Sistem Alkemis Terkuat

Sistem Alkemis Terkuat
—Garis Dunia Berbeda (Bagian 1)


__ADS_3

Pada saat aku berumur 10 tahun, aku kehilangan kedua orang tuaku.


Itu adalah sebuah kecelakaan.


Waktu itu aku masih duduk di kelas 5 SD, dan adikku berada di kelas 2 SD.


“Ayah, lihatlah! Aku dapat peringkat satu lagi dari seluruh kelas!”


Dengan penuh semangat, aku menunjukkan ayahku penghargaan yang berhasil kudapatkan dari hasil ujianku di sekolah. Di sana aku mendapatkan nilai sempurna disemua mata pelajaraan.


“Tidak hanya itu, lihatlah ini! Aku bahkan dapat nilai 120 karena aku berhasil menyadari ada soal yang salah di ujiannya!”


“Wow, itu sangat hebat— Tunggu, bukankah kau terlalu hebat?! Ada apa dengan semua nilai seratus ini?! Darimana kau mendapatkan gen orang jenius seperti ini?! Apa kau benar-benar anakku?!” teriak ayah yang terkejut, tapi itu sedikit berbeda dari reaksi terkejut yang kubayangkan.


“Ya ampun, sayang. Kau tidak boleh bilang begitu, kejeniusan Riku merupakan bawaan dariku, ya kan?” sahut ibu sambil memelukku dengan lembut.


“Tapi sayang, lihatlah semua piala ini?! Dia bahkan pernah direkrut langsung oleh universitas terkenal untuk melanjutkan studi di sana! Apa kau yakin anak ini benar-benar manusia?! Oi, Riku! Berhentilah seenaknya mengikuti lomba apapun tanpa izin dulu ke ayah dan ibumu, kau mengerti?! Karenamu kita harus mengorbankan satu kamar kosong hanya untuk semua piala-pialamu!” tegur ayah sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan yang dipenuhi oleh pialaku.


Sebenarnya itu bukan hanya pialaku, ada juga piala ibuku yang di taruh di sana, dan hampir semua piala yang ada di sana merupakan penghargaan dari peringkat pertama.


“Yah, mau gimana lagi. Uang jajan yang ayah berikan terlalu sedikit, jadi aku terpaksa harus mengikuti lomba-lomba itu untuk mendapatkan uang tambahan.”


“Lihat anak ini, dia bahkan sudah bisa protes tentang uang jajannya?! Apa kau benar-benar berumur 10 tahun?! Aku yakin dia akan belajar tentang saham dan investasi jika kita membiarkannya sendiri!”


Mendengar ayah yang mulai mengatakan sesuatu yang tidak jelas, aku menghela nafasku dengan lelah, dan mengabaikannya. Jika sudah begini dia benar-benar merepotkan.


“Ibu, aku lapar.”


“Oh, apa sudah waktunya untuk makan malam? Baiklah, hari ini ibu akan membuatkan makanan kesukaanmu. Tapi, apa kau bisa bantu ibu untuk memanggil adikmu?” ujar ibuku yang meminta tolong.


Aku memberikannya tanda hormat. “Siap bos!” Kemudian langsung berlari menuju ke kamar adikku untuk melaksanakan perintahnya.


“Sayang, jangan lari atau kau akan terjatuh!” tegur ibuku, tapi karena aku berlari dengan penuh semangat, aku tidak bisa mendengarkannya.


Aku berlari menaiki tangga dan langsung pergi ke kamar adikku. Saat aku berada di depan pintu kamarnya, aku membuka pintunya secara perlahan, dan mengeluarkan kepalaku dari balik sela pintu yang terbuka.


Saat dia menyadari bahwa ada orang yang membuka pintunya, adikku bangun dari tidurnya untuk melihat siapa yang mengunjunginya.


“Onii-sama…” serunya dengan suara yang lirih ketika dia melihatku.


Tapi aku mengabaikannya dan langsung masuk ke dalam ruangan, adikku memiringkan kepalanya dengan bingung ketika dia melihat apa yang kulakukan. Di sana aku mengambil sebuah topeng dan jubah hitam, lalu mengambil pose keren sambil memakai kedua benda itu.


