Siapa Ayah Anakku?

Siapa Ayah Anakku?
25. Pertengkaran Claire dan Calvin


__ADS_3

Usai menjalani rawat inap di RS, Calvin kembali ke rumahnya dengan perasaan malu dan rasa bersalah. Sebagai istri, Claire tidak ingin memperlihatkan kelemahannya di depan Calvin. Ia malah menyambut Calvin dengan mesra walaupun hatinya saat ini ingin menangis.


"Apakah keadaanmu sudah lebih baik Calvin?" tanya Claire.


"Sudah."


Calvin memperhatikan wajah istrinya yang masih mempertahankan keramahannya di depannya." Apakah kamu makan sesuatu Calvin?" tanya Claire lagi sambil menyiapkan makanan diatas meja karena ia memasak sendiri makan siang untuk mereka.


"Ada apa denganmu Claire? Kenapa berusaha bersikap manis padaku, hmm? kalau hatimu saat ini sedang marah?" sinis Calvin.


Claire tertawa hambar. Ia menatap wajah suaminya dengan lebih dalam." Rasa sakit yang kau berikan kepadaku hingga membuat hatiku rasanya kebas dan tidak lagi punya kekuatan untuk melampiaskan amarah karena kecewaku padamu. Rasa yang tersisa saat ini hanyalah ingin berdamai dengan keadaan karena amarahku tidak mampu mengubah perilaku burukmu padaku," sarkas Claire membuat mata Calvin membulat penuh.


"Jadi kamu mau aku meminta maaf padamu? dan berjanji untuk berubah agar rumah tangga kita terlihat bahagia?" tanya Calvin makin menyiram asam di hatinya Claire.


"Oh...! Kamu terlalu percaya diri Calvin. Aku sama sekali tidak bermimpi meminta itu padamu. Aku tidak berminat. Bahkan aku ingin pernikahan kita ini diakhiri saja tanpa ada drama," ucap Claire santai seakan ia tidak butuh apapun dari pria yang pernah membuat harinya bermakna.


"Jangan pernah bermimpi untuk kita mengambil jalan itu. Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Kita tetap berada dalam ikatan ini entah kamu suka atau tidak. Lagi pula wanita mandul sepertimu mana ada yang mau. Paling-paling mereka hanya menginginkan tubuhmu bukan hatimu," sarkas Calvin membuat Claire terhenyak.


Selama lima tahun menikah dengan Calvin, tidak pernah sekalipun Calvin mengatai kata yang paling tabu untuk ia dengar. Tapi kata itu hari ini seakan dipanah dengan panah beracun yang tidak bisa ia hindari.


Setelah mendengar ucapan menyakitkan itu, Claire berlari masuk ke kamarnya dan menangis di dalam kamar. Rasanya ia ingin mengamuk dengan merusak semua barang yang ada di kamarnya. Tapi hati Claire yang sudah tercabik-cabik oleh luka itu, kini memilih untuk tetap tenang dan mencari solusi lain yang bisa menenangkan jiwanya.


"Jangan marah Claire. Tidak ada sesuatu yang membawamu pada titik kebahagiaan hanya dengan amarah. Kamu adalah dokter ahli kejiwaan. Kamu bisa menenangkan orang lain yang terganggu jiwanya. Saat ini, kamu sedang diuji dengan ujian yang sama. Sebelum mengobati orang lain, sebaiknya obati dirimu sendiri. Karena hampir semua pasienmu gila pernah melewati fase ini," batin Claire menguatkan batinnya saat ini.


Sementara itu, Calvin tidak ingin menemui istrinya. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri entah apa yang ia pikirkan saat ini setelah kelakuannya sudah tertangkap basah oleh saudara kembarnya sendiri.


Claire merenungi nasib pernikahannya. Untuk bisa bebas dari suaminya tidak semudah yang ia bayangkan. Ia harus berpikir untuk bisa pergi dari hidup Calvin agar pria bisa menyadari kebodohannya dan sekaligus menguji cinta Calvin kepadanya. Tapi saat ini Claire tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru karena ia yakin suaminya pasti sudah menyuruh anak buahnya untuk mengawasi dirinya agar tidak pergi ke manapun.

