
Sesuai dengan rencana Venna untuk meminta Claire kabur dari suaminya akhirnya terkabul. Claire harus menaiki mobil pasien dari rumah sakitnya menuju bandara, di mana kedua orangtuanya Venna sudah menunggunya. Tuan Gray menyambut Claire saat gadis itu turun dari mobil.
"Naiklah! Istriku dan keponakanmu Seina menunggu di dalam," ucap tuan Gray.
"Terimakasih paman. Maafkan aku karena merepotkan keluargamu," ucap Claire sambil menapaki kakinya menaiki tangga pesawat jet pribadi milik tuan Gray.
Setibanya di dalam pesawat, Claire menyalami Nyonya Venny dengan cipika cipiki lalu mengambil Seina dari pangkuan Nyonya Venny.
"Hallo sayang! Apakah kamu akan pulang kampung dengan Oma Opamu?" tanya Claire sambil mencium gemas pipi chubby Seina.
"Claire. Tante harap kamu betah tinggal di Indonesia. Terserah padamu saja, kamu mau tinggal di mana karena kami punya rumah hampir semua ada kota besar," ucap Nyonya Venny.
"Nanti saya lihat dulu keadaan sekitarnya, kota mana yang akan saya tuju dan menetap di sana. Tapi, saya tidak ingin jauh-jauh dengan Seina," ucap Claire yang sudah terlanjur mencintai Seina seperti putrinya sendiri.
"Kalau kamu tidak mau jauh dari Seina, tinggallah di rumah Tante di Jakarta. Kota terdekat dengan Jakarta adalah Bandung dan Bogor. Tempatnya sangat sejuk tapi jalanannya selalu macet sama juga Jakarta, macet dan udaranya panas," tutur Nyonya Venny.
"Saya mengerti Tante," ucap Claire lalu memasang seat belt miliknya karena pesawat akan melakukan take off.
Pesawat jet itu meninggalkan kota kelahiran Claire. Istri Calvin ini pergi dengan membawa luka hatinya. Beruntunglah ia bertemu dengan orang-orang baik seperti keluarganya Venna. Claire juga berasal dari keluarga berada. Tapi, Claire tidak akan mendatangi keluarganya karena Calvin akan menemukannya.
Claire bercerita banyak tentang kehidupannya pada kedua orangtuanya Venna. Dengan begitu mereka akan membangun hubungan baik sebagai kerabat dekat.
Setibanya di tanah air Venna, asisten pribadinya tuan Gray sudah siap menjemput keluarga tersebut. Claire harus menginap dulu di mansion milik kedua orangtuanya Venna.
Gadis itu mendapatkan perlakuan istimewa keluarga Venna yang dirinya anak sendiri. Claire menempati kamar Venna atas permintaan Venna sendiri karena Claire tidak membawa pakaian kecuali dokumen pribadinya.
"Ini kamar Venna. Tidurlah di sini Claire! Dan Tante harap kamu tidak sungkan meminta apapun pada Tante karena kamu dan Venna adalah putrinya Tante," ucap Nyonya Venny sambil menunjukkan ruang ganti dan kamar mandi agar Claire memanfaatkan fasilitas yang ada.
__ADS_1
"Tante aku butuh ponsel baru karena aku tidak membawa ponselku. Apakah aku bisa pergi membelinya karena aku ingin memilih model ponsel sendiri," ucap Claire.
"Claire! Apakah kamu membawa kartu ATM atau sejenisnya? kalau kamu bawa, jangan gunakan untuk transaksi karena bisa jadi keberadaanmu diketahui oleh Calvin dan pelarian kamu akan sia-sia sayang," ucap Nyonya Venny baru dimengerti oleh Claire.
"Benar juga Tante. Aku malah tidak kepikiran sampai ke situ. Tante hebat hingga memikirkan sampai hal sekecil itu," puji Claire pada ibu mertuanya Brian ini.
"Sekarang bersiaplah! kita akan ke mall untuk mencari ponsel baru sesuai keinginanmu," ucap Nyonya Venny.
