Shella Vs Wulan

Shella Vs Wulan
Penyesalan


__ADS_3






BEBERAPA HARI KEMUDIAN


_______________


Rangga dan Shella sedang sarapan di dapur rumah mereka. Shella sedang melahap rotinya. Begitu juga dengan Rangga. Shella memulai pembicaraannya.


"Kak Ngga, kok beberapa hari ini Wulan gak masuk sekolah ya? Apa dia di skorsing?"


"Enggak dek, Wulan lagi ngurus surat pindah sekolah."


"Pindah sekolah? Wulan dikeluarin kak?" kaget Shella.


"Wulan enggak dikeluarin dek. Cuma, Wulan dipindahin ke sekolah yang ada di desa. Wulan bakalan ikut neneknya yang ada di kampung."


"Oh.."


"Iya dek, kamu jangan meniru Wulan lho. Kamu jadi diri kamu sendiri aja."


"Iya kak, pasti itu. Yah, gak seru dong ya kak."


"Gak seru gimana dek?"


"Ya kan gak ada Wulan kak. Pasti lah gak seru. Orang kalau ada Wulan kan enak. Berantem trus."


"Dasar kamu ini dek."


"Hehehe..."


"Oh iya, gimana sama hubungan kamu dengan Leo dek?"


"Ya gitu kak. Baik-baik aja."


"Bagus deh kalau begitu."


"Iya kak. Oh iya, kakak kapan nyusul aku sama Leo?"


"Nyusul apa dek?" tanya Rangga gak mengerti maksud adiknya itu.


"Nyusul pacaran kak. Hehehe..."


"Dasar kamu ini dek. Ya aku mah nunggu jodohnya aja datang."


"Kalau enggak datang kak?"


"Pasti datang lah dek."


"Iya dah, terserah kakak aja."


"Ya emang harusnya terserah kakak dek. Kan aku yang ngejalanin."


"Iya kak."


"Udah-udah, dilanjutin makannya dek, habis itu kita langsung berangkat sekolah."


"Siap bos."


Shella dan Rangga melanjutkan sarapan paginya. Tak lama kemudian, mereka berdua selesai sarapan.

__ADS_1


"Ayo dek kita berangkat sekolah."


"Ayo kak."


Rangga dan Shella berjalan keluar rumah mereka. Lalu mereka berangkat sekolah.


_______________


Saat ini, Gladis, Lia, Nanda, dan Lilis sedang berada di kamar rumah Nanda. Mereka asyik sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Gladis sibuk bermain game di hp. Lilis sibuk browsing-browsing di internet lewat laptop. Nanda sibuk memainkan gantungan kuncinya. Sedangkan Lia sibuk membaca buku komiknya.


Tiba-tiba saja hp Nanda berbunyi. Dia melihat layar hpnya.


"Guys-guys, Wulan nelpon nih. Gimana?"


Semuanya langsung melihat Nanda.


"Jangan diangkat Nan." kata Gladis.


"Bener itu." setuju Lia.


"Angkat aja, tapi diloudspeaker, biar kita semua dengar." saran Lilis.


"Bagus juga ide elo Lis. Okelah."


Nanda mengangkat telpon dari Wulan.


"Hallo Nan, lo tolong bilang ke anak-anak ya? Gue udah gak bakalan sekolah di situ lagi. Gue pindah sekolah. Tolong sampaiin maaf gue ke mereka."


"Ok." jawab Nanda.


Nanda langsung mematikan telponnya.


"Lo mau pindah apa gak itu bukan urusan kita. Iya gak guys?" kata Lia.


"Iya Ya, lo bener banget. Lagian, Wulan tetep di sekolah itu juga kita gak bakalan temenan sama dia lagi." ujar Lilis.


"Kalian semua benar, Wulan udah berubah. Gak kayak dulu yang selalu menang melawan siapa pun itu." Gladis.


"Wulan kayak gini itu gara-gara ada Shella. Dia yang membuat Wulan selalu kalah dengannya." ujar Lilis.


"Eh Lis, mau siapapun itu lawannya. Harusnya Wulan tetep menang. Bukannya malah kalah kayak gini." Lia.


"Bener tuh, kita gak bakalan di skorsing kayak gini kalau bukan karena Wulan." ucap Nanda.


"Iya juga sih. Ini semua gara-gara Wulan. Kalau kita gak bantuin dia. Udah pasti kita gak bakalan di skorsing kayak gini." Lilis.


