Sistem Alkemis Terkuat

Sistem Alkemis Terkuat
Chapter 29: Kepahitan dalam hidup


__ADS_3

Menetes, menetes, menetes, dan terus menetes membasahi tubuhku.


Aroma karat yang menyerbak menusuk hidungku, bersama perasaan dingin yang membuat kepalaku terasa membeku.


Saat aku melihat warna merah dari cairan kental itu, aku tau bahwa ini hanyalah mimpi.


Sebuah mimpi yang kejam, mimpi yang takkan pernah berakhir.


Sudah berapa kali aku mengalami mimpi yang sama, aku sendiri bahkan sudah tidak menghitungnya lagi.


Berulang-ulang kali, dan terus terulang kembali.


Sebuah mimpi tanpa akhir.


Dalam mimpi itu aku mendengar suara tangisan, suara jeritan, dan suara keputusasaan dari seorang anak kecil yang tidak bisa berhenti gemetar, yang tidak lain adalah diriku sendiri.


Aku benar-benar membenci ini.


Mau sampai kapan aku harus menyaksikan hal ini?


Apa segitunya kau ingin mencari alasan untuk mati?


Benar-benar anak yang menyedihkan.


(“Hiks..! Hiks…! Ayah… Ibu…”) Aku menangis.


Ini adalah masa laluku.


Waktu itu aku terus menangis— tidak, aku hanya bisa menangis.


Memeluk adik perempuanku dengan erat, aku hanya bisa terus menangis ketika ayah dan ibuku juga memeluk kami dengan sangat erat.


Itu pelukan yang sangat hangat.


Aku benar-benar merasakan kasih sayang mereka yang besar dari pelukan tersebut.


Bahkan, sampai akhirpun ayah dan ibuku terus memelukku, mereka terus memeluk kami berdua—


—Bersama besi-besi tajam yang menusuk tubuh mereka.


“….”


Melihat itu, aku hanya bisa terus tenggelam dan tenggelam ke dasar jurang keputusasaan, sampai terjatuh di sebuah lembah kegelapan.


Tidak ada siapapun, dan tidak ada apapun di sana.


Hanya ada diriku yang menangis dan terus menangis.


Tapi…


Entah kenapa, kali ini semuanya sedikit berbeda.


Meskipun hanya sedikit dan samar-samar, aku bisa merasakan kehangatan yang tentram di dalam kegelapan tersebut.


Kehangatan yang sebelumnya tidak pernah kurasakan, dan juga menjadi satu-satunya cahaya yang menemaniku di dasar jurang yang gelap itu.


“Ya ampun, mau sampai kapan kau terus menangis. Kau benar-benar anak yang cengeng,” ujar wanita dengan rambut emas yang berkilau itu, di mana setiap langkahnya selalu menerangi kegelapan ini.


Dia mengulurkan tangannya kepadaku, dan kemudian memeluk tubuhku yang dingin dengan kehangatannya yang menyenangkan.


“Baiklah, aku akan terus bersamamu sampai kau berhenti menangis, jadi semuanya sudah baik-baik saja,” ucapnya.


Mendengar itu, untuk pertama kalinya aku dapat berhenti menangis di dalam mimpi ini.

__ADS_1


...****************...


Hari sudah pagi.


Aku mengernyitkan mataku, dan terbangun dari tidurku yang nyenyak.


Tapi, ketika aku berniat untuk bangkit, aku merasakan sesuatu di tanganku, dan ketika aku membuka selimut untuk mengeceknya, alis mataku terangkat.


Di sana, aku melihat tanganku yang digenggam erat oleh seseorang, dan saat aku melihat ke atas lagi untuk mengetahui siapa yang mengenggamnya, aku melihat Alicia yang menggeletakkan kepalanya dan tertidur di sampingku.


“Hmm…”


Melihat itu, aku menaruh jariku di daguku untuk membuat pose orang yang sedang berpikir. Kemudian, aku mulai mencoba untuk menikmati rasa dari berpegangan tangan dengan gadis cantik itu.


