Siapa Ayah Anakku?

Siapa Ayah Anakku?
22. Kepergok


__ADS_3

Brian menunggu aksi Calvin yang ingin menggoda Venna. Dia sudah memasang kamera tersembunyi untuk mengetahui kalau Calvin ingin melecehkan Venna. Bunyi suara pintu kamar Brian terbuka membuat istrinya tidak begitu merespon siapa yang masuk ke kamarnya.


Ia sibuk menidurkan putranya yang baru saja terlelap. Ia tidak ingin bergerak dulu sampai memastikan baby Sean tidak akan terganggu.


Akibatnya, Calvin merasa menang kini. Ia naik ke atas ranjang dan langsung memeluk Venna dari belakang. Venna yang mengira itu Brian, hanya mendiamkannya saja.


Saat tangan Calvin mulai menggerayangi tubuhnya Venna di tempat terlarang, Brian langsung masuk dan berteriak." Cavinnnnn!"


Venna langsung tersentak dengan Calvin yang langsung berdiri dengan wajah tegang." Apa yang kamu lakukan pada istriku, keparat?" Brian menonjok wajah Calvin dari kiri ke kanan hingga pria itu terjungkal.


Venna langsung menggendong punya, berlari di sisi tempat tidur penuh ketakutan. Ia merasa kecolongan kali ini karena tidak bersikap waspada pada kakak iparnya itu." Brian, dengarkan dulu! Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku....-"


"Aku sudah menangkap basah dirimu dan kamu ingin mengelaknya dariku? kau pikir aku bodoh, hah. Aku sudah mengikuti gerak-gerikmu dari awal kamu selalu menggoda istriku tiap kali punya kesempatan saat kami berkunjung ke rumahmu."


"Cih..! apakah kamu percaya dengan omongan istrimu yang gila itu, hah?" Bentak Calvin yang masih ingin membela diri.


"Kau kira aku tahu itu dari Venna? dia bahkan ingin menjaga hubungan aku dan kamu dan mengesampingkan ketakutannya demi keluarga ini. Demi Claire, istrimu," ucap Brian sembari menonjok wajah Calvin yang terus melindungi wajah dari serangan Brian.


Barang-barang yang ada di kamar itu pecah berantakan. Baby Sean akhirnya menangis, sementara Venna makin terlihat syok menyaksikan pertengkaran antara saudara kembar ini.


Pelayan yang mengetahui pertengkaran itu segera memberitahukan majikannya. Keluarga tersentak mendengar berita itu dan langsung masuk ke kamar Brian." Brian, Calvin, berhenti!" teriak tuan Muller pada putra kembarnya ini.


Venna yang langsung pingsan hingga putranya terlepas dari gendongannya dan langsung di tangkap oleh Brian yang bergerak cepat untuk melindungi keduanya. Brian memberikan putranya pada ibunya dan dia menggendong tubuh istrinya membawa ke kamar tamu yang ada di lantai bawa.


Pelayan segera memanggil dokter tanpa dikomando oleh majikannya. Claire yang melihat wajah suaminya babak belur hanya bisa diam tanpa ingin menghampiri suaminya karena ia sudah tahu, ini bakalan terjadi. Ia segera meninggalkan kamar itu dan pulang ke rumahnya.


Tuan Muller dan besannya tidak mengerti apa yang terjadi pada anak-anak muda ini. Mereka membantu Calvin membawa pemuda tampan itu ke rumah sakit.


Brian menemani istrinya yang saat ini memeriksa keadaan istrinya." Apa yang terjadi dengan istri saya dokter"


"Istri anda sedang mengalami syok berat. Sebaiknya dibawah ke rumah sakit karena saat ini juga sepertinya istri anda sedang hamil." Ucap dokter Maurin.

__ADS_1


"Benarkah?" Brian tersenyum bahagia walaupun hatinya masih memendam amarahnya.


"Untuk lebih jelasnya, sebaiknya temui dokter kandungan." Ucap dokter umum itu.


"Baik dokter. Terimakasih untuk waktunya." Brian meminta sopirnya untuk menyiapkan mobilnya. Ia ingin membawa istrinya ke rumah sakit.


"Mami, ibu. Aku titip bayi kembar kami pada kalian. Keadaan Venna tidak baik-baik saja saat ini."


