Shella Vs Wulan

Shella Vs Wulan
Niat jahat


__ADS_3

_______________


Wulan dan teman-temannya tengah duduk bersantai di bangku kantin sekolah. Mereka semua selesai makan siang di kantin.


"Kenyang banget gue guys." Gladis.


"Iya Dis, gue juga kenyang." Lia.


"Apalagi gue guys? Gue kenyang pake banget, banget, dan banget." Nanda.


"Lebay lo Nan." Wulan.


"Iya tuh." Lilis.


"Kenyang sih kenyang. Tapi ya gak pake lebay juga kale." sindir Lia.


"Bener tuh." setuju Gladis.


"Hehehe... (senyam-senyum) Yang lebay kan gue guys. Kenapa kalian semua yang ngurus?" tanya Nanda.


"Et dah, sapa juga yang ngurus lo? Gak kali." ucap Lilis.


"Kurang kerjaan banget gue ngurusin lo." Wulan.


"Bener tuh kata Wulan." setuju Gladis


"Iya dah iya guys. By the way, kok tadi kita belain Shella ya?"


"Iya juga ya?" pikir Wulan.


"Dah-dah, gak usah mikirin yang gak penting guys. Mending juga kita mikirin hal yang penting. Iya kagak?" Gladis.


"Hem.. Bener juga kata lo Dis. Tumben lo pinter." Wulan.


"Ye.. Gue mah dari dulu emang pinter kale Lan." PDnya.


"Masa sih?" Lilis.


"Iya Lilis!"


"Pinter dari mana lo Dis?" tanya Lia.


"Dari hongkong Ya."


"Hahaha...." tawa semuanya.


"Ada-ada aja lo." Wulan.


"Hehehe." Gladis senyum.


"Eh ya, by the way, di kelas siapa ya yang pinter?" tanya Wulan.


"Em.. Gue gak tau Lan." Lia.


"Gue juga gak tau." Nanda.


"Emang kenapa sih lo nanya itu Lan?" tanya Lilis.


"Iya tuh, buat apa sih lo nanya itu?" Lia penasaran.


"Ya gue cuma pingin tau aja guys. Sapa tau aja kita bisa manfaatin dia."


"Manfaatin siapa?" Nanda.


"Ya orang yang pinter di kelas kita lah Nan."


"Hem.. Bagus juga ide lo Lan. Gue setuju banget." ucap Lilis.


"Ada untungnya juga tuh ide lo Lan." kata Gladis.

__ADS_1


"Ya iyalah Dis. Sapa dulu? Wulan gitu lho."


"Hahaha.. Iya dah iya Lan." Gladis.


"Siapa ya yang pinter di kelas." Nanda mikir.


"Iya ya. Siapa ya?" Lia.


"Dah lah guys, gak usah dipikirin kalau masalah itu." saran Gladis.


"Lho (kaget), emang kenapa kok gak usah dipikirin Dis?" heran Lilis.


"Iya tuh, kenapa Dis?" tanya Lia.


"Kalian ini pada bloon atau gimana sih? Masa gitu aja gak tau." kesal.


"Ya emang kita gak tau Dis." Nanda.


"Iya tuh Dis, kasih tau napa." Wulan.


"Okey-okey guys, gue kasih tau kalian semua. Kita nungguin aja PAS 1. Penilaian Akhir Semester 1. Nah, di saat PAS kita ngambil rapot. Secara otomatis, guru bakal ngasih tau siapa yang peringkat 1 sampai 3. Tak terkecuali peringkat kita. kan kita bisa tau siapa yang pintar."


"Hem.. Ya juga ya? Pinter juga lo Dis?"


"Iyalah, Gladis gitu lho." PD nya.


"Kita bisa manfaatin orang yang peringkat 1 di kelas buat dijadiin temen kita." Lia.


"Ya, lo bener banget Ya." setuju Nanda.


"Jadi, kalau ada tugas atau PR. Biar dia aja yang ngerjain. Kita gak usah mikir."


"Okey Lan."


"Tapi Lan, kalau dianya kagak mau ngerjain tugas atau PR kita gimana?" tanya Nanda.


"Oh ya Lis? Emang bener Lan?" Nanda memastikan omongan yang dikatakan Lilis itu benar kepada Wulan.


"Ya iyalah Nan, yang dikatain Lilis itu benar. Secara gitu lho. Wulan selalu pintar." dengan penuh percaya diri.


"Oh. Oke-oke Lan."


"Lo tenang aja Nan, gak usah khawatir. Kan ada Wulan yang otaknya pintar." ucap Lia.


"Bener itu. Santai aja." ucap Gladis.


"Oke deh guys, gue tenang aja. Kan ada Wulan. Hehehe."


"Udah sepantasnya lo tenang Nan." ucap Wulan.


"Lo kira gue mati?"


"Hehehe, bercanda atuh Nan. Jangan marah."


"Iya dah iya." pasrah.


"Eh iya, kok lo sampai sekarang belum juga sih ngerjain Shella? Katanya lo bakal buat dia gak betah sekolah di sini." kata Lia pada Wulan.


"Iya tuh, apa, nyali lo itu gak ada ya buat ngerjain Shella?" kata Lilis.


"Eh, gue itu ada nyali. Lihat aja ntar."


"Okelah." kata Nanda.




__ADS_1




SUATU HARI


_______________


Semua siswa kelas X IPA-2 tengah menunggu kedatangan wali kelasnya. Untuk memberikan rapot semester 1 beserta pengumuman peringkat semua siswa. Sekarang ini Nana dan shella tengah duduk sebangku. Walaupun Nana dan Shella satu bangku. Tapi mereka saling diam. Gladis ikut group Wulan yang sedang mengobrol di belakang. Wulan dan teman-temannya tengah merundingkan sesuatu.


"Guys-guys, pokoknya kita gak boleh kehilangan kesempatan ini. Setelah kita tau siapa yang peringkat 1 di kelas. Kita harus cepat tanggap deketin dia." ucap Wulan.


"Iya Lan, lo bener banget." Lia.


"Kita harus muji-muji dia trus baik-baikin dia." Nanda.


"Ya tuh, biar dia mau temenan sama kita semua." Lilis.


"Trus kalau udah temenan ma kita?" tanya Gladis.


"Ya secara otomatis, kita kan bisa manfaatin dia Gladiss.."


"Manfaatin gimana?"


"Ah elo mah Dis, bloon banget sih?" kesal Nanda.


"Iya tuh, padahal kan biasanya Nanda yang bloon. Kok sekarang jadi lo sih Dis?" heran Wulan.


"Hehehe, maaf guys. Ketularan virusnya Nanda nih." senyum.


"Virus gue?" Nanda.


"Iya lah virus lo Nan. Kan virus bloon tuh adanya cuma sama elo."


"Enak aja lo Dis. Lo tuh bukan ketularan virus gue. Cuma lo aja yang bloon."


"Udah-udah, kok jadi berantem sih kalian berdua?" Lilis.


"Iya tuh. Baikan gih." perintah Lia.


"Iya dah iya. Nan, maaf." Gladis mengalah pada Nanda.


"Ya Dis, gue dah maafin lo."


"Hem..." Wulan.


"Jadi gimana pertanyaan gue tadi guys? Manfaatin gimana?" Gladis mengulang pertanyaan itu.


"Manfaatin buat ngerjain semua tugas sekolah beserta PR nya Gladiis.." Lilis.


"Iya tuh, jadi kita gak usah susah-susah mikir. Jadi, tinggal nyontek aja deh." Lia.


"Tuh, Lilis sama Lia aja ngerti. Masa lo dari tadi juga gak ngerti-ngerti maksud kita. Iya gak guys?" tanya Wulan pada temannya.


"Iya Lan. Lo bener banget." Nanda.


"Oh.. Iya dah iya guys, maafin gue yang gak ngerti-ngerti."


"Dah biasa." Wulan.


"Iya Dis." ucap Lilis, Lia sama Nanda kompak.


Tiba-tiba saja pak Rudi datang masuk kelas. Pak Rudi ialah wali kelas X IPA-2. Sontak semua siswa dan siswi kelas X IPA-2 langsung kembali ke tempatnya. Alias ke bangkunya masing-masing.


"Baik anak-anak, saya akan memanggil satu per satu dari kalian untuk mengambil rapot ini. Saya mulai dari Andi, silahkan maju kedepan tanda tangan trus ambil rapotnya."


"Baik pak."


Andi pun berdiri sembari membawa pulpen. Dia tanda tangan sebagai bukti rapotnya telah diambil di buku yang disediakan pak Rudi. Trus dia mengambil rapot lalu kembali ke bangkunya. Seterusnya semua siswa seperti itu secara bergantian sesuai no absennya. Setelah semua siswa dan siswi menerima rapot. Pak Rudi berdiri dari kursi guru. Dia menuju ke tengah depan siswa. Dia membawa satu lembar kertas HVS bertuliskan peringkat semua siswa dan siswi kelas X IPA-2.

__ADS_1


__ADS_2