
Dalam pertarungan ini, Roden berpikir bahwa kemenangan sudah pasti menjadi miliknya. Dia tidak akan pernah berpikir bahwa para Elf itu memiliki kesempatan untuk bisa mengalahkannya, karena itu dia sama sekali tidak berwaspada terhadap serangan balasan dari mereka.
Lagipula itu percuma saja, serangan mereka sama sekali tidak akan berpengaruh apapun terhadap dirinya. Apa yang bisa mereka lakukan hanya dengan sihir lemah dan anak panah kecil itu?
Roden memililki kulit yang sangat keras, selama itu bukan senjata sihir, dia bisa menahan semua serangan fisik dari tebasan dan tusukan para Elf lemah itu tanpa masalah sama sekali.
Tidak ada satupun serangan yang dapat melukainya.
Karena itulah, saat ini dia benar-benar sangat marah. Dia tidak akan pernah memberikan mereka belas kasihan sedikitpun. Meskipun mereka sadar bahwa mereka tidak akan pernah bisa mengalahkannya, tapi mereka dengan sombong mencoba untuk melawannya.
Itu tidak benar, seharusnya orang lemah seperti mereka hanya perlu berdiam diri di dalam rumah dan meringkuk sambil diselimuti oleh rasa takut.
Kenyataan bahwa sampai saat ini mereka mencoba untuk melawannya, itu benar-benar sesuatu yang tidak termaafkan.
“Aku akan menghancurkan kalian semua!!”
‘Bum!’
Roden mulai mengepakkan sayapnya yang besar dan terbang setinggi mungkin.
Di sana, ketika dia melihat Elf yang selama ini telah menyulitkannya, Roden mulai bersiap kembali dengan nafas apinya, dan kali ini dia membuatnya jauh lebih kuat dibanding yang biasanya.
Seharusnya dengan itu dia bisa membunuh para Elf rendahan itu tanpa membiarkannya dapat melarikan diri lagi. Dia juga telah memastikan bahwa tidak akan ada anak panah lagi yang menganggu serangannya.
Tapi, tampaknya kali ini tidak ada yang mengganggunya, itu membuat dia sedikit penasaran, tetapi dia sama sekali tidak memikirkannya lebih jauh, dan begitu dia telah siap dengan nafas apinya, Roden langsung menyemburkannya kepada Elf itu tanpa ampun.
“Matilah kau!!”
Api merah yang kejam berkobar dengan penuh kemarahan ketika itu menghanguskan semua yang ada di sekitarnya dan menyerang Elf itu.
Namun—
Ketika apinya ingin menerjang semua hutan tersebut dan membakarnya. Angin yang sangat kencang membuat apinya malah berputar balik menyerang dirinya.
“Apa?!”
Menyaksikan kejadian itu, mata Roden terbalalak kaget dengan tidak percaya.
Karena terkejut, dia tidak dapat menghindari serangan balik itu, dan pada akhirnya dia dengan bodohnya tertelan oleh apinya sendiri.
“Keh!” rintih Roden menahan rasa sakitnya.
Sekalipun dia memiliki pertahanan yang tinggi terhadap serangan api, itu tetap mustahil untuk menetralkan kekuatan dari apinya sendiri yang terlalu kuat.
“Mungkinkah para serangga itu menunggu waktu ini?!” teriak Roden dalam batinnya.
Tak terbayangkan bahwa para Elf itu akan memanfaatkan serangannya sendiri untuk menyerang balik.
Mereka dengan sengaja menunggu Roden untuk terbang dan menggunakan nafas apinya, sehingga mereka dapat menggunakan sihir gabungan untuk menghempaskan kembali serangan apinya.
Semisalnya Roden menggunakan nafas apinya ketika dia berada di bawah, Elf itu tidak akan berpikir untuk menghempaskan nafas apinya, karena itu dapat mengenai rekan mereka sendiri yang sedang bersembunyi di belakangnya.
