Sistem Alkemis Terkuat

Sistem Alkemis Terkuat
Chapter 27: Panggilan tiba-tiba


__ADS_3

“Nee, Riku, apa yang harus kita lakukan mulai sekarang? Entah kenapa aku merasa berat untuk menatap wajah semua orang.”


“Ja-Jangan bilang gitu, aku jadi merasa gitu juga!”


Sial, aku tidak percaya kalau semua kekacauan ini merupakan kesalahan kami sendiri.


Hanya memikirkannya saja perutku sakit sekali.


Ya ampun, bagaimana caranya aku harus membayar ini semua?


Selagi aku memikitkan hal itu, pintu di ruangan ini tiba-tiba diketuk. Mendengar itu, aku dan Alicia dengan cepat segera memperbaiki penampilan kami.


“A-Ada apa?” tanyaku sedikit gugup.


“Riku-sama, Alicia-sama, maaf mengganggu waktu kalian. Tapi, Kepala desa memanggil,” jawab orang tersebut dari balik pintu.


“Begitu kah? Baiklah, bilang kepadanya kalau kami akan segera datang,” ucapku yang berusaha keras untuk tidak terdengar panik.


“Saya mengerti,” balasnya, dan setelah itu pergi meninggalkan tempat ini.


Menyadari bahwa dia sudah pergi jauh, aku dan Alicia menghela nafas dengan lega, kami benar-benar sangat panik.


Lagipula siapa pula yang bisa tetap tenang setelah mendengar semua cerita itu. Aku sekarang sudah tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan para Elf.


Bagaimanapun, alasan kenapa desa ini hancur adalah salah kami.


Karena kami mengambil Crsyta yang merupakan penghalang untuk melindungi desa ini dari para monster, Estella dan naga itu bisa memasuki desa ini. Jika saja kami waktu itu tidak melakukan apapun, kurasa ini tidak akan terjadi.


Kemungkinan besar Crsyta yang kuambil waktu itu adalah penghalang yang dimaksud, dan kodok bersayap kupu-kupu yang pernah Alicia sebutkan sebelumnya kemungkinan adalah Roh tingkat tinggi yang menjaga tempat itu.


Mungkin dia berpikir bahwa seorang Dewi tidak akan melakukan apapun yang salah, jadi dia dengan baik membiarkan Alicia untuk melihat Crsyta itu.


“Haahh…” Aku mendesah dengan wajah yang merunduk suram. “Apa yang harus kita lakukan mulai sekarang?”


“Riku, aku pikir kita harus meminta maaf dengan benar. Kitalah yang telah menyebabkan kekacauan ini, jadi setidaknya kita punya tanggung jawab juga untuk itu. Ayo pergi ke tempat kepala desa dan meminta maaf. Aku tidak tau apa yang akan mereka katakan atau lakukan jika mereka tau bahwa kitalah yang menyebabkan semua masalah ini, tapi kita tidak ada hak untuk mengeluh dengan itu.”


Mendengar perkataan Alicia, aku memejamkan mataku sebentar dan kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk memantapkan tekadku.


“Yah, kurasa kau benar. Ayo pergi… Estella, maaf, tapi bisa kau tunggu di sini sebentar?” ucapku ketika berniat untuk meninggalkan ruangan itu bersama Alicia.


“Aku baik-baik saja dengan itu, tapi apa kau tidak takut aku akan melarikan diri?” celetuk Estella dengan ekspresi yang kebingungan.


Tapi aku sama sekali tidak peduli, aku sudah memikirkan itu.


“Jangan khawatir, Alicia akan merampalkan sihir [Sanctuary] agar membuatmu tidak bisa keluar dari tempat ini, dan sebaliknya, tidak akan ada juga orang lain yang dapat memasuki tempat ini, jadi kau aman.”


“Serius, darimana kau mendapatkan semua ide-ide itu? Entah kenapa aku sedikit takut untuk menjadikanmu sebagai musuhku,” balas Estella sambil menggerutu.


Aku mengabaikannya dan pergi dari tempat itu. Tapi, sebelum kami pergi ke tempatnya kepala desa, aku menyuruh Alicia untuk merampalkan sihir [Sanctuary] di tempat itu terlebih dahulu.

__ADS_1


[Sancturay] sebenarnya adalah sihir pelindung, yang dapat melindungi penggunanya dari serangan fisik dan serangan sihir apapun selama mereka berada di dalam, dan sihir ini juga akan terus bertahan sampai kekuatan sihir dari sang penggunanya habis atau mereka mematikannya sendiri.


Tapi, sekarang aku menggunakannya untuk mengurung gadis itu.


Ngomong-ngomong, ini juga sihir yang sama yang kami gunakan ketika kami masih berkemah di dalam hutan. Ini cukup berguna karena dapat melindungi kami dari serangan monster dan juga nyamuk.


“[Sanctuary].”


Begitu Estella merampalkan mantranya, cahaya putih kebiruan yang tak terlihat muncul dan mengurung Estella dalam bentuk seperti kepompong di tempat dia duduk.


“Baiklah, kami pergi dulu, jadilah anak yang baik,” ucapku dan langsung pergi meninggalkan ruangan itu bersama Alicia.


