
“Kasihan sekali, padahal anak-anaknya masih kecil.”
“Kudengar mereka juga tidak memiliki kerabat yang bisa merawat mereka.”
“Ya ampun, apa yang akan terjadi kepada mereka nantinya?”
Terdengar suara bisikan dari orang-orang yang menghadiri pemakaman kedua orang tuaku, tapi aku sama sekali tidak memperdulikan mereka.
Aku sekarang berdiri tepat di depan peti mayat ayah dan ibuku, yang saat ini sedang ditangisi oleh banyak orang. Di sana, bersama dengan adikku, aku hanya menatap semua jalan upacara pemakaman ini dengan mata yang kosong.
Sama sekali tidak ada air mata yang menetes. Itu benar-benar mengejutkan untuk mendapati diriku yang sangat tenang di saat seperti ini.
“Hiks, hiks... hiks, Ayah… Ibu…”
Tapi, berbeda dariku, di sampingku Shina menangis dengan terisak-isak. Aku dapat merasakan tangannya yang menggenggam tanganku dengan sangat erat.
Semenjak kejadian itu, dia terus menangis tanpa henti. Aku cukup kewalahan untuk menghentikannya ketika dia tau jika ayah dan ibu sudah meninggal. Dia terus saja merengek dan tidak mau meninggalkan mereka.
“Jangan khawatir, Shina. Kakak akan menjagamu, kau tidak sendiri. Kakak akan selalu berada di sisimu apapun yang terjadi, jadi kau tidak perlu menangis?” ucapku sembari tersenyum lembut.
Aku menunduk dengan pandangan yang sejajar dengan adikku, dan mengelus kepalanya untuk menghibur dirinya.
“Hiks… Onii-sama.” Dia meringis, tapi dia juga berusaha untuk tidak menangis lagi.
Melihat itu, aku memeluknya dengan erat. “Kau baik-baik saja, Shina. Kakak akan selalu bersamamu, kakak janji tidak akan pernah meninggalkanmu,” ujarku, yang berusaha untuk menenangkan Shina yang masih menangis di pelukanku.
Kemudian, setelah dia menangis sepuasnya, Shina tertidur. Aku pergi meninggalkan tempat pemakaman untuk membaringkannya di tempat tidur.
Aku yakin dia sangat lelah karena dari semalam belum tidur.
Setelah memastikan bahwa semuanya sudah aman, aku berniat untuk kembali ke tempat pemakaman. Namun, ketika aku dalam perjalanan, seseorang memanggilku.
“Apa benar kau yang bernama Riku?”
Saat itu juga, aku membalikkan badanku untuk melihat orang tersebut.
__ADS_1
“Siapa kau?” tanyaku dengan tatapan yang tajam dan penuh waspada.
“Mohon maafkan aku karena tiba-tiba memanggilmu. Aku adalah teman ayahmu saat kami SMA dulu, namaku Shinomiya Gorou. Ini kartu namaku,” ucap pria tua dengan badan tegap itu sembari memberikan kartu namanya dengan sopan.
Tapi aku tidak berniat untuk mengambilnya, malahan itu hanya membuatku semakin mencurigainya dan terus menatapnya dengan tatapan yang kurang senang.
“Jadi, apa yang kau mau? Jika kau berniat untuk mengadopsi kami hanya untuk mendapatkan uang dari asuransi ayah dan ibuku, aku tidak memerlukannya, pergilah!” tegasku menolaknya.
Sudah lebih dari lima orang yang mengaku sebagai teman dari ayah dan ibuku, hanya untuk mendapatkan hak dari uang asuransi milik orang tuaku.
Tentu saja, aku menolak mereka semua. Meskipun mereka mengatakan sesuatu yang bodoh seperti kami masih kecil jadi kami memerlukan orang dewasa untuk hidup, aku tidak peduli.
Tidak akan kubiarkan sampah-sampah seperti mereka menyentuh adikku dan apa yang kumiliki lagi.
Tapi, ketika mendengar itu, pria tua itu sama sekali tidak terusik, dia justru tersenyum tipis ketika dia mendengarku yang menolaknya.
“Seperti yang diduga dari anaknya, kau sangat pintar.”
