
Byur!!
Rahmi terbangun dengan dinginnya air yanf baru saja disiramkan untuknya.
''Sudah sadar?''
Rahmi menatap dengan ketakutan seseorang yang menyiramnya dengan memakai pakaian serba hitam dan menutup mulutnya dengan kain hitam.
''Agak sedikit beda ... ,'' ucap mereka membandingkan foto Rahmi dengan wajahnya.
''Tarik saja yang membalut rambutnya itu kita akan tau bedanya,'' ucap salah seorang dari mereka.
'Tidak, jangan!!'
Rahmi menggeleng ketakutan, ia tidak mau memperlihatkan auratnya.
''Hahahah ... ternyata sangat mudah menangkapnya, lebih mudah dari menangkap seekor tikus,'' tawa-nya menggema.
Rahmi melihat sekitar, ia berada ditempat pabrik terbengkalai disebuah daerah yang begitu jauh dari perkotaan.
'Lari ... Kemana ia harus lari,' pikir Rahmi.
Drtt.
Ponsel salah seorang dari mereka berbunyi.
''Bawa gadis itu didistrik Blok C saya berikan uangnya disana."
''Bos kenapa gak langsung dibunuh saja?''
''Mereka sangat licik, aku tidak mau melakukan hal sia-sia dan berbahaya. Lagi pula gadis inikan istri dari HNM Groub ... ,'' ucapnya kemudian menyeret Rahmi keluar dari gudang itu.
'Hukh ... Sakit,' keluh Rahmi dengan mata berair. Kerah bajunya ditarik begitu kuat hingga rasanya ia tercekik.
''Tuan yakin dia tadi yang menelpon?''
''Bukan pun, bukan urusan kita ... Uang adalah tujuan, membunuh adalah kemanusiaan,'' ucapnya kemudian melempar Rahmi kedalan mobil dan menutupnya dengan rapat.
Bhuk!
''Huk!''
'Sakit, sakit sekali ... Hiks Ami rindu rumah.'
'Gelap ....'
Tubuh Rahmi gemetaran ketakutan, kegelapan begitu menakutkan baginya.
Mobil mereka melaju dengan cepat. Mereka tiba didistrik Blok C saat matahari sudah akan terbit.
Plak!
''Bangun!!!''
Rahmi membuka matanya, terlihat seseorang didepannya membawa senjata dengan koper besar.
Phuk.
''Ini uangnya,'' ucapnya melempar koper itu.
Salah seorang dari mereka maju dan melihatnya.
''Benar isinya uang ...,'' ucapnya mengambil koper itu.
Styut.
Sreng!!!
Mereka melempar Rahmi bagai barang transaksi, berpindah tangan keorang yang lebih menyeramkan.
Sring.
__ADS_1
''Jangan bergerak!'' ucapnya mengintimidasi.
Rahmi menelan ludahnya ketakutan melihat pisau yang begitu tajam mengarah padanya.
Mereka berjalan kearah berlawanan, terus berjalan dalam kegelapan ditengah hutan dan semakin dalam.
Sring!
Dia menurunkan senjatanya dan menatap kumpulan orang yang berdiri seolah menantinya.
''Bagus ... Tinggalkan bereskan sisa-nya,'' ucapnya melihat mereka.
Mereka semua memakai jubah hitam yang menutupi kepala mereka. Mereka manatap Rahmi dengan intens.
Sring!!
Rahmi memberontak hingga tangan itu melepasnya. Rahmi berlari diantara mereka, ia menghampiri seorang yang paling ia benci.
''Alif!!! Bawa aku pergi!! Aku takut!!!'' ucap Rahmi memohon dengan air mata yang terjatuh begitu deras.
Orang asing lebih menakutkan baginya dari pada Alif yang sering menyiksanya.
Syuth!
Alif menunduk menutup Rahmi dengan selembar kain, ia menggendongnya membawanya kedalam pelukannya.
''Bereskan dengan bersih ... Lalu bawa kepolisi, jangan biarkan mereka kabur,'' ucap Alif kemudian naik kemobil hitam yang begitu besar.
''Lama tidak bertemu ... Haloo cantik saya teman Alif,'' ucapnya riang melihat dibalik spion mobil.
Ia memakai seragam jendral tentara dengan topi yang menutupi kepalanya. Ia melirik sepasang suami istri yang duduk dibelakang yang diam saja dalam keheningan.
''Kalian canggung sekali hahaha,'' tawanya renyah.
''Terima kasih Ram,'' ucap Alif angkat bicara.
Namanya Rahmat, tahun ini dia telah naik jabatan menjadi jendral tentara barisan depan dimedan perang dalam perlindungan negara. Untung dia sedang cuti, jadi Alif menghubunginya.
