
Ayah Wahyu mempersilahkan Arsy masuk ke dalam rumahnya tanpa perdulikan ibu Sandra berteriak. Bagi beliau, Arsy paling utama.
Saat Arsy sudah masuk ke dalam kamar, ayah Wahyu masuk ke dalam kamar ibu Sandra selama lima tahun ia tinggal. Kemudian di ambil tas travel besar dan memasukkan semua pakaian ibu Sandra yang berada di dalam lemari.
"Apa-apaan kamu, mas. Ini rumah ku," sentak ibu Sandra tidak terima seraya merebut tas tersebut.
"Ini rumah peninggalan orang tuaku. Kamu gak ada hak sama sekali di rumah ini. Sekarang, silahkan pergi dan bawa anak haram kamu itu."
Ibu Sandra tidak dapat membela diri karena seperti itulah kenyataannya. Dibawa tas tersebut keluar kamar dan mengajak Laila pergi dari rumah tersebut.
Di dalam kamar lain, tepat kamar Arsy. Wanita itu menangis mengetahui kebenaran tentang orang tuanya. Ia tidak menyangka ibu Sandra dapat tega seperti ini kepada ayah Wahyu dan dirinya.
Apakah kesetiaan itu benar-benar sulit untuk didapatkan?
Hanya karena merasa kesepian, langsung menghalalkan perselingkuhan?
Hanya karena terlambat menjadi wanita yang sesungguhnya, langsung mengambil jalan pintas dengan menikahi wanita lain?
Dengan semua yang telah terjadi, semakin membuat Arsy untuk menjalin hubungan kembali.
Malam harinya, Arsy keluar mengenakan pakaian tidur panjang dan jilbab instan menutup dada. Wajahnya tampak pucat karena mual muntah yang dialami.
"Kamu mau makan?" Tanya ayah Wahyu yang sedang menonton televisi.
Arsy menggeleng diiringi senyuman. "Arsy pengen makan siomay mang Ujang, yah. Arsy akan beli dulu, ya."
__ADS_1
Ayah Wahyu bangkit mendekati Arsy. "Ayah saja yang beli."
Arsy menggeleng. "Arsy pengen makan di warungnya, yah. Arsy gak apa-apa kok," terangnya sambil menggunakan masker.
"Baiklah. Hati-hati."
Senyuman Arsy mengembang memandangi langit dengan bertaburan bintang. Sudah sangat lama rasanya tidak keluar rumah saat malam hari. Dahulu, saat bersama Haris sering berjalan kaki menyusuri komplek untuk membeli cemilan dan memakannya di taman komplek.
Kebiasaan itu sudah tidak pernah lagi mereka lakukan semenjak kejadian Laila. Seharusnya, Arsy merasa lega saat Laila bukan lagi istri Haris. Namun, entah mengapa Arsy tidak merasakan hal tersebut.
Tin
Tin
Tin
"Jo." Langkah kaki Arsy berhenti bertepatan Jo keluar dari mobil kemudian mobil pria itu melaju meninggalkan mereka berdua.
Arsy menelan saliva dengan kasar saat Jo mendekat. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, ada rasa lega saat jalanan terlihat ramai dengan anak muda komplek itu. Satu hal yang disesali Arsy saat ini ialah penampilannya yang tidak mengenakan gamis dan cadar.
"Mau kemana?"
Melihat wajah datar Jo rasanya sangat sulit untuk bernafas. Tatapan tajam pria itu mampu membuatnya tak berkutik. Seperti seorang tawanan yang berniat kabur diam-diam.
"A-aku mau beli siomay di depan, Jo. Kamu dari mana? Jangan bilang kamu ingin melihat aku menangis lagi," tuding Arsy memicing menatap Jo curiga.
__ADS_1
"Ck. Anda terlalu percaya diri," kilah Jo seraya menarik lengan baju tidur Arsy menuju gerobak siomay yang dikatakan Arsy.
"Eehh.."
Awalnya Arsy terkejut, tapi melihat arah yang dituju Jo membuatnya diam dan mengikuti saja. Senyumannya mengembang saat pria itu terlihat kebingungan karena sangat ramai.
"Biar aku saja yang pesan," kata Arsy membuat Jo menoleh.
"Apa kau akan membunuh anak kamu di tengah desakan orang-orang ini?" Tanya Jo begitu menyeramkan.
Spontan Arsy memeluk perut ratanya diiringi gelengan kepala.
Jo menelepon seseorang dan tak berapa lama beberapa pria berpakaian serba hitam datang membuat para pembeli berbaris rapi. Arsy melongo melihat itu. Bahkan di tangannya sudah ada semangkuk siomay.
Astaga, apa yang telah dilakukan Jo hanya untuk mendapatkan semangkuk siomay ini? Gumam Arsy dalam hati.
Arsy menggeser duduknya saat Jo duduk disebelahnya. Bagaimanapun, ia masih menjadi seorang istri.
"Apa kamu gak akan makan siomay itu?"
Pertanyaan Jo membuat Arsy terkejut dan gegas memakan siomay tersebut. Tetapi, setelah dua suap masuk ke dalam mulutnya Arsy memberikan mangkuk tersebut kepada Jo.
"Untuk apa?"
"Aku sudah kenyang."
__ADS_1
Jo menatap Arsy sejenak. Wajah pria itu terlihat memerah menahan kesal. Tetapi, Jo memakan siomay itu.
"Maksud aku bukan untuk kamu habiskan, Jo. Tapi taruh di meja sebelah kamu, disitu sepertinya tempat mangkuk kotor."