
Ibu Mas Galih menghampiriku dan menjambak Rambutku dengan kuat.
"Dasar wanita sialan, wanita bi*dab, Apa yang kau berikan pada Galih, sehingga anakku menentang ku seperti ini."
Aku merasakan rambutku banyak yang rontok. kulit kepalaku perih seperti disiram dengan air cabe.
Mas Galih berusaha melerai tangan ibunya. tetapi rupanya wanita tua sinting ini kuat sekali tenaganya.
"Rena! cepat kesini, tolong bantu mas melepaskan tangan Ibu dari mbakmu!" Pinta Mas Galih pada adiknya yang sedang bermain ponsel.
Dia seperti tidak sibuk dengan apa yang sedang terjadi di ruang tamu ini.
"Biarin aja lah Mas, kalau ibu sudah puas, pasti ibu akan melepaskan rambut Mbak Runi." Jawab adik iparku enteng.
"Lepaskan rambut Runi Bu, bisa luka kepalanya, kalau ibu terus-terusan menjambak rambutnya seperti ini. lihat telapak tangan Ibu sudah penuh dengan rambut istriku!"
"Lepaskan Galih, bila perlu aku akan membuat wanita sialan ini botak sekalian."
"Kurasakan Rambutku satu persatu tercabut dari akarnya. karena sudah tidak bisa tahan sakit, aku langsung mendorong nenek tua itu sekuat tenaga. kulihat ibu mertua jatuh telentang di atas lantai.
Ya ampun Apakah itu rambutku. Aku meraba kepalaku dan melihat banyak rambut bertebaran di lantai, dan banyak sekali di genggaman tangan wanita tua itu. aku memandangnya penuh amarah, darahku sudah naik di ubun-ubun, berani-beraninya Dia berbuat seperti ini padaku.
Jika Mas Galih tidak menghalangiku, Aku Hendak menghampirinya dan menginjak perut yang agak berlemak itu hingga kempes.
"Lepaskan Mas, aku ingin memberi pelajaran pada Ibumu itu." aku berteriak kepada mas Galih untuk melepaskanku.
"Sudahlah Run, dia orang tua tidak boleh kau berbuat seperti itu padanya."kata mas Galih padaku!
"Oh begitu ya Mas! karena dia orang tua, aku tidak boleh melakukan hal yang sama, seperti dia lakukan untukku?" aku menghempas kuat tangan mas Galih. lalu berjalan masuk ke kamar dan membanting pintu dengan sangat kuat, tidak kuhiraukan anakku yang sedang tidur lelap.
Pagi-pagi sekali aku keluar dari kamar hendak menjemur pakaian Abi. aku lihat ibu mertua keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi dan dandanan menor seperti biasa. Dia melihatku dengan amarah yang masih sangat besar.
"Runi berilah Ibu uang." Ibu mertua menengadahkan sebelah tangan padaku, dan sebelah tangan yang satu lagi, mencakar pinggangnya.
__ADS_1
"Aku nggak punya uang Bu," jawabku cuek.
"Alah jangan banyak membual kamu, kan gaji Galih sekarang Kamu yang pegang."
"Ibu lupa ya! seminggu yang lalu, Mas Galih baru memberikan gajinya pada ibu. Ibu juga tahu sendiri, tanggal berapa Mas Galih menerima gajinya. Lagian aku heran sama ibu, uang sebanyak itu kok habisnya tidak sampai seminggu,"
"Itu urusanku! mau habis dalam seminggu kek, sehari kek, uang yang aku pake,uang anakku, bukan uangmu!"
"Iya! terserah Ibu deh, Tapi tolong jangan minta-minta uang padaku!"
Aku langsung berjalan meninggalkan ibu, yang masih saja dengan keinginannya, meminta uang padaku! lama-lama Aku bisa gila, menghadapi ibu mertua seperti ibunya Mas Galih. kelakuannya Semakin Hari, Semakin menjadi, hanya uang dan uang yang ada di isi otaknya!
Selesai dengan acara menjemur pakaian, aku kembali masuk ke dalam rumah.
"Mbak Nuri minta uang taksinya dong,"
Ada apa ini? Tidak ibu tidak anak, semuanya sama.
"Aku nggak punya uang Rena, kenapa nggak minta saja sama Ibu?"
Aku memijit kedua alisku bergantian. mimpi apa aku semalam Ya Tuhan!!!
Karena tidak mau urusannya makin panjang, aku merogoh saku dasterku, dan mengeluarkan uang Rp20.000 dari sana, lalu kuberikan uang itu kepada Rena.
"Kok cuma Rp20.000 Mbak," protes Rena padaku.