“Khukuku, sayang sekali, Putri Shina. Aku bukanlah kakakmu. Aku adalah seorang pencuri yang berniat untuk menculikmu. Namaku adalah Jhon Smith, Pencuri Terhebat di seluruh dunia!” teriakku sambil meniru suara orang lain.


Melihat itu, Shina terlihat sangat bersemangat dan dia buru-buru turun dari kasurnya.


Di sana, dia juga mengambil sebuah tiara cantik dan gaun tuan putri berwarna merah muda, sambil mengenakan kedua benda itu, dia berdiri di depanku.


“Shina adalah seorang tuan putri yang dicintai rakyatnya. Jika mereka tau Shina diculik oleh orang sepertimu, mereka pasti akan sangat sedih. Karena itu, Shina menolak untuk ikut bersamamu!” ucapnya dengan senyuman lebar.


Tampaknya dia ingin melanjutkan sandiwara ini.


Dia mengambil sebuah pedang plastik yang tergeletak di lantai, dan mengarahkan pedang itu ke arahku.


“Apa maksudnya ini, Putri Shina? Apa kau berniat untuk melawanku?” tanyaku sambil menyipitkan mataku dengan tajam.

__ADS_1


Tapi, masih dalam senyuman lebarnya, Shina menjawab. “Jika kau tidak ingin mundur dan tetap ingin menculik Shina, maka Shina yang akan menjadi lawanmu, Jhon Smith!” ucapnya.


Mendengar itu, aku tertawa keras.


“Khukuku!! Ahahahahaha!! Sungguh sangat disayangkan, Putri Shina. Padahal awalnya aku berniat menculikmu untuk kujadikan sebagai wanitaku. Tapi sepertinya itu sudah tidak mungkin,” balasku dengan seringai lebar yang terlihat kejam.


Tapi, Shina sama sekali tidak gentar.


“Fufu, jika kau berniat untuk menikahi Shina, maka cobalah untuk mengalahkan Shina jika kau bisa, Riku Onii-sama!” teriak Shina, dan dia langsung mengayunkan pedang plastiknya ke arahku.


Aku menghindarinya, dan menarik pedangku juga dengan cepat. Melihat itu, Shina mengayunkan kembali pedangnya ke arahku, tapi aku berhasil menangkis ayunannya.


“Khuku, kau boleh juga untuk seorang putri. Baiklah, jika memang itu maumu, aku pasti akan mengalahkanmu di sini! Dan juga, aku bukan Riku, aku adalah Jhon Smith!” balasku sambil mendorong ayunan pedangnya untuk mengambil jarak.


Namun, Shina tidak berhenti, dia menendang bola karet yang ada di depannya dan menerbangkan bola itu ke arahku.


Itu membuatku terkejut, jadi aku dengan buru-buru menghindarinya.


“Hei, itu curang!”


“Fufu, kau lengah loh, Jhon Smith.”


Selagi aku protes tentang bola itu, Shina menggunakan kesempatan ini untuk maju dan mengayunkan pedangnya secara horizontal.


Ini gawat, dia akan menebas perutku.


Tapi—


“Haha, apa kau pikir aku tidak menebaknya?!” ujarku dengan seringai lebar.


“Uuh, itu curang, Onii-sama!”


“Siapa yang peduli! Dan aku bukan Onii-sama, aku adalah Jhon Smith!” teriakku.


Kemudian, aku mengangkat pedangku tinggi-tinggiku, berniat untuk mengayunkannya secara vertikal ketika Shina lagi sibuk untuk menyingkirkan jubahku dari wajahnya.


“Dengan ini, semuanya berakhir!”


Tapi—


“Shina! Riku! Sudah cukup main-mainnya! Ayo turun untuk makan malam!”


Ibu memanggil, dan aku berhenti tepat sebelum aku berhasil mengayunkan serangan terakhirku untuk memenangkan pertarungan ini.


Tapi, itu adalah keputusan yang buruk.


“Fufu, kau lengah lagi, Onii-sama!”