__ADS_1


Claire berinisiatif untuk mengunjungi Venna. Hanya Venna yang bisa ia ajak untuk berbagi saat ini. Walaupun semuanya hancur berawal dari mantan pasiennya itu. Claire tidak ingin curhat kepada siapapun karena ia tidak percaya pada siapapun kecuali dirinya sendiri.


Setelah beberapa hari kemudian, Calvin sudah kembali lagi ke aktifitasnya sebagai pengusaha. Sementara Claire mendatangi apartemen Venna untuk curhat masalah rumah tangganya.


Kedatangan Claire tanpa pemberitahuan terlebih dahulu membuat Venna sedikit agak segan menemui iparnya itu. Apalagi saat ini dia harus menjaga kehamilannya dan juga jantungnya yang tidak boleh terganggu oleh berita apapun.


Seorang pelayan membuka pintu utama itu dan melihat wajah Claire dan pelayan yang sudah tahu siapa Claire meminta Istri dari Calvin itu masuk.


"Selamat pagi nona Claire!" sapa pelayan Annie.


"Pagi Anne! Apakah aku bisa bertemu dengan Venna?" tanya Claire sambil memperhatikan sekitarnya yang nampak sepi.


"Nona Venna ada di kamarnya. Silahkan temui nona Venna!"


"Ke mana keponakan kembarku?"


"Baiklah. Terimakasih atas pemberitahuannya. Aku langsung saja ke kamar Venna," ucap Claire sambil melangkah ke kamarnya Venna.


Tokkk...tok..


"Masuk!" Venna menengok ke pintu kamarnya dan melihat ada iparnya Claire.


Venna berusaha bangun tapi dicegah oleh Claire." Tidak perlu bangun Venna! Biar aku yang mendatangi kamu," ucap Claire sambil tersenyum semanis mungkin pada Venna walaupun matanya terlihat sendu.


"Apa kabar Claire!" Venna tertunduk malu tidak berani menatap Venna.


"Hei..! Kenapa kamu terlihat canggung padaku? Apakah kamu tidak tahu kalau aku sebetulnya tidak menyalahkan dirimu?" ujar Claire sambil mengusap kepala Venna.

__ADS_1


"Demi Tuhan Claire aku tidak pernah menggoda suamimu," tutur Venna..


"Aku sangat percaya kepadamu karena aku tahu kamu adalah wanita terhormat," tutur Claire.


"Apakah Calvin dan kamu sudah membahas ini?" tanya Venna gugup.


"Apakah aku pantas memaafkannya Venna? Apakah aku harus memaklumi sikap menjijikkan suamiku itu?" tanya Claire lagi.


"Sudah sejak lama ia sengaja menggodaku dan aku berusaha merahasiakannya karena tidak ingin membuat hubungan kalian hancur apalagi Calvin dan suamiku adalah saudara kembar," ucap Venna sambil mengusap air matanya.


"Aku ke sini hanya ingin minta pendapatmu. Apa yang harus aku lakukan pada suamiku yang berengsek itu, Venna?" tanya Claire.


"Apakah kamu ingin menggugat cerai dirinya?" tanya Venna.


"Reputasi keluarganya sangat ia junjung. Calvin tidak akan melakukan itu karena ini berhubungan dengan bisnisnya," ucap Claire.


"Kalau begitu tinggalkan dia. Pergi yang jauh agar ia sulit menemukan dirimu," ujar Venna meyakinkan Claire.


"Ke mana aku harus sembunyi Venna?" tanya Claire.


"Indonesia. Aku punya villa keluarga begitu banyak di Indonesia. Ada di Bandung, di Bali dan di kota Malang," jelas Venna.


"Bagaimana cara aku lari darinya?"


"Minggu depan, kedua orangtuaku kembali. ke Jakarta membawa membawa salah satu anak kembarku. Kamu bisa ikut dengan mereka. Aku akan meminta tolong ayahku untuk mengatur pelarianmu. Tunggu aku di sana setelah keadaanku membaik aku dan Brian akan pindah ke Indonesia karena Brian sudah memantapkan pilihannya untuk pindah perusahaannya di sana. Perusahaan di sini, asistennya yang akan mengelolanya," jelas Venna panjang lebar.


"Baiklah Venna. Aku terima saranmu. Doakan semoga berhasil!" ucap Claire lalu keduanya tersenyum walaupun tidak terlihat bahagia saat ini karena kesedihan masih menggelayut di pelupuk mata mereka.

__ADS_1


__ADS_2