Untuk itulah mereka menunggu momen di mana Roden terbang di langit.
__ADS_1
Menyadari hal itu, Roden terkekeh.
“Baiklah, aku akan memuji kalian karena itu. Tidak kusangka kalian akan dapat memberikan luka kepada diriku ini,” ujarnya dengan senyuman lebar.
“Tapi, cukup sampai di sini saja, status buruk yang kuterima telah sepenuhnya habis, sudah saatnya untuk membunuh kalian semua dengan serius,” tambah Roden, dan dia mulai turun dari langit untuk kembali ke tanah.
Dengan dirinya yang telah pulih sepenuhnya dari efek Debuff, tidak akan ada lagi yang bisa menghentikannya. Setelah dia turun ke bawah, dia akan mulai serius membantai semua Elf itu.
“Baiklah, mari kita mulai pembantaiannya— Hm?” Namun, begitu Roden turun ke bawah, dia melihat siluet seorang remaja yang berdiri di atas pohon dan memandangnya dengan tatapan yang berani.
Tapi, yang membuat Roden penasaran bukan itu, tapi keberadaannya sendiri.
“Manusia?” serunya sambil menyipitkan matanya dengan tajam ke arah manusia itu. “Kenapa dia bisa ada di sini? Apa dia rekan para serangga itu?” tanya Roden yang sedikit penasaran.
“Yah, itu bukan urusanku, aku hanya perlu membunuhnya juga, kan?” ujarnya kembali dengan nada suara yang ringan.
Setelah itu, Roden mulai turun ke bawah secara perlahan-lahan.
Tapi—
Begitu dia meletakkan kakinya di atas tanah, tiba-tiba para Elf itu mulai menyerang bagian bawahnya menggunakan sihir untuk meledakkan tanah yang menjadi pijakannya dan membuat kawah yang besar di bawah kakinya, sehingga membuat pijakan Roden menjadi tidak stabil.
“Huh? Apa?!”
Terkejut dengan hal itu, Roden terjatuh ke dalam kawah tersebut, tapi tidak cukup sampai di situ, para Elf mulai melemparinya sesuatu dari atas pohon, dan ketika dia melihat benda apa yang mereka lempar, mata Roden terbuka lebar.
“Tunggu! Itu—“
Namun, tidak sempat untuk terkejut, para Elf mulai meledakkan benda yang mereka lempar menggunakan anak panah mereka, dan pada saat itu juga asap dari ledakan bubuk itu mulai bertebaran menutupi pandangan Roden.
Menyadari hal itu, Roden mulai menutupi hidungnya.
Akan tetapi—
“Itu percuma saja, bubuk itu juga bisa masuk melewati matamu,” sahut manusia itu dengan senyuman yang lebar, sambil memperhatikannya dari atas pohon.
Melihat itu, alis mata Roden mengerut.
“Keparat!! Jadi selama ini kaulah yang berada di balik ini semua!!” jeritnya.
Tapi, itu sudah terlambat untuk menyadarinya.
Pada akhirnya puluhan dari bubuk yang memberikan efek status buruk itu mulai masuk ke dalam tubuhnya melewati matanya yang terbuka.
Sekalipun efeknya akan sedikit berkurang jika melewati mata, tapi itu sudah cukup untuk membuatnya melemah dan tidak bisa bergerak untuk sementara.
“Keh, bajing*n!!” rintih Roden ketika dia merasakan seluruh status buruk itu sekaligus di dalam tubuhnya dan membuatnya tidak bisa melakukan apapun.
Ada lebih dari 10 menit sampai efeknya berakhirberakhir.
Menggunakan kesempatan itu, para Elf mulai menghujani Roden dengan sihir gabungan mereka sampai semua sihir mereka habis.
‘Bum! Bum! Bum!’
__ADS_1
“Keh!” Roden mengerang kesakitan.
