
Usai melepaskan kerinduan mereka, Claire pamit ke dapur untuk membuat susu ibu hamil untuknya. Ia juga menyiapkan wedang jahe untuk ibu mertuanya karena tidak ada wine di rumah itu mengingat dirinya saat ini sedang hamil.
Disaat Claire sibuk membuat minuman, nyonya Carine menghubungi putranya. Calvin yang sudah berdiri di depan teras villa segera masuk ke dalam villa itu.
"Masuklah. Temui istrimu di dapur!" ucap nyonya Carine membuat Calvin bahagia bercampur cemas. Sementara nyonya Carine tidak mengatakan apa-apa tentang kehamilan Claire pada putranya karena ia ingin memberikan kejutan untuk keduanya.
Kejutan untuk Claire saat ia bertemu suaminya lagi dan kejutan untuk Calvin saat melihat kehamilan Claire. Nyonya Carine meninggalkan keduanya dan masuk ke dalam kamar karena tidak ingin melihat adegan kerinduan yang pasti sesaat lagi akan memanas. Ia juga tidak ingin jadi nyamuk untuk keduanya. Hatinya sangat berharap bahwa pertemuan keduanya akan kembali merekatkan lagi cinta keduanya yang hampir merenggang.
Jika cinta yang retak di direkatkan maka masih ada celah retak yang terlihat, tapi bila cinta yang renggang itu sedikit menjauh, kemungkinan tersambung kembali jauh lebih menarik terlihat dari luar. Itu yang dipikirkan oleh nyonya Carine saat ini.
Calvin melangkahkan kakinya perlahan menuju dapur di mana sang istri sedang berkutat di meja dapur membelakanginya. Langkah itu terhenti saat melihat tubuh istrinya yang tidak lagi berdiri tegak tapi tubuh sedikit condong ke belakang dengan dress mini hingga memperlihatkan bentuk bokong semok tercetak jelas di hadapannya kini.
"Tunggu. Apakah ini benar istriku Claire? Kenapa tubuhnya terlihat berubah dan.... astaga! apakah..?" Tubuh Calvin seketika meremang dengan jantung makin berdegup tak karuan.
Sensasi hebat yang ia rasakan saat ini entah apa lagi yang terungkap dari rasanya selain kata bahagia. Yah, hanya itu kata tertinggi untuk menggambarkan rasa yang dirasakan oleh manusia.
"Mami...!" panggil Claire sambil mengaduk wedang jahe.
"Yah. Itu suara istriku," gumam Calvin dengan air mata yang sudah tumpah ruah.
Sekarang tubuh Calvin langsung kaku ditempatnya berdiri. Tungkai kakinya terlalu lemah untuk melangkah lagi. Ia hanya bisa menatap tubuh istrinya dari belakang. Bahkan lidahnya begitu kelu hanya untuk menyebutkan kata Baby.
__ADS_1
Claire membalikkan tubuhnya sambil mengangkat baki yang berisi dua gelas minuman yang bernada. Seketika tubuhnya bergetar hebat dengan pegangan baki yang hampir terlepas dari tangannya. Air matanya mengembang saat melihat wajah tampan suaminya tampak berbeda saat ini. Wajah yang sudah kehilangan gairah hidup karena kekuatan jiwanya dibawa pergi oleh pujaan hati.
"Ca..Calvin...! kaukah itu....?" tanya Claire yang takut ia sedang mengalami delusi saat ini.
Calvin segera menangkap baki yang dipegang istrinya yang hampir saja jatuh. Pertemuan mereka terlihat sangat emosional kini. Rindu mengharu biru. Terpisah begitu lama hanya ingin membenahi hati. Calvin meletakkan baki itu ke meja tanpa memalingkan wajahnya dari Claire yang masih bisa menangis mematung menatap dirinya.
Tangan lembut Claire mencoba menyentuh wajah kekasih yang telah memberinya kehidupan didalam rahimnya." Aku tidak bermimpi. Ini benar kamu Calvin, suamiku." Ucap Claire dengan tergagap tanpa bisa menahan gejolak jiwanya karena bahagia.