"Tuh lo tau Lis." Lia.


_______________


Shella cs sedang duduk bersama di kantin sekolah. Mereka menikmati makan siangnya.


"Guys, enak ya gak ada Wulan? Kita bisa jadi lebih tenang." kata Putri.


"Iya Put, kita jadi lebih bebas. Gak ada lagi yang buat masalah terus." kata Andi.


"Lo bener An. Di sini udah gak ada lagi yang berkuasa." tambah Kelvin.


"Kalian semua memang benar. Tapi, apa kalian tau sesuatu tentang Wulan?" tanya Shella.


"Tau apa Shell?" tanya Putri.


"Tau kalau Wulan pindah sekolah."


"Apa, Wulan pindah sekolah?" tanya Putri, Andi, dan Kelvin barengan.


"Lo yang bener aja Shell." Putri.

__ADS_1


"Iya tuh. Tapi, kenapa Wulan pindah sekolah? Apa dia dikeluarkan dari sekolah?" tanya Kelvin.


"Iya guys, gue bener kok. Wulan itu gak dikeluarkan dari sekolah. Tapi, ortunya Wulan yang mau pindahin Wulan sekolah di desa. Ikut neneknya di kampung."


"Oh. Tapi bagus dong kalau gitu. Elo sama Putri sekarang jadi aman. Gak bakalan lagi ngadepin sifat Wulan." kata Andi.


"Iya An, lo bener banget. Lagian, gue sama kak Aldo bisa tenang." Putri.


"Iya sih guys, tapi kan kasihan Wulannya. Pasti dia sekarang lagi kesal sama sedih juga." pikir Shella.


"Biarin aja lah Shell. Toh, itu kan akibat dari perbuatannya sendiri." kata Kelvin.


"Tetep aja gue kasihan sama Wulan guys." Shella.


"Udahlah Shell. Lo gak usah peduli gitu sama Wulan. Orang Wulannya aja tega kok sama elo." kata Andi.


"Bener itu kata Andi." setuju Putri.


"Iya dah guys. Iya dah guys, tapi kan gak harus kejahatan dibalas kejahatan." kata Shella pasrah.


"Iya juga sih." pikir Kelvin.


"Kita bantuin do'a aja guys. Semoga Wulan nanti bisa berubah. Dan gak kayak gitu lagi." kata Putri.


"Iya Put. Lo benar." setuju Andi.


_______________


Di saat Wulan sedang duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Tiba-tiba saja Vero datang. Vero langsung duduk di sebelah Wulan.


"Lan, lo gak nyesel gitu karna udah buat hal yang kayak gini?"


"Nyesel sih kak. Tadi itu gue nelpon Nanda, dia kayak gak peduli sama gue. Trus telponnya langsung dimatiin. Gue telpon temen gue yang lain malah gak diangkat. Nyebelin banget kan kak?"


"Itu karena kelakuan lo. Kalau yang salah elo, trus temen elo kena getahnya. Ya wajar aja mereka begitu."


"Iya juga sih, emang semuanya itu ide gue. Dan mereka cuma ngebantuin aja sesuai perintah gue."


"Makanya, lo tuh harusnya minta maaf sama mereka."


"Gue udah nyuruh Nanda buat nyampein minta maaf gue sama mereka semua."


"Bagus deh kalau gitu."


"Oh iya kak, sebelum gue pindah ke kampung. Gue mau minta maaf sama Shella dan Putri. Kakak bisa bantu gue gak?"


"Bantu apaan Lan?"


"Kakak bilang aja ke mereka kalau mereka suruh ke cafe Viktor besok sore jam 16.00."


"Oh, okelah, ntar gue sampein ke Shella sama Putri."


"Sekalian sama kak Aldo juga ya kak?"


"Iya dah."


"Kakak mau kan ikut nemenin gue minta maaf ke mereka semua?"


"Mau aja. Asal lo yang ngajak."


"Gue ngajak elo kok kak."


"Iya, gue ikut lo besok."


Tiba-tiba saja Wulan mendekatkan duduknya ke Vero. Dia menyenderkan kepalanya di bahu Vero.


"Maafin gue ya kak? Gue gak bisa jadi adik yang baik buat elo."

__ADS_1


"Iya Lan, gue dah maafin elo kok."


"Thanks kak."


__ADS_2