
"Kok terlambat pulangnya Mas," Aku menegur suamiku yang baru pulang! pasalnya ini sudah jam setengah delapan malam, Mas Galih baru tiba di rumah.
"Iya Run, Hari ini aku lembur. di meja dapur aku melihat banyak barang, kata Rena itu belanjaan kamu Run, Apa itu benar?"Tanya Mas Galih padaku!
"Oh,,, iya Mas! itu memang barang belanjaanku, uang yang kemarin Mas kasih, aku gunakan untuk beli bahan-bahan kue, Rencananya aku mau jualan kue kering. Siapa tahu laku, itung-itung membantu keuangan keluarga kita."
Mas Galih sepertinya tidak suka dengan rencana ku ini, dilihat dari raut wajahnya yang berubah masam.
"Kenapa kamu harus jualan Run, Terus bagaimana dengan Abi, Siapa yang memperhatikannya jika kamu sudah sibuk dengan jualan mu itu,"
"Soal Abi, Mas Jangan risau."
"Tidak risau Bagaimana Run? anak kita itu masih sangat kecil, dia masih butuh perhatianmu penuh."Suara Maa Galih meninggi, aku akui Mas Galih memang benar-benar sangat menyayangi Putra kami.
"Kan sudah aku bilang Mas, jangan kuatir tentang Abi, aku tahu jam kerjaku Kapan, dan waktu untuk anakku kapan, aku sudah memikirkan itu matang-matang, makanya aku berani melakukan pekerjaan ini. Lagian pekerjaannya tidak berat-berat amat, hanya membuat kue kering, bukan mengangkat alat berat."
"Tapi mas sudah janji pada Run, Mulai bulan depan, seluruh gajiku, akan Kuserahkan untukmu, aku rasa, gajiku lebih dari cukup untuk kebutuhan keluarga kita, termasuk kebutuhan ibu dan Rena."
"Kita hidup itu terus maju Mas, bukan mundur, anak kita makin hari makin besar, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai simpanan, jika aku membiarkan mas sendiri yang bekerja, dan hanya mengharapkan gaji Mas, tidak akan ada sisa uang untuk kita simpan, apalagi gaya hidup ibumu yang bersosialita."
"Terserah kamu deh Run, kalau memang menurutmu itu yang terbaik,!" ucap Mas Galih pasrah.
Aku yakin Mas Galih kecewa dengan keputusanku ini! tapi mau bagaimana lagi, jika aku menuruti kemauan Mas Galih, dan membatalkan semua usahaku, mereka pasti akan curiga!
Karena rencananya, setelah dua atau tiga bulan menjalankan misi jualan kue ku ini, aku ingin membeli sebuah sepeda motor, capek juga jika harus kemana-mana terus berjalan kaki, atau menunggu angkot yang kadang lewat depan rumah, dan kadang juga tidak.
Sebenarnya tanpa menjual kue keringpun, jangankan motor, mobil mewahpun mampu aku beli.tapi ya,itu!tiga orang itu pasti curiga aku dapat uang dari mana,jual dirikah?maka dari itu aku beralasan berjualan kue!
Ingin sekali aku menceritakan apa yang aku lihat tadi siang di cafe untuk Mas Galih, tapi kuurungkan Niatku, tiba-tiba muncul sebuah ide yang cemerlang di otakku. untuk sementara, aku tidak menceritakan dulu kelakuan ibu di luar sana untuk suamiku! jika ibu mertua merundung ku lagi, maka aku akan mengancam dengan melaporkan kebejatan nya untuk Mas Galih. pintar Kak aku?
"Kenapa kamu senyum senyum sendiri Run?" tegur Mas Galih membuyarkan lamunanku.
"Aku sedang memikirkanmu Mas, akhir-akhir ini, Suamiku tambah ganteng dan tambah perhatian ya sama aku!" gombalku padanya.
"Memang seharusnya begitu kan sayang? seorang suami harus merhatiin istrinya. dan soal kamu bilang ganteng tadi aku sangat berterima kasih sekali loh Run, dari semenjak kita menikah, Baru kali ini kamu memuji kegantengan suamimu ini"
Memang suamiku ini termasuk ganteng, tapi aku enggan mengakuinya.
__ADS_1
"Mas sudah makan?"Aku menyudahi gombal menggombalnya.
"Sudah di kantor tadi Run."
Syukurlah! jadi aku tidak capek lagi untuk menyiapkan makanan untuk kedua kalinya. tadi memang sudah ku simpan makanan, untuk suamiku, tapi sudah di sikat habis sama ibu mertua dan adik iparku.
