Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku

Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku
10. Siapa yang Kau Pilih Suamiku


__ADS_3

"Arsy," panggil Laila ketika melihat Arsy sedang membuat kue cokelat.


Arsy menoleh sesaat kemudian masukkan adonan ke dalam oven listrik. Setelah itu, ia duduk di hadapan Laila. Sebenarnya, ia tidak benci dengan kenyataan bahwa Laila adalah wanita yang dicintai suaminya. Hanya saja, belum dapat menerima semua hak yang terjadi kepadanya.


"Maafin aku, Arsy." Kata Laila terdengar lirih.


Arsy menghela nafas panjang kemudian mengangguk. "Kamu gak perlu minta maaf, Laila. Aku mengerti," kata Arsy tulus.


"Tadi malam, mas Haris bercerita padaku kalau kamu minta pisah."


Arsy menatap Laila. Ada rasa geram kepada Haris karena sudah menceritakan yang terjadi padanya. "Bukankah itu bagus, Laila?"


Laila menggeleng. "Jangan tinggalin mas Haris, Arsy. Dia sangat sedih karena kamu minta pisah. Aku gak mau mas Haris sedih karena kehilangan kamu."


Arsy hanya diam saja. Ia tidak tahu harus memberi jawaban atas ucapan Laila. "Bagaimana dengan aku, Laila? Aku sudah kehilangan semuanya."


Laila meremas jemarinya. "Maafkan aku, Arsy. Maafkan aku," ungkapnya.


"Kenapa dulu kamu gak pernah bilang kalau mas Haris sudah melamar kamu? Andai aku tahu lebih awal, pasti kalian sudah menikah dan aku gak akan merasakan sakit begini."


"Aku harus gimana berada diantara kalian berdua? Aku gak kuat, Laila. Aku seorang wanita juga. Aku cemburu."


Kedua wanita berstatus istri itu menangis bersama. Arsy sendiri merasa bingung. Siapa diantara mereka yang tersimpan dalam hati Haris. Bukankah lebih baik Arsy mengalah jika benar Laila adalah wanita yang dicinta haris?


Bila Arsy berpikir seperti itu, beda pula dengan pikiran Laila. Wanita hamil itu telah menyadari bahwa Haris sangat membutuhkan Arsy dalam kehidupannya. Ternyata, cinta saja tidak cukup untuk dapat memiliki Haris seutuhnya.


****


Setelah menangis bersama, Arsy tidak mengucapkan apapun lagi. Ia segera membereskan peralatan dapur yang kotor karena ulahnya usai membuat kue cokelat. Sementara Laila sudah kembali ke kamar beristirahat.


Selesai mencuci peralatan dapur, ia segera ke kamarnya untuk membersihkan diri agar ketika menyambut Haris pulang kerja, ia sudah lebih rapi.


Benar dugaannya, Haris pulang setelah dirinya telah selesai mandi.


"Assalamualaikum," kata Haris lembut menghampiri Arsy yang baru saja menuruni anak tangga.

__ADS_1


Arsy mencium punggung tangan Haris. "Waalaikumsalam."


"Mas bawa jamur tiram goreng kesukaan kamu dan rujak buah buat Laila."


Arsy tersenyum disertai menerima bungkusan jamur tiram goreng tersebut. "Makasih, mas."


Haris mengecup kening Arsy. "Mas ke kamar Laila,ya. Mas akan bawa Laila periksa. Kamu mau ikut?" Tanyanya tanpa memikirkan pertanyaannya akan membuat hati Arsy sakit karena tersinggung.


"Enggak, mas."


***


Haris memberikan rujak buah pesanan Laila. Ia berjongkok mengelus perut Laila dengan sayang. "Apa dia menyusahkan kamu, Laila?" Tanyanya menengadah menatap Laila.


Laila tersenyum disertai gelengan. "Jadi periksa sekarang?"


Haris bangkit kemudian mengangguk. "Jadi. Tapi Arsy gak ikut, tadi mas ajak tapi gak mau. Padahal mas juga ingin Arsy ikut melihat perkembangan bayi yang ada di dalam perut kamu."


Laila mendengar itu justru merasa cemburu. Kenapa Haris selalu ingin ada Arsy diantara mereka? Kenapa Haris selalu mengikut sertakan Arsy setiap kegiatan yang dilakukan?


