Sistem Alkemis Terkuat

Sistem Alkemis Terkuat
Chapter 22: Mendekati akhir


__ADS_3

Dalam menciptakan Homunculus, aku memerlukan tiga bahan.


Pertama, tubuh dari mayat yang masih segar.


Kedua, bahan dari seekor monster.


Terakhir, aku memerlukan batu filsuf.


Tapi, untuk bisa membuka fitur tersebut, aku memerlukan skill Sistem Alkemis berada di level maks. Untungnya, berkat poin obatku yang melimpah dan bahan yang dikumpulkan para Elf, aku bisa menaikkan level skillku dengan cepat.


Jujur saja, jika bisa aku tidak ingin menggunakan cara ini. Karena ini adalah kekuatan yang terbilang tidak manusiawi.


Aku dapat membangkitkan orang yang sudah mati, itu mungkin terdengar hebat. Namun, sebagai gantinya, aku harus mengubah tubuh dari orang itu menyatu dengan tubuh dari seekor monster. Rasanya kayak aku mempermainkan tubuh dari mayat seseorang secara seenaknya.


Hanya memikirkannya saja itu sudah membuatku mual.


Ngomong-ngomong, ini juga adalah rencana yang sebelumnya pernah aku bahas dengan Alicia, dan saran yang kutolak dengan keras.


Aku tidak percaya sekarang aku malah harus menelan ludahku sendiri.


Ya ampun, aku benar-benar menyedihkan.


“Maafkan aku, Elvy. Tapi aku akan menggunakan tubuhmu sebagai wadahnya,” ujarku dengan penuh rasa bersalah.


Saat itu juga, aku mulai melakukan penciptaan Homunculus. Di sini aku akan menggunakan Elvy sebagai syarat dari mayat segar, dan untuk bahan dari monsternya. Aku membuka [Item Box]ku, dan di sana aku mengambil item yang sebelumnya pernah kudapatkan ketika sedang mencari makanan.


[Gigi sang Naga Kehancuran, Ragnarok]


Dari namanya yang mengerikan, seharusnya dia merupakan monster yang kuat. Aku akan menggunakan itu sebagai syarat bahan monsternya.


“Sekarang hanya tinggal batu filsufnya.”


Aku membuka [Padu Bahan] dan mencari batu filsuf dari semua daftar barang yang bisa kuciptakan. Di sana, aku menemukannya di bagian paling bawah, dan aku langsung menekannya.


[Batu Filsuf]


[Bahan yang diperlukan: 100.000 poin mana]


“Ugh…” Melihat jumlah bahan yang diperlukan untuk membuat satu batu filsuf, bahuku merosot dengan murung.


Aku tidak percaya itu akan semahal ini, aku memang memiliki jumlah poin mana yang cukup untuk membuatnya, tapi itu akan hampir menghabiskan semua poin mana yang kumiliki.


Saat ini jumlah poin mana yang kumiliki 108.493, itu semua berkat bahan-bahan dari monster yang dikumpulkan oleh para Elf itu. Jika di sini aku membuat satu batu filsuf, itu akan menguras poin manaku dalam jumlah yang banyak.


“Aarrggh! Terserahlah! Aku tidak memiliki waktu lagi untuk ragu!”


‘Klik!’


Aku menekan tombol [Mulai Padu], dan beberapa detik kemudian batu filsuf itu berhasil dibuat, dengan mengorbankan sejumlah poin mana yang banyak.

__ADS_1


Pada saat itu juga, aku mulai meletakkan semua bahan-bahan yang kuperlukan itu menjadi satu di dekat tubuh Elvy dan membuka kembali Sistem Alkemis ku.


Di sana aku menekan fitur [Penciptaan Homunculus].


“Aku tidak percaya aku akan menggunakan batu filsuf yang telah kuinginkan selama ini untuk sesuatu yang seperti ini. Ini sedikit menyakitkan.”


[Apakah anda ingin menciptakan Homunculus?]


[Yes/No]


Melihat panel itu muncul di depanku, aku menarik nafas dalam-dalam.


Setelah memastikan bahwa aku sudah siap sepenuhnya, aku tanpa ragu langsung menekan tombol [Yes].


‘Klik!’


“—Wooh!!”


Pada saat yang bersamaan, tubuh Elvy dan semua bahan yang kuletakkan itu tiba-tiba tertelan oleh asap hitam yang seperti angin topan, itu membuatku terkejut.


Aku sedikit mundur ke belakang ketika melihat asap hitam itu yang mulai menjadi semakin besar dan besar.


Menyaksikan semua kejadian itu, aku menahan nafasku.


“Apakah ini berhasil?”


Tapi, selagi aku memikirkan hal itu, Roden mulai memperhatikan apa yang sedang kulakukan. Dia menatapku dengan tajam.


