Siapa Ayah Anakku?

Siapa Ayah Anakku?
8. Jadi Semangat


__ADS_3

Sesuai janjinya pada Venna, Brian sengaja menyempatkan dirinya sarapan pagi dengan Venna di rumah sakit jiwa itu. Brian membawa buket bunga dan boneka beruang putih untuk wanitanya. Walaupun sebenarnya Brian tidak tahu apakah Venna menyukainya atau tidak.


Setibanya di depan pintu kamar rawat Venna, Brian meminta ijin pada Claire untuk menemui Venna saat iparnya itu baru keluar dari kamar Venna dengan dokter spesialis kandungan untuk memeriksa keadaan kandungnya Venna.


"Brian...! Mau ketemu Venna?" Tanya Claire saat melihat adik iparnya itu membawa buket bunga mawar dan boneka beruang yang cukup besar.


"Iya Claire. Aku ingin sarapan berdua dengannya." Ucap Brian malu-malu.


"Kalau begitu suruh dia makan yang banyak karena bayi kembarnya kekurangan nutrisi." Ucap dokter Claire.


"Baiklah. Kalau begitu aku mau menemuinya dulu."


"Hati-hati Brian! Dia belum seratus persen sembuh. Bicaralah hal-hal yang baik karena itu akan membuatnya bahagia." Ucap Claire.


"Akan saya coba."


"Ok. Semoga harimu menyenangkan. Jangan memaksanya kalau dia enggan bicara denganmu."


"Ok."


Dokter Claire menutup pintu kamar itu setelah melihat Brian menghampiri Venna yang masih dengan posisi yang sama dengan tatapan lurus sambil mengayunkan tubuhnya ke depan belakang. Pagi ini Venna terlihat sangat cantik karena rambutnya di kuncir satu hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang putih mulus.


"Selamat pagi Venna! Aku membawakan kamu bunga dan boneka. Kamu mau apa dulu yang ingin kamu pegang?"


Venna menatap wajah tampan Brian. Kedua tatapan mata mereka terkunci membuat jantung Brian berdegup kencang melihat manik biru dengan kelopak yang besar membuat Brian sangat kagum pada kecantikan Venna.

__ADS_1


"Astaga...! Kenapa dia secantik ini. Dia gila saja sudah secantik ini apalagi normal." Batin Brian.


Venna melirik boneka yang dipegang oleh Brian dan Brian mengerti Venna menginginkan bonekanya. Brian memberikannya dan Venna langsung memeluk boneka beruang yang cukup besar itu. Brian beranikan diri untuk mengecup kening Venna.


Tidak berapa seorang kurir mengantarkan sarapan dari restoran langganan milik Brian. Brian sengaja membeli untuk mereka berdua.


"Venna..! Apakah kamu mau makan?"


Venna menggelengkan kepalanya. Ia mulai lagi gelisah dan ketakutan lagi hingga memeluk erat bonekanya. Setiap kali Brian bicara, bayangan malam naas itu membuatnya kembali ketakutan.


"Venna...! Apa yang harus aku lakukan padamu untuk membuat mu melupakan malam sialan itu?" Brian terlihat sangat tersiksa jika melihat Venna merasa sangat ketakutan.


"Baiklah kalau kamu masih takut padaku, aku janji tidak akan menemuimu lagi. Tapi kamu harus janji, kamu harus makan yang banyak supaya bayi kembar kita tumbuh sehat dan mereka lahir dalam keadaan sehat tanpa kekurangan gizi." Ucap Brian lalu meninggalkan kamar Venna.


Venna merasa serba salah. Di saat Brian dekat dengannya, moodnya tiba-tiba hilang tapi di saat Brian meninggalkannya, ada rasa kehilangan bahkan takut Brian tidak akan menemuinya lagi.


"Venna semoga kamu cepat sembuh sayang dan aku akan segera menikahimu sebelum bayi kembar kita lahir."


Brian meninggalkan parkir RSJ itu menuju perusahaannya. Brian menerima kliennya yang sedang memesan berlian buatan perusahaannya. Berlian murni yang harganya ratusan hingga miliaran itu kini banyak sekali dipesan oleh klien sejak ia menemukan Venna.


