
Tok..tok..tok.."Seruni..Runi.. buka pintunya,aku mau bicara." Mas Galih mengetuk pintu sambil berteriak dari luar kamar, aku tidak menghiraukan teriakan Mas Galih.Kutekan dada ini yang semakin sesak, kecewa' aku sangat kecewa pada diriku sendiri. Kenapa dengan gampangnya aku mempercayai Semua ucapan Mas Galih untuk membuka lembaran baru bersamanya? Seharusnya aku pikir-pikir dulu, sebelum memutuskan semuanya.
"Seruni, buka puntunya," karena suara Mas Galih semakin keras, aku pun membukakan pintu untuknya. "Ada apa lagi sih, Mas?" Tanyaku pada mas Galih. Mas Galih tidak menjawab pertanyaanku dia langsung menerobos masuk ke dalam kamar, dan mendudukkan dirinya di sebuah kursi dekat meja rias.
"Jelaskan padaku, Maksud kamu apa berbicara bahwa Ibu ku menyembunyikan sebuah rahasia besar?" tanya Mas Galih to the point!
Oh itu, rupanya suamiku ini tidak puas dengan apa yang aku bicarakan tadi.
"Mas penasaran? tanyakan saja pada Ibumu, Biar ibu sendiri yang menjelaskan pada Mas."Jawabku enteng.
"Sudah aku tanyakan padanya, tapi Ibu menyatakan bahwa itu semua cuma akal-akalan kamu saja biar aku membencinya."
"Jadi sekarang Mas berasumsi bahwa aku adalah seorang penipu? begitu?" Aku berusaha menetralkan suaraku, agar terlihat tenang.
"Iya, Iyalah! apalagi? Kamu sengaja berbicara seperti itu, untuk mengkambing hitamkan aku dan ibuku! tapi sorry Runi, Aku bukan seperti suami-suami lain yang dengan gampangnya dibodohi oleh istri mereka."
Aku sama sekali tidak menyela pembicaraan Mas Galih. walaupun dalam hati ini sangat geram dengan ucapannya.
"Oh ya Runi! Apa betul kau sengaja memancing emosi ku, dengan alasan Ibuku menyembunyikan rahasia besar, biar aku marahi Ibuku dan mengusir mereka dari rumah ini? supaya dengan bebasnya, kau menikmati hasil keringatku sendiri?" tanya Mas Galih padaku.
Aku hampir terbahak, Pinggangku serasa di gelitiki oleh seseorang. "Apa itu yang dikatakan oleh ibu mu juga?"
"Iya, betul! dan aku rasa apa yang Ibuku katakan adalah benar, karena aku yakin tidak ada seorang ibu yang tega membohongi anaknya."
__ADS_1
"Sekarang aku tanya padamu Mas! berapa puluh juta uangmu yang sudah aku nikmati? dan soal rahasia besar yang aku katakan tadi memang benar adanya! Apa perlu aku membongkarnya sekarang? tapi tunggu dulu, aku tidak puas jika hanya mas sendiri yang mendengarkan. Aku ingin Ibu juga mendengar, biar tidak dituduh aku memfitnahnya terus." Aku mayeret tangan mas Galih dengan paksa dan keluar bersama-sama menemui ibunya. Jika Ibu mengelak, Terpaksa aku harus membawanya langsung ke rumah sakit untuk membuktikan kebenarannya.
Rupanya Dewi Fortuna berpihak padaku! Ibu sedang duduk santai di ruang tamu sambil bermain ponsel. ibu mertuaku kaget ketika melihat aku dan Mas Galih sudah berdiri di hadapannya. HP yang tadi dipegang cepat-cepat disimpannya di saku celananya.
"Ada apa ini Galih? Kenapa pula kau membawa menantu durhaka ini di hadapan ibu!" ibu mertua bertanya pada Mas Galih tapi matanyamengarah kepadaku, melihatku dengan tatapan sinis!
"Nggak apa-apa Bu! aku cuma mau masti'in atau mendengar langsung dari mulut Runi tentang rahasia besar yang katanya disembunyikan oleh ibu."jawab Mas Galih pada Ibunya! Muka ibu mertua langsung pucat Pasi,
"Ke..kena..pa ke..napa juga kamu harus mencari tahu lagi dengan membawa istrimu di hadapan ibu? kan Ibu sudah katakan tadi padamu, istrimu itu jelas-jelas sudah memfitnah ibu. Apa kamu tidak mempercayai ibumu sendiri Galih?" Aku hampir tertawa melihat kegugupan ibu mertua!
"Runi! fitnah apalagi yang kau sebarkan untuk anakku?" teriak ibu mertua padaku.
