
Wajah Brian terlihat mengeras saat ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Memiliki Venna tidak semudah yang ia bayangkan. Mendapatkan dengan cara yang salah dan kini a harus bersaing dengan saudara kembarnya sendiri untuk mendapatkan gadis itu walaupun Venna sudah menjadi hal milik Brian.
Sekarang, pemilik hidup Venna yang sebenarnya juga ingin mengambil kembali miliknya untuk kembali ke alam lain, tentu saja Brian menjadi serba salah kini. Mau menyetujui tawaran dokter yang mengatasnamakan keselamatan Venna, tetap saja mereka tidak bisa membuat Venna kembali kepadanya.
"Tuan. Tolong berikan keputusanmu!" pinta dokter Cindy.
"Apakah kamu bisa menjamin keselamatan istriku setelah aku setuju kalian melakukan aborsi calon anakku, hah?" bentak Brian yang merasa kalau dokter itu bertindak gegabah tidak memikirkan kejiwaan Venna jika gadis itu tahu bagian dari dirinya direnggut paksa untuk tidak tumbuh dalam rahimnya.
"Terus, apa yang anda inginkan Tuan?" tanya dokter lagi.
"Biarkan Istriku melanjutkan kehamilannya. Jika ia harus mati, ia mati dalam keadaan mulia karena Tuhan memberikan kesempatannya untuk menjadi seorang ibu. Anak itu adalah hasil dari cinta kami dan aku yakin jika apapun yang tumbuh dengan cinta akan kuat tanpa ada kendala," tegas Brian.
"Bagaimana kalau keyakinan anda tidak sesuai dengan kenyataan yang akan dihadapi oleh istri anda Tuan?"
"Itu resiko aku sendiri, kenapa anda yang heboh. Anda wanita bukan? di mana hati nurani anda saat bagian tubuh anda direlakan untuk dibuang dengan dalih kesehatan atau jiwa yang terancam. Coba tangan dan kaki anda yang menjadi kebanggaan anda secara visual dan berguna untuk menunjang aktivitas anda tiba-tiba di ambil, apakah anda merelakannya demi jantung anda?' tanya Brian.
"Aku tidak segila itu menyerah begitu saja Tuan ," jawab dokter Cindy membuat sudut bibir Brian mengukir lekukan senyum sinis.
"Begitu juga calon bayiku yang merupakan bagian tubuh istriku di mana separuh jiwaku ada bersamanya yang menumpang hidup di rahimnya kini harus direnggut oleh mu hanya alasan kesehatan itu sangat membuatku gusar," ujar Brian.
__ADS_1
"Berarti anda tidak menyetujui aborsi ini, tuan?"
"Apakah perdebatan diantara kita barusan tidak cukup jelas menurutmu dokter Cindy?" cicit Brian membuat Dokter Cindy menelan salivanya dengan susah payah.
"Baiklah Tuan. Kalau begitu, nona Venna tetap berada dibawah pengawasan kami untuk memantau janinnya sambil menunggu perkembangan selanjutnya dengan bantuan teknologi canggih yang ada di rumah sakit ini," timpal dokter Cindy.
"Lakukan yang bisa kamu lakukan untuk mempertahankan nyawa pasien! bukan untuk mempercepat bagian kematian seseorang walaupun mereka masih dalam bentuk janin tapi mereka adalah cikal bakal manusia yang punya hak hidup," jelas Brian penuh penekanan pada kalimatnya.
"Baiklah Tuan. Kami akan mengupayakan semampu kami. Jika ada sesuatu yang tidak bisa kami tangani, itu adalah kesalahan anda dan bukan tanggungjawab kami lagi," sarkas dokter Cindy.
"Itu adalah resiko saya sebagai suami dan ayah dari buah hati saya. Jangan terlalu mendikte jalan hidup orang lain, dokter," ucap Brian sedikit menekan kalimatnya.
"Apa dia sedang memikirkan keegoisan nya sendiri tanpa ingin tahu penderitaan isterinya yang akan melalui masa kehamilan penuh resiko itu? dasar pria berengsek!" umpat dokter Cindy kala melakukan sesuatu pada tubuh Venna yang terlihat sangat lemah.
...----------------...