Adikku yang telah lolos dari jeratan jubahku menggunakan kesempatan ini untuk mengayunkan pedangnya sekali lagi, dan kali ini pedangnya berhasil memukul kepalaku.


‘Tuk!’


“Aduh!” rintihku sedikit kesakitan ketika dipukul oleh pedang plastik itu.


“Baiklah, ini kemenangan Shina!”

__ADS_1


“Tunggu, itu tidak adil! Ibu sudah memanggil, jadi pertarungannya berakhir pada saat itu juga! Aku tidak akan menerima kekalahan ini!” balasku yang protes.


Tapi, Shina hanya tertawa kecil dan langsung berlari meninggalkanku sebelum aku mengatakan semua yang ingin kukatakan.


“Tidak, ini kemenangan Shina, Onii-sama yang kalah,” ujarnya dan kemudian pergi begitu saja meninggalkanku sendirian di dalam ruangan itu.


Aku dengan buru-buru mengejarnya, dan tetap mencoba untuk protes, tapi dia sama sekali tidak mendengarkanku, sehingga itu membuatku menjadi semakin kesal.


Dia benar-benar adik yang menyebalkan.


...****************...


Itu adalah waktu makan malam.


Saat aku sedang menikmati humburger buatan ibuku, yang merupakan hadiah dari peringkat pertamaku di sekolah. Ayah tiba-tiba berdiri dan berkata dengan keras.


“Baiklah, sudah kuputuskan! Untuk liburan besok kita akan pergi piknik ke gunung!” cetus ayahku secara tiba-tiba dengan sangat antusias.


Saat itu juga, ibuku menanggapinya.


“Ke gunung ya, kurasa itu bagus. Aku akan membuatkan bekal yang meriah untuk pergi nanti.”


“Oh, seperti yang diduga dari istriku! Aku jadi semakin mencintaimu! Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan, kita akan pergi ke gunung!”


“Ya ampun, tidak bisakah ayah tidak membuat jadwalnya secara tiba-tiba, aku tidak pernah bilang jika aku akan ikut, kan?” sahutku dengan wajah yang datar.


“Diamlah kau dasar anak aneh! Di keluarga ini ayah adalah pemimpinnya! Jadi kau tidak punya pilihan lain selain mematuhi keputusan ayahmu!”


Ayah satu ini benar-benar berisik.


Selagi aku dan ayahku mulai berdebat, Shina yang daritadi mendengarkan tiba-tiba berdiri di atas tempat duduknya, dan berkata dengan mata yang berbinar-binar.


“Piknik ke gunung! Shina mau ikut!” teriaknya.


Melihat itu, ayah memalingkan pandangannya ke arah Shina dengan senyuman lebar, dan dia langsung memeluk Shina sambil menangis bahagia.


“Oh ya ampun, itu baru anakku! Shina benar-benar sangat imut! Berbeda jauh dari anak yang ada di sana yang sama sekali tidak mengerti tentang betapa pentingnya liburan keluarga itu!” ujar ayah itu sambil melirik-lirik ke arahku.


Alis mataku berkedut dengan kesal.


“Kalian berdua, jangan berdiri ketika lagi makan,” tegur ibuku, dan mereka kembali lagi ke tempat duduk mereka masing-masing.


Saat semuanya kembali tenang, Shina tiba-tiba menarik ujung bajuku.


“Onii-sama, ayo kita pergi piknik bersama. Shina ingin pergi bersama Onii-sama,” ajaknya dengan tatapan mata yang memelas.


Uuh, itu curang. Anak satu ini terlalu imut. Bagaiamana mungkin aku bisa menolak permintaan adikku?


Itu membuat hatiku luluh, dan pada akhirnya aku terpaksa memutuskan untuk menerima ajakannya.


Aku menghela nafasku dengan pasrah, tersenyum lembut dan mengelus kepalanya.


“Ya yah, aku ikut. Ya ampun, Shina benar-benar adik yang merepotkan,” ujarku, dan Shina langsung tersenyum lebar ketika mendengar itu.


Pada akhirnya kami semua memutuskan untuk pergi piknik ke gunung bersama.

__ADS_1


__ADS_2