Siapa Ayah Anakku?

Siapa Ayah Anakku?
21. Acara Ulang Tahun Yang Menegangkan


__ADS_3

Claire dan Venna tampil dengan dress mewah mereka saat merayakan ulang tahun suami mereka yang merupakan saudara kembar. Keduanya turun dari lantai atas di sambut oleh Brian dan Calvin yang mengenakan pakaian pakaian dan sepatu yang sama.


Keduanya disuruh memilih dimana diantara keduanya suami-suami mereka. Sebagai menantu yang muda, Venna di minta lebih dulu oleh ibu mertuanya nyonya Carine untuk memilih siapa diantara keduanya adalah Brian.


Ekspresi wajah Brian dan Calvin yang sama-sama datar membuat Venna agak kesulitan. Iapun menggunakan instingnya untuk bisa memilih diantara keduanya. Venna menyinggungkan senyumnya saat melihat wajah Calvin dengan ekspresi mata terlihat ingin melahapnya.


Calvin berharap kalau Venna memeluk dirinya karena mata Venna terus mengarah ke arahnya. Sementara Brian terlihat frustasi karena Venna hanya fokus pada wajah Calvin.


"Baby! Apakah kamu tidak mengenali aku sama sekali?" jerit batin Brian yang hampir mengaku dirinya adalah suaminya Venna.


"Ayolah Venna! Apakah kamu tidak bisa membandingkan antara Brian dan Calvin?" tantang ayah mertuanya yang ikut tegang melihat permainan ini.


Apalagi janji tuan Muller, jika Venna berhasil menandai suaminya sendiri, maka dia akan memberikan hadiah pada menantunya tersebut berupa villa yang ada di pantai Miami Florida.


Sementara Brian menarik nafasnya berat dan tangan yang ingin ia kepal. Venna akhirnya memantapkan pilihannya dengan sedikit mengejek Calvin saat dua tangan ingin memeluk Calvin malah beralih ke Brian sambil melum**at bibir suaminya.


Brian yang tadinya tegang langsung menggendong istrinya lebih tinggi darinya. Tepuk tangan para tamu undangan merasa lega karena Venna mengenali Brian. Sementara Calvin terasa patah hati seraya menghampiri istrinya Claire yang masih berdiri di anak tangga.


Sebagai seorang dokter psikiater, Claire bisa melihat ekspresi wajah suaminya yang menyimpan perasaan pada Venna. Untuk tidak memicu keributan diantara mereka, Claire menahan dirinya untuk menegur Calvin. Ia tetap bersikap hangat dan mesra pada suaminya walaupun hatinya terasa sangat sakit kini.


"Mengapa kamu lama sekali mengenali aku sayang?" tanya Brian sedikit gemas pada istrinya.


"Aku harus hati-hati agar tidak terjebak dalam permainan ini. Bukankah sikap waspada itu perlu, Brian?"


"Iya sayang. Itu harus agar kita tidak mudah tertipu dalam hak sekecil apapun." Balas Brian.


"Kamu pasti tegang saat aku hanya fokus pada wajah Calvin?"


"Iya. Dan aku hampir berteriak karena begitu takut kamu salah mengenali Calvin sebagai aku."


"Tidak akan pernah. Aku memilihmu dengan mata batinku yang sedang bicara padaku untuk menunjukkan kebenaran bukan mata sesungguhnya yang digunakan sebagai penglihatan." Ucap Venna penuh penekanan pada kalimatnya.

__ADS_1


Brian begitu takjub mendengar untaian kata-kata indah yang terucap dari bibir manis istrinya. Ingin rasanya saat ini ia meniduri istrinya kalau tidak mengingat pesta ulang tahunnya yang dirayakan di rumah keluarganya.


"Kamu pintar sekali berkata-kata sayang." Brian memangku istrinya yang sedang berkoala dipinggangnya.


"Aku...?"


"Hmm!"


"Kata-kata yang terucap indah hanya terlahir dari ketulusan hati. Dengan begitu ungkapan tulus itu mampu menembus dinding hatimu yang mampu tersentuh arti ketulusan itu." Imbuh Venna.


"Wow keren! Apakah kamu seorang pengacara yang mempunyai intuisi berpikir untuk mengolah kalimat menjadi sebuah kalimat yang bisa mendorong opini?"


"Sebuah kalimat pendorong opini untuk urusan hukum hanya untuk menekan lawan kliennya agar memenangkan kasus dalam persidangan. Tapi, apa yang barusan aku ucapkan padamu adalah perasaan cintaku yang tak terukur besarnya hanya dengan sebatas kata. Apakah kamu tidak bisa merasakannya, sayang?" Cecar Venna.