Venna menjalani bed rest di rumah sakit selama beberapa Minggu ke depan untuk memantau kondisi jantungnya. Gadis malang ini terlihat lemah namun ia sangat semangat untuk tetap menjaga kandungannya agar bayinya tidak mengalami sesuatu yang buruk yang berhubungan dengan pengobatannya.
Dokter harus mencari obat yang aman untuk dikonsumsi oleh Venna. Jika salah memberikan perawatan diluar dari kemampuan mereka, kondisi janin Venna akan berakhir dengan keguguran.
__ADS_1
Brian pun tidak mau mengambil resiko kehilangan bayinya. Ia membuat perjanjian hitam di atas putih untuk berjaga-jaga agar dokter tidak melakukan mal praktek pada tubuh istrinya.
Keesokan harinya, Brian membawa beberapa makanan kesukaan istrinya. Brian hanya ingin membahagiakan wanitanya. Ia rela meninggalkan pekerjaannya demi menyenangkan hati istrinya. Mungkin kemewahan yang ia miliki tidak begitu berarti bagi Venna karena gadis ini berasal dari keluarga berada bahkan kekayaan mereka tidak saling tersaingi atau bisa disebut berimbang satu sama lain.
Sekarang yang dibutuhkan Venna adalah kebahagiaan jiwanya. Perhatian Brian tanpa batas waktu. Perhatian Brian tanpa batas kata maupun tindakan karena itu yang sangat dibutuhkan Venna. Perhatian itu yang akan membuat Venna harus mengimbanginya juga agar Brian tidak sendirian mencurahkan kasih sayangnya namun ia juga menerima perlakuan yang sama dari Venna.
Sementara itu, Nyonya Venny dan suaminya tuan Gery yang sudah mengetahui keadaan putri mereka merasa sangat kuatir. Mereka tidak mengerti mengapa Venna harus mengalami semua kepahitan dalam hidupnya.
"Ayah. Apa salah dan dosa putriku hingga harus menerima setiap cobaan dalam hidupnya? kesuciannya direnggut paksa hingga mengalami depresi. Divonis menderita penyakit jantung lalu hampir dilecehkan oleh kakak iparnya sendiri. Apakah kita sudah salah mengirim putriku ke dalam kandang macan, ayah?" tanya Nyonya Venny sambil menangis.
"Sayang. Putri kita hanya sedang diuji bukan karena letak dosa dan salahnya. Ia akan mendapatkan hadiahnya yang besar berupa cobaan yang menyakitkan yang ia terima. Setelah itu badai kehidupannya yang penuh air mata dan sakit hati akan berlalu dari hidupnya dan berganti dengan kebahagiaan yang akan datang tanpa ingin berhenti. Percayalah kepadaku sayang karena perjalanan cinta putri kita dengan suaminya perlu melalui fase-fase penjajakan agar kekuatan cinta diantara mereka makin kokoh," jelas tuan Gray.
Seketika Nyonya Venny terdiam menelaah setiap penjelasan suaminya yang begitu masuk akal dan langsung meresap dalam jiwanya. Yah, mereka adalah orangtuanya Venna yang siap memberikan dukungan moril pada Venna dalam keadaan jatuh seperti ini.
"Terimakasih ayah. Kamu adalah suami dan ayah terbaik untuk aku dan Venna. Apa jadinya aku tanpa ayah menghadapi keadaan putriku yang sangat sedih saat ini. Semoga kandungannya baik-baik saja dan jantungnya kuat hingga bertahan sampai melahirkan," pinta Nyonya Venny dalam doa tulusnya untuk putrinya tercinta.
Sementara itu, Claire yang terdiam di dalam kamarnya sedang merenungi perjalanan kehidupan pernikahannya yang kini sudah terlihat retak dan sesaat lagi akan rapuh dan mungkin tidak akan pernah berdiri kembali.
Kesetiaan, cinta dan kepercayaan yang selama ini ia berikan kepada suaminya agar suaminya itu tetap melihat dirinya seorang tanpa berpaling pada wanita lain." Apa salahku Tuhan? mengapa aku harus dihukum seperti ini tanpa memiliki keturunan hingga suamiku tergila-gila kepada adik iparnya sendiri," gumam Claire lirih.
__ADS_1