
Setelah berhasil meraih kemenangan yang hebat dari Roden, Elvy perlahan-lahan mulai turun, dan pada saat itu juga kami menyambutnya dengan gembira. Terutama aku dan Mila, begitu Elvy turun ke bawah, kami berdua langsung berlari ke arah gadis itu.
“Elvy-chaannn!!”
“El-chaannn!!”
Bersama-sama kami memeluk Elvy dengan erat.
“Ya ampun, kau membuat orang khawatir saja! Tadi itu kau terlalu ceroboh!!”
“Itu benar, El-chan! Kau tidak boleh melakukan itu lagi, mengerti? Atau Onee-chan akan mati karena serangan jantung!”
Kami berdua mengungkapkan perasaan kami masing-masing kepada gadis itu sembari mencubit pipinya secara bersamaan dari kedua arah.
“Aduh aduh! A-Aku minta maaf! Aku tidak akan melakukannya lagi! Jadi tolong jangan mencubit pipiku! Itu sakit…” rintih Elvy dengan kesakitan.
“Kau harus berjanji.”
“Yah, El-chan, kau harus berjanji.”
“Ba-Baiklah, aku berjanji,” balas Elvy dengan lesu ketika kami berdua mendesaknya untuk tidak melakukan hal itu lagi.
Yah, apapun itu, aku benar-benar bersyukur semuanya baik-baik saja.
Dengan ini, sudah tidak ada masalah lagi.
Semuanya telah selesai, dan untungnya tidak ada korban jiwa dari pihak kami, hanya ada beberapa yang mengalami luka parah. Tapi itu masih bisa kusembuhkan dengan ramuan penyembuh yang kumiliki, lagipula aku memiliki banyak sekali ramuan itu di [Item Box]ku karena waktu itu aku menggunakan semua poin obatku untuk menaikkan level skillku.
Yah, intinya kami dapat melewati pertarungan ini tanpa ada korban jiwa satupun.
Jadi bisa dibilang kalau kami menang telak.
Tapi…
Entah kenapa aku seperti melupakan sesuatu, dan itu sangat penting.
— Tapi apa?
“Hmm…”
Selagi aku memikirkan hal itu dengan wajah yang serius, Elvy tiba-tiba menarik ujung bajuku, dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting.
“Ada apa, Elvy-chan?” tanyaku keheranan.
Kemudian, Elvy menjawabnya dengan suara yang rendah.
“Umm… Riku-san, bukankah kita harus segera menjemput Alicia-san?”
“Ah?”
Aku lupa.
...****************...
__ADS_1
Begitu aku mengingat kembali bahwa aku telah meninggalkan dewi itu seorang diri untuk melawan pimpinan Raja Iblis, aku segera berlari untuk menjembutnya, atau lebih tepatnya saat ini aku terbang bersama Elvy untuk pergi ke tempatnya, agar kami dapat sampai ke sana dengan lebih cepat.
Kemudian, tidak butuh waktu lama, kami langsung sampai.
“Di sana!” seruku sambil menunjuk ke bawah di tempat Alicia yang sebelumnya kami tinggalkan, dan Elvy segera mendarat di sekitar tempat itu.
Ketika kami sudah sampai di bawah, aku dan Elvy segera mencari keberadaan Alicia, karena dia sudah tidak ada di tempat yang kami tinggalkan.
“Hoi~ Alicia! Di mana kau?!” teriakku sambil berkeliling di sekitar tempat itu.
“Alicia-san, kau di mana?!” ucap Elvy, yang membantuku mencarinya juga.
Kami berdua terus mencari di sekitar tempat itu, namun sama sekali tidak ada pentunjuk apapun tentang keberadaan Alicia.
Jangan bilang kalau dia dikalahkan?
—Tidak, itu mustahil. Sekalipun anak itu sangat lemah di stamina, seharusnya dia masih bisa mengalahkan monster undead dengan mudah.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
Kemana perginya anak itu?
Ketika aku terus mencari dan memikirkan segala kemungkinan dengan apatis, tiba-tiba aku mendengar suara Alicia dari kejauhan.
“Riku, Elvy, aku di sini!” teriak Alicia memanggil nama kami.
Mendengar itu aku dengan cepat langsung berbalik ke arahnya, dan sedikit lega begitu melihatnya yang baik-baik saja.
Apa itu?
Melihat apa yang dia duduki, aku memiringkan kepalaku dengan bingung, dan Elvy yang menyadarinya juga langsung berhenti mendekat.
“Umm, Alicia-san, siapa yang sedang kau duduki itu?” tanyanya, sambil menunjuk ke arah seorang gadis kecil yang mungkin masih berumur 9 atau 10 tahun itu yang saat ini diduduki oleh Alicia.
Aku juga berjalan ke samping Elvy untuk melihat lebih jelas gadis tersebut.
