
Sudah 1 minggu ini aku menekuni pekerjaan ku! apalagi? kalau bukan membuat kue kering? lumayan 1 hari Bisa laku sampai 10 toples!
Sejauh ini belum ada yang memesan lewat via online! tapi nggak apa-apa aku tetap bersyukur!
5 hari lalu, ibu mertua meminta izin pada suamiku untuk mengunjungi keluarganya di desa kelahirannya! Mas Galih yang tidak tahu apa-apa dengan senang hati mengizinkan ibunya!
Lain dengan pikiranku! firasatku berkata, ibu mertua pasti akan melakukan sesuatu yang berhubung dengan kandungannya! aku cuman berdoa semoga pikiranku ini tidak benar!
Di satu sisi aku juga senang karena dengan kepergian ibu, beberapa hari ini Hidupku amat tenang! tidak ada yang mengganggu!
"Kue mbak makin hari makin laris ya?" Ucap Rena mengagetkanku yang sedang menyusun toples toples kue di atas meja makan.
"Ya lumayan! untuk bisa beli makan minum sehari-hari. dan juga biaya ongkos taximu setiap hari."
"Mbak jangan asal bicara ya, biaya taksi Aku setiap hari kan ditanggung sama Mas Galih!"
Apa aku tidak salah dengar yang dibilang adik iparku barusan? uang taksi pulang perginya ditanggung oleh kakaknya? Iya sih memang selama ini ditanggung sama Mas Galih melalui ibu mertua, Tapi dalam satu minggu ini aku yang memberinya uang!
Atau jangan sampai dia mengira, uang yang aku kasi kedia itu adalah uang gaji dari kakanya?wah ini tidak bisa di biarkan!bukannya aku perhitungan tapi mereka sendiri yang mengajarkanku bagaimana caranya memberikan untuk orang tanpa cuma-cuma!
"Jadi selama ini kamu berpikir bahwa, uang yang sering kamu minta dan aku memberikannya padamu itu adalah uang kaka kamu?" Aku ingin mendengar jawaban apa yang keluar dari bibir Rena!
"Ya iyalah! memang uang dari mana lagi? kalau bukan dari kakakku yang memberikan uang Untuk mbak Runi!"
Aku hampir tertawa mendengar Jawaban polos atau pura-pura polos adik iparku ini!
"Kamu lupa ya Ren, jika selama ini kakakmu tidak memberikanku sepersen dari uang gajinya! dia hanya baru menjanjikan bulan depan akan memberikan semua gajinya padaku! Kamu salah besar Rena!"
Adik iparku itu tidak menggubris kata-kataku, dia berlalu keluar Entah Kemana perginya! akupun tidak peduli, karena memang itu sudah kebiasaan dia dari sewaktu masuk di rumah ini, keluyuran tanpa arah dan tujuan!
"Ada apa Run? pagi-pagi sudah ribut saja." tanya Mas Galih padaku.
"Nggak ada apa-apa Mas."
"Tapi aku mendengar Sepertinya kamu berdebat dengan Rena." Mas Galih seperti tidak percaya dengan pembicaraanku!
"Oh itu!Kami tidak berdebat sih Mas, bicara biasa saja. Dia menanyakan bagaimana dengan daganganku laku atau tidak." dustaku pada mas Galih!
__ADS_1
"Bagus itu, kalau dia bertanya seperti itu! sekali-kali ajaklah Rena untuk membantumu! itung-itung belajar darimu."
"Ya Mas! nanti coba aku ajak. Tapi aku tidak yakin, Apa dia mau atau enggak." aku mengiyakan ucapan Mas Galih, mencoba mencari jalan pintas, agar tidak membahas adik malasnya itu lagi!
Boro-boro membantu!!! mencuci cel*na dal*mnya saja dia malas! semua pekerjaan dalam rumah aku yang handle! tapi itu dulu tentang cuci mencuci pakaian.
Sekarang aku tidak mau di bodoh-bodohin lagi oleh ibu dan anak itu.
"Mas!.. Abi sudah bangun?"
"Abi belum bangun! anak itu akhir-akhir ini bangunnya sering telat, Tidak seperti biasanya. jam berapa Biasa dia bangun Run?"
"Kadang jam 9 pagi Mas. bagaimana dia mau bangun tempo? malam dia tidak tidur, pengen ngajak main terus! hampir subuh baru anaknya tidur."
Obrolanku dan masa Galih berhenti, karena yang dibahas sudah bangun! terdengar suara tangisan bayi dari dalam kamar, membuat Mas Galih cepat-cepat kembali ke sana.
