembali membawa minyak kayu putih yang aku minta! aku mendekati ibu mertua, lalu mengoleskan minyak itu di pelipis dan juga hidungnya. dengan pelan aku memijat kaki dan tangan ibu mertua bergantian.
"Mas, tolong pesankan taksi biar kita bawa ibu ke rumah sakit sekalian." pintaku pada mas Galih.
Tanpa banyak bicara, Mas Galih mengikuti perintahku! dia mengambil hp yang berada dalam saku celananya lalu mengotak-atik benda pipih itu, kemudian memasukkannya kembali ke dalam saku nya.
Hampir sekitar 20 menit, ibu mertua belum sadar-sadar juga. taxi yang dipesan mas Galih, pun sudah tiba di rumah! tidak buang-buang waktu, kami segera membawa ibu ke rumah sakit.
"Jika terjadi sesuatu pada ibuku, maka aku tidak akan membiarkan mu hidup tenang! aku akan menuntutmu Runi." ucap mas Galih mengancam, sambil mengacungkan jari telunjuk padaku.
Aku sama sekali tidak gentar dengan ancaman mas Galih
__ADS_1
"Jangan coba-coba mengancam ku mas, tenang saja! tidak akan terjadi apa-apa sama ibu." ucap ku tanpa raut bersalah sama sekali.
Mas Galih bungkam, dia tidak merespon lagi dengan ucapanku! kami sama-sama terdiam tidak berbicara satu patah kata pun, hingga tiba di rumah sakit.