Di sana, meskipun dia terus menerus diserang oleh para Elf, seolah-olah semua serangan itu hanya sebatas gigitan semut baginya, dia menatap lurus tepat ke arahku tanpa memperdulikan semua serangan para Elf.


“Aku tidak tau apa yang sedang kau rencanakan, tapi jangan pernah berpikir jika aku akan membiarkanmu begitu saja! Aku tidak akan lengah lagi seperti sebelumnya, kali ini akan kupastikan aku membunuhmu!!” teriak Roden, dan tanpa pikir panjang dia langsung mengeluarkan nafas apinya kepadaku.


Melihat itu, aku tertawa kaku.


“Ini gawat.”


Saat ini aku tidak bisa meninggalkan tempat ini karena penciptaan Homunculus itu masih belum selesai. Sedangkan aku tidak memiliki kekuatan untuk menahan serangan dari nafas api naga itu.


“Serius, apa yang harus kulakukan?”


Tapi, selagi aku memikirkan hal itu, Roden telah siap dengan nafas apinya.


Ini gawat, ini benar-benar gawat!


“Tu-Tunggu! Mari kita bicarakan ini baik-baik!! Aku yakin kita bisa menyelesaikan ini dengan bicara! Kunci dari kedamaian itu adalah komunikasi! Jadi jika kita saling berkomunikasi, aku yakin kita bisa saling mengerti!!”


“Tidak ada yang perlu dibicarakan!! Matilah kau bocah sialan!!” pekik Roden dan langsung menyemburkan nafas apinya ke arahku.


Waaaah, panas panas panas panas panas!!

__ADS_1


Ini terlalu mengerikan, aku tidak percaya itu akan menjadi sepanas ini meskipun jarak di antara kami masih sangat jauh!


Jika seperti ini terus, aku pasti akan gosong duluan sebelum api itu mengenaiku!


Kumohon, siapapun tolong aku!


Aku sudah tidak bisa menahannya lagi!!


A-Api itu semakin dekat!


Aku sudah tidak bisa melarikan diri lagi!


Aaaaaaaah—!! Tamatlah akuuuu!!


‘Bum!’


“Huh?”


Saat aku berpikir bahwa aku sudah menjadi daging bakar, mataku langsung terbuka lebar begitu aku menyadari bahwa kakiku sudah tidak menyentuh tanah lagi dan terbang dengan ketinggian yang memusingkan.


Pada saat itu juga, seseorang yang menggendongku di rangkulannya itu layaknya seorang putri, tersenyum lembut dan berkata dengan suara yang sangat familiar.


“Apa kau terluka, Riku-san?”


Tepat di depan mataku adalah seorang gadis yang sebelumnya telah mati. Tapi kini, dengan penampilan yang berbeda, dia hidup kembali.


Meskipun ukuran dari tubuhnya sendiri masih sama seperti sebelumnya, ada bagian yang berubah dan berbeda dari dirinya yang sekarang.


Rambut pendek hijau mudanya dulu telah berubah menjadi putih bersih dengan sedikit bergelombang. Mata coklat kremnya juga telah berubah menjadi warna merah darah yang berkilauan.


Tapi, yang membuatnya berbeda dari sebelumnya adalah sepasang tanduk di kepalanya, cakar tajam dikedua tangannya, dan sepasang sayap hitam mengerikan yang terbentang lebar di belakang punggungnya.


Melihatnya hidup lagi seperti ini, aku langsung memeluknya dengan erat.


“Elvy-chaaannn! Huaaaaaa!! Aku takut sekali!!”.


“Ri-Riku-san?! To-Tolong jangan banyak bergerak! Aku masih belum terbiasa terbang seperti ini! Jadi tolong jangan banyak bergerak! Atau kita akan jatuh!! Baiklah, aku mengerti! Sekarang sudah baik-baik saja! Jadi tolong berhenti menangis lagi!! A-Aaaah, Riku-san! Tolong jangan mengelap ingusmu di bajuku!”


“Hiks, hiks… Aku sangat merindukanmu, Elvy-chan,” ujarku dengan tulus, yang masih belum berhenti menangis. Aku dengan erat terus menempel kepadanya.


Melihat itu, Elvy menghela nafasnya dan tersenyum lembut sembari mengelus-elus kepalaku dengan hati-hati supaya cakarnya tidak melukaiku.


Aku merasa posisi kami terbalik, tapi aku tidak memperdulikannya lagi.


“Maaf karena telah membuatmu khawatir, Riku-san. Tapi, sekarang semuanya sudah aman, serahkan sisanya kepadaku. Aku akan mengakhiri semua kekacauan ini,” ujar Elvy dengan senyumannya yang dipenuhi oleh rasa percaya diri.


Melihat itu, mataku berbinar terkagum-kagum.


Di-Dia benar-benar sangat keren.

__ADS_1


Ini gawat.


Jika aku lengah sedikit saja, mungkin aku sudah jatuh cinta kepadanya.


__ADS_2