Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku

Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku
26. Siapa yang Kau Pilih Suamiku


__ADS_3

Arsy menahan tawa ketika melihat wajah Jo memerah setelah dirinya memberitahu sisa siomaynya di taruh ke meja sebelah. Nyatanya, Jo salah paham. Sebenarnya, ingin sekali Arsy menghabiskan siomay tersebut, tapi karena mengenakan masker membuat Arsy kesulitan untuk memakannya.


"Hei.. Kenapa kamu lanjut makan?" Tanya Arsy panik saat Jo justru melahap siomay hingga tandas.


"Sudah terlanjur," jawab Jo tanpa menatap Arsy. Mungkin, pria itu malu.


Usai makan siomay, Arsy dan Jo kembali berjalan menuju rumah ayah Wahyu. Arsy membawa sebungkus siomay untuk diberikan kepada sang ayah. 


"Makasih banyak traktirannya Jo," ucap Arsy saat langkah mereka mendekati rumah ayah Wahyu.


Jo hanya mengangguk. "Aku harus pergi. Semoga kandunganmu sehat dan rumah tangga kamu baik-baik saja."


Arsy mengangguk tanpa berkomentar apapun. Meski kenyataannya sudah hancur sejak Laila hadir diantara mereka. "Terimakasih."


"Jaga dirimu baik-baik."


Arsy kembali mengangguk dan melihat Jo masuk ke dalam mobil yang sedari tadi sudah menunggu. Kemudian Arsy membuka pagar rumah, dilihat ada mobil Haris disana.


Gegas Arsy masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum," ucap Arsy seraya mendekati dan meraih tangan Haris. Di cium punggung tangan suaminya sebagai bakti dirinya yang masih menjadi seorang istri.


"Waalaikumsalam," jawab Haris dan ayah Wahyu hampir bersamaan.


"Mas sudah lama?" Tanya Arsy sambil menghempaskan bobot tubuhnya di sebelah Haris. 

__ADS_1


"Belum. Mas bawa buah-buahan untuk kamu," jawab Haris menyerahkan sekantong plastik berisi beragam buah. 


"Makasih, mas." Arsy menerima dan membuka kantong plastik tersebut untuk melihat isinya. 


"Ayah ke kamar dulu. Bilang ke suami kamu jangan pulang larut dan jangan menginap," ucap ayah Wahyu ketus kemudian beranjak dari duduknya. Bagaimanapun, beliau masih enggan memaafkan Haris beserta orang-orang yang sengaja menyakiti Arsy.


Arsy mendengar ucapan ayah Wahyu menjadi meringis. Ditatap wajah Haris dengan rasa bersalah. "Maafi ayah, ya."


Haris memaksakan senyuman. "Mas ngerti yang dirasakan ayah. Semua salah mas," ucapnya penuh rasa penyesalan.


Anggukan kecil terlihat dari kepala Arsy. "Oh iya, mas. Ini tadi aku beli siomay, mas mau? Biar aku ambil piring," ucap Arsy agar tidak lagi membicarakan masalah di antara keduanya. Jika terus dibahas, maka keputusan Arsy tetap sama. Yaitu, berpisah setelah melahirkan.


Haris mengangguk pasrah. Meski merasa Arsy masih perhatian, tetap saja merasakan bahwa tatapan Arsy selalu menghindar saat dirinya juga sedang menatap istrinya itu. Tapi, ia sudah bertekad untuk mendapat cinta Arsy kembali. 


"Suapin mas, dong."


Arsy mengangguk disertai senyuman. Ia yakin, Haris ingin mengingatkan kembali kebiasaan-kebiasaan sebelum Laila hadir diantara mereka. Tetapi, ingatan dan kebiasaan itu justru membuat Arsy sakit hati. Sebab, meski Haris bersikap baik dan romantis padanya, tidak pernah sekali pun mengakui perasaan cinta itu kepadanya. 


Memang benar, kalimat cinta tidak menjamin perasaan itu jujur atau tidak. Tetapi, sebagai seorang wanita. Apalagi seorang istri tentulah akan menginginkan mendengar kalimat cinta dari sang suami meski hanya sekali.


"Makasih. Kamu masih menerima, mas."


Arsy hanya tersenyum saja. Ia juga hanya diam saat untuk pertama kali Haris menyentuh perutnya setelah hamil. Andai semua orang dapat lebih sabar menunggu kehadiran janin di rahim Arsy, mungkin kebahagiaan terus datang bertubi-tubi. Tetapi, semua sudah berbeda. 

__ADS_1


Hati Arsy sudah dalam tahap paling lelah.


****


"Ibu," cicit Laila saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman rumah ibu Jannah. 


Terlihat ibu Jannah baru saja keluar rumah dengan membawa dua tas pakaian cukup besar. 


Ibu Jannah menatap Laila dan ibu Sandra secara bergantian kemudian menghel nafas panjang. Di dekati ibu dan anak tersebut lalu ia menyerahkan sebuah kunci dan surat rumah atas nama mendiang suaminya.


"Ini rumah milik mendiang ayah kamu, Laila. Tugas ibu sudah selesa dan sudah waktunya ibu pergi," kata ibu Jannah sangat tabah.


"I-ibu.. Maafin Laila," kata Laila penuh penyesalan.


"Maafkan saya, mbak Jannah. Maafkan saya."


Ibu Jannah mengangguk disertai senyuman. "Jaga diri kamu baik-baik. Jadikan pelajaran yang telah berlalu. Assalamualaikum," ucap beliau kemudian segera meninggalkan area rumah itu. 


***


"Jadi, dia anak dari pria itu?" 


"Benar, tuan."

__ADS_1


"Sial!!!"


__ADS_2