"Katakan Runi, jangan jadi istri pengecut. rahasia besar apa yang Ibu sembunyikan dari aku dan Rena?" suara mas Galih ikut meninggi. aku seperti diserang rame-rame oleh ibu dan anak yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami dan ibu mertuaku sendiri. tapi entah dapat kekuatan dari mana, Aku sama sekali tidak takut pada mereka berdua. aku tersenyum remeh memandang ibu mertua dan suamiku.
"Galih,, Galih! Jangan percaya dengan istrimu itu. jelas-jelas kamu tahu, kalau istrimu itu tukang fitnah. buktinya Ibu mertuanya sendiri dituduh mencuri sertifikat rumah kalian."
"Ibu tenang saja, kita butuh bukti! jika kali ini dia memfitnah Ibu lagi,maka penjaralah tempatnya."
Aku merasa tertantang dengan ucapan mas Galih. hatiku berdenyut nyeri mendengar suamiku sendiri ingin memenjaraiku.
"Rahasia apa yang kau maksud Runi? jika bicara harus sertakan juga dengan buktinya, jangan asal bunyi! kamu tidak tahu ya Run, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan! jika tidak mengerti, Pergilah bersekolah ulang, mungkin saat gurumu memberi pelajaran tentang tata krama dan cara menghormati orang yang lebih tua, kamu tidur ya Run! sehingga tidak bisa mendengar apa yang gurumu terangkan!" kali ini ibu mertua di atas angin. Dia berbicara seolah-olah Aku ini orang bodoh yang tidak mengerti apa-apa. kita tunggu saja Bu akan ku buat kau menangis darah.
"Ada apa ini bu, Mas, kenapa ribut-ribut," tanya Rena yang entah dari mana munculnya, tiba-tiba dia sudah ada di tengah-tengah kami. "Apa Mbak Runi bikin ulah lagi?"
__ADS_1
Apa aku tidak salah dengar? bikin ulah lagi? Emang aku seperti dia dan ibunya yang selalu bikin masalah dimana-mana!
"Istri pilihan kakamu itu, sudah memfitnah ibu habis-habisan! hari ini dua kali dia memfitnah ibu." Adu ibu mertua pada anak bungsunya.
"Memfitnah 2 kali?" beo Rena.
"Iya betul Ren,Pertama Ibu difitnah mencuri sertifikat rumah ini! kedua, dia menghasut kakakmu dengan memfitnah ibu bahwa selama ini Ibu menyimpan rahasia besar yang tidak pernah kalian berdua ketahui!"Lanjut ibu mertua lagi.
Aku menarik napas panjang. ku pandangi mereka satu persatu. masih ada satu orang penghuni rumah ini yang tidak ada. "Dimana Shila? panggilkan dia juga." aku menyuruh salah satu diantara mereka untuk memaminggil Shila.
"Shila tidak ada, baru saja aku mengantarnya pergi mencari pekerjaan." timpal Rena.Aku manggut-manggut mendengar ucapan adik iparku.
"Ehemm," aku berdehem untuk menetralkan suaraku. Baiklah jika memang Lisa tidak ada, tidak apa-apa karena dia juga bukan keluarga inti,
"Mas!"
Aku memanggil Mas Galih yang sedang menatapku dengan tajam,
"Jika ternyata aku punya bukti, maka aku memohon padaMu Mas, untuk menceraikan aku sekarang juga,dan hak asuh Abi ada di tanganku, dan tolong bawa serta keluarga-keluargamu angkat kaki dari rumah ini, rumah yang di beli dengan uang hasil penjualan rumah almarhum kedua orangtuaku! tidak ada uangMu satu sen'pun kepake waktu kita sepakat membeli rumah ini.Tapi apabila sebaliknya, maka penjarakan lah aku sesuai dengan keinginanmu, Bila perlu penjara seumur hidup, dan rumah beserta isinya akan menjadi milikmu! dan satu lagi, hak asuh Abi jatuh di tanganmu Mas." ucapku tanpa takut atau gentar sama sekali. kulirik muka ibu mertua yang tadinya semangat menggebu-gebu tiba-tiba berubah pucat setelah mendengar semua ucapanku. pun dengan mas Galih. wajahnya yang tadi sangar dan berteriak lantang ingin memenjaraiku, berangsur-angsur berubah!-
Tapi kali ini aku tidak main-main lagi,aku sudah terlanjur sakit hati,sangat-sangat sakit, dengan Mas Galih.jika semua ucapan tentang memenjarakan aku keluar dari mulut ibu mertua,maka sumua masih bisa di toleri,tapi kali ini sungguh aku sangat kecewa!
"Mereka bertiga bingung, ketika melihat aku meletakkan HP di atas meja, "Mari kita semua duduk, dan sama-sama mendengarkan apa isi percakapan rekaman dalam hp itu."
__ADS_1