“Yah, ini tidak buruk. Tapi, seharusnya dia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya untuk memberikanku sensasi yang lebih baik. Kurasa dia masih perlu banyak belajar untuk menjadi heroineku.”


“Apa yang kamu katakan ketika kamu baru bangun, Riku-san?”


“Woo!!”


Mengetahui bahwa ada orang lain di tempat itu selain kami, aku dengan buru-buru segera melepaskan genggaman tanganku dari Alicia dan berteriak terkejut.


“Ya ampun, kamu harus lebih bersyukur, Riku-san. Karena dari semalam Alicia-san masih belum tidur hanya untuk memastikan kalau kamu betul-betul beristirahat dengan benar,” ujar Elvy sambil menghela nafasnya dengan kecewa.


Kemudian, dia berjalan ke arahku, dan membawa sebuah buah berwarna merah yang mirip dengan apel, namun itu memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dari apel biasa.


“Pertama, coba makanlah ini, Riku-san. Itu akan membuatmu lebih baik,” ucapnya dengan senyuman lembut sembari memberikan buah itu kepadaku.


“Terima kasih.” Aku mengambil buah itu.


Saat aku menggenggamnya, itu memiliki tekstur yang sama dengan buah apel, dan juga warna yang sama. Hanya ukurannya saja yang berbeda.


Ini membuatku sedikit ragu untuk memakannya karena aku memiliki pengalaman yang buruk dari pemberian seseorang.


Aku tidak ingin dicium oleh seorang pangeran.


Tapi, Elvy menjawabku dengan wajah yang sedikit kebingungan.


“Aku penasaran apa ada buah yang seperti itu di dunia ini. Tapi, tenang saja, Riku-san. Kali ini aku sama sekali tidak memberikan obat bius di dalamnya,” jawab Elvy dengan wajah polosnya yang ceria.


“Ya ampun, jadi itu ulahmu ya. Kau benar-benar membuat orang lain panik aja. Mulai sekarang kau tidak boleh melakukan hal itu lagi, mengerti?” tegurku, dan mulai menggigit buah itu.


Tampaknya kali ini benar-benar aman.


Untuk rasanya, ini mirip dengan apel, tapi memiliki tekstur yang lebih lembut.


Yah, ini enak.


“Tapi, itu salah Riku-san juga karena tidak pernah mau mendengarkanku untuk beristirahat,” ujar Elvy sambil menggembungkan pipinya dengan kesal, dan memarahiku balik.


Mendengar itu, aku menghela nafas dengan lelah.


“Yah, apa boleh buat, kan? Aku benar-benar sibuk setelah semuanya. Aku harus berkeliling untuk membagikan potion kepada semua orang yang terluka parah, selain itu urusanku dengan pimpinan raja iblis itu juga masih belum selesai.”


“Aku paham kalau Riku-san sibuk, tapi kesehatanmu juga harus dijaga atau aku harus menggunakan cara ini lagi untuk membuat Riku-san tertidur, mengerti?” desak Elvy dengan wajah yang marah, membuatku sedikit terkejut.


Ya ampun, dia tetap imut meskipun lagi marah.


Aku paham kenapa wanita itu sangat terobsesi dengannya.


“Riku-san, apa kau benar-benar mendengarkanku?!”


“Ya yah, aku mengerti. Mulai hari ini aku akan menjaga pola tidurku,” ucapku dengan nada yang santai, sembari turun dari kasurku.

__ADS_1


Tapi, mendengar itu Elvy hanya semakin kesal, dia menatapku dengan tatapan yang tajam, dan menggembungkan pipinya dengan cemberut.


Melihat itu, aku mendengus singkat dan mengelus kepalanya, itu sedikit sulit karena ada tanduk yang mengganggu, tapi aku tetap mengelusnya dengan lembut.


“Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, Elvy-chan. Tapi, maaf, kurasa aku tidak bisa memenuhi janjimu, karena aku tidak memiliki waktu lagi untuk terus di sini, jadi setidaknya aku ingin melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk membantu kalian,” ucapku dengan senyuman tipis.


Elvy menundukkan wajahnya dengan sedih, sepertinya dia juga sudah menebak jika cepat atau lambat kami akan pergi meninggalkan desa ini.


“Apa kalian benar-benar akan pergi?” tanyanya sambil melihatku dengan tatapan seperti seekor anak kucing yang akan ditinggalkan.


Ugh, melihat itu membuatku jadi ingin memeluknya.


Tapi tahanlah diriku, kau bukan lolicon! Kau tidak boleh sembarangan memeluk seorang gadis tanpa permisi, atau kau akan dicap sebagai orang bejat!


Sial, jika saja aku terlahir dengan bakat seorang playboy, aku pasti tidak akan kesulitan untuk menghadapi situasi seperti ini.


Apa yang harus kukatakan untuk membuatnya senang?


Memang benar, minggu depan kami berniat untuk segera meninggalkan desa ini, karena kami telah memberi banyak sekali masalah ke desa ini. Itulah kenapa, aku perlu bekerja keras untuk membayar semuanya sebelum waktu itu.


Aku berniat untuk memberikan sebagian besar potionku kepada mereka, karena tampaknya potion milikku tidak hanya dapat menyembuhkan luka seseorang, tapi juga dapat merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih cepat tumbuh.


Aku juga berniat untuk mengajari mereka cara melakukan reboisasi untuk memulihkan hutan ini, yang kupelajari dari dunia asalku.


Lagipula akulah yang menyebabkan semua ini, jadi aku harus bertanggung jawab dengan benar. Karenaku, banyak Elf yang kehilangan rumah mereka, dan karenaku juga—


—Elvy harus kehilangan kakaknya.


Aku sendiri tau kalau ini masih belum cukup untuk membayarnya, jadi jika ada sesuatu yang bisa kulakukan, aku pasti akan melakukannya.


Pada akhirnya, aku sama sekali tidak bisa meminta maaf kepada mereka.


Apa mungkin karena aku takut mereka membenciku?


Ini pertama kalinya aku merasakan perasaan yang seperti ini. Saat aku mengurung diriku terus di dalam kamar, aku sama sekali tidak peduli pada perasaan orang lain, dan hanya mengadili mereka semua menurut pendapatku sendiri.


Ini adalah pelajaran yang bagus untukku.


Aku benar-benar berutang sangat banyak kepada desa ini.


“Maaf, Elvy-chan. Aku tetap harus pergi. Aku masih memiliki kewajiban untuk membawa pulang Alicia ke rumahnya,” ucapku, yang sedikit mengarang ceritanya, tapi aku tidak sepenuhnya berbohong. “Jadi, aku benar-benar minta maaf, Elvy-chan. Aku tidak bisa terus berada di sini bersama kalian,” lanjutku.


Rasanya seperti ada jarum yang menusuk dadaku ketika aku mengatakan itu.


Ini benar-benar menyakitkan.


“….”


Elvy tidak mengatakan apapun, itu membuatku menjadi semakin sakit.


Tapi, sesaat kemudian, dia berjalan dengan wajah yang tertunduk dan menyandarkan kepalanya ke dadaku, tanpa membiarkanku untuk melihat raut wajahnya.


Di sana, aku bisa merasakan sedikit basah dari air matanya.


Alis mataku terangkat, tapi aku tidak mengatakan apapun.


Melihat itu, aku hanya mendongak dengan penuh penyesalan.


Sial, padahal aku baru datang ke dunia ini, tapi aku sudah membuat dua orang gadis menangis.


Aku benar-benar menyedihkan.


Tampaknya, aku tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang protagonis.

__ADS_1


__ADS_2