Siapa Ayah Anakku?

Siapa Ayah Anakku?
24. Mempertahankan


__ADS_3

Saat Venna sudah siuman, Brian merasa sangat bahagia. Ia menunggu Venna mengumpulkan kesadaran penuh, agar ia bisa mengatakan kabar bahagia pada istrinya sekaligus kabar menyedihkan untuk mereka berdua.


"Brian."


"Iya baby!"


"Apa yang terjadi padaku?"


"Tidak apa sayang. Hanya saja aku ingin bicara serius padamu karena ini menyangkut nyawamu," ucap Brian.


"Apa maksudmu, Brian?" tanya Venna yang terlihat tidak nyaman saat ini.


"Begini Baby. Aku memang suamimu yang harus mengambil keputusan yang tepat untuk menyelamatkan nyawamu. Tapi, kamu adalah istriku dan ibu dari anak-anakku yang pastinya kamu juga punya hak untuk menentukan nasib dari bagian hidupmu," imbuh Brian.


"Sayang. Apakah kamu tidak bisa bicara lebih mendetail ke inti permasalahannya saja tanpa membuat aku ambigu seperti ini?" desak Venna.


"Sayang. Saat ini Tuhan sedang menguji kita. Tuhan mempercayakan lagi kepada kita untuk memiliki momongan dan calon bayi kita kembar lagi," ucap Brian berapi-api.

__ADS_1


Venna tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya namun mata Brian tidak mewakili ucapannya. Mata biru itu terlihat sangat sedih bukan sedih karena haru.


"Lantas apa masalahnya. Kenapa kabar baik terdengar rumit oleh sikapmu, Brian?"


"Karena kehadiran bayi kita akan mengancam jiwamu sayang," sahut Brian.


"Apa maksudmu Brian?"


"Keadaan jantungmu yang tidak mendukung janin itu tumbuh di rahimmu karena akan beresiko seiring perkembangan mereka dalam rahimmu," pukas Brian.


"Maksudmu, kamu mau mengatakan mereka ingin janin ini diaborsi demi menyelamatkan jiwaku?" tanya Venna langsung pada intinya.


"Keputusanmu sudah tepat Brian untuk tidak mengikuti permintaan mereka. Lagian mereka hanya meminta kita untuk memilih yang terbaik menurut kita bukan menuruti apa maunya mereka. Terbaik menurutku, yaitu mempertahankan calon bayi kembar kita. Apapun yang terjadi padaku, kita kembalikan kepada Tuhan karena janin ini Dia yang titipkan kepada kita," ucap Venna meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia bisa melewati masa sulitnya yang akan mengandung bayi kembar dengan kondisi jantung yang lemah.


Venna melakukan itu karena dari awal dia hamil bayi kembar yang pertama, jantungnya juga sudah bermasalah dan tindakan aborsi urung dilakukan karena kondisi jantungnya. Jika kehamilan pertama bisa ia lalui dengan mudah, kenapa kehamilan kedua harus diaborsi? itu yang ada di dalam pikiran Venna saat ini.


"Sayang. Aku bangga padamu. Aku sudah menduga bahwa kamu lebih memilih mempertahankan bayimu. Jika aku menyetujuinya, pasti kamu akan membenciku seumur hidupmu karena telah menyetujui dokter itu membunuh calon bayi kita yang ingin hidup ke dunia ini," ucap Brian kagum dengan keberanian istrinya.

__ADS_1


"Seorang ibu tidak akan tega membuang bayinya sendiri. Lagi pula aku pernah membuat kebodohan yang pertama yang akan menghancurkan bayi kembarku dan mungkin aku dan kamu tidak melihat wajah mereka jika aku nekat membuang mereka saat itu," ucap Venna sambil berurai air mata.


"Sayang, jangan menyesali apa yang pernah terjadi karena semua itu bukan salah kamu. Dan sekarang kita melupakan apa yang pernah terjadi dan kita fokus pada kehamilanmu yang ke dua. Semoga kamu tidak mengalami kendala selama mengandung mereka hingga lahiran," ucap Brian menghibur hati istrinya.


"Brian. Bagaimana kalau aku tidak bisa melahirkan mereka dengan keadaan jantungku yang bermasalah seperti ini. Apakah kamu akan kecewa jika aku yang selamat dan bukan anakmu?" tanya Venna hati-hati.


"Jika mereka tidak bisa hadir ke bumi ini karena ingin menyelamatkan ibunya, kenapa aku harus marah padamu, hmm. Bukankah kita sudah memiliki Seina dan Sean, permata hati kita," ujar Brian.


"Bagaimana kalau aku yang kalah, Brian. Apakah kamu akan menikah lagi untuk mengurus anak-anak kita?" tanya Venna.


"Kenapa kamu selalu saja memberikan aku pada pilihan sulit? apakah kamu tidak yakin dengan cinta yang aku punya untukmu, hmm?" tanya Brian sambil mengecup bibir istrinya lembut.


"Karena aku terlalu mencintaimu Brian. Aku belum pernah merasakan kebahagiaan ini hingga aku takut jika aku hanya mendapatkan rasa iba dan bersalahmu karena telah menganiaya diriku," ucap Venna.


"Jangan salah paham dengan ketulusan cintaku padamu, Venna. Kadang cinta datang saat kita tidak mengharapkannya untuk hadir di dalam sanubari kita. Dia datang karena ingin mempertemukan kita menjadi sepasang suami-istri walaupun diawali dengan cara yang salah," ucap Brian.


"Aku takut. Cinta kita terus diuji dengan berbagai macam cobaan mulai dari orang terdekat kita sehingga suatu saat kita akan saling menjauh dan memutuskan untuk berpisah karena peran keluarga yang ikut menentukan masa depan rumah tangga kita," ucap Venna.

__ADS_1


Di rumah sakit jiwa, Claire nampak serius memeriksakan keadaan para pasiennya. Gadis cantik ini, tenggelam dalam pekerjaannya agar ia tidak memikirkan sakit hatinya pada sang suami. Claire sangat pintar menjaga ekspresinya di depan koleganya.


Ia tetap tampil cantik walaupun hatinya ingin menjerit. Senyum tidak terlepas dari bibirnya. Seakan apa yang ia alami dalam rumah tangganya hanya mimpi yang ia lewati begitu saja setelah bangun tidur. Namun sahabatnya Lune tahu persis bagaimana sifat Claire. Jika gadis ini mengalami hal yang membuatnya setress, mulut gadis ini lebih lama terkunci dan bicara seperlunya.


__ADS_2