Dia memiliki rambut merah panjang yang indah, dan mata merah darah yang dapat bersinar. Gadis itu mengenakan gaun renda berwarna hitam.
Rasanya kayak aku pernah melihat dia sebelumnya.
Tapi, seharusnya orang itu memiliki penampilan yang lebih dewasa, bukan kecil seperti ini. Apa mungkin aku hanya salah ingat?
“Alicia, siapa anak itu?” tanyaku.
Namun, Alicia memiringkan kepalanya dengan bingung. “Apa yang kau katakan? Apa kau lupa? Dia adalah pimpinan Raja Iblis, Estella— Yah, lupakan itu, aku lebih penasaran dengan Elvy-chan. Apa itu? Kau benar-benar berubah saat terakhir kali kita bertemu. Kutebak pasti Riku mengacaukan semuanya, kan?” ujarnya.
Mendengar itu Elvy hanya tertawa tanpa membantahnya sama sekali.
“Tunggu, kenapa itu menjadi salahku?! Yah, itu memang salahku sih! Tapi kenapa kau sudah yakin kali kalau aku akan mengacaukan semuanya?!”
“Te-Tenanglah, Riku-san. Itu bukan salahmu, tapi itu—“ Melihatku yang mulai bertengkar dengan Alicia, Elvy mencoba untuk menghentikan kami, tapi kami sama sekali tidak memperdulikannya.
“Bukankah itu sudah jelas, kalau bukan kau, emang siapa lagi?” balas Alicia dengan senyuman yang sombong.
__ADS_1
Mendengar itu, alis mataku sedikit berkedut.
Apa yang dia katakan memang benar, tapi entah kenapa itu membuatku kesal.
“Dengar ya, dewi sialan! Aku juga sudah berusaha keras untuk membuat semuanya berjalan lancar! Aku memang melakukan kesalahan sebelumnya karena tidak menduga jika naga itu memiliki kekuatan tersembunyi. Tapi, jika saja itu tidak ada, rencanaku berjalan dengan sempurna!” sanggahku dengan cepat.
Bukan berarti aku mencoba untuk mengelak dari kenyataan, hanya saja aku ingin dewi itu tau bahwa aku juga sudah berusaha semampuku.
Tapi, meskipun sudah mendengar itu, seolah masuk kanan keluar kiri, dewi itu hanya menghela nafasnya dengan wajah yang lelah.
Itu membuatku semakin kesal.
Namun, begitu Alicia lanjut berbicara, aku hanya bisa terdiam.
“Yah, jika kau punya tenaga untuk marah, aku pikir kau baik-baik saja,” ujarnya, dan kemudian menatapku dengan senyuman yang tulus.
“….”
Melihat itu aku hanya bisa menahan amarahku, dan menghela nafas panjang.
“Haahh…”
Dia merepotkan.
Yah, sepertinya dia hanya ingin memastikan bahwa mentalku masih aman.
Karena seharusnya setelah dia melihat Elvy, dia langsung paham bahwa aku telah menggunakan sarannya yang kutolak dengan keras.
Memang benar, sebelumnya mentalku sempat hancur ketika melihat Elvy yang mati tepat di depan mataku, dan sebagai gantinya aku mengubah tubuh gadis itu menjadi seperti seekor monster.
Bahkan sampai sekarang aku masih merasa bersalah karena itu.
Tampaknya dewi itu menebak semuanya hanya dengan sekali lihat dan mencoba untuk menghiburku dengan caranya sendiri.
Ini cukup menjengkelkan. Aku merasa seperti dipermainkan, tapi kurasa aku tidak bisa memarahinya lagi karena dia hanya mengkhawatirkanku.
“Yah, kurasa aku harus berterima kasih…” ujarku dengan suara yang pelan, sembari memalingkan wajahku dengan malu-malu.
Melihat itu, Alicia tersenyum jahil. “Eeh~ Apa apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Bisakah kau katakan sekali lagi dengan keras?”
Keh, wanita ini benar-benar menyebalkan.
Tidak bisakah dia sekali saja bersikap seperti heroine pada umumnya. Kenapa yang dia bisa hanya membuatku marah dan kerepotan?
—Apa aku harus menganti ruteku saja?
“Hei, sebenarnya aku sudah mendengarkan percakapan kalian dari awal. Tapi, bisakah kalian tidak mengabaikanku?! Oi, manusia, cepat hentikanlah pacarmu ini! Sebelum dia membunuhku dengan pantat sucinya! Aku tidak ingin mati dengan cara yang paling konyol seperti ini!” teriak Pimpinan Raja Iblis itu.
Saat aku sedang memikirkan apakah aku harus pindah rute ke gadis lain, dia tiba-tiba menyelaku, dan menggerutu sendiri dengan kesal lantaran keberadaannya kami abaikan.
Ya ampun, aku benar-benar lupa kalau dia masih ada di sana.
—Apa yang harus kami lakukan dengan anak satu ini?
__ADS_1