Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku

Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku
30. Siapa yang Kau Pilih Suamiku


__ADS_3

Ada yang bilang setelah Haris bercerai, tidak mengalami keterpurukan. Tidak begitu, hanya saja tidak di tulis dalam teks. 


Selama satu tahun, Haris selalu merasa kesepian. Dihantui rasa bersalah dan penyesalan tiada akhir. Setelah berpisah dengan Arsy, justru dirinya sangat merindukan Arsy bukanlah Laila. 


Sadari bahwa semua sudah terlambat membuat Haris menutup diri. Trauma untuk memulai hubungan baru. Mungkin, karirnya tetap berjalan mulus. Tapi, tiada yang tahu selama setahun ini Haris merasa hidup tidak damai. 


Setiap malam Haris sering terbangun memimpikan Arsy.


Seperti malam ini, usai menidurkan Malik, ia memilih melanjutkan pekerjaan. Ponselnya bergetar kemudian dilihat siapa yang menghubunginya tengah malam begini.


Mata Haris melebar melihat nama yang tertera di layar ponsel. Tangannya gemetar memegang benda pipih tersebut. 


"Hallo, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, mas. Gimana kabar kamu? Maaf ganggu tengah malam begini."


Haris memejamkan mata mendengar suara Arsy. Mantan istri yang masih dicintai. 


"M-mas sedang ngerjain kerjaan. Mas baik, Arsy. Gimana dengan kamu?" Haris meraup wajah saking gugupnya di telepon oleh Arsy tengah malam. Bagai mimpi dapat mendengar suara Arsy lagi. 


"Arsy baik, mas. Mas, mama cerita sama aku kemarin. Jangan terpuruk lagi, ya. Aku sudah memaafkan kalian dan aku juga minta maaf belum bisa jadi istri yang baik buat mas, dulu. Aku sudah ikhlas menerima semuanya. Aku sudah berdamai, mas. Aku sudah gak lagi menyimpan kemarahan untuk mas, aku mohon. Jangan terpuruk karena masa lalu kita, ya. Kasihan Malik."


Ucapan Arsy justru membuat mata Haris berkaca-kaca. Ingin sekali dirinya tahu keberadaan Arsy dan melihat keadaan secara langsung. 


"Mas. Demi Allah, aku sudah berdamai dengan keadaan. Aku juga sudah bekerja, mas harus bangkit ya. Sudah dulu ya, mas. Aku harus bekerja, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Haris menghela nafas panjang setelah sambungan telepon itu terputus. Bersandar di sofa sambil menatap langit-langit ruang kerjanya. Benar yang dikatakan Arsy, sudah saatnya untuk berdamai dengan keadaan. 


Keesokan hari, Haris mendorong stroller yang ada Malik duduk disana. Mumpung akhir pekan, ia mengajak sang anak ke taman komplek karena disana ramai jika sore hari. 


Ia pun menurunkan Malik dan membiarkan sang anak belajar berjalan. Haris pun berlutut menyeimbangkan tinggi sang anak dengan rentangkan kedua tangan. "Sini sama ayah."


Saat ayah dan anak itu asyik bermain, Haris menoleh ke sumber suara anak-anak yang bersorak gembira.


"Yeee.. Makasih ibu."


"Aku juga dapat. Makasih, Bu."


Dahi Haris berkerut melihat seorang wanita yang disebut 'ibu' oleh anak-anak komplek. Ia pun menggendong Malik dan berjalan mendekati Anna.


"Hai, Ann." sapa Haris justru membuat Anna terkejut.


Anna tersenyum kikuk. "Gak apa-apa, Ris. Ini anak kamu?" Tanya Anna menatap Malik yang tersenyum memamerkan dua gigi kelinci bawahnya.


"Dia sangat tampan," puji Anna lagi.


"Iya, dia anakku." Haris menoleh ke samping kiri menatap Malik kemudian mencium pipi gembul itu dengan gemas.


Anna melihat itu hanya memaksakan senyum. Ia berpikir pasti Haris hidup sangat bahagia dengan istri dan anaknya. Apalah dirinya yang masih sendiri belum bisa menghadirkan cinta yang lain. 


Ponsel Haris berdering. Saat akan mengambil di saku, ia terlihat kesulitan.


"Malik sama aku dulu, Ris." Anna mengambil alih Malik dari gendongan Haris.

__ADS_1


"Ah, iya. Maaf ya, Ann. Sebentar," kata Haris kemudian mengangkat telepon dari ibu Rahma yang mengatakan bahwa sudah waktunya Malik diberi makan.


Haris memasukkan ponsel ke saku celana lagi kemudian menjulurkan tangan agar Malik mau digendong olehnya lagi.


"Kita harus pulang, Malik. Tante Anna masih ada kegiatan lain." Haris membujuk anaknya itu karena tak biasanya Malik menolak ajakannya jika sedang bersama orang lain. Bahkan Malik menyandarkan kepala di pundak Anna.


Anna terkekeh melihat tingkah ayah dan anak itu. Baginya, kedua pria beda usia itu sangat menggemaskan. Tapi sejurus kemudian, Anna merutuki diri telah mengagumi sosok suami orang lain. 


"Biar aku gendong sampai rumah kamu saja, Ris. Aku juga sudah mau pulang," tutur Anna ketika Malik mengeratkan pelukan di lehernya saat Haris mencoba meraih Malik, lagi.


Haris tampak tidak enak hati. "Gak apa-apa, nih?" 


Terdengar kekehan dari Anna. "Ya ampun. Gak apa-apa, Ris. Aku malah suka gendong anak kecil begini," katanya sambil ikut melangkah menyeimbangi Haris.


Haris menganggukkan kepala. "Kamu sudah punya anak?" Haris menoleh menatap Haris. "Ah, maaf. Aku sudah lancang," timpalnya lagi menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Santai saja. Aku belum punya anak karena belum menikah," jawab Anna santai tetapi membuat Haris menghentikan langkahnya. 


"Kamu belum menikah?" Tanya Haris tak percaya.


Anna menipiskan bibir seraya mengangguk lemah. Tapi, tingkah Anna justru membuat Haris tertawa.


"Astaga. Apa kamu belum move on dariku, Ann?" Haris melanjutkan jalan sambil mendorong stroller bayi milik anaknya sambil tertawa renyah. Ia mengingat mimik wajah Anna menegangkan barusan terlihat sangat lucu sekali.


Sementara tubuh Anna menegang mendengar pertanyaan Haris. Apakah selama ini Haris tahu jika ia diam-diam menyukai pria itu? 


Seketika itu pula Anna mendadak lesu dan malu bertemu dengan Haris. "Kenapa ayah kamu tahu, Malik?" 

__ADS_1


__ADS_2