“Huh? Apa maksudmu, kakek tua? Sudah kubilang pergilah, aku tidak—”
“Tolong jangan salah paham dulu, nak. Aku tidak ada niat untuk mengambil uang kalian di sini,” potong pria tua itu.
“Yah, pertama, kenapa kau tidak melihat kartu namaku dulu, setelah itu kau akan tau jika aku sama sekali tidak memerlukan uangmu,” jawab pria tua itu dan memberikan kartu namanya sekali lagi.
Karena dia terus memaksa, aku dengan enggan menerima kartu namanya, dan mulai melihat identitas asli dari pria tua tersebut.
“Ini?!” Melihat itu, mataku langsung terbuka lebar dengan terkejut, dan tubuhku mulai gemetaran. “Pemimpin dari Shinomiya Group, Shinomiya Gorou! Serius, apa itu kau?!”
Aku pernah mendengar namanya di dalam stasiun televisi. Dia adalah salah satu dari orang terkaya di Jepang, memiliki lebih dari 1000 perusahan di luar dan di dalam negeri, dengan kekayaan yang mencapai 300 Triliun yen.
Dia merupakan salah satu dari orang yang berdiri di puncak industri dunia.
Aku benar-benar tidak sadar ketika dia memperkenalkan dirinya karena aku terlalu berwaspada dengan orang-orang di sekitarku.
Tidak ada juga jejak pemalsuan di kartu tersebut, jadi apakah itu benar-benar dia?
__ADS_1
Tapi, apa yang orang besar seperti itu lakukan di sini? Dia bilang dia teman SMA ayahku, tapi ini benar-benar sulit terpercaya. Aku tidak percaya ayahku yang bodoh itu memiliki koneksi seperti ini, kenapa dia tidak pernah menceritakannya?
Jadi, apa ini memang hanya sebuah penipuan yang rapi?
Saat melihatku yang tercengang dan ragu-ragu, pria tua itu tiba-tiba tersenyum lebar dan berkata.
“Sekarang kau sudah tau kan kalau aku tidak berniat untuk merampokmu? Jangan khawatir, aku tidak ada niat untuk mecelakaimu dan adikmu. Aku hanya memiliki hutang yang banyak kepada orang tuamu, jadi aku hanya ingin membayarnya,” ucap Gorou dengan raut wajah yang tulus, sambil mengulurkan tangannya ke arah.
Awalnya aku masih sedikit berwaspada, tapi mengetahui bahwa ini merupakan kesempatan yang langka, aku menjabat tangan pria itu setelah mengumpulkan semua tekad yang kumiliki.
“Baiklah, aku akan menjadi anakmu,” jawabku dengan keputusan yang sudah bulat.
Yah, lagipula aku memang memerlukan wali yang bisa menyongsong hidup kami. Aku juga tidak merasakan adanya niat buruk darinya, jadi kurasa tidak ada masalah untuk menjadi anak tirinya.
Jujur saja, aku juga memiliki pilihan untuk hidup sendiri dengan adikku, tapi itu akan membuat semuanya serba merepotkan. Ini memang menjengkelkan, tapi apa yang para sampah katakan itu benar.
Anak kecil tidak bisa hidup sendiri tanpa orang dewasa.
Jadi kurasa dengan ini, kami bisa memulai hidup kami lagi dengan lebih baik.
Tapi—
“….”
Selagi aku membayangkan sebuah kehidupan baru yang akan kami jalani mulai sekarang.
Layaknya mimpi buruk yang tak pernah berakhir.
—Semua kebahagiaan itu hancur hanya dalam sekejap.
Setelah upacara pemakaman orang tuaku selesai, Shina tiba-tiba mengalami panas dalam yang mengerikan, dan karena itu juga adikku terpaksa harus dirawat di rumah sakit.
Namun, semua tidak berakhir hanya sampai di sana.
Dari apa yang dokter katakan ketika dia memeriksa adikku. Dia bilang jantungnya tiba-tiba melemah, dan jika dia tidak dirawat dengan perawatan yang benar, nyawanya bisa saja terancam.
__ADS_1
Saat mendengar itu...
—Aku merasakan sesuatu yang pecah di dalam diriku.