Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku

Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku
19. Siapa yang Kau Pilih Suamiku


__ADS_3

Salah satu kebahagiaan bagi Arsy adalah, Haris tidak pernah melarang dirinya pergi ke suatu tempat demi tetap tenang. Seperti saat ini, Arsy berada di sebuah toko kue.


Di toko kue tersebut terdapat sebuah kafe, mungkin pemiliknya sengaja membangun kafe itu berdampingan dengan toko kue nya agar memudahkan pelanggan jika ingin makan dan minum di tempat.


Arsy memesan kue red Velvet yang menarik penglihatannya. Ia benar-benar menikmati harinya yang sendiri karena waktu Haris masih milik Laila untuk beberapa hari ke depan.


"Boleh duduk?" Tanya seorang pria langsung menghempaskan bobot tubuhnya di kursi seberang Arsy.


Arsy melotot melihat pria dihadapannya. Lagi-lagi harus bertemu dengan Jo disaat dirinya berada di luar rumah dalam keadaan sendirian. Matanya memicing menatap Jo curiga. "Apa kamu mengikutiku?"


Jo tidak mengatakan apapun tetapi jemarinya menunjuk ke arah luar toko roti itu dimana tempat parkir kendaraan para pelanggan. "Mobilku terparkir 1 jam lebih dulu darimu."


Tubuh Arsy terpaku, ia menelan saliva nya karena merasa bersalah atas tuduhan tak mendasar darinya. "Maaf," kata Arsy tulus kepada Jo.


Jo hanya mengangguk saja tanpa mengalihkan pandangan yang sedari tadi memerhatikan penampilan Arsy. Gamis, hijab, dan cadar dengan warna merah muda senada.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Kue pesanan tuan seperti biasa sedang habis," kata salah seorang pelayan kafe sekaligus pekerja toko roti tersebut.


Jo terlihat masih diam saja tetapi tatapan matanya yang tajam seakan hendak membunuh pelayan tersebut. "Buatkan lagi," katanya dingin membuat bergidik bagi yang mendengar perkataannya.


Arsy melihat pelayan itu tampak lebih ketakutan dari sebelumnya. Tetapi, ia tetap memilih diam saja.


Jo kembali menoleh ke arah pelayan yang belum juga beranjak setelah ia memerintahkan agar membuat pesanannya.


"Orang yang biasa membuatkan pesanan tuan sedang tidak hadir, tuan."


Arsy tetap diam saja. Tetapi tangannya bergerak mendorong piring berisi kue red Velvet miliknya. "Ambil saja punyaku tapi jangan buat orang lain takut padamu. Kamu diam saja sudah menyeramkan," kata Arsy.


Jo tidak mengatakan apapun, tetapi tubuhnya tegak dan meraih sendok milik Arsy yang berada di piring berbeda kemudian melahap kue red Velvet tersebut dan mengabaikan Arsy yang tengah protes karena sendok yang digunakan milik Arsy.


Hari sudah beranjak sore Arsy baru tiba di rumah. Di lihat mobil Haris sudah terparkir disana, segera ia masuk untuk menemui suaminya itu. Ada rasa rindu ingin bertemu.

__ADS_1


"Dari mana?" Tanya Haris mengagetkan Arsy.


"Dari toko roti, mas. Ini aku bawakan untuk mas dan Laila," jawab Arsy kemudian menaruh dua kotak berisi roti di dalamnya ke atas meja.


"Oh. Janjian dengan laki-laki yang bukan muhrim? Kamu lupa kalau sudah menikah Arsy?!!" Cecar Haris meninggikan suara. Ini kali pertama Haris seperti ini kepada Arsy.


Arsy terkejut mendengar suara Haris yang meninggikan suara kepadanya. Tidak menyangka bila Haris akan membentaknya di hadapan Laila juga. Sempat melirik ke arah Laila yang tersenyum mengejek ke arahnya.


"Arsy sama sekali gak ada janjian dan tentu ingat kalau Arsy adalah istri yang sudah dimadu karena gak hamil-hamil," jawab Arsy mencoba tenang, padahal ia sungguh kecewa pada Haris. Andai jika memang Haris ingin memarahinya, Arsy pasti menerima tapi tidak dihadapan Laila.


Untuk sesaat Haris dan Arsy saling diam setelah ucapan Arsy barusan. Tatapan keduanya masih terkunci dan Arsy lebih dulu memutuskan tatapan itu.


"Namanya Jo dan beberapa kali bertemu tanpa sengaja disaat aku sedang menangis karena memikirkan suamiku sedang bersama istrinya yang lain." Arsy bangkit dan segera masuk ke dalam kamar.


Setelah masuk ke dalam kamar, Arsy mengunci pintu dan menangis sepuasnya.

__ADS_1


__ADS_2