Ratusan sihir menyeranginya tanpa ampun selagi dirinya tidak bisa bergerak. Mungkin karena efek dari status buruk itu juga, serangan sihir para Elf itu menjadi lebih kuat begitu mengenainya dan membuatnya menjadi semakin lemah.
Namun, tetap saja, itu masih belum cukup untuk membunuhnya.
“Kalian benar-benar membuat perlawanan yang sia-sia, sekalipun kalian menghujaniku dengan ratusan sihir lemah seperti itu, kalian tidak akan bisa membunuhku!” teriak Roden dan mulai tertawa dengan suara yang sombong.
Tapi, pada saat itu juga, dia mendengar suara manusia itu lagi.
“Tentu saja, kami tau semua itu,” ujarnya.
“Kau!!” Mendengar itu, Roden melototinya dengan penuh amarah. “Setelah semua ini berakhir, aku pasti akan pertama kali membunuhmu, manusia rendahan!!” teriaknya dengan penuh intimidasi.
“Heh, cobalah jika kau bisa!” balas manusia itu menertawakannya. Kemudian, dengan senyuman sombong, dia kembali berkata. “Kami tau kami tidak akan bisa membunuhmu hanya dengan ini, tapi setidaknya itu sudah cukup untuk melemahkanmu sampai kami dapat membunuhmu hanya dengan sekali serangan.”
“Huh?!” Mata Roden terbuka lebar.
Sesaat kemudian, dia merasakan kekuatan sihir dengan jumlah yang besar, dan dengan cepat memalingkan kepalanya ke arah sumber kekuatan sihir itu.
Di sana, dengan pakaian seorang pendeta yang ketat, dia melihat seorang wanita Elf yang sedang merampalkan sihir dalam jumlah yang besar.
“Mungkinkah?! Sihir mitos?!” pekiknya, tapi semuanya sudah terlambat.
Wanita itu telah selesai dengan rampalannya.
“Selamat tinggal, naga-chan~ [Luminous Wind]!”
Seketika, pandangan Roden dipenuhi oleh cahaya hijau dalam jumlah besar, dan secara berutun cahaya itu mulai meledak dengan ledakan yang mengerikan.
Tubuhnya seakan tercabik-cabik begitu ledakan itu mengenainya dengan kekuatan yang berkali-kali lipat berkat Debuff yang dia terima.
[Luminous Wind] adalah sihir angin yang memberikan ledakan dari pusaran pedang angin yang akan terus menerus mencabik-cabik targetnya tanpa ampun. Tapi, yang membuat sihir ini mengerikan dan berada ditingkat mitos adalah efek dari ledakan pertama yang dia berikan.
Di mana pada ledakan pertama sihir ini, target akan mengalami pertahanan hancur sebesar 80%. Sehingga, sekalipun dia memiliki pertahanan yang tinggi terhadap sihir, dia tidak akan bisa selamat dari serangan ini.
Lebih mengerikannya lagi, sihir ini juga dapat terus aktif dan memberikan damage secara buruntun sampai mana dari pengguna sihir tersebut habis.
Bahkan Roden sekalipun tidak akan bertahan lama ketika menerima serangan dari sihir itu secara beruntun, dengan kondisinya yang telah menerima banyak sekali efek Debuff dan pertahanan hancur dari sihir tersebut.
Hanya masalah waktu sampai dia benar-benar mati.
Namun—
“Tidak, masih belum…”
Harga diri Roden terus menolak untuk mati di sini. Terutama mati di tangan serangga rendahan seperti mereka, dia tidak akan pernah mati. Sekalipun dia akan mati, dia tidak ingin mati di tangan mahkluk rendahan seperti mereka.
Itu tidak akan pernah.
Dia adalah Naga Jahanam, Roden.
Mahkluk dengan ras terkuat yang ada di dunia ini. Tidak akan dia biarkan para serangga-serangga itu mempermainkannya terus.
__ADS_1
Akan dia tunjukkan kepada mereka seperti apa kemarahan dari seekor naga yang sebenarnya.