Aku tidak mau banyak bicara, karena tidak ingin mencari masalah. sudah ku pikirkan tadi, jika Suamiku belum makan, maka aku aku akan ke warung depan rumah cepat-cepat membeli sebungkus nasi di sana.
"Ya sudah mas,kalau begitu cepat mandi sana,habis itu istirahat."perintahku pada mas Galih.
"Kamu sudah mau tidur Run?" tanya Mas Galih ketika melihat Aku hendak membaringkan diriku di samping Abi!
"Iya Mas! Memang apalagi? ini sudah jam tidur!
"Masa nifas mu sudah habiskan sayang?"
Aku sudah tahu pertanyaan mas Galih itu hendak menjurus ke mana.
"Sudah Mas! Kenapa Mas menanyakan itu?"
---------
3.30 subuh aku sudah bangun! Mulai dengan pekerjaan baru, yaitu membuat kue! semua alat-alat aku memang lengkap! karena dulu sebelum ibu mertua dan adik ipar ku masuk ke rumah ini, aku sering melakukan pekerjaan ini! Membuat bermacam-macam kue kering, untuk cemilan di rumah!
Setelah sekian lama tidak melakukan kegiatan itu, kini aku mulai kembali membuat kue kering, bukan untuk cemilan dirumah, melainkan untuk dijual!
Selesai membuat adonan dan mencetak kue kering, proses selanjutnya adalah memanggang! Beberapa jam kemudian, inilah hasilnya!
Untuk pemula aku hanya membuat 5 toples dulu, akan aku titipkan di kios-kios terdekat sini. aku juga mengambil beberapa gambar kue kering ku, menguploadnya di media sosial beserta alamat lengkap, siapa tahu ada yang minat kan?
Mas Galih menghampiriku, membawa Abi yang sudah bangun dalam gendongannya!
"Sudah selesai Run? cepat amat, Memangnya kamu bangun jam berapa sayang?" tanya Mas Galih padaku.
"Mas nggak perlu tahu aku bangunnya jam berapa , cukup tau semuanya beres oke?"
__ADS_1
"Ada sisanya buat makan nggak Run! tanya Mas Galih lagi!
"Ada kok, malah aku sudah nyiapin punya Mas di Tupperware, untuk Mas bawa ke kantor! tuh di atas meja."
Mas Galih mencomot kue satu di dalam toples, lalu mengisinya ke dalam mulutnya.
"Kue kering buatan Istriku memang selalu enak!" puji Mas Galih padaku.
Beberapa saat kemudian, muncul adik iparku Rena dari kamarnya! Hendak kemana dia pagi-pagi begini?
"Wah banyak kue kering nih, Siapa yang buat? boleh aku mencicipi satu?"
"Silakan cicip,yang buat istrikulah!emang kamu?taunya makan doang," ucap Mas Galih pada adiknya.
"Mau ke mana kau pagi-pagi begini?"
"Mau ke kampus lah Mas! Mau ke mana lagi?"
"Kampus mana yang pagi-pagi jam 5.30 sudah dibuka!" tanya Mas Galih menyelidiki adiknya.
"Aku nggak langsung ke kampus Mas, aku harus ke rumah teman dulu, untuk mengambil beberapa buku yang Tertinggal di sana, pas kita sama-sama mengerjakan tugas kemarin." Rena menjawab enteng pertanyaan kakaknya.
Pandai sekali dia berbohong! aku tahu dia tidak ke rumah temannya, tapi ke tempat lain. kemarin pagi saja, aku memergoki dia di ruang tamu, sedang berciuman panas dengan seorang lelaki, mungkin teman kampusnya karena kelihatannya mereka seumuran.
Dikiranya aku sudah tidak ada di rumah, pas aku melihat mereka, si lelaki yang salah tingkah! tapi si wanitanya malah biasa saja! seperti itu sudah terbiasa dia lakukan.
Tapi aku tidak mau pusing, itu urusan adik iparku.
Lain ceritanya dengan urusan ibu mertuaku. kalau seandainya, dia tidak menggunakan uang suamiku untuk membeli berondong, atau k*ntol, aku juga tidak mau ikut campur dengan kelakuan bejatnya.
"Mas bawa Abi kemari, Mas ke kamar gih, siap-siap, Nanti terlambat ke kantor lagi."
Mas Galih menyerahkan Abi padaku.
"Makacih ayah, cudah mau membantu ibu menjaga Abi pagi ini." ucapku berterima kasih kepada mas Galih menirukan suara anak kecil.
"Sama-sama sayangnya ayah." Mas Galih memberikan sebuah hadiah cubitan kecil di pipi Abi, lalu berlenggang masuk ke dalam kamar.
__ADS_1