"Sangat bisa apa lagi saat ini adik kecilku ingin memasuki dirimu. Apakah kamu bisa merasakannya sayang?" Brian sengaja menekan bokong istrinya untuk merasakan miliknya dibawah sana yang sudah mengeras.


"Aiss! Jangan sekarang sayang! Kasihan kedua mertuaku yang sudah mempersiapkan pesta ini untuk kalian." Ucap Venna.


"Tidak masalah. Untuk suamiku, apa sih yang tidak bisa?" canda Venna membuat Brian meraup bibir istrinya meng**lum lebih dalam hingga membuat Venna mende$ah.


Dari kejauhan, Calvin merekam ciuman panas saudara kembarnya Brian pada Venna. Calvin menarik sudut bibirnya entah apa senyum miring itu, hanya dirinya sendiri yang mengerti.


"Brian....!"


"Venna...!"


Panggilan nyonya Carine pada putra dan menantunya untuk berkumpul di taman belakang karena acara makan malamnya sudah di mulai.


"Iya mami." Venna turun dari pangkuan suaminya sambil merapikan riasannya di depan cermin besar yang ada di sudut ruang keluarga.


Saat Venna ingin memakai lagi lipstik, Brian melarangnya." Jangan memakai lagi lipstik itu baby!"

__ADS_1


"Kenapa Brian ?"


"Bibirmu sudah menyihir orang lain untuk ikut menikmati melalui mata mereka. Cukup buat aku saja. Jangan membuatku cemburu malam ini. Kamu sudah cantik tanpa memakai apapun. Dari mata, hidung, bibir, dan pipi sudah punya nilai tersendiri masing-masingnya. Jadi, jangan menantang orang lain untuk melakukan kejahatan kepadamu."


"Baiklah. Kalau suamiku tidak suka, aku harus bilang apa." Venna tersenyum lebar membuat Brian merangkul pinggangnya dengan posesif.


Keduanya sudah bergabung dengan keluarga besar mereka. Tidak lama, kedua orangtuanya Venna yang baru datang dari Indonesia ikut meramaikan acara ulang tahun Brian dan Calvin.


Brian sengaja mengundang kedua mertuanya itu tanpa sepengetahuan Venna." Ibu...!" Pekik Venna langsung menghamburkan tubuhnya dalam pelukan nyonya Venny.


Tuan Grayson memeluk menantunya Brian dan menghampiri Calvin yang sedang menggendong baby Sean dan Claire menggendong baby Seina.


"Apa kabar ibu!" Tanya Venna sambil merangkul pundak ibunya.


"Sehat sayang. Bagaimana denganmu?"


"Kami semuanya baik. Ayo gabung ibu, ayah." Ucap Venna sambil mengecup pipi ayahnya.


Kedua orangtuanya Venna menyalami besan mereka lalu menggendong cucu kembar mereka. Venna mengecup bibir Brian." Apakah kamu memberikan aku kejutan sayang?"


Brian hanya mengangkat kedua bahunya sambil mencebikkan bibinya membuat Venna makin gemas.


Keluarga itu menikmati makan malam mereka. Venna menyuapi suaminya dan Brian begitu bahagia dengan perhatian Venna.


Calvin merasa jengah melihat kemesraan pasangan itu. Ia pun memalingkan wajahnya sambil tersenyum pada Baby Seina yang berada di gendongan Claire.


Claire merasa kecil di hadapan suaminya karena sejak tadi ia melihat suaminya lebih memperhatikan Venna ketimbang dirinya. Tidak lama kemudian, baby Sean terlihat rewel, Venna segera menghampiri putranya yang berada di pangkuan ibunya.


"Biar Venna tiduri mereka dulu ibu." Ucap Venna sembari mengambil putranya itu. Venna masuk ke dalam rumah mertuanya untuk menidurkan putranya.


Melihat Venna masuk ke dalam, Calvin juga ikut beranjak masuk ke dalam dengan alasan mau pipis. Mata Brian mengawasi Calvin. Ia ingin menangkap basah saudara kembarnya itu saat menggoda istrinya.

__ADS_1


"Bajingan kamu Calvin!" Umpat Brian sambil mengendap perlahan-lahan mengikuti langkah Calvin yang masuk ke kamar di mana Venna berada di kamar bujangnya Brian.


__ADS_2