
Karena terlalu terbawa suasana, Claire lupa dengan keadaan Venna sebelumnya. Brian langsung memberikan peringatan kepada Claire dengan isyarat matanya agar Claire diam. Venna yang terlihat tiba-tiba murung membuat Claire mengigit ujung lidahnya dan langsung beralih ke urusan lain.
"Oh iya Venna, bagaimana dengan Sean? Apakah aku nginap saja di rumahmu untuk menjaga baby Sean?" Tanya Claire.
"Sepertinya sudah ada mami dan ayah yang akan menjaga Baby Sean. Ya sudah. Kalau kalian pulang, pulang saja. Biar aku yang jaga baby Seina. Kita bisa gantian agar tidak pada kelelahan. Apa lagi jaga bayi akan membuat kalian akan kelelahan." Ucap Claire menawarkan dirinya untuk merawat Seina.
"Tidak apa Claire. Nanti kalau kami kelelahan, kami baru minta tolong padamu. Sebaiknya kamu harus menjaga kesehatanmu, supaya kamu juga bisa cepat hamil." Ucap Venna.
"Terimakasih Venna. Aku sangat senang punya ipar sepertimu. Kita memiliki banyak kecocokan. Kalau aku libur, kita buat masakan bersama. Kalau mau dua Minggu lagi suami kita merayakan ulang tahun mereka, bagaimana kalau kita rayakan di rumahku saja?"
Degggg....
Wajah Venna terlihat tegang saat mendengar tawaran Claire. Melihat perubahan wajah istrinya yang terlihat tidak suka dengan tawaran Claire, membuat Brian langsung merubah acara itu.
"Supaya acara ulang tahun kami lebih bermakna, bagaimana kalau di adakan di rumah mami dan ayah. Sudah lama kita tidak menginap mereka." Ucap Brian.
"Itu juga bagus. Aku akan bicarakan ini dengan Calvin. Kalau begitu aku pulang dulu. Seina nya sudah tidur. Semoga cepat sembuh ya, kesayangan aunty." Claire mengecup pipi gembul keponakan kesayangannya itu.
Venna begitu kasihan pada Claire yang begitu mengharapkan momongan. Keduanya saling cipika cipiki diikuti ucapan perpisahan. Sepeninggalnya Claire, Brian begitu penasaran dengan istrinya.
"Sayang. Boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?"
"Silahkan sayang? Apa yang hendak kamu ingin tanyakan?"
"Apakah Calvin pernah mengganggumu secara verbal?" tanya Brian.
Venna terkesiap dan segera mengalihkan pandangannya dari Brian ke arah putrinya." Tidak pernah Brian. Calvin sangat baik padaku." Ucap Venna gugup.
__ADS_1
Brian menarik dagu Venna agar menatapnya." Apakah kamu ingin aku menangkap basah dia melecehkan kamu dan di saat itu terjadi, aku mungkin akan membunuhnya." Tegas Brian makin membuat Venna mengigit bibir bawahnya.
"Tidak kasih tahu Brian salah. Di kasih tau pun pasti akan terjadi pertengkaran antara mereka. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" batin Venna dengan kepalanya berdenyut.
Melihat ekspresi wajah Venna yang tertekan membuat Brian tidak ingin memaksanya. Keadaan mental Venna yang terlihat masih labil, menjadikan Brian tetap waspada dengan tindakannya." Ya sudah, baby. Kalau tidak terjadi apa-apa antara kamu dan Calvin, tidak perlu dipikirkan. Cobalah rileks! Aku hanya ingin kamu tetap baik-baik saja saat berada di tengah keluargaku." Ucap Brian lalu membawa Venna dalam pelukannya.
"Aku tidak mau menyakiti hati Claire, jika sampai kalian berdua berkelahi hanya karena aku." Batin Venna.
Tiga hari kemudian, keadaan baby Seina sudah mulai membaik. Bayi cantik sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Brian menggendong bayinya itu , dengan satu tangannya merangkul bahu Venna.
