Serakahnya Keluarga Suamiku

Serakahnya Keluarga Suamiku
Pengusiran dan Penyesalan


__ADS_3

Saat adzan maghrib berkumandang, aku keluar kamar membawa serta anakku. ku dapati Mas Galih sedang duduk di dapur dengan sebelah tangannya menopang dagunya. dia terus saja memperhatikan aku dan Abi dengan tatapan sendu. aku melewatinya begitu saja tanpa menegurnya.


Ku ingat kembali kata-katanya yang hendak menjobloskanku ke penjara membuat hati ini berdenyut sakit seperti sedang diiris-iris dengan belati.


Aku kembali masuk setelah mengambil semua keperluan Abi, tanpa menoleh muka sedikitpun padanya.


"Run mas ingin bicara." ujar Mas Galih pelan sambil memegang lenganku.


"Nanti dulu ya Mas, setelah selesai makan malam. Aku juga ingin berbicara sama Mas tentang kesepakatan kita tadi sore, Mas tentu tidak melupakannya kan?"


Aku sama sekali tidak memandang wajah Mas Galih ketika berbicara dengannya. "Oh ya mas, jangan lupa kasih tahu sama ibu dan adikmu juga ya?takutnya mereka lupa dengan ancaman yang kau beberkan padaku tadi bersama dengan mereka." aku melepas pelan tangan Mas Galih yang semakin mempererat pegangannya di lenganku, lalu berlalu masuk kembali ke kamar.


Aku sama sekali tidak menghiraukan gedoran atau teriakan yang diciptakan oleh Mas Galih di depan pintu. kubiarkan dia melakukan itu hingga dia sendiri capek dan pasti dengan sendirinya dia berhenti.


Saat makan malam tiba, Rena memanggilku untuk sama-sama sarapan bersama dengan mereka. Tentu saja Aku menolaknya karena tidak ingin melihat muka-muka munafik itu.


******


Kami semua sudah berkumpul di ruang keluarga, termasuk Shila pun tidak ketinggalan. dari tadi aku tiba di sana, Mas Galih langsung berlutut di hadapanku dan terus saja memohon maaf kepadaku. tidak ku hiraukan permintaan maafnya. hatiku terlanjur sakit, mengingat semua kata-katanya yang tidak pantas bagi seorang suami menyatakan itu pada istrinya. tetapi dengan tega, Mas Galih menyatakan semua itu padaku tanpa memikirkan perasaanku.

__ADS_1


"Bangunlah Mas, Jangan berpikir dengan kamu berbuat seperti ini hatiku akan luluh," aku memandang remeh Mas Galih .


"Sudah tidak ada lagi pintu maaf bagimu Mas. Coba bayangkan deh Mas Jika kamu yang berada di posisi aku, kata-kata yang ingin mencobloskanku ke penjara terucap dari mulutku, gimana dengan perasaanmu? sakit atau tidak?


Jadi tidak usah berbahasa-basi lagi, kita langsung ke intinya saja. sesuai permintaanku tadi sore, dan Mas juga sudah menyetujuinya." kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi rongga nadiku lalu ku hembuskan secara perlahan.


"Talak aku sekarang!" ucapku pada mas Galih tanpa ekspresi.


Semua orang yang berada di ruangan itu, tersentak mendengar perkataanku.


"Tolong pikirkan ulang perkataanmu tadi nak, kasian Abi masih sangat kecil. dia masih butuh kasih sayang ayahnya." ucap ibu mertua berubah lembut.


"Mas galih bilang sama ibumu, apa dia Geger otak atau lupa ingatan? apa aku tidak salah dengar ,baru saja ibumu melembutkan suaranya padaku," aku tidak langsung berucap pada ibu tetapi melalui Mas Galih.Ibu mas Galih langsung menundukan kepala,ku rasa dia sangat malu ketika aku tidak merespon kata demi katanya.


"Mas aku tidak mau mengucapkan kataku untuk kedua kalinya, "lakukan sekarang". apa yang sudah menjadi kesepakatan kita tadi sore. kalian semua di sini, berasumsi bahwa apa yang aku katakan tentang perbuatan atau kelakuan ibumu adalah, fitnah.jika Ibu kalian tidak pingsan, maka aku sudah di bawa ke kantor polisi,karena mas Galih tidak sabar sekali ingin aku cepat-cepat menyekam di sana."Tanpa sadar air mata mengalir dari pelupuk mataku.


"Mbak jangan egois dong. jika kami mengikuti kesepakatan kita tadi sore, maka jelas-jelas kami keluar dari rumah mbak Runi. terus kami mau tinggal di mana? sedangkan Mbak tahu sendiri, rumah kami satu-satunya sudah dijual oleh ibu untuk memenuhi biaya kuliahku dan juga kebutuhan kami sehari-hari sebelum kami tinggal di sini." pungkas Rena padaku.