"Itu uang taximu pulang pergi."
"Tidak bisa begitu dong,"
Aku tidak menghiraukan teriakannya, langsung saja Aku menuju kamar hendak memandikan Abi, dan Mengantarkab anakku ke posyandu, karena hari ini jadwal Abi imunisasi!
Aku kembali dari Puskesmas, setelah Abi mendapatkan imunisasi. Ku setop taksi yang kunaiki, dan berhenti di depan supermarket, tempat biasa aku belanja kebutuhan ku dan anakku.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam supermarket, dan membeli beberapa dus susu untuk Abi, dan juga keperluan lainnya. Setelah membayar semuanya, aku berjalan keluar hendak kembali ke rumah, sekilas aku melihat seperti ibu dan seorang lelaki muda yang mungkin seumuran Rena, sedang bercengkrama di cafe seberang ,yang berhadapan langsung dengan supermarket.
Kutajamkan lagi tatapanku, siapa tahu aku salah melihat kan? tapi betul itu memang ibu mertuaku,tapi siapa lelaki muda itu? karena jiwa Kepo ku yang terlalu tinggi, Ingin sekali aku tahu siapa laki-laki muda yang ada bersama ibu itu.
Tidak sia-sia Aku berusaha sampai di kafe ini. jika orang yang melihat Aku menyerang tadi, pasti dikiranya aku orang gila. sebelah tangan menentang sebuah kantong plastik besar, sebelah tangan lagi menahan Abi, agar tetap aman dalam gendongan! kujepit payung dengan leher dan lengan ku, agar tidak terjatuh dan tetap menaungi anakku.
Kutinggalkan semua barang-barang ku diluar yang kurasa cukup aman, lalu aku berjalan memasuki kafe ini, seolah-olah tidak melihat ibu mertua! aku akan melihat reaksinya seperti apa, jika melihatku di tempat yang sama dengannya.
Aku lihat meja yang dekat dengan mereka kosong. langsung saja ku ambil tempat di sana. aku memanggil pelayan dengan suara yang cukup keras. tidak sibuk dengan orang-orang yang melihatku dengan tatapan aneh.
Berhasil! ibu mertua menoleh ke arahku, seketika itu juga, matanya terbelalak seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan. kurasa Dia sangat syok, dengan keberadaan Ku Disini.
"Ada apa Tante? Kenapa tante ketakutan melihat Kakak itu?ekspresi muka tante seperti sedang melihat hantu saja! apa tante kenal dengan kakak itu?" pemuda itu menunjuk ku sambil bertanya kepada ibu mertua.
"Nggak sayang, Si..siapa bilang tante takut padanya? kenal juga tidak,"
Ck! katanya tidak kenal, tapi menjawab pertanyaan bocah itu saja, sampai gugup setengah mampus!
"Ya sudah Tante, jadi tante Kapan mentransfer uangnya? kalau enggak, Aku tidak mau lagi jadi simpanan tante! masih ada tante-tante yang lain, yang lebih cantik, lebih kaya, yang ingin merasakan tubuhku juga!" Ucap pemuda itu mengancam.
Jantungku hampir copot dibuatnya. pendengaranku tidak salah kan ,Jadi selama ini, ibu mertua menghabiskan banyak uang, hanya demi membeli berondong, untuk memuaskan nafsunya.
Pantas saja, setiap pagi beliau keluar dari rumah dengan pakaian rapih, dan berdandan sangat menor, karena gara-gara ini.
"Pelankan suaramu sayang! jangan coba-coba mengancam tante! tante akan berusaha mentransfer uang untukmu secepatnya!"
"Oke Tante sayang, aku pegang janjimu." ucap pemuda tampan itu, lalu mengambil tangan mertuaku, dan mengecupnya mesra!
Ya Tuhan ternyata ini kelakuan ibu yang sebenarnya. pantasan belum sampai seminggu, uang yang hampir 10 juta habis dalam sekejap. rupanya uang itu ibu mertua gunakan untuk membeli k*n*o*
Setelah aku mendengar semuanya dengan Cukup jelas, tidak lupa aku mematikan rekaman HP yang sengaja aku aktifkan, sebelum duduk di meja dekat ibu mertua dan brondongnya.
Segera kubayar makananku, dan melenggang keluar bersama anakku dari kafe itu! tidak lupa kuambil kembali barang-barangku yang tadi sempat ku simpan,
Kali ini aku tidak berjalan kaki, melihat belanjaanku yang lumayan banyak, aku memesan ojek online. tidak kuhiraukan ibu mertua yang terus menatapku dari tadi, Ketika aku bersama Abi keluar dari dalam Cafe!
__ADS_1