"Baik Tante. Tunggu aku sepuluh menit lagi," ucap Claire lalu masuk ke ruang ganti untuk mencari baju milik Venna yang cocok dengannya.
Setengah jam kemudian, Nyonya Venny dan Claire serta Seina sudah berada di dalam mobil. Sopir pribadi membawa ketiga wanita beda generasi itu menuju Mall yang sudah dipinta Nyonya Venny.
Claire menikmati hiruk pikuk kota Jakarta dengan masyarakat yang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Wajah Claire yang bule sambil menggendong Baby Seina yang terlihat sangat cantik menarik perhatian para pengunjung Mall.
Gra*d Indonesia adalah tempat berkumpulnya orang-orang terkaya yang mengunjungi tempat belanja tersebut. Tidak lama Claire memasuki konter ponsel dan memilih ponsel yang akan ia beli.
"Apakah kamu ingin membeli yang lainnya sayang?" tanya Venna Nyonya Venny saat Claire sudah mendapatkan ponsel barunya.
"Apakah aku boleh membeli baju sepatu dan tas, Tante?"
"Beli saja apa yang kamu mau Claire tanpa harus meminta ijin kepadaku," ucap Nyonya Venny dengan tulus.
"Terimakasih Tante. Aku tidak akan melupakan kebaikan tante," ucap Claire.
Keduanya sudah pindah ke konter baju dan perlengkapan wanita lainnya seperti bera dan cela* a dal*am.
Sementara itu di tempat yang berbeda, di kota Paris, Calvin begitu marah saat mengetahui istrinya berhasil kabur darinya.
__ADS_1
Ia mengerahkan anak buahnya untuk mencari Claire di semua kerabat Claire bahkan sahabat dekat Claire, namun tidak ia temukan istrinya.
"Ke mana gadis itu pergi? apakah dua keluar negeri? tapi tidak ada penerbangan yang ada namanya," gumam Calvin yang mulai merasa sesak kehilangan wanitanya.
"Bos! Kami tidak menemukan istri anda di manapun. Apakah ada lagi tempat yang anda curigai di mana nona Claire berkunjung?" tanya anak buahnya dengan wajah tertunduk ketakutan.
"Apakah kalian melihat pergerakan istriku beberapa hari ini?" tanya Calvin.
"Hanya ke rumah sakit saja tuan," ucap mereka yang lupa kalau Claire pernah berkunjung ke apartemennya Venna.
"Baiklah. Kalian boleh pergi dan tetap melacak keberadaan istriku. Oh iya mana ponsel istriku. Mungkin aku punya petunjuk dengan ponsel istriku," Pinta Calvin.
Anak buahnya menyerahkan ponsel milik Claire yang mereka ambil di ruang kerjanya Claire yang ada di rumah sakit jiwa. Calvin membukanya dengan mudah dan seketika ia kaget karena ponsel itu sudah kembali ke model pabrik.
"Sialan. Gadis itu sudah merancang semuanya dengan matang. Aku harus menemukan Istriku," ucap Calvin sambil meremas ponselnya Claire.
Sementara di Jakarta, Claire yang baru saja menyicipi makan malam tiba-tiba merasa sangat mual. Ia membekap mulutnya dan berlari ke toilet khusus tamu di mansion milik keluarga Venna.
Claire memuntahkan makanannya hingga selesai. tubuhnya terasa sangat lemah. Nyonya Venny memapah tubuh Claire keluar dari toilet.
"Ada apa denganmu Claire?" tanya Nyonya Venny cemas.
"Entahlah Tante, perutku rasanya sangat mual dan aku merasa sangat pusing," ujar Claire.
"Tunggu sebentar, biar aku hubungi dokter pribadi untuk memeriksa keadaanmu. Apakah kamu masih berjalan ke kamarmu Claire?" tanya Nyonya Venny.
"Aku masih pusing Tante. Aku ingin berbaring di sini saja," ucap Claire sambil terpejam.
__ADS_1