
Lima tahun kemudian, Venna sedang berdandan secantik mungkin untuk menemui kliennya pagi ini di kantor advokat miliknya. Kebetulan CEO kantor advokat itu adalah dirinya sendiri.
Brian yang melihat wajah istrinya yang lebih cantik dari biasanya, menegurnya dengan lembut." Wah...! kamu pagi ini terlihat cantik sekali, baby. Apakah ada klien istimewa yang akan menemuimu?"
"Iya sayang. Dia sangat istimewa," jawab Venna sekenanya.
"Kalau begitu tidak usah berangkat ke kantor!" titah Brian.
"Sayang. Aku sudah sangat terlambat karena kami harus briefing dulu sebelum berangkat ke persidangan," ucap Venna yang sedang dipeluk oleh Brian pada pinggangnya dari belakang.
"Siapa klien itu? aku akan membunuhnya karena sudah memaksa istriku berdandan cantik seperti ini?" tanya Brian.
"Sayang. Klien aku adalah seorang ibu yang berusia 70 tahun. Dia adalah guru SD ku. Karena beliaulah aku dibekali banyak ilmu. Mengajarkan aku bagaimana bersikap menghadapi lawan dan kawan. Karena saat itu aku termasuk gadis yang cengeng dan sering di-bully oleh teman-temanku.
Saat ini dia sedang menghadapi masalah karena rumahnya akan digusur paksa oleh saudaranya yang laki-laki yang mengklaim rumah yang ditempati oleh mantan wali kelasku itu. Padahal rumah itu adalah rumah warisan orangtua mereka yang sudah dibeli oleh ibu guruku itu. Dan dia sudah menerima uang dari hasil penjualan itu sebagai jatah warisannya. Sekarang dua malah klaim dua tidak mendapatkan apapun," ucap Venna.
"Daddy, mam. Kami mau berangkat ke sekolah dulu, ucap Sean mengecup pipi kedua orangtuanya dan diikuti ketiga adiknya, Seina, Ashley dan Austin.
"Hati-hati sayang. Nanti. mam yang jemput kalian," Ucap Venna.
"Sayang. Apakah kamu jadi mengantarku ke kantor?" tanya Venna.
"Iya sayang. Ayo kita berangkat. Tapi bisakah aku bercinta denganmu sebentar. Hanya sebentar. Aku sudah terlalu hor*,Ney melihat kecantikanmu hari ini.
"Baiklah. Hanya sebentar ya sayang," ujar Venna yang tidak tega menolak ajakan suaminya untuk bercinta.
Pertempuran mereka pagi itu tidak diawali pemanasan ringan. Keduanya harus tancap gas karena mengejar waktu. Sekitar dua puluh menit keduanya melepaskan cairan kenikmatan mereka. Keduanya tersenyum sambil mengerlingkan mata mereka saat turun dari lantai dua rumah mereka.
__ADS_1
"Apakah kamu ada meeting usai makan siang, baby?" tanya Venna sambil bersandar di dada suaminya.
"Entahlah!!" ucap Brian sambil mengangkat kedua bahunya.
"Mau makan siang denganku?" tanya Venna lalu mengecup bibir suaminya.
"Apakah tawaran makan siangnya plus-plus?" bisik Brian penuh godaan.
"Kita lihat saja nanti. Tergantung situasi mendukung atau tidak," ucap Venna sambil tersenyum penuh arti.
Baja besi mewah itu berhenti depan kantor advokat milik Venna. Keduanya berciuman sesaat dan sang sopir membuka pintu mobil untuk nyonya.
"Sampai nanti siang," ucap Venna.
"Semoga kasus yang kamu tangani menang, baby!"doa tulus Brian selalu ia selipkan ketika kedua terpisah.
Venna di sambut stafnya. Brian melihat istrinya sesaat lalu meminta sopir untuk mengantarnya ke perusahaannya.
Sekitar jam sepuluh pagi, sudang itu sudah di gelar. Pengacara ibu Briana yaitu Venna dan pengacara tuan Wilan berlangsung sengit. Keduanya membela klien mereka masing-masing dengan bukti yang ada.
"Di sini pemilik rumah yang yang baru saat ini ditempati oleh nyonya Briana melakukan penandatanganan perjanjian jual beli di depan notaris. Dan keduanya saat itu didampingi masing-masing pengacara. Harga jual rumah itu sekitar 6 miliar sekitar dua puluh. tahun yang lalu. Rumah dengan luas tanah satu hektar itu di beli tahun 29 April 2000 dan surat jual belinya sah disaksikan oleh notaris. Bahkan biaya notaris nyonya tua Briana sendiri yang bayar. Kurang jelas apa dengan surat-surat ini?" ucap Venna didepan hakim.
Tim hukum memeriksa semua surat itu dan dijamin keasliannya. Bahkan notaris itu hadir sebagai saksi. Namun dari kubu lawan masih kekeh dengan argumennya dengan memanipulasi data yang jelas-jelas semuanya direkayasa. Perdebatan panjang yang saling melempar bukti akhirnya dimenangkan oleh nyonya Briana yang sangat terharu itu.
Ia bisa meninggal dengan tenang setelah ia bisa mempertahankan rumah peninggalan kedua orangtuanya yang penuh kenangan itu untuk ia wariskan kepada cucunya Hasan karena putranya Husen sudah meninggal bersama isterinya pada sebuah kecelakaan mobil.
Ketukan palu terdengar nyaring saat pembacaan tuntutan sidang. Venna begitu bahagia dan memeluk kliennya yang tidak lain adalah mantan waki kelasnya saat ia duduk di kelas 6 SD.
__ADS_1
"Terimakasih Venna. Akhirnya kamu membuktikan kata-katamu kepada ibu bahwa kamu ingin menjadi seorang pengacara untuk membela orang-orang yang selalu menindas orang lain yang tak berdosa," ucap ibu Briana karena Venna saat itu sekolah di SD negeri unggulan dan selalu berprestasi.
Hanya saja prestasinya itu membuat ia menjadi bahan olok-olokan temannya yang sangat iri pada Venna. Sejak saat itu Venna menjadi gadis introver.
"Ibu pantas mendapatkan hak ibu karena jerih payahnya suami ibu dan juga ibu yang tidak sedikit mengeluarkan uang sebesar itu. Walaupun ibu mendapatkan kembali uang itu sebesar dua milliar," ucap Venna.
Keduanya saling berpelukan lalu ibu Brian dibawa pulang. oleh cucu dan cucu menantunya. Brian yang sedari tadi menonton jalannya sidang karena ingin melihat kehebatan istrinya bersilat lidah dengan para pengacara lawan.
"Sayang. Selamat! kamu sudah berhasil memenangkan kasus ini. Sekarang kita ke hotel untuk merayakannya. Aku ingin makan siang di kamar hotel sambil menatap wajah cantik istriku dengan mengenakan lengerie krem ini," ucap Brian membuat Venna tersipu malu.
"Astaga. Jadi paper bag itu isinya lengerie?" tanya Venna malu-malu.
Keduanya langsung masuk ke mobil menuju hotel. Sementara di Perancis, Claire dan Calvin rupanya sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka di hotel. Keduanya juga sedang melakukan ritual nikmat dalam berbagi keringat itu.
"Akkkkkkk Calvin... sayang! ini sangat nikmat sayang," lenguh Claire menjambak rambut suaminya yang sedang memanjakan miliknya di bawah sana.
"Venna...! ayo sayang lebih cepat. Aku mau hampir sampai...!" ujar Brian sambil membantu menggoyangkan paha mulus istrinya untuk lebih cepat memuaskan miliknya.
Entah punya ikatan batin atau apa namanya. Rupanya gaya permainan panas kedua pasangan kembar itu sama, walaupun dalam waktu yang sama hanya saja memiliki perbedaan waktu yang berbeda dengan negara yang berbeda pula.
"Aku sangat mencintaimu Venna. Mohon maafkan aku karena telah menghancurkan hidupmu sebelumnya," ucap Brian sambil memeluk tubuh polos istrinya yang bersandar didadanya.
"Aku tidak lagi menyesali waktu yang pernah terjadi antara kita karena kamu memperkosaku. Sekarang aku ingin diperkosa lagi Brian!" pinta Venna manja nan menggoda.
"Benarkah...?" tanya Brian yang memulai percintaan panas mereka hingga tubuh mereka menyerah kalah.
**TAMAT...
__ADS_1
TOLONG IKUTI KARYA LAIN :
TERJEBAK PERMAINAN HOT MAFIA**