Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku

Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku
22. Siapa yang Kau Pilih Suamiku


__ADS_3

"Hamil?" Tanya Arsy dan Jo kaget bersamaan setelah Dokter mengatakan bila Arsy sedang hamil.


Mata Arsy masih terbuka lebar dalam keterkejutannya, ia memikirkan langkah selanjutnya. Tentu saja tahu bila tak boleh berpisah dalam keadaan hamil.


Arsy mencoba duduk dan dibantu oleh Jo. Ia menatap dokter itu. "Saya ha-hamil, Dok?"


Dokter itu mengangguk. "Iya, sudah 6 Minggu."


Arsy tidak lagi mengatakan apapun, ia turun dari brankar dan keluar ruangan begitu saja meninggalkan Jo. Pikirannya menjadi tak menentu, ia harus bagaimana?


Duduk di bangku taman rumah sakit. Pantas saja beberapa hari ini Arsy merasa ada yang berubah dalam dirinya.


Jo berdiri di samping Arsy dan memberikan tas milik Arsy. "Selamat," ucapnya.


Arsy tidak menjawab, ia justru menangis. Untuk sekian lama bertatap muka dengan Jo, kali ini ia menangis di depan Jo lagi.


Jo duduk diam bagai patung, tidak mengerti harus berbuat apa. Membiarkan Arsy menangis sendiri di sampingnya. "Apa kamu gak sesak nafas menangis begitu?" Tanyanya.


Tetapi agaknya pertanyaan Jo tidak berlaku bagi Arsy.


"Terkadang, kamu butuh orang lain untuk menyelesaikan masalah kamu. Katakan saja, jika kamu butuh orang lain." Kata Jo tanpa menatap Arsy.


Arsy diam sesat, diambil berkas berisi gugatan cerai itu kemudian ia tunjukkan pada Jo. Sepertinya, ia membenarkan ucapan Jo bahwa dirinya sedang membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


Cukup lama Jo memandangi lembaran kertas tersebut. Arsy sendiri heran melihat itu.


Apa Jo gak bisa baca? Serius?


"Kamu bisa baca kan?" Tanya Arsy memastikan. Tapi, melihat tatapan tajam Jo membuatnya menelan saliva dengan kasar. Ah, aku salah ngomong.


"Mungkin, sudah takdirmu untuk kembali pada suamimu." Kata Jo tanpa menanggapi pertanyaan tak berfaedah dari Arsy barusan.


Arsy terdiam. Ia pandangi orang-orang berlalu lalang di taman rumah sakit itu. "Andai suamiku gak menikah lagi, mungkin aku sangat bahagia dapat hamil. Tapi, semenjak ada Laila diantara kami semua berubah. Aku sendirian disana," untuk pertama kali Arsy menceritakan kehidupan pribadinya kepada Jo. Lebih tepatnya, kepada orang lain.


"Aku harap, setelah kehadiran anak kamu. Semua berubah seperti yang kamu inginkan," ujar Jo dan dijawab dengan anggukan oleh Arsy.


Arsy pun mengambil kembali surat gugat cerai dari tangan Jo dan memasukkan ke dalam tas nya. "Makasih, tuan. Walaupun kita tidak saling mengenal satu sama lain, aku berharap suatu saat nanti aku bisa membalas kebaikan kamu. Aku permisi, tuan."


Arsy yang sudah melangkah berhenti dan berbalik. "Gak perlu."


"Tidak ada penolakan."


Arsy menurut saja. Entah mengapa setiap Jo bicara pembawaannya sangat jelas bila pria itu adalah seorang pemimpin. Arsy mengerutkan dahi saat Jo melajukan mobil ke jalan arah rumahnya, padahal dirinya belum pernah memberi tahukan alamat rumahnya.


"Terimakasih, tuan."


Jo hanya mengangguk dan ia pun segera membuka pagar. Di lihat penjaga rumah tidak ada di tempat. Arsy juga melihat pintu rumah yang terbuka, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Arsy terkejut ketika mendengar teriakan seseorang mengatakan anak haram dan juga menyebut kata mandul. Ia masih bertahan berdiri di balik pintu mendengar perdebatan di dalam rumah.


"Bukan Arsy yang mandul. Tapi kamu Laila!!" Teriak seorang wanita yang dikenal Arsy, ibu Jannah.


"A-apa maksud ibu?" Tanya Laila.


"Saat kamu kecelakaan dan keguguran, bukan janin kamu saja yang diangkat. Tapi rahim kamu juga, Laila. Kenapa kamu begini, nak? Kenapa kamu jadi jahat pada Arsy? Padahal, Arsy lah yang meminta Haris untuk merahasiakan kenyataan ini. Tapi kamu tetap saja serakah."


Laila mulai panik. Ia pandangi wajah Haris yang sudah babak belur. "Katakan kalau itu gak benar, mas!!" Laila histeris ketika Haris hanya diam saja.


Terdengar suara tawa dari ayah Wahyu. Di dalam, ayah Wahyu mendekati ibu Sandra yang masih diam mematung. "Kamu dengar itu, Sandra? Anak haram kesayanganmu bukan hanya mandul. Tapi gak akan bisa punya anak, dia bukan wanita sempurna. Anak dari hasil perselingkuhanmu sedang menjalani karma. Anak mu akan merasakan apa yang dirasakan Jannah selama ini." Ucap ayah Wahyu sarkas dan benar-benar membuat hati ibu Sandra sakit hati.


Di luar, Arsy mematung mendengar ucapan ayah Wahyu. Kenyataan yang baru saja diketahuinya.


Ibu nya berselingkuh?


Laila anak ibu Sandra?


Apakah alasan ini, ibu Sandra selalu tidak perduli dengan Arsy?


Memikirkan itu membuat Arsy pening dan mual. Segera ia menjauh dari tempat itu dan memuntahkan isi perutnya.


"Arsy, kamu kenapa?"

__ADS_1


__ADS_2