Calvin tidak mau lagi menjawab. Ia tidak ingin mengulur waktu lebih lama untuk membungkam bibir istrinya dengan pagutan menggebu-gebu. Tubuh Claire dipeluknya lembut karena tidak bisa lagi menahan asmara yang sudah lama terpendam bakan terlalu sakit menggerogoti jiwanya.
"Kemana saja kamu sayang? tempat mainmu terlalu jauh hingga aku sulit menemukanmu," bisik lirih Calvin sambil mencium leher jenjang istrinya.
"Claire..! Ini...?" tanya Calvin merasa takjub dengan reaksi anaknya yang menyambutnya.
"Iya sayang. Mereka kembar," ucap Claire membuat Calvin harus membungkuk untuk mencium setiap tonjolan yang muncul di permukaan perut istrinya.
Calvin mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkan tubuh itu di atas meja. sementara itu Calvin menyingkap dress Claire ke atas hingga memperlihatkan perut besar Claire. Calvin tersenyum melihat kenakalan calon bayi kembarnya yang masih saja bergerak lincah di dalam sana.
"Ayah sudah bisa melihat gerakan kalian. Ayah tangkap kalian sekarang ya?" Calvin begitu senang bisa becanda dengan putri kembarnya sebentar.
"Apakah bunda kalian merindukan ayah?" tanya Calvin sambil mendongakkan wajahnya menatap wajah Claire yang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Iya ayah. Bunda sangat merindukan ayah?" ucap Claire menirukan suara anak-anak.
"Berarti kalian juga sangat merindukan ayah? Apakah kalian mau ayah kunjungi sekarang, hmm?" tanya Calvin membuat darah Claire berdesir membayangkan anakonda suaminya menemui lagi sarangnya.
Diamnya Claire menandakan bahwa istrinya sudah siap untuk disentuh." Di mana kamarmu sayang?" tanya Calvin sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.
Claire menunjukkan kamar utama yang menghadap langsung dengan perbukitan yang ditumbuhi pohon teh. Calvin melirik susu ibu hamil itu lalu mengambilnya untuk Claire.
"Minum dulu sayang. Takutnya dingin," ucap Calvin yang memegang gelas itu sudah berkurang hangatnya tapi susunya masih terasa hangat.
Usai minum susu, Calvin mengendong tubuh istrinya menuju kamar mereka. Kamar tanpa AC itu karena alam sudah membuat sekitarnya sudah sangat dingin. Setiap malam Claire hanya menghabiskan waktunya di kamar itu untuk tidur sendiri di temani selimut tebalnya dan sekarang, dia butuh lagi selimut itu karena selimut aslinya sedang menghangatkannya dan mungkin sebentar lagi akan terasa sangat panas.
Calvin sudah menanggalkan dress dan pakaian dalam istrinya. Ia juga menanggalkan pakaiannya sendiri dan kedua kembali saling menyerang dan menyentuh. Keduanya seakan sedang mencari pegangan untuk bisa saling menyenangkan sambil menautkan lidah mereka untuk saling mengisap Saliva mereka.
Tidak butuh waktu pemanasan yang lebih lama karena anakonda suami sudah sangat rindu menetap di sarangnya. Tusukan itu berhasil masuk dengan hujaman beberapa kali untuk menyesuaikan kembali tempat tempur mereka didalam lorong sempit itu.
"Claire...! kenapa jadi makin sempit seperti ini sayang," desis Calvin yang merasakan kembali milik istrinya setelah sekian lama dibiarkan menganggur kedinginan hingga terasa sudah seperti agar yang hampir mengeras.
"Buatlah dia kembali dia lentur sayang. Tapi sekarang dia sedang mengigit milikmu supaya kamu tidak akan menjauh lagi darinya ," bisik Claire merasakan lagi rudal besar itu menggelitik miliknya di dalam sana.
Tanpa meminta izin kepada Claire, Calvin mulai memompa tubuh istrinya memberikan Claire menjerit seketika kemudian berganti dengan lenguhan dan erangan erotis karena tempat lembab itu mulai digarap dengan kecepatan standar untuk memberikan kenikmatan kepada istrinya.
__ADS_1