
Arsy mengeluarkan cairan yang terasa sangat asam sekali. Isi perutnya seakan sudah sangat habis tetapi rasa mual dan ingin muntah itu masih menyerang.
Tubuh Arsy menegang tatkala merasakan tangan orang lain sedang memijat tengkuk lehernya.
"Arsy, kamu kenapa?"
Arsy mengenal suara itu. Suara ibu Rahma, ibu mertuanya. Segera ia menoleh disertai mengelap bibirnya yang basah. "Mama," cicitnya lirih.
Berpikir keras sejak kapan ibu Rahma berada di tempat yang sama dengannya.
"Mama mendengar semuanya. Tadi, saat kamu masih berdiri mendengarkan mereka, mama juga sedang berdiri di belakang kamu. Maafin mama, demi Allah mama gak tahu kalau Laila adalah saudara kamu juga. Ibu kamu yang kenalkan mama dengan Laila dan mengatakan jika Laila dan Haris hampir menikah sebelum kamu di jodohkan oleh Haris. Ibu kamu juga bilang Jannah adalah sahabat ibu kamu."
"Karena mama benar-benar menginginkan cucu, jadi mama setuju menikahkan Haris dengan Laila. Maafin mama, Arsy."
Arsy hanya diam selaras dengan air mata yang kembali menangis. Ia tidak menyangka kenyataan yang baru saja diketahui begitu pedih. Dirinya adalah anak yang tidak diinginkan.
Lagi-lagi memikirkan kenyataan itu membuat Arsy kembali mual dan ingin muntah.
"Kita masuk saja."
Arsy mengangguk patuh dan berjalan di Tuntung ibu Rahma.
Melihat kedatangan Arsy dan ibu Rahma membuat semua orang di ruang tamu itu terkejut. Arsy duduk di sofa dan ibu Rahma memanggil ART untuk membuatkan teh hangat untuk Arsy.
Ayah Wahyu melihat Arsy duduk tampak tak berdaya dengan wajah pucat langsung mendekat, bertepatan Haris juga melakukan hal yang sama.
"Jangan dekati anakku!!" Sentak ayah Wahyu langsung menepis tangan Haris yang hendak memeluk Arsy.
Arsy memilih diam melihat Haris diperlakukan seperti itu. Ia menangis dalam pelukan ayah Wahyu.
"Kenapa kamu gak cerita, nak?" Tanya ayah Wahyu dengan suara yang bergetar ikut merasakan sakit yang dirasakan Arsy.
__ADS_1
Cukup lama Arsy menangis dalam pelukan ayah Wahyu hingga pelukan itu terurai setelah lebih tenang. Arsy tidak menyangka ayah Wahyu mengalami penderitaan batin selama ini. Pantas saja, sejak dahulu ayah Wahyu selalu marah saat ibu Sandra tidak berada di rumah.
"Kenapa ayah gak pernah cerita?" Tanya Arsy.
Tetapi, tidak ada jawaban dari pertanyaan Arsy. Ayah dan anak itu kembali menangis bersama. Orang-orang yang berada disana tidak dapat berkutik.
Ibu Jannah tampak sudah menangis, Haris dengan penyesalan terdalam, dan ibu Rahma merasa bersalah. Sementara ibu Sandra dan Laila tampak linglung dengan semua yang telah terjadi.
"Ayah. Mereka jahat pada Arsy."
"Tenang, ya. Ayah sudah pulang. Gak akan ada lagi yang bisa menyakitimu termasuk ibu kandungmu sendiri." Ucap ayah Wahyu menahan geram.
Tangis Arsy menjadi sesegukan. Selama ini, ia menahan sendiri. Dan ketika berhadapan dengan ayah Wahyu, ia tak dapat menyembunyikan kesedihannya lagi.
"Sayang," panggil Haris lirih. Betapa berdosa ia telah membuat Arsy menangis.
"Laila adalah cinta pertama mas Haris, yah."
Ungkapan hati Arsy kepada ayah Wahyu mampu membuat semua orang disana menunduk dan meneteskan air mata.
"Ibu, Arsy gak pernah dendam dengan semua sikap ibu ke aku. Meski aku selalu iri pada teman sekolahku yang selalu cerita tiap hari bermain bersama ibunya. Sentra aku gak alami itu. Ibu, tahu. Semenjak ibu juga ikut memintaku untuk memberi izin mas Haris menikah lagi, doaku pada Allah berubah." Terang Arsy menatap ibu Sandra.
"Doaku, aku ingin segera di panggil Allah karena gak sanggup lagi hidup tanpa kasih sayang ibu untukku."
"Arsy…"
Arsy menoleh menatap Laila dengan senyuman. "Jujur. Aku sangat iri padamu, Laila. Kamu telah mendapatkan kasih sayang ibuku, beliau rela mengorbankan kebahagiaanku demi kebahagiaan kamu. Aku juga iri padamu, disaat ibuku sedang mempertahankan kebahagiaan anaknya yang lain, masih ada ibu Jannah yang rela bersujud di kaki ku demi kebahagiaan kamu."
"Mas Haris, apa sangat sulit bagi mas untuk tegas demi kebahagiaanku? Disini akulah korban, tapi kenapa kamu seakan bisa saat mereka menyalahkan aku padahal bukan aku yang salah."
"Ma. Apa sangat berharga seorang cucu sehingga kamu rela menyakiti menantu mama ini? Apa setelah ini, mama akan menyuruh mas Haris menikah lagi sampai cucu itu lahir?"
__ADS_1
Arsy menatap ibu Jannah yang sudah menangis sejak tadi. "Ibu, terbuat dari apa hati ibu saat ibu ku menjadi orang ketiga di rumah tangga ibu? Sekuat apa hati ibu saat mengetahui perselingkuhan mereka dan melahirkan Laila? Bahkan ibu sanggup mengurus anak dari hasil perselingkuhan suami ibu? Jujur, Arsy gak sanggup seperti ibu."
"Laila. Aku pernah bilang, andai sejak awal aku tahu bahwa kamu adalah cinta pertama mas Haris, pasti aku mundur dari perjodohan ini. Tapi, karena terlanjur dan aku menerima kamu sebagai maduku. Ternyata, kamu gak sebaik yang aku kira."
Tatapan Arsy kali ini beralih pada Haris yang juga sedang menatapnya. Haris sendiri duduk di lantai tidak jauh dari tempat duduk Arsy.
"Mas. Ayah ku di penjara karena melakukan tindak pidana atas tuduhan pembunuhan. Dan itu benar. Ayah membunuh seorang pria yang mencoba melecehkan aku malam itu, lima tahun lalu. Karena alasan itulah kita dinikahkan. Tapi, mas. Kenapa mas gak bisa lakukan pembelaan saat aku di tuduh, di sindir, dan kamu gak selamatkan hatiku dengan menolak pernikahan kedua mu?"
"Maafin, mas." Cicit Haris. Haris bangkit mendekati Laila. "Laila Masita, saya Haris Prasetya menjatuhkan talak tiga padamu. Talak, talak, talak. Mulai detik ini kamu bukan lagi istriku."
Semua orang terdiam setelah mendengar kalimat talak yang diucapkan Haris menggema dalam ruangan.
"M-mas."
"Sandra Wati, saya Wahyudi menjatuhkan talak tiga padamu. Mulai saat ini, kamu bukan lagi istriku." Kembali terdengar kalimat talak dari ayah Wahyu.
Laila bersimpuh di kaki Haris. "Tolong jangan tinggalkan aku, mas."
"Aku hamil," ucap Arsy tanpa pedulikan Laila yang sedang memohon pada Haris.
Semua mata tertuju pada Arsy.
"Gak mungkin. Kamu gak mungkin hamil," kata Laila tidak percaya.
Arsy mengusap pipinya yang basah kemudian mengambil hasil pemeriksaan di rumah sakit tadi yang menyatakan dirinya sedang mengandung.
Haris langsung mengambil kertas catatan berupa bukti pemeriksaan Arsy. Matanya berkaca-kaca melihat sebuah potret USG yang menampakkan setitik janin disana. Ia pun mendekati Arsy dan langsung memberi pelukan.
"Ya Allah. Akhirnya, makasih banyak sayang."
Arsy hanya diam saja tanpa ekspresi. "Tapi kita akan bercerai setelah aku melahirkan."
__ADS_1