
Saat ini Venna sedang menjalani operasi sesar anak ke duanya yang juga kembar. Keluarga Brian sudah berkumpul di ruang tunggu kecuali Calvin dan Claire tidak berada di tempat itu karena kehadiran Calvin takut menganggu Brian yang saat ini sedang menantikan kelahiran bayi kembarnya dengan perasaan cemas.
Brian tidak hanya mengkuatirkan bayinya saja, tapi ibu dari bayi kembarnya yang membuatnya sangat gelisah.. Masalahnya jantung Venna saat ini sangat bahaya untuk menjalani operasi sesar. Semuanya terlihat serba salah untuk tubuh Venna. Mau melahirkan secara normal maupun sesar sama saja resiko yang dialami Venna.
Setelah menunggu 6 jam, akhirnya bayi kembar Venna berhasil dikeluarkan dari rahim sang ibu. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan lagi. Brian dan keluarganya sangat bersyukur. Brian memeluk ibunya Carine meluapkan rasa bahagianya.
"Mami. Bayiku selamat tapi, tunggu...! bagaimana dengan keadaan istriku?" tanya Brian kepada dokter Kayla yang masih berdiri ditengah keluarga itu untuk memberitahukan kabar bayi kembar Brian dan Venna.
"Istrimu baik-baik saja tuan. Sebentar lagi nona Venna akan dipindahkan ke kamar inap," ucap dokter Kayla sambil tersenyum pada keluarga itu.
"Syukurlah. Terimakasih dokter!" Brian menarik nafasnya lega. Rasa tersiksa yang dialami olehnya seakan sirna bersamaaan dengan kabar baik yang diterimanya pagi ini.
"Mami, Daddy dan ibu. Sekarang kalian pulang saja. Dari semalam kalian belum tidur. Nanti kalian bisa sakit," ucap Brian.
"Nanti saja. Kalau kami sudah melihat cucu kembar kami dan Vena," ucap nyonya Carine.
"Giliran susah maunya ditemani. Sekarang sudah lega, kami diusir. Dasar anak nakal!" umpat tuan Muller.
"Yah, nggak enak lagi bermesraan depan mertua," ucap Brian menyindir Nyonya Venny yang terlihat gelisah.
"Ada apa Nyonya Venny?" tanya nyonya Carine.
"Aku memikirkan keadaan Claire. Sebaiknya nyonya Carine dan tuan Muller ke Bogor saja temanin Claire," ucap Nyonya Venny.
"Tenang saja Nyonya Venny. Ada suaminya Calvin yang menemani dirinya," ucap nyonya Carine keceplosan menyebut nama putranya Calvin.
"Apa..? jadi Calvin sudah bertemu dengan Claire?" tanya Brian dengan raut wajah kelam.
"Iya sayang. Kenapa harus dipertemukan karena Claire tanggung jawabnya Calvin. Dia yang berhak atas diri Claire bukan kita. Apakah kamu mau dipisahkan dengan Venna jika kamu bermasalah dengan istrimu?" tanya nyonya Carine membuat Brian tidak bisa bicara apa-apa lagi pada keluarganya.
"Terserahlah. Yang penting dia tidak muncul dihadapanku.
__ADS_1
"Sayang. Calvin sudah berubah. Tolong berikan dia kesempatan. Claire berencana akan melahirkan disini. Dua bulan lagi rencana operasi sesarnya. Setelah itu mereka akan kembali ke Paris Perancis," ucap nyonya Carine.
"Kita lihat saja nanti mami. Brian mau lihat Venna dan bayi kembar kami dulu," ucap Brian sambil berlalu dari hadapan keluarganya.
Saat berada di kamar inap itu, Brian mencium bibir Venna lebih dalam. Hatinya sangat bahagia karena Venna terlihat baik-baik saja. Perlakuan dokter di negaranya tidak sama dengan dokter yang ada di kota istrinya, khususnya di rumah sakit tempat istrinya melahirkan bayi kembar mereka.
Dokter di rumah sakit tersebut sangat sabar dalam menangani pasiennya. Mungkin itu sebabnya Venna merasa nyaman saat ditangani tim dokter yang melakukan operasi sesar padanya. Walaupun mereka tahu resiko yang akan mereka hadapi antara nyawa Venna atau bayi kembar itu. Itulah yang membuat Brian tidak tenang saat Venna di sesar.