Laila tidak bicara paling lagi dan Haris pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Beberapa saat kemudian, keduanya telah rapi dan akan pergi ke Dokter Kandungan.


"Mas pergi, dulu. Kamu baik-baik di rumah, ya." Kata Haris dan diangguki oleh Arsy.


"Hati-hati."


Laila terpaku melihat sikap Haris begitu lembut kepada Arsy. Entah mengapa semakin lama ia merasa cinta Haris bukan untuknya lagi melainkan untuk Arsy. Tapi, mengapa suaminya selalu mengatakan cinta kepadanya?


"Ayo."


****


Ketika tengah menonton televisi, Arsy kedatangan tamu yakni ibu Jannah, ibu dari Laila. Arsy mempersilahkan masuk dan menyediakan jus jeruk bagi ibu Jannah.


Yang diketahui Arsy, ibu Jannah adalah wanita yang jarang bicara. Apalagi selama ini, hanya ibu Rahma dan ibu Sandra saja yang selalu ikut campur urusan rumah tangganya dengan Haris.

__ADS_1


"Silahkan di minum, Bu." Tutur Arsy lembut.


Ibu Jannah mengangguk dan meminum jus tersebut. Di tatap kakak madu anaknya itu, tampak cantik dengan cadar menutupi wajahnya.


Siapa saja akan menilai sama dengannya. Arsy adalah wanita cantik dan baik perangainya. "Maafin Laila, Arsy."


Arsy diam menatap ibu Jannah. "Aku sudah memaafkan Laila, Bu. Tapi sungguh, sampai sekarang aku belum bisa menerima pernikahan kedua suamiku. Ingin sekali aku marah pada kalian yang tidak adil padaku. Kenapa harus aku yang disalahkan karena gak hamil juga?"


"Kenapa kalian jahat padaku?" Arsy kembali terisak mengatakan hal itu pada ibu Jannah.


Ibu Jannah tidak marah. Justru wanita paruh baya itu saat ini bersimpuh di kaki Arsy sambil menangis.


Arsy terkejut atas perlakuan ibu Jannah. "Jangan begini, Bu."


Ibu Jannah menggeleng lemah. "Tolong jangan benci Laila, Arsy. Ibu mohon, beri kebahagiaan untuk Laila. Setelah batal dinikahi oleh Haris, Laila mengalami depresi. Ibu takut Laila akan kembali mengalami depresi kalau kamu memisahkan Laila dan Haris."


Arsy diam terpaku mencerna ucapan ibu Jannah. "Aku gak pernah berniat untuk memisahkan mas Haris dengan Laila, bu. Kenapa ucapan ibu seperti akulah penjahat diantara hubungan mereka? Bagaimanapun hubungan Laila dengan mas Haris di masa lalu, tetap saja. Akulah istri sah mas Haris. Bangkitlah, Bu." Ia membantu ibu Jannah bangkit agar tidak lagi bersimpuh di kakinya.


"Arsy harus istirahat," kata Arsy meninggalkan ruang tamu.


Meski permohonan ibu Jannah begitu menyakitkan bagi Arsy, ia merasa sangat iri terhadap Laila karena memiliki ibu yang rela bersimpuh di kaki istri pertama menantu beliau demi kebahagiaan sang anak. Sementara dirinya?


****


"Usia kandungan ibu sudah dua bulan. Semua baik, ya. Tetap minum vitamin dan makan makanan sehat," terang sang Dokter.


Haris dan Laila mengangguk hampir bersamaan setelah mendengar hal itu.


Setelah pemeriksaan, Haris dan Laila keluar dari rumah sakit. "Kamu tunggu disini, mas mau ambil mobil di Parkiran."


Laila menjawab dengan anggukan kepala dan membiarkan Haris mengambil mobil di Parkiran yang cukup jauh dari tempatnya berpijak. Matanya memicing melihat penjual es krim gerobak.


Ia pun melangkahkan kaki menuju penjual es krim tersebut tanpa melihat dan memikirkan keselamatannya sendiri. Benar saja, dari arah Barat terdapat mobil melaju kencang dan kecelakaan tak dapat terelakkan lagi.


GUBRAK…

__ADS_1


Haris baru saja tiba di tempat Laila berada sebelumnya. Ia celingukan dan memilih keluar mobil. Dicari istri keduanya tersebut hingga baru menyadari orang-orang berkumpul di tengah jalan.


"Lailaaaa!!!"


__ADS_2