
Tanpa terasa sudah satu tahun gelar duda melekat pada diri Haris. Meski teman-teman sekantornya juga sudah sering mengenalkan pada wanita yang berstatus sama dengannya atau seorang gadis juga pernah. Namun, berulang kali pula Haris menolak.
Bukan karena masih cinta dan menyesal telah menyakiti Arsy. Tapi, ia masih takut menjalani hubungan baru, takut akan menyakiti pasangannya lagi.
Hari-hari yang dilewati hanya aktivitas itu-itu saja. Beribadah, bekerja, dan nongkrong sesekali bersama teman.
Sore itu, Haris tampak sangat lelah bekerja seharian. Ditambah kemacetan lalulintas di ibu kota saat jam pulang bekerja semakin membuatnya sangat lelah. Beruntung, Haris dapat terbebas dari kemacetan sebelum matahari terbenam.
Ckkiiittt…
Tiba-tiba Haris injak rem saat baru saja melihat seorang wanita menyebrang. Gegas Haris keluar dari mobil untuk melihat wanita yang ditabraknya. Ternyata wanita itu sedang mengumpulkan piring melamin.
Haris pun membantu wanita tersebut. "Maafin saya, mbak. Saya kurang fokus tadi." Ucap Haris sambil memberikan piring melamin tersebut kepada wanita yang di tabrak.
"Apa ada yang terluka?" Tanyanya kembali khawatir karena sedari tadi hanya diam saja.
"Enggak. Aku yang terkejut jadi jongkok. Aku juga salah karena gak lihat kalau ada mobil," jawab wanita itu sambil menoleh ke arah Haris.
__ADS_1
"Haris."
"Anna."
Kedua insan itu terkejut. "Ya, ampun. Gak nyangka kita ketemu lagi. Sudah sangat lama kamu gak pernah kelihatan," tutur Haris kepada Anna.
Anna tersenyum kikuk dan menjadi gugup. "I-iya, Ris. Maaf gak bisa datang saat pernikahan kamu."
Haris tersenyum disertai anggukan. "Kamu tinggal di komplek perumahan ini juga?" Tanya Haris karena selama tinggal di komplek perumahan itu tidak pernah melihat Anna.
"Aku baru hari ini pindah kesini. Kamu tinggal di komplek ini?"
Anna menjadi salah tingkah dan serba salah. Ia merutuki bosnya yang memberikan tempat tinggal dekat dengan Haris. Jika begini, ia akan selalu bertemu dengan Haris dan kemesraan Haris dengan istrinya.
Anna dan Haris adalah teman satu kampus dahulu. Lebih tepatnya, Haris menganggap dirinya hanya teman dan ia menganggap Haris lebih dari itu. Karena itu pula, Anna memutuskan pindah ke luar kota setelah mengetahui Haris akan menikah.
Patah hati yang berkepanjangan dan membuat Anna terus menyendiri sampai usia yang sama dengan Haris, 30 tahun.
__ADS_1
"Rumah kamu yang mana?" Tanya Haris lagi saat beberapa waktu saling diam. Haris cukup heran karena biasanya Anna sangat cerewet. Apakah waktu telah menggerus keakraban mereka?
"Itu," jawab Anna menunjuk rumah di seberang tempat mereka berdiri saat ini. Melihat Haris semakin tampak gagah membuat Anna gugup saja.
"Baiklah. Kapan-kapan kita harus bertemu lagi, oke? Aku harus pulang," kata Haris dan dijawab Anna dengan anggukan.
Haris melajukan mobil menuju rumahnya. Senyumannya merekah melihat seseorang yang telah menunggunya. Gegas Haris keluar mobil dan berjongkok, merentangkan tangan untuk sambut kepulangannya.
"Ayah…" teriak Malik, anak laki-laki berusia satu tahun berlari tak beraturan ke arah Haris.
Muhammad Malik namanya. Satu tahun lalu, setelah sidang perceraian Haris dengan Arsy, satu Minggu setelahnya Haris menemani ibu Rahma berbelanja. Ketika Haris baru saja keluar dari toilet umum, tanpa sengaja Haris mendengar tangis bayi begitu kencang dari dalam toilet wanita.
Karena curiga takut terjadi apa-apa dengan ibu bayi di dalam kamar mandi setelah Haris memanggil dari luar, akhirnya Haris memberanikan diri untuk masuk. Toilet umum itu tampak sepi. Haris membuka satu persatu pintu kamar mandi setelah mengetuk dan meminta izin tidak ada satupun orang disana hingga tangis bayi itu terdengar lagi.
Haris menemukan bayi itu di dalam kantung plastik besar lengkap dengan plasenta. Sempat membuat laporan, tetapi dibatalkan karena akhirnya Haris memutuskan untuk mengasuh bayi itu.
"Mandi dulu, Ris. Gak baik untuk Malik,X ujar ibu Rahma.
__ADS_1
Haris mencium gemas pipi gembul Malik kemudian menyerahkan kepada ibu Rahma. "Ayah mandi dulu."