Bagi Brian, Venna seperti Dewi Fortuna untuknya. Itulah sebabnya, Brian sangat sayang pada Venna." Terimakasih baby sudah datang dalam hidupku walaupun dengan cara yang salah.


...----------------...


Sudah hampir satu pekan ini, Brian tidak pernah lagi muncul dihadapannya. Rasa rindunya mulai menyeruak di hatinya pada ayah dari bayi kembarnya. Claire memperhatikan wajah muram Venna yang sedang menantikan seseorang. Setiap kali ada yang masuk ke kamar inapnya, Venna begitu berbinar tapi wajah ceria itu kembali muram saat yang menemuinya bukan orang yang ia harapkan. Venna hanya bisa memeluk boneka beruang dari Brian. Venna yang tadinya naf*su makannya tinggi sekarang mulai berkurang. Pikirannya mulai terganggu dan sering menangis tidak jelas. Bahkan gadis itu tidak mau menyentuh makanannya. Sebagai dokter psikiater Venna, Claire tahu betul yang dibutuhkan Venna saat ini adalah Brian bukan makanan. Karena sering menolak makan membuat tubuh Venna mulai melemah dan ia akhirnya jatuh sakit. Claire buru-buru menghubungi Brian yang saat ini sedang ke luar kota menemui kliennya. Karena sibuk Brian jadi jarang membuka CCTV kamar inap Venna untuk melihat keadaan wanitanya.

__ADS_1


"Hallo Brian...!"


"Hallo Claire! Ada apa..?"


"Keadaan Venna saat ini sedang drop. Tubuhnya demam dan dia mulai meracau memanggil namamu." Ucap Claire.


Antara terkejut dan juga senang karena Venna mulai merindukan dirinya, Brian meminta asistennya untuk mengirim helikopter untuknya.


"Claire! Aku sedang di luar kota. Aku akan ke rumah sakit mu dengan helikopter. Aku ijin mendarat di atas atap landasan rumah sakit milikmu." Ucap Brian.


"Baik. Aku tunggu kedatangan mu."


Empat puluh menit kemudian, Brian sudah turun dari helikopter langsung masuk ke lift menuju kamar Venna. Claire menarik nafas lega karena Brian orang yang tepat mengobati Venna saat ini.


"Brian...! Kamu yang memulai semua ini dan sekarang dia sudah menerimamu di hatinya. Tolong akhiri semua kekacauan yang kamu buat dengan menikahinya. Dia sudah tidak bisa jauh lagi darimu. Dia lebih membutuhkan kamu dari pada obat dan makanan." Imbuh Claire terlihat cemas.


Brian mengangguk dan langsung menemui Venna yang terlihat lemah dengan wajah pucat. Ia mengusap perut besar Venna menyapa calon bayi kembarnya." Hei sayang! Apakah kalian baik-baik saja? Maafkan mom kalian karena tidak mau makan membuat kalian kelaparan. Tapi Daddy janji akan membuat mom kalian mau makan supaya kalian sehat lagi di dalam sana." Ucap Brian seraya mencium perut besar Venna di sambut tendangan lemah dari bayi kembarnya.


"Brian.... Brian!" Panggil Venna dengan mata masih terpejam namun ada air mata yang berhasil lolos dari sudut matanya membuat Brian terenyuh.


Brian mencium bibir Venna membuat gadis itu spontan membuka matanya. Brian sekarang mengangkat wajahnya sedikit lebih renggang untuk menatap wajah cantik Venna yang menatapnya dengan tatapan sendu.


"Apa kabar gadisku! Apakah kamu merendahkanku?" Tanya Brian sambil tersenyum pada Venna membuat perasaan gadis itu meletup-letup entah apa yang dirasakannya saat ini sulit untuk di gambarkan.


Venna mengangkat kedua tangannya untuk memeluk tubuh Brian membuat Brian ikut membawa masuk tubuh Venna dalam pelukannya.

__ADS_1


"Bawa pergi aku bersamamu dari sini, Brian." Pinta Venna seperti orang yang sudah waras saat ini membuat Brian tercengang.


Degggg....


__ADS_2