"Mereka sangat mirip dengan kamu Brian," ucap Venna pada Brian yang sedang menggendong salah satu bayinya.
"Aku akan memberikan nama mereka Austin dan Ashley," ucap Brian.
"Nama yang keren. Oh iya, di mana Shena dan Sean? aku merindukan mereka," ucap Venna.
"Sebentar lagi mereka akan datang. Kamu tenang saja sayang," ucap Brian.
Tidak lama kemudian, si kembar sudah datang bersama tuan Gray yang langsung mencium kening putrinya.
"Wah! itu adik bayi kami, mami? siapa nama mereka?" tanya Seina.
"Yang perempuan namanya Ashley dan yang laki namanya Austin," sahut Brian.
"Terimakasih mama, daddy sudah kasih adik buat kami," ucap Sean yang begitu senang melihat adik kembarnya.
"Kalian harus menjaga adik kembar kalian dengan baik. Kalau bisa sampai kalian dewasa. Ok!" pinta Venna pada si kembar.
"Ok mama. Sean akan menjaga kalian semua, terutama mama," ucap Sean begitu sayang pada Venna.
Dua bulan kemudian, Claire melahirkan bayi kembarnya di rumah sakit Bogor secara normal. Kebahagiaan menyelimuti pasangan itu terutama Calvin yang melihat wajah cantik putri kembarnya sekarang sudah berada di hadapannya. Wajah itu perpaduan antara dirinya dan Claire.
"Sayang. Mereka sangat cantik. Seperti boneka hidup," ucap Calvin.
__ADS_1
"Berikan mereka padaku! aku ingin menyusui mereka," ucap Calvin sangat semangat.
Kedua orangtuanya Venna dan Calvin sudah ada di kamar itu untuk melihat cucu baru mereka. Nyonya Carine tersenyum pada putranya.
"Mereka datang untuk menyatukan hati kalian. Semoga kalian selalu bahagia karena kehadiran mereka," ucap nyonya Carine.
Claire memberikan nama putrinya Arabella dan Abigail. Dua hari kemudian Claire sudah diperbolehkan pulang. Calvin tidak sabar untuk membawa pulang si kembar ke negaranya.
Akhirnya setelah menunggu selama satu bulan, kedua orangtuanya Calvin dan juga Calvin memboyong keluarga kecilnya ke Perancis. Perpisahan itu sangat menyedihkan bagi Claire dan Venna.
"Terimakasih Venna. Berkatmu aku bisa menenangkan hatiku di negaramu yang seperti surga itu. Aku juga mendapat hadiah dari Tuhan dengan kehadiran si kembar dan suamiku kembali mencintaiku," ucap Claire.
"Semua sudah bagian dari takdir Claire. Tidak ada rumah tangga berjalan dengan mulus. Hanya di kuburan yang tidak mengalami ujian," canda Venna.
"Kita harus saling berbagi kabar tentang tumbuh kembang putra putri kita," ucap Claire.
"Pastinya. Selamat jalan dan hati-hati. Aku mencintaimu saudaraku, Claire," ucap Venna sambil menangis.
"Sama sayang. Ayolah jangan membuat aku semakin berat meninggalkan kalian," ucap Claire.
Claire memeluk Nyonya Venny yang sudah ia anggap seperti ini kandungnya sendiri." Tante, apakah kamu sudah membekali bumbu masakan Indonesia untukku? aku pasti sangat merindukan masakan Indonesia," ucap Claire sambil menangis.
"Aku sudah membungkus rendang untuk kalian. Sampai di sana dihangatkan saja dan sisanya simpan di kulkas," ucap Nyonya Venny.
Sementara itu Brian dan Calvin sedang bicara serius. Entah apa yang mereka ucapkan. Sepertinya Calvin terlihat memohon maaf pada saudaranya itu.
"Karena kebaikan Claire dan juga keponakanku aku memaafkanmu. Jaga mereka baik-baik dan jangan salaman dengan istriku Venna. Aku tidak mengijinkannya," ucap Brian tegas.
"Cih. Kau masih saja posesif," ucap Calvin. Keduanya saling berpelukan.
Tidak lama kemudian pesawat jet pribadi milik tuan Muller sudah take off meninggalkan Indonesia.
__ADS_1
"Terimakasih tanah air Indonesia. Negeri mu sangat indah dan penduduknya sangat ramah. Semoga putriku mendapatkan jodoh di negeri ini," ucap Claire dalam doanya.