Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku

Siapa Yang Kau Pilih, Suamiku
13. Siapa yang Kau Pilih Suamiku


__ADS_3

Arsy hanya mampu berdiri mematung melihat dokter dan dua orang suster tengah mengobati luka di dada pria aneh yang pernah ditemui beberapa kali. Ingin sekali Arsy pergi dari ruang perawatan elit itu, hanya saja tidak bisa karena pria aneh tersebut sedang menggenggam hijabnya.


"Anda selalu saja tidak hati-hati, tuan!" Celetuk sang dokter yang tak jauh berbeda usianya dengan pria aneh tersebut.


"Lakukan saja pekerjaanmu atau rumah sakitmu, aku ratakan!" Ucap pria bernama Jo itu.


Arsy terkejut dan semakin yakin bila Jo adalah pria berbahaya. "Maaf. Bisakah kamu lepas? Aku harus segera pergi," ucap Arsy dan memang harus pergi karena langit sudah mulai terang. Ia takut Haris mencarinya.


Jo menoleh ke arah Arsy tanpa mengatakan apapun. Tetapi, pria itu justru menarik hijab Arsy agar lebih mendekat padanya membuat Arsy melotot.


"Kenapa kamu suka sekali melotot setiap kita bertemu?" Tanya Jo dengan suara dingin berwajah datar.


Mendengar pertanyaan Jo membuat Arsy buang muka. Tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut karena tidak tahu harus menjawab seperti apa yang cocok untuk Jo. Apa pria aneh itu tidak ingat setiap kali bertemu pasti ada saja hal menjengkelkan.


"Brother!!" Pekik seorang pria tampan berwajah bule masuk ke ruang perawatan Jo.


Arsy memperhatikan reaksi Jo yang terlihat kesal.


Langkah pria yang memekik itu melambat ketika melihat wanita berpenampilan aneh berada di dekat Jo. "Siapa dia, Jo?"


"Futura esposa."


"Wow… Selera kamu beda."

__ADS_1


"Hem."


Arsy mendengar itu hanya cuek saja karena tidak tahu arti dari jawaban yang dilontarkan Jo.


"Maaf, saya harus segera pergi." Ucap Arsy segera ketika Jo melepas genggaman di hijabnya.


Jo melihat kepergian Arsy, langsung menghubungi asistennya.


****


"Assalamualaikum, mas." Ucap Arsy ketika baru saja membuka pintu ruang perawatan Laila.


Semua mata memandang ke arahnya termasuk Laila yang juga sudah sadar. Dengan perasaan gugup, Arsy melangkah mendekati dan mencium punggung tangan Haris kemudian melakukan hal yang sama kepada ketiga ibu paruh baya disana.


Arsy tampak salah tingkah. "Tadi, saat Arsy mau sholat ada orang terluka jadi Arsy bantu bawa ke ruang perawatan nya, mas. Mungkin karena saat menuntun orang itu, aroma parfum nya tertinggal di baju."


Haris mengangguk percaya karena tahu Arsy tidak akan melakukan suatu yang melewati batas. Ia menuntun Arsy agar duduk di sudut ruang, beralas tikar. Kemudian mengambil dua bungkus nasi dan kembali duduk di dekat Arsy. "Kita sarapan, ya. Mas yakin, kamu pasti belum makan."


Arsy tersenyum disertai anggukan. Sedari semalam, ia terus mencoba menguatkan hati apabila perhatian Haris akan berkurang selama Laila sakit. Tetapi, mendapat perhatian seperti ini justru membuatnya merasa bersalah karena sudah berpikir buruk kepada Haris sebelumnya.


"Haris! Laila sedang sakit, loh." Tegur ibu Rahma memandang tak suka. Beliau masih mengira, Laila akan segera hamil setelah pulih.


Haris menghela nafas panjang. "Ma, seharusnya hari ini adalah giliran aku bersama Arsy. Tapi Arsy mengerti keadaan aku. Aku hanya sarapan bersama, dari kemarin aku sudah jangan Laila." Haris ingin sekali ibu Rahma mengerti keadaannya.

__ADS_1


"Tapi Arsy bakal ngerti keadaan kamu dan Laila, kok. Laila lagi butuh kamu, Haris." Ucapan itu bukan lagi dari ibu Rahma melainkan ibu Sandra.


Arsy menggenggam tangan Haris agar tidak lagi melawan. "Mas makan saja bersama Laila. Biar mama, ibu, dan ibu Jannah menemani Arsy makan disini," kata Arsy santai.


"Buat apa ibu temani kamu, Arsy? Kamu kan sehat," tanya ibu Sandra.


Arsy mengedikkan bahu. "Hati aku yang sakit atas ulah kalian. Akulah korban tapi kenapa terus menerus menjadi tersangka atas kesakitan yang dirasakan Laila. Aku juga istri mas Haris."


"Jangan egois begitu, Arsy."


Arsy menganggukkan kepala disertai senyuman miris yang tak mungkin terlihat. Di tatap Haris dengan rasa kecewa. "Siapa yang kamu pilih, mas?"


Haris menjadi serba salah. Tentu saja saat ini ingin menemani Arsy. Tapi melihat wajah Laila tampak sedih membuatnya tidak tega. Kemudian tatapannya beralih kepada Arsy.


"Pergilah, mas. Laila lebih membutuhkan kamu," ucap Arsy seakan mengerti kegundahan Haris.


"Maaf," ucap Haris dan dijawab anggukan saja oleh Arsy.


Arsy berdiri dan keluar dari ruang perawatan Laila tanpa pamit dan hiraukan panggilan dari Haris. Rasanya terlalu sesak berada diantara orang-orang di dalam sana.


Langkah kakinya membawa ke atap gedung rumah sakit. Di atas sana, Arsy meluapkan kesedihannya dengan menangis tanpa takut orang lain mendengar.


Hatinya terlalu terluka parah atas pernikahan ini. Tetapi, tidak ada yang mengerti dirinya.

__ADS_1


"Astaga … Kenapa kamu suka sekali menangis?!!"


__ADS_2