Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku

Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku
15. Siapa yang Kau Pilih Suamiku


__ADS_3

"Hai, naiklah!!"


Arsy diam saja. "Tidak, terimakasih. Saya dan tuan Jo tidak sedekat itu," kata Arsy kemudian kembali melangkahkan kaki menjauh dari mobil mewah tersebut.


Langkah Arsy semakin cepat setelah menyadari mobil pria tadi mengikutinya. Saat melihat mobil taksi berhenti tidak jauh darinya sedang berhenti menurunkan penumpang.


"Taksi, tunggu!!" Pekik Arsy berjalan cepat menuju taksi yang telah menunggunya itu. Taksi melaju setelah ia memberikan alamat rumahnya.


***


"Apa mereka sedang bertengkar? Kenapa denganku juga wanita tertutup itu seperti takut padaku?"


"Haisshh… Mereka sangat menyebalkan!!"


****


"Sebentar ya, pak. Saya ambil uang di dalam," kata Arsy ketika baru saja sampai di depan rumah.


Arsy keluar dari taksi dan segera masuk ke dalam rumah. Ia tidak memerhatikan bila Haris juga berada di rumah. Fokusnya hanya menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar. Di ambilnya dua lembar uang kertas berwarna merah, kemudian kembali keluar rumah.


"Ini pak. Makasih banyak ya, pak!" Ucap Arsy tulus.

__ADS_1


"Aduh, Bu. Selembar saja cukup, bahkan masih ada lebihnya." Kata sopir taksi tersebut.


"Gak apa-apa, pak. Kembaliannya untuk bapak, yang" ucap Arsy.


"Terimakasih, Bu."


Setelah itu taksi tersebut pergi dari rumahnya. Arsy baru menyadari mobil Haris berada di rumah. Gegas ia masuk ke dalam mencari keberadaan Haris.


"Mas," panggil Arsy berjalan mendekati Haris yang tampak kacau menatap kearahnya.


Hati Arsy pun bertanya-tanya, ada apa dengan Haris?


Apa yang terjadi pada suaminya itu?


Tubuh Arsy menegang manakala dekapan Haris menghangatkan tubuhnya.


"Maafin, mas. Tadi mas cari kamu di rumah sakit. Mas khawatir," ucap Haris. Suara Haris terdengar khawatir.


Mendengar ucapan Haris justru membuat Arsy merasa bersalah karena ia sama sekali sudah tidak memikirkan masalah mereka setelah bertemu dengan Jo, tadi.


"Jangan dipikirkan, mas. Oh iya, Arsy mandi sebentar, ya?!" Kata Arsy kemudian.

__ADS_1


"Mas ikut," pekik Haris tersenyum penuh arti dan Arsy hanya dapat mengangguk dengan pipi yang merona.


****


Tanpa terasa sudah lama waktu terlewati sebagai istri pertama yang terus-menerus tersakiti. Seperti saat ini, keadaan Laila memang sudah membaik. Tetapi, ibu Rahma dan ibu Sandra menjadi lebih menjaga Laila.


Yang mengharuskan Arsy juga harus ikut menjaga Laila dan tidak membiarkan Laila mengerjakan apapun sesuai titah dari para ibu tersebut. Kata mereka, Laila tidak boleh mengerjakan pekerjaan berat-berat agar segera hamil, lagi.


Mereka melakukan hal tersebut juga karena Arsy tidak kunjung hamil. Arsy juga tidak tahu mengapa Tuhan begitu mengujinya dengan ketidaksempurnaan ini.


Begitu juga dengan Haris. Ia juga ingin memiliki waktu berdua dengan Arsy, tapi karena kemanjaan Laila membuatnya serba salah. Sering sekali pria itu meminta maaf kepada Arsy atas perlakuannya yang tidak adil ini. Dan Arsy hanya dapat memaafkan dan memaklumi saja.


Jika tidak seperti itu, Arsy bisa apa? Dirinya hanyalah istri pertama yang terabaikan.


Usaha menjual mukenah dan gamis Arsy akhirnya ditunda karena tidak memiliki waktu luang. Biarlah, suatu saat akan diteruskan jika sudah tidak sesibuk saat ini.


Arsy juga tidak pernah lagi bertemu dengan Jo. Entah dimana batang hidungnya sampai-sampai tidak pernah menampakkan diri, lagi. Namun, hal ini lebih baik karena Arsy tidak ingin menjadi fitnah di hari kemudian.


"Arsy," panggil Laila sedang duduk di depan meja makan dan Arsy sedang menata makanan disana.


"Ya."

__ADS_1


"Apa kamu benci aku?" Tanya Laila lagi.


Laila diam sejenak. "Enggak. Aku gak benci kamu."


__ADS_2