"Sebenarnya ada apa antara kalian semua? kenapa perayaan ini jadi hancur begini?" tanya nyonya Carine cemas.


"Nanti saja Brian ceritakan mami. Saat ini, keadaan Venna lebih penting untuk saya." Wajah Brian terlihat tertekan.


"Baiklah. Kabari kami tentang Venna."


"Iya mami. Brian berangkat dulu."


...----------------...


"Tidak. Bawa kami ke rumah sakit St. Bonaventura."


"Baik Tuan."


Venna mendapatkan perawatan medis secara intensif. Brian terlihat murung dan sedang berpikir untuk masa depan keluarganya. Satu-satunya agar mereka bisa hidup bahagia adalah hijrah ke Indonesia.


"Apakah aku perlu membuka cabang perusahaanku di Jakarta saja?" Pikir Brian.


Iya menghubungi asistennya Hendrik untuk mencari tahu gedung perusahaan yang mungkin saat ini di jual atau lahan tanah kosong yang akan mereka bangun perusahaan.


"Lakukan secara diam-diam dan jangan beritahukan keluargaku termasuk saudara kembarku. Aku tidak mau rencanaku gagal."


"Baik Tuan."

__ADS_1


Sementara itu, Claire yang saat ini sedang marah dan kecewa, menghancurkan bingkai foto pernikahan mereka. Hatinya sangat sakit mengetahui suaminya lebih memilih adik iparnya ketimbang dirinya.


"Apakah aku kurang cantik menurutmu hingga kamu berpindah ke wanita lain dan itu adalah Venna? Mengapa kamu tiba-tiba tertarik pada Venna sementara saat gadis itu dalam keadaan gila kamu malah sangat jijik padanya." Ucap Claire sambil terisak.


Sementara di rumah sakit, tuan Muller masih menangani keadaan Calvin. Tidak lama Calvin sudah di dibawah keluar menuju ke kamar inap. Rasa penasaran tuan Muller akhirnya bertanya kepada kepada Calvin.


"Calvin. Jelaskan kepada ayah, apa yang terjadi antara kamu dan Brian?"


"Karena Calvin sangat mencintai Venna , ayah." Ucap Calvin.


"Apa..? apakah kamu sadar Calvin dengan perbuatanmu itu? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan istrimu?"


"Aku sudah mencoba melupakan Venna, ayah. Tapi hasratku tidak bisa dikendalikan setiap kali bertemu dengannya."


"Apakah kamu ingin bilang kalau kamu tadi kedapatan ingin memperkosa Venna oleh saudaramu, Brian?" tanya tuan Muller menahan geram..


"Justru aku ingin hubungan Brian dan Venna hancur. Aku ingin Brian meninggalkan Venna agar aku bisa mendapatkan Venna lebih mudah ayah." Teriak Calvin di depan wajah ayahnya.


"Dasar anak kurangajar!" Tuan Muller hendak menampar pipi putranya itu kalau dokter tidak menahan tangannya.


"Maaf Tuan! Tolong kendalikan diri anda. Pasien masih dalam keadaan sakit." Cegah Dokter Robert.


"Aku tidak peduli dokter. Aku lebih kehilangan satu putra kurangajar seperti dirinya agar hidupku tidak melalukan seperti ini." Sesal tuan Muller lalu meninggalkan ruang inap putranya Calvin dengan amarah yang sudah memuncak saat ini.


Sementara di rumah sakit berbeda, dokter menemui Brian dan meminta pria itu untuk menandatangani berkas untuk menyetujui tindakan aborsi pada janin Venna karena jantung Venna bermasalah.


"Apakah tidak ada cara lain untuk mempertahankan bayi kami dokter?" Tanya Brian lirih.


"Jika dibiarkan janinnya berkembang secara normal, anda akan kehilangan istri anda." Ucap Dokter itu membuat sekujur tubuh Brian bergetar hebat.


Duarrr....

__ADS_1


Walaupun tubuhnya terasa lemah tak bertenaga, namun otak Brian bekerja dengan cepat untuk menerima semua informasi dari sang dokter sebagai bahan evaluasi baginya dan keluarga istrinya karena sebelumnya Venna pernah mengalami hal yang sama putra kembar mereka yang harus ditunda aborsi karena jantungnya lemah.


__ADS_2