Banyak pengunjung rumah sakit nampak kagum melihat wajah pasangan ini. Diantara mereka ada yang sangat mengenal Brian tapi ada yang tertukar antara Brian dan Calvin.
...----------------...
Tepat dua pekan, Venna sedang mempersiapkan dirinya berdandan secantik mungkin untuk merayakan ultahnya Brian. Ia ingin datang ke kantor suaminya sebelum jam makan siang dengan membawa satu kotak cake.
Tok... tok...! ceklek.
Brian berpikir itu asistennya Hendrik hingga tidak ingin membalikkan kursi kebesarannya itu. Venna dengan santainya meletakkan kotak cake itu di atas meja kerja suaminya. Ia membuka mantelnya dan menggantungkan ditempat yang sudah disiapkan di sudut ruangan itu.
Dress putih yang membalut tubuh Venna tanpa lengan dengan leher rendah memperlihatkan ************ lehernya yang jenjangnya yang sudah dihiasi kalung berlian hasil rancangan suaminya.
Brian yang sedikit heran dengan sikap asisten Hendrik, membuat ia segera memutarkan kursinya sambil berujar, " Hendrik, apa yang sedang kamu...Venna?" Wajah Brian langsung berbinar melihat kehadiran istrinya yang sudah membuka kotak kue itu.
"Happy birthday, my hubby!"
Brian segera berdiri menyambut istrinya. Keduanya saling berciuman sesaat." Tiupin lilinnya dulu dan ucapkan 3 permintaanmu pada Tuhan!" pinta Venna.
__ADS_1
Brian melakukan apa yang dipinta oleh istrinya lalu keduanya meniup lilin bersamaan. Brian memotong kue ulang tahun itu dan potongan pertama langsung disuapin ke mulut Venna.
Bibir Venna yang belepotan dengan krim kue, membuat Brian gemas untuk membersihkan bibir Venna dengan bibirnya." Sayang..! Kamu sangat menggemaskan dan juga menggiurkan. Dan satu lagi, kamu sangat cantik hari ini. Apakah kamu sedang menggodaku, baby, hmm?" Suara berat Brian membuat Venna mulai meremang.
Suara Brian terdengar sangat sensual seakan membangkitkan seluruh syarafnya untuk menerima serangan ringan dari pria tampan itu.
"Apa hadiah darimu untukku?" Pancing Brian kembali memagut bibir Vena seraya mengangkat tubuh Venna menduduki meja kerjanya.
Venna mengalungkan tangannya ke leher Brian." Tubuhku sebagai hadiahmu, Brian." Bisik Venna memberanikan dirinya untuk tampil agresif walaupun harus melawan batinnya saat ini.
Walaupun sudah sering melakukan percintaan panas, tetap saja jantung Venna selalu dibuat berdetak kencang jika sudah berurusan dengan ranjang.
"Kalau begitu, puaskan aku Baby!" bisik Brian seperti pria mesum.
"Sekarang?" Tanya Venna dengan suara bergetar.
"Tentu saja, Baby. Kamu sudah datang menggodaku dengan dress seperti ini. Sekarang, kamu harus bertanggungjawab untuk itu." Ucap Brian dengan tangan yang sudah meremas pinggang Venna yang terlihat gelisah.
"Tapi ini ruang kerja kamu sayang. Mana mungkin kita bercinta di sini? Kenapa kita tidak di...-"
"Lakukan sayang!" Desak Brian yang tidak kuat lagi membuat Vena melakukan apa yang diinginkan oleh suaminya.
Brian menekan tombol kunci pada pintunya agar tidak ada yang berani serobot masuk. Venna mulai melakukan tugasnya untuk memanjakan milik suaminya di bawah sana membuat mata Brian terpejam sambil mendesis penuh kenikmatan.
"Vena..! Kamu makin hebat sayang." Brian mengerang saat miliknya sudah berada di dalam rongga mulut istrinya.
"Faster, Baby!" Brian meracau tak karuan kala beribu kenikmatan itu siap meledak dibawah sana.
__ADS_1
"Auhhghtt...Venna....yes baby!"