Mas Galih kembali ke dapur, membawa serta Abi dalam gendongannya.
"Sudah selesai kah Run?" sambil menjawab Aku menganggukkan kepala pada mas Galih!
Setelah kepergian Mas Galih, aku dan Abi juga bersiap-siap mengantar kue kueku ke kios-kios terdekat sini. seperti biasa anakku tidak rewel, malah senang diajak berjalan-jalan.
Sekembalinya aku dan anakku, kulihat pintu depan rumah kami terbuka lebar. aku menjadi sangat takut! apa ada perampok yang masuk di rumah?
Aku memberanikan diri berjalan pelan kearah pintu dan mengintip ke dalam rumah.
Rupanya ibu yang sudah pulang! tapi tunggu dulu! Ibu tidak sendiri! dia bersama seorang gadis seumuran Rena. siapa ya gadis itu?
Untuk mengurangi rasa penasaranku, Aku berjalan mendekati mereka di ruang tamu, setelah mengucap salam. Ibu menatapku seperti biasa! (sinis). beda dengan gadis itu! dia berdiri dan menjabat tanganku tidak lupa menyematkan senyum manis bibirnya.
Aku Shila Mbak, sepupunya Mas Galih! ayahku adik dari Tante Rossa, ibu mertua Mbak."
"Oh ya Shila! Namaku Seruni, panggil saja Mbak Runi."
Aku kembali memandang ibu mertuaku' kok mukanya pucat sekali ya,
"Bu! apa ibu sakit?" aku mencoba bertanya baik-baik padanya.
__ADS_1
"Enggak kok, Ibu nggak sakit, ibu sehat!"
"Tapi kenapa muka Ibu pucat sekali," aku masih belum puas dengan jawaban ibu! apa jangan-jangan, dia sudah menggugurkan kandungannya Ya! seperti yang dia bilang 1 minggu yang lalu?
Kamu ini banyak tanya sekali Runi' sana pergi tidurin anakmu di kamar, jangan tau hanya urusin urusan orang saja," bentak Ibu padaku.
Orang tua ini ditanyain baik-baik, Jawabnya kok kasar sekali.
Aku hendak menuju ke kamar, setelah aku pamit kepada Shila dan ibu. seperti biasa Ibu tidak menjawabku. lain dengan sila, dia mengangguk sopan dan mempersilahkanku masuk. baru hendak ku pegang gagang pintu, Ibu mertua memanggilku.
"Seruni, tunggu! ibu mau bicara."
Maunya wanita tua ini apa sih, tadi sok-sokan nyuruh aku masuk. jika masih ingin berbicara kepadaku, kenapa harus menyuruhku cepat-cepat masuk ke kamar sih,
"Ada apa Bu?"
"Sini, duduk sini!" Dia menepuk sofa di sampingnya. "Tidak enak bicara sambil berdiri."
"Ada apa Bu?" ku ulangi lagi pertanyaanku.
"Begini Runi! untuk sementara, Shila tinggal dulu di rumah sini."
"Tapi Bu di sini sudah tidak ada kamar kosong, di mana Shila akan tidur?
"Untuk tempat tidur Shila, Kau tidak perlu kuatir! sementara dia tidur sama ibu. hanya berlaku 2 atau 3 bulan saja! setelah dia mendapatkan pekerjaan, dan sudah ada gajinya, dia akan keluar dari rumah ini, tinggal di kos-kosan atau sewa rumah kontrakan."
Aku hanya mengangguk setuju, tidak mau banyak bicara, karena itu akan memperpanjang masalah.
"Terserah Ibu deh, Gimana baiknya.. sudah tidak ada yang dibicarakan lagi kan Bu? kalau begitu, aku pamit masuk kamar dulu. kasihan Abi! dari tadi dalam gendongan terus."
"Kalau mbak Runi keberatan aku tinggal di sini, enggak apa-apa! aku ada sedikit pegangan yang dibekali oleh Bapak! uang itu bisa ku gunakan untuk mencari kos-kosan terdekat sini!"
Kurasa sila merasa tidak enak denganku,karna mendengar keputusan ibu sepihak!
"Aku tidak keberatan kok sila! apalagi Ibu sendiri mau membagi tempat tidurnya denganmu!" kulirik ibu mertua yang sedang bermain ponselnya!
Apa ibu mertua sudah menggugurkan kandungannya? kalau memang iya, berarti dia orang orang tua yang sangat kejam! aku bergidik ngeri membayangkan banyak darah yang keluar dari Jalan lahirnya, seperti yang pernah aku nonton di sinetron, yang berjudul ABORSI!!..
__ADS_1