...****************...


Sesampainya di depan ruangan kepala desa, aku mengetuk pintunya.


“Ini aku, Riku. Aku dengar kau memanggil kami, Tia-san,” sahutku di depan pintu itu.


Tia merupakan nama dari kepala desa dan juga penguasa para Elf.


Aku dengar dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk membuat penghalang di tempat ini, dan menyelamatkan semua orang saat kekacauan itu terjadi.


Aku benar-benar kagum kepadanya. Karena itu juga aku menggunakan tanda hormat di namanya, meskipun penampilannya seperti anak SMP.


Ngomong-ngomong, itu juga yang menjadi alasan kenapa orang sekuat itu tidak ikut serta dalam pertarungan sebelumnya, karena dia harus melindungi tempat persembunyian ini dari para monster.


“Masuklah, kalian berdua. Aku ada di dalam,” balas Tia dengan suara yang rendah dan lembut, meskipun penampilannya anak kecil, dia memiliki tutur bicara seperti orang tua.


“Permisi.”


Setelah kami dipersilahkan untuk masuk, aku dan Alicia membuka pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalam sambil permisi dengan sopan.


Di sana, aku melihat kepala desa kecil itu yang sedang menyiapkan secangkir teh untuk kami di atas meja yang terbuat dari kayu berwarna putih itu.


“Duduklah, aku sudah menyiapkan teh untuk kalian,” celetuknya.


“Umm, terima kasih,” balasku dengan sedikit gugup, dan aku segera mengambil tempat duduk yang telah disediakan untuk kami itu.


Alicia juga duduk di sampingku, dia bahkan sudah duduk terlebih dahulu sebelum aku, dan dengan nikmat meminum teh tersebut.


“Ini enak!” cetusnya.


“Benarkah? Aku senang anda menyukainya, Alicia-sama.”


Melihat itu, aku juga meminum teh milikku, dan mataku langsung terbuka lebar. Itu jauh lebih enak dari yang kuduga, jadi aku meminumnya terus.


“Tambah lagi!” seruku yang sudah menghabiskan teh tersebut.


Mendengar itu, Tia tertawa kecil dan dengan senang hati menuangkannya untukku.

__ADS_1


“Fufu, minumlah pelan-pelan, Riku-sama. Aku masih memiliki banyak, dan jika kalian ingin cemilan, aku memiliki kue kering juga di sini,” balasnnya sambil menaruh sepiring kue kering ke atas meja.


Aku memakan kue itu dengan tehku, dan itu benar-benar enak.


Tapi, selagi aku menikmati semua makanan itu, aku menyadari sesuatu yang kulewatkan, dan ekspresiku langsung berubah terkejut.


“Eh, tunggu dulu… ‘Alicia-sama’? ‘Riku-sama’?” tanyaku yang kebingungan pada tambahan kata ‘-sama’ yang tiba-tiba digunakan oleh Tia.


Tapi, ekspresi Tia sama sekali tidak berubah, dia tersenyum lembut.


“Maaf membuatmu terkejut, Riku-sama. Sebenarnya aku sudah mencari tau informasi tentang kalian berdua dari para roh yang kukenal. Jadi aku sudah tau identitas kalian berdua,” jawab Tia, yang mana membuat mataku terbuka lebar.


Namun, berbeda dari reaksiku, Alicia sama sekali terlihat tidak peduli, dia hanya diam sambil menikmati teh dan semua cemilan yang ada di meja itu.


—Tidak, seharusnya di sini kau peduli, kan?


Idetitas kita telah diketahui, ini bukan waktunya untuk—


“Hm?”


Emangnya untuk apa aku sangat panik?


Seharusnya sama sekali tidak ada kerugian apapun meskipun kami memberitahukan identitas kami, kan? Yang jadi masalah adalah, apakah mereka bisa mempercayainya atau tidak.


Bukan berarti kami harus menyembunyikannya, kan?


Ya ampun, itu membuatku panik saja.


“Jadi, apa yang kau inginkan dari kami memanggil kami ke sini, Tia-san?” tanyaku sekali lagi, yang mencoba untuk masuk ke dalam pembicaraan.


Mendengar itu, Tia duduk tepat di depan kami dan meminum tehnya sendiri.


“Yah, sebenarnya ini bukan sesuatu yang penting. Aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku secara langsung kepada kalian berdua, karena telah menyelamatkan desa ini dari para monster,” jawabnya dengan lembut.


Saat itu juga, tubuhku membeku, begitu juga dengan Alicia.


“Be-Begitukah?” Aku berusaha untuk tetap tenang, tapi tanganku gemetaran ketika mengangkat cangkir teh itu dan meminumnya dengan sekali tegukan.


Tapi, setelah aku meminum teh itu, entah kenapa tubuhku jadi terasa aneh.


Apa ini?


Tenagaku tiba-tiba menghilang, dan mataku terasa sangat berat.


Aku mengantuk.


“Oh, tampaknya itu mulai bereaksi,” ucap seseorang.


Saat aku melihat siapa yang mengatakan itu, di sana—

__ADS_1


“Tia… san.”


__ADS_2