''Sebaiknya kalian berhati-hati soalnya lawan kita bukan orang yang mudah. Ketua organisasi mafia bagian selatan yang haus akan darah ... Kita saja susah menangkapnya,'' ucap Rahmat melirik Alif.
Alif tau pasti tentang masalah yang dimaksud oleh Rahmat.
Alif mengangguk pelan, ia tidak banyak bicara. Rahmat menjadi canggung padahal ia ingin mengobrol setelah sekian lama tidak bertemu sahabatnya.
'Heng ....'
Rahmat menatap Rahmi, ia baru sadar tubuh Rahmi begitu kecil. Melihat tatapan Rahmat, Alif menatapnya tajam.
Degh!
'Aduh marah nih ....'
''Jangan menatapku seolah akan menerkamku."
Alif memalingkan wajahnya tidak peduli. Ia melirik Rahmi yang tertidur lelap, ia terlihat begitu lelah.
'Kenapa kau tidur begitu tenang dipelukan orang yang menyiksamu,' ucap Alif dalam hati. Hatinya terasa berdenyut, sakit dan sesak melihatnya.
Ckit!!
''Aku sudah mengantar kalian, perjalanan selanjutnya silahkan dilanjutkan."
Alif turun dari mobil Rahmat kemudian naik mobil yang biasa ia gunakan. Rahmat melambaikan tangannya dan kembali kearah jalan sebelumnya.
''Tuan mau kerumah sakit?'' tanya sekertarisnya.
Alif melihat Rahmi, ia meletakkannya disebelahnya dengan pahanya sebagai bantalannya.
''Tidak usah, kita pulang kerumah saja,''ucap Alif. Alif menatap wajah Rahmi lekat-lekat. Bibir yang pucat, alis yang tebal, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, bila Rahmi tumbuh beberapa tahun lagi ia akan menjadi pujaan hati semua laki-laki, bahkan disaat seperti ini pipinya tetap kemerah-merahan.
'Humairah.'
__ADS_1
Dalam gelap matahari mulai terbit. Mereka sampai dirumah disaat matahari sudah benar-benar terang.
''Nona!!!''
Bibi langsung menghampiri Alif saat melihat Rahmi berada dalam gendongannya.
''Bawa ia kekamarnya,'' ucap Alif menyerahkannya pada Bibi. Tubuh Rahmi yang kecil tidaklah berat, Bibi tidak kesulitan membawanya.
....
''Bukankah kita disuruh membunuhnya?'' tanya anak buahnya melihat kepergian Rahmi dan orang yang membawanya.
''Mungkin perubahan rencana ... ,'' ucap bosnya melihat uang yang menumpuk dalam koper.
Drtt.
Ia melihat handphonenya dan mengangkatnya.
''Kau sudah membunuhnya?''
Ia mengernyitkan dahinya, bukankah ia baru saja bertemu tadi.
''Bukankah transaksi kita berubah, kau menyuruhku membawanya kedistrik Blok C?''
''APA?!!!DASAR TIDAK BERGUNA!!! TUTUP MULUTMU RAPAT-RAPAT!!!''
Tut.
'Tunggu?!! Gawat!!!?'
''Semu-''
Ia tersentak saat merasakan dibalik kepalanya sebuah senjata.
''Jangan bergerak kalau kau tidak mau kepalamu hancur ...,'' ucapnya kemudian menahan tangan-nya kebelakang.
Mereka mengikat mereka semuah kemudian membuka penutup wajah mereka.
''Benar mafia bagian selatan ... Siapa yang menyuruh kalian?''
Mereka semua saling melirik dan mengalihkan pandangan.
''Ho-oh gak mau kasih tau? Gak apa, sih kan ada ruang introgasi dikamp militer...,'' ucapnya tersenyum psikopat.
Plak!
''Sudah jangan banyak laga itu bukan bagian kita. Kita tunggu jendral kembali dulu, kita cek barang-barang mereka."
Mereka menggeledah para penjahat itu dan mengumpulkannya ditempat yang sama.
''Lacak ponselnya, siapa yang ia hubungi''
Pandangannya beralih kesebuah kalung yang begitu indah bermata biru yang bagaikan laut.
''Kalung ini kita simpan, ini barang bukti berharga ... Hanya beberapa orang yang bisa membelinya,'' ucapnya melihat kalung itu seksama.
''Kau tau banyak soal permata yah ...,'' ucap rekannya sambil mengotak-atik handphonenya.
''Jangan banyak nanya!!''
Sret.
''Sudah beres?''
Mereka berbalik melihat siapa yang datang.
''SIAP!! SUDAH JENDRAL!!''
Mereka langsung berdiri siap siaga.
''Bawa langsung kekantor pusat.''
__ADS_1
''BAIK!!''