"Aku tidak peduli, Emang kalian siapa? seperti yang pernah ibumu bilang pada mas Galih, aku hanyalah orang luar lalu dinikahi oleh kakakmu untuk menikmati atau menghabiskan seluruh gaji kakakmu. aku rasa selain shila Kalian tentu masih mengingat dengan ucapan Ibu kalian."

__ADS_1


"Runi, Mas mohon, lupakan kesepakatan kita tadi sore, Anggap saja tidak terjadi apa-apa di keluarga ini." ucap Mas Galih enteng.


Aku sontak tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan yang dibeberkan oleh Mas Galih.


"Apa kamu lupa dengan ancamanmu tadi Mas? dan dengan seenak jidat kamu menyuruhku untuk melupakan semua yang telah terjadi tadi sore. jangan menjadi laki-laki pecundang, laki-laki yang hanya ingin bernaung di bawah ketiak ibumu, buktikan bahwa kau adalah lelaki jentel, bukan Lelaki lembek alias bencong." ucapku tanpa berperasaan.


"Mohon maaf untuk kita semua yang berada di ruangan ini, maaf karena aku Memotong pembicaraan kalian. Tapi Aku sangat bingung dengan apa yang terjadi, aku tidak tahu akar permasalahannya apa, soalnya dari tadi yang dibicarakan hanya tentang kesepakatan yang kalian buat tadi sore. Memangnya kesepakatan apa sih? Tolong jelaskan supaya aku juga mengerti akar permasalahannya." ujar Sgila tenang dan memandang kami satu persatu.


"Di Antara Kalian bertiga Siapa yang mau jelaskan? Atau aku saja yang jelaskan." Tanyaku pada Ketiga orang munafik ini. diantara mereka, tidak ada satu orang pun yang bersuara membuatku sangat jengkel. Terpaksa aku sendiri yang harus menjelaskan kronologinya pada shila.


"Aku rasa Mas Galih, tante Rossa, dan Rena sudah keterlaluan. aku lebih baik keluar sekarang dari rumah mbak Runi, karena tidak mau menanggung malu, akibat tante Rosa yang sudah hamil diluar nikah, apalagi kita tidak tahu siapa lelaki yang menghamili Tante." shila bangkit berdiri dari sofa lalu berjalan masuk ke kamar yang selama ini ditempati oleh dirinya dan ibu mertua yang sebentar lagi menjadi mantan ibu mertua.


"Shila jaga bicaramu ya, jika bukan karena ibuku, kamu tidak sampai di kota ini dan mendapatkan pekerjaan bagus seperti sekarang." teriak Rena tidak terima ketika shila sama sekali tidak membela mereka.


"Iya! dan aku sangat berterima kasih kepada tante Rossa, karena berkat tante, aku bisa berada di kota ini dan mendapat pekerjaan bagus seperti yang baru saja kamu bilang, tapi aku juga malu sama Mbak Runi yang sudah menampung kita di rumahnya, Tapi dengan tidak tahu diri, kita memperlakukan dia seolah-olah kita ini yang mempunyai rumah. dan satu lagi, bukan mbak Runi yang memfitnah tante Rossa melainkan tante Rosa sendiri yang memfitnah Mbak Runi, karena takut kedok buruknya terbongkar, tante menggunakan seribu satu cara untuk mengelabui kita semua disini,seolah-olah mbak Runi yang bersalah.Dan tentang sertifikat rumah, yang jadi pemicu masalah pertamanya,memang benar Tante Rossa berniat mencurinya,aku sendiri mendengar tante menelpon seseorang tentang jual beli rumah dengan harga murah.." ucapan shila membungkam mulut lemes Rena. ibu mertua dan Mas Galih juga terlihat tegang. rahang Mas Galih menegang kedua tangannya terkepal menahan amarah. beda dengan ibu mertua, dirinya menunduk malu, Karena kini keponakannya sendiri tanpa berperasaan mempermalukannya di hadapan aku dan kedua anaknya.


"kini semua sudah jelaskan Mas, jadi tunggu apa lagi, talak aku sekarang juga dan kemasi semua barang-barang kalian, malam ini juga kalian harus keluar dari rumahku." wajah Mas Galih yang tadinya penuh amarah kini kembali redup diganti dengan penyesalan yang teramat mendalam.


"Ini semua gara-gara ibu, jika Ibu tidak terus-menerus menghasutku, maka rumah tanggaku akan baik-baik saja." ibu mertua terisak kecil, Putra kesayangannya yang selama ini tidak pernah meninggikan suara untuknya, kali ini membentaknya di hadapan menantunya sendiri,

__ADS_1


"Aku tidak mau kalian saling mengalahkan satu sama lain di sini. yang aku mau, Mas Galih menceraikanku sekarang juga!" teriakku lantang, suaraku membahana di seluruh ruangan.


__ADS_2