
"Permisi apa Anda pernah melihat perempuan seperti ini?''
Pedagang gulali itu melihatnya sekilas.
''Saya pernah melihatnya tapi saya tidak ingat kapan''
Degh.
''Kapan?!?''
''Saya tidak ingat dengan jelas, saat itu ia datang untuk membeli gulali''
''Baiklah terima kasih''
Secercah Harapan akhinya ditemukan oleh Alif. Ia menghubungi bawahannya untuk mencari lebih lanjut.
...
Dhuak!
Lagi-lagi Rahmi berjalan sambil melamun dan manabrak sebuah tembok.
''Rah kamu gak apa?!!'' tanya Heira.
Ia tidak sengaja lewat dan melihat Rahmi menabrak tembok.
''Tidak apa kak,'' ucap Rahmi mengusap kepalanya yang berdenyut.
''Huft. Rahmi, kakak mau pulang kamu mau ikut?''
Rahmi menatap Heira kemudian ia tersenyum sambil mengangguk.
''Baiklah besok kita pulang''
Mendengar kata pulang, jantung Rahmi berdebar seolah menantikan sesuatu.
Waktu berlalu dan esok telah tiba. Dipagi buta Rahmi telah bersiap, jantungnya berdebar dengan senyuman yang tak pernah luntut diwajahnya.
Rahmi berjalan menghampiri kamar Heira. Sejak keluar rumah sakit ia tidak lagi tinggal ditempat Alaska, ia tinggal ditempat Heira disebelah kamarnya.
''Kak...''
Heira keluar dengan pakaian yang sudah rapi, ia menatap Rahmi dengan heran.
''Kamu... Mau berangkat sekarang?''
Rahmi mengangguk antusias. Heira terkekeh kecil. Ia awalnya akan berangkat agak siangan, tapi karna Rahmi sudah mau pergi jadi mereka akan berangkat sekarang.
''Yaudah kita jalan sekarang''
Heira menarik kopernya diikuti oleh Rahmi.
Heira berhenti dipersimpangan jalan. Ia menyuruh Rahmi menunggu karna ia ingin ketempat karla.
Rahmi memandang langit dengan matahari yang akan terbit. Warna kejinggaan yang menyilaukan terlihat indah dilangit malam yang gelap.
'Kenapa yah rasanya ada yang terlupakan'
Rahmi memegang dadanya yang berdebar dan setiap debarannya terasa nyeri.
'Apa aku melupakan sesuatu yang penting?'
Rahmi melihat kedua tangannya. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah gelang yang begitu cantik dengan sebuah cincin dijari manisnya.
''Aku... sudah menikah?''
__ADS_1
''Rah, ayok jalan'' ajak Heira.
Mereka berangkat pagi-pagi dengan Karla sebagai supirnya.
Rahmi membuka spion mobil, angin menerpa wajahnya dengan lembut. Rahmi menatap laut yang dilewatinya. Berkilauan dengan kejinggaan, matahari seperti terbang dari dasar laut yang dalam.
Aku mencintaimu
Bayangan seseorang memberinya bunga ditengah pesisir pantai yang diterangi cahaya berbentuk hati menyeruak masuk dalam ingatan Rahmi.
''Kak.. Apa saya pernah kepesisir pantai?''
Heira tampak berpikir, ia tidak tau apa Rahmi pernah pergi. Tapi saat bersamanya mereka hanya keluar kalau bukan kepasar hanya ditempat latihan.
''Seingat kakak tidak''
Mendengar jawaban Heira, Rahmi tampak sedih. Mungkin yang ia lihat hanyalah halusinasi.
Mobil berjalan dengan cepat, laut yang indah kini berganti gedung tinggi pencakar langit. Saat melewati sebuah gedung yang begitu tinggi tanpa sadar Rahmi bergumam,'' HNN groub''
''Tepat sekali. Perusahan yang telah menguasai sebagian produksitas yang ada dinegera kita, mereka juga yang memonopoli pasar-pasar besar'' ucap Karla melihat Rahmi dibalik spion.
Rahmi tersenyum begitu lebar, dadanya terasa hangat mendengar penuturan karla.
''Kita sampai''
Rahmi melihat keluar jendala, melihat dimana mereka sampai Rahmi merasa kecewa dari hatinya yang terdalam.
Heira melihat perubahan ekspresi Rahmi.
'Apa sebaiknya kupulangkan saja sekarang..'
Heira menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa melakukannya sekarang dengan ingatan Rahmi yang hilang.
''Selamat datang di organisasi bela diri nomor satu dinegera kita ini'' ucap Karla dengan senyum bangganya mempersilahkan kedua perempuan itu untuk masuk.
Bahkan ada ribuan atau ratusan orang berlatih dilapangan tersebut.
''Kakak hebat tidak?''
Rahmi menenggok dan memberikan senyuman yang begitu lebar pada Heira.
Mereka masuk kedalam, melihat kedatang ketua mereka. Mereka langsung berbalik dan membungkuk.
''SELAMAT DATANG KETUA ARNADA!!!''
Degh!
''Ekhm lanjutkan latihan kalian'' ucap Karla mewakili Heira.
''BAIK WAKIL KETUA!''
Mereka berbalik dan melanjutkan latihannya
''Rahmi kaget?'' tanya Heira melihat wajah pucat Rahmi.
''Hahah iya,'' tawa canggung Rahmi.
Ia terkejut dan takut karna disaat bersamaan bayangan mata yang melihatnya dengan sinis terasa menusuk didadanya.
''Ayok masuk Rah,'' ajak Heira melihat Rahmi hanya diam saja tanpa bergerak.
Greb!
Melihat Rahmi tak berkutik, Heira menarik tangannya untuk masuk.
__ADS_1
Tersadar dari lamunannya, Rahmi melihat tangan Heira yang meneriknya entah kenapa perasaannya menjadi tenang.
Perempuan yang menariknya ini selalu menyayanginya dengab sebuah alasan sederhana bahwa 'tinggal ia keluarga yang kupunya'. Meski tak sedarah, rasa sayang pada Rahmi sangatlah kental. Impiannya yang ingin memiliki adik akhirnya tercapai.
Rahmi memperhatikan tangan Heira, baru sekarang ia memperhatikan kakaknya itu. Wajahnya terlihat sangar, tangannya kasar dan selalu berpakaian bagai laki-laki. Tapi hatinya lembut layaknya perempuan pada umumnya.
Rahmi menatap dirinya yang lemah. Gamis yang panjang dengan kerudung yang selalu menjuntai lurus kebawah hingga menutupi tangannya. Ia merasa minder dengan Heira yang hebat dan dapat melindungi dirinya juga banyak orang.
''Kenapa Rah?'' tanya Heira melihat tatapan Rahmi.
''Tidak apa kak'' ucap Rahmi menahan diri untuk tidak memperlihatkannya.
Heira menatap Rahmi, adiknya itu selalu melamun dan berekspresi dengan aneh juga berubah-ubah setiap waktu.
...
DHUK!!
Alif menggempalkan tangannya dan memukul dadanya. ia sudah mencari berhari-hari disana tapi jejaknya hilang dan tidak ada petunjuk lain.
Tes.
Alif menghapus air matanya, rasanya lelah dan tak berhenti. Setiap malam ia bermimpi buruk, tiada ketenangan dimilikinya. Terbangun dengan dinginnya kasur, keheningan tanpa suaranya.
''Rah, kamu dimana'' gumam Alif.
Ia terjatuh terduduk ditepian ranjang. Ia frustasi mencari dan mencari. Dalang dari penyebab semuanya malah belum ditemukan, ini bukan sekali dua kali terjadi. Rasanya kesal dengan ketidak berdayaannya.
Alif frustasi dengan kepergian Rahmi, entah ia masih hidup atau tidak membuat Alif selalu hidup dirumah yang terasa bagaikan nereka. Setiap ia melangkah, ingatan tentang Rahmi selalu menghampirinya.
Alif mengambil obat tidur ditepian ranjang. Sudah tiga hari ia tidak bisa tidur, mau tak mau ia harus menggunakan obat tidur.
Alif menuangkan tiga obat tidur dan meminumnya.
Perasaan panas dari lambungnya menjalar ketubuhnya. Dengan begitu terpaksa matanya terpejam.
'Gelap'
'Rah, aku butuh cahayamu'
....
''SIAL!''
BRAK!!
Ryan menghancurkan barang-barang disekitarnya, ia sudah seperti orang gila tidak menemukan adiknya.
Kemarahan dalam dirinya tak bisa ia tahan. Mereka menyakiti adiknya berkali-kali dan masih dapat berkeliaran dengan bebas.
''ADIKKU MASIH BELUM DITEMUKAN!! BERINANYA MEREKA!!!''
Ryan telah mengerahkan segalanya tapi tiada petunjuk apapun. Ia juga telah kehilangan seorang sahabat yang paling berharga untuknya.
Perasaan dikhianati oleh orang terdekat terasa bagaikan rantai panas yang mencabik-cabik hatinya.
''AHHKKK!''
Para sekertarisnya hanya menunggu diluar, bukan sekali dua kali Ryan mengamuk setelah menerima laporan tentang adiknya.
Kasih sayangnya yang juga berlebihan menjadi sebuah rantai yang mengikatnya kedalam jurang penderitaan.
Setiap malam ia bermimpi kehilangan keluarganya. Satu persatu keluarganya meninggalkannya.
tes.
__ADS_1
Air matanya akhirnya tumpah. Ia terduduk dilantai dan. menangis tersedu-sedu. Seseorang yang dingin juga bermartabat kini hilang dengan kehilangan sosok yang berharga dihidupnya.