
Setelah memastikannya keadaan kandungan Venna makin kuat untuk berpergian jauh, Brian dan Venna memantapkan tekad mereka untuk hijrah ke Indonesia. Jakarta adalah tempat usaha yang sudah dipersiapkan oleh Brian sebelumnya. Gedung perusahaannya itu sudah siap di resmikan. Apalagi tuan Gray yang merekrut sendiri para karyawan untuk membantu mensukseskan perusahaan menantunya tersebut. Bahkan tuan Gray mengirim anak buah terbaiknya untuk bekerja di perusahaan Brian.
"Dokter. Kami ingin pindah ke Jakarta Indonesia. Apakah kandungan Venna tidak masalah untuk melakukan perjalanan jauh?" tanya Brian.
"Beberapa bulan ini, kami sudah memberikan obat penguat rahim dan terus memantau keadaannya. Aku yakin anda bisa membawa istri anda ke luar negeri," ujar dokter Gabriel.
"Syukurlah, kalau begitu kami sekalian pamit ke luar negeri dan istrinya mungkin akan melahirkan di Jakarta. Ibu mertua saya asli Indonesia. Istri saya blasteran Perancis Indonesia," ucap Brian.
"Hebat. Pantas kulit istrinya sangat cantik dan tidak sama dengan wanita pribumi negara ini," puji dokter Gabriel.
"Terimakasih untuk pujiannya dokter."
Venna dan Brian segera meninggalkan rumah sakit itu. Mereka harus pamit ke rumah orangtuanya Brian. Nyonya Carine terlihat sedih saat putra dan cucunya harus tinggal terpisah dari mereka." Venna. Kalau nanti kamu mau melahirkan, kabarkan kepada mami. Mami ingin menyambut kelahiran cucu mami nantinya," ucap nyonya Carine.
"Iya mami. Itu sudah pasti. Venna akan sangat bahagia kalau kedua mertuanya Venna datang menunggu kelahiran bayi kembar Venna," balas Venna terlihat bahagia.
"Apakah kamu pernah mendengar kabar tentang Claire, Venna?" tanya nyonya Carine membuat Venna seketika gugup.
"Aku..aa..aku tidak mengetahui kabar Claire mami," sahut Venna terlihat natural walaupun jantungnya terasa empot-empotan saat ini.
"Baiklah. Kalau kamu tidak tahu tidak apa. Tapi, kalau dia menghubungimu tolong beritahu mami karena mami sangat merindukannya," ucap nyonya Carine.
"Baik mami." Venna menghabiskan makan malamnya karena saat ini, mereka sedang menikmati makan malam di rumah mertuanya Venna.
Brian yang sudah tahu keberadaan Claire berusaha untuk tetap tenang karena dia juga ingin menghukum Calvin yang saat ini sedang sibuk mencari keberadaan Claire.
"Mami. Apakah Calvin sangat mengkuatirkan Claire?" tanya Brian pura-pura peduli.
"Sepertinya saudara kembar itu sudah insaf, Brian. Keadaannya sekarang terlihat sangat memprihatikan. Tubuhnya kurus dan rambutnya dibiarkan gondrong dengan jambang yang dibiarkan tumbuh sudah seperti hutan lindung," ucap nyonya Carine menggambarkan kondisi putranya itu terdengar lucu yang membuat Venna cekikikan.
__ADS_1
"Baby. Apa yang kamu tertawakan?" tanya Brian sambil mengerutkan keningnya.
"Lagian mami ada-ada saja. Masa putranya sendiri dibilang hutan lindung," ujar Nabilla.
"Sebutan Itu pantas untuk bajingan itu," ucap Brian yang masih dendam pada Calvin.
Mendengar ucapan suaminya yang terlihat marah, membuat Venna membisu seketika. Ia tahu kalau sampai saat ini, Brian belum bisa memaafkan perbuatannya Calvin pada dirinya.
"Selesaikan makan malammu, sayang dan kita pulang. Kamu harus istirahat karena kita berangkat besok pagi," ucap Brian.
Venna melirik ibu mertuanya yang hanya mengangguk paham untuk menguatkan Venna agar Venna tidak memancing emosi suaminya kalau sudah menyangkut Calvin.
Tidak lama kemudian keduanya pamit pada nyonya Carine dan tuan Muller. Venna memeluk ibu mertuanya itu karena mereka harus berpisah.
"Hati-hati jaga kandungnya Venna. Sampaikan salam kami pada keluargamu di Indonesia," ucap nyonya Carine.
Mobil mewah itu melesat secepat kilat menuju kediaman Brian. Venna terlihat diam karena Brian enggan bicara dengannya. Sikap posesif Brian yang akhir-akhir ini padanya membuat Venna harus menjaga sikapnya.
...----------------...
Keesokan harinya, Brian dan Venna sudah meninggalkan Paris Perancis menuju Indonesia. Untuk sementara mereka harus tinggal di rumah kedua orangtuanya Venna karena mansion mereka belum sepenuhnya rampung.
Kedatangan Venna dan Brian sudah diketahui oleh Claire. Gadis ini sekarang lebih menghabiskan waktunya di villa Bogor karena ia suka dengan udara Bogor yang terasa lebih sejuk. Claire memang tidak melakukan aktivitas lain kecuali menulis beberapa artikel yang berhubungan dengan dunia medis seputar ilmu kejiwaan.
Sampai saat ini, Claire belum mengabari suaminya tentang kehamilannya yang sudah memasuki usia empat bulan sementara Venna sudah mencapai enam bulan. Kandungan Claire yang ternyata juga mengandung anak kembar membuat ia sangat semangat untuk menjaga kehamilannya.
Saat ini Claire ditemani nyonya Nyonya Venny dan keponakannya Seina yang sekarang sudah berusia satu tahun setengah. Gadis kecil itu juga sudah lama terpisah dengan saudara kembarnya Sean.
"Sayang. Sampai kapan kamu merahasiakan kehamilanmu pada Calvin?" tanya Nyonya Venny sambil menyiapkan makanan kesukaan Claire yaitu bakso dan gado-gado.
__ADS_1
"Biarkan saja seperti ini Tante. Aku ingin melihat dia menderita dan menguji cintanya padaku. Aku ingin menghukumnya sama seperti hatiku yang sudah ia taburkan perih. Rasanya masih belum hilang dan sulit untuk dilupakan walaupun aku sudah berusaha berdamai dengan keadaan," ucap Claire.
"Tapi jangan terlalu lama ya sayang. Kasihan bayi kembarmu mereka sangat membutuhkan kasih sayang darimu," ucap Nyonya Venny.
"Iya Tante. Aku juga tahu akan hal itu. Bagaimanapun juga, aku masih punya orang-orang kepercayaanku yang selalu mengawasi tingkah laku suamiku," ujar Claire.
"Syukurlah. Kalau begitu, besok kita sambut kedatangan Brian dan Venna serta Sean," ucap Nyonya Venny lalu pamit pulang pada Claire usai melihat gadis itu menghabiskan makanannya.
Keesokan paginya, pesawat jet pribadi milik Brian sudah tiba di bandara setempat. Sopir pribadi tuan Gray menjemput keluarga kecil ini. Dokter Kayla juga ada di mobil itu untuk memastikan kandungan Venna apakah masih dalam keadaan aman atau tidak.
Setibanya mereka di kediaman Tuan Gray, Baby Seina berlari menyambut kedatangan saudara kembarnya Sean. Kedua bocah ini berpelukan melepaskan kerinduannya mereka.
"Sean!" sapa baby Seina.
"Seina!" Peluk Sean sambil mencium pipi adiknya itu membuat Claire merekam momen berharga itu. Nyonya Venny memeluk putrinya Venna sambil mengusap perut Venna. Sementara Brian memeluk ayah mertuanya.
Setelah keluarga itu melepaskan rindu mereka, kini Venna dan Brian beralih memperhatikan perutnya Claire yang tampak membesar. Selama ini, Claire juga merahasiakan kehamilannya pada Brian dan Venna supaya mereka mendapatkan kejutan saat tiba di Jakarta.
"Claire. Apakah kamu hamil?" tanya Venna terbata-bata dengan air mata haru yang sudah berlinang.
"Iya Venna. Sudah empat bulan. Akhirnya aku jadi seorang ibu," ucap Claire terlihat girang.
"Apakah kamu sudah memberitahu..."
"Tidak usah bahas dia Venna. Aku ingin dipeluk olehmu," ucap Claire agar emosinya tidak terkuras saat ini.
Brian yang menyaksikan kedua wanita itu membuat hatinya sangat terenyuh.
"Kau begitu bodoh Calvin, telah melepaskan wanita cantik dan hebat seperti Claire demi obsesimu pada istriku Venna," batin Brian.
__ADS_1