Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Kesakitan


__ADS_3

''Permisi''


''Yah?''


Alaska yang menyapu didepan pagar melihat orang asing dengan topi hitam yang menutup kepalanya.


''Apa disini ada orang baru-baru ditemukan?''


''Iya ada''


Heira yang lewat menatap curiga. Ia datang kesana.


''Ada apa Alas?''


''Dia nyari orang?''


''Saya mencari istri tuan saya''


'Apakah suruhan Alif?'


''Yah memang ada.. Kenapa?''


''Namanya star, ini fotonya'' Ia memberikan selembar foto kepada Heira.


Heira memincingkan matanya. Star, ia tak mungkin tak kenal nama itu nama yang selalu masuk media sekaligus putri tuan kedua orang tuanya juga adiknya.


Selembar foto yang memperlihatkan Rahmi saat berusia 15 tahun tak jauh beda dengan sekarang.


'Musuh atau kawan? Tak mungkin Alif menyuruh bawahannya mengekspos istrinya seperti ini'


''Sayang sekali bukan orang yang sama.. lagi pula dia adikku,'' ucap Heira membuatnya menggertakkan giginya dan pergi begitu saja.


''Ketua kenapa berbohong. Bukankah jelas sekali itu Rahmi?''


Heira menatap Alaska yang polos.


''Dia orang berbahaya. Bisa saja dia suruhan yang ingin membunuh Rahmi. Suaminya tak akan mengekspos foto istrinya tanpa memakai kerudung,'' ucap Heira berbalik pergi.


...


Alif meski terlihat tegar tapi ia tidak setegar yang terlihat.


Brak.


Syut.


Alif terjatuh dibalik pintu rumah. Meski ia terlihat tegar diluar pertahanannya akan selalu runtuh saat tiba dirumah.


Bibi!! Rahmi juga mau bantu.


tes.


Air matanya jatuh tanpa ia bisa bendung lagi. Hatinya tidaklah tegar, tusukan yang selalu terbayang-bayang dengan jatuhnya istrinya membuatnya menderita kesakitan.


Nyut.


Nyut.


Alif memegang dadanya, terasa tusukan pisau menusuknya. Terasa hampa sesak hingga ia kesulitan bernapas.


Alif selalu berpikir Rahmi akan baik-baik saja, tapi dirinya juga tak bisa menahan gejolak hati yang bertanya-tanya. Apakah istrinya masih hidup, bagaimana jika yang ia temukan adalah mayatnya, bagaimana jika selamanya ia tak akan menemukannya.


''Huk!!!''


Terasa menyesakkan hingga tubuhnya dapat ambruk sekatika.


''Tuan tidak apa?'' Bibi menghampiri Alif dengan khawatir.


Mereka pergi dengan bahagia, tapi Alif pulang sendiri dengan wajah pucat dengan pakaian yang basah. Bibi syok berat mendengar kejadian yang dialami olah gadis kecil yang selalu berlari kearahnya memanggilnya bibi dengan suara manja.


Alif menepis tangan Bibi yang ingin membantunya.


Alif berjalan lunglai menuju kamarnya.


Sret.


Pintu terbuka, untuk kesekian kalinya ia selalu melihat bayangan istrinya duduk dikasur dengan menatap langit dari jendela besar didekat ranjang.


''Rahmi...''


Alif melangkah mendekat dan memeluknya erat.


Syut!


Bayangan itu hilang bergantikan kekosongan yang dingin.


Alif menggempalkan tangannya kuat-kuat.


BHUK!


BHUK!


Ia memukul dadanya kuat-kuat berusaha menghilangkan kesakitannya.


''Rah.. Aku mencintaimu...''


PRAK!

__ADS_1


Pot bunga disamping kasur pecah. Alif menatap serpihan kaca tersebut.


Sret!


Darah mengalir ditangannya.


''Rah sakitnya tidak hilang... Hatiku masih terasa peri''


Alif mengiris tangannya berharap sakitnya berpindah, tapi tak ada gunanya karna hatinya yang perih akan kerinduan.


''AHKKK!!!''


''Rahmi.. Jangan tinggalkan aku''


Alif terjatuh dilantai, ia menaruh wajahnya diranjang dengan kaki yang bersimpuh.


''Aku mