
"Kamu dari mana, Sy? Kok baru pulang?" Tanya Laila beruntun saat mendengar Arsy mengucap salam dan hari mulai sore.
"Dari tempat ayah. Kamu masak apa hari ini?" Tanya Arsy lemah lembut seperti biasa.
Laila tersenyum melihat masakannya. "Pepes ikan."
Arsy hanya mengangguk saja. "Aku ke kamar sebentar, ya. Mau mandi," tuturnya dan gegas pergi dari dapur.
Tadi, setelah ia mengucap salam. Haris terlihat gugup seperti kepergok selingkuh. Sakit memang, Arsy cemburu melihat suaminya bersenda gurau bersama wanita lain. Namun, Arsy mencoba memahami bila suaminya bukan lagi miliknya seutuhnya. Terlebih, cinta Haris bukan untuknya.
Arsy masuk ke dalam kamar dan betapa terkejutnya di dalam ada Haris disana. "M-mas," cicitnya mencoba biasa saja.
Arsy menurut saja ketika Haris menarik tangannya dan duduk bersebelahan di sofa. Ia tetap diam kala tatapan Haris sangat intens.
"Apa sampai sesakit itu sampai kamu ngelarang mas lihat wajah kamu, Arsy?"
__ADS_1
Haris bertanya seperti itu membuat Arsy terkejut. Tatapan matanya tidak ingin bertemu dengan tatapan Haris. Akhirnya Arsy hanya dapat menggeleng dan menunduk. Jika ditanya sesakit itu, tentu saja sakit.
"Kenapa mas gak pernah cerita kalau cinta mas untuk Laila?" Sakit. Hati Arsy sakit menanyakan perihal ini.
Haris tampak terkejut atas pertanyaan Arsy. Benar dugaan nya jika istri pertamanya pasti mendengar pembicaraannya dengan Laila malam tadi.
"Maaf kalau Arsy mendengar pembicaraan mas dan Laila. Demi Allah, Arsy gak menguping. Malam itu, Arsy ingin mengantar teh hijau buat mas."
Haris tampak salah tingkah. Ia mengusap tengkuk lehernya. "Dulu sebelum kita dijodohkan, mas sudah melamar Laila. Tapi mas batalkan dan akhirnya kita menikah."
Haris menggeleng. "Bukan karma, Arsy."
Arsy menatap Haris dengan mata berkaca-kaca. "Arsy rela harus mas lepas agar cinta kalian bersemi kembali. Arsy gak mau jadi penghalang cinta kalian, mas." Jatuh sudah air mata Arsy setelah mengatakan hal itu. Memang berat sekali, tapi sungguh, Arsy tidak ingin menjadi orang ketiga atas cinta Haris dan Laila.
Haris mendekap tubuh Arsy. "Jangan katakan itu, Arsy. Siapa yang akan jaga makanan mas? Siapa yang akan kuatkan mas ketika lelah bekerja? Jangan pernah pergi," terangnya membuat Arsy bingung.
__ADS_1
"Tolong jangan tanya alasannya. Tetaplah bersama mas."
Awalnya ingin menanyakan alasan itu menjadi bungkam ketika mendengar ucapan Haris selanjutnya. Ia hanya mengangguk dalam dekapan Haris.
Diurai pelukan itu. Arsy hanya diam saja ketika Haris membuka cadarnya. Sumpah demi apapun, hatinya selalu bergetar manakala perlakuan lembut Haris kepadanya. Ia pejamkan mata ketika jemari Haris mengusap air matanya dan mengecup matanya yang basah.
"Jangan di tutup kalau mas di rumah, ya. Mas ingin lihat senyum kamu lagi," kata Haris.
Arsy sendiri memaksakan senyum. Apa Haris tidak mengerti bila dirinya tidak akan dapat tersenyum selepas yang lalu? Bagaimana bisa dirinya tersenyum bila setiap hari harus melihat Haris bersama wanita lain?
Tapi, satu hal yang ia syukuri dari pernikahan kedua suaminya yakni, Haris tidak lagi menanggung dosa atas hati tidak yang tertuju padanya. Padahal, Arsy halal bagi Haris.
Arsy mengangguk. "Lebih baik mas temani Laila. Arsy mau mandi dulu," katanya.
Haris mengangguk lalu mengecup kening Arsy. Setelah itu ia keluar kamar menuju dapur dimana Laila berada.
__ADS_1
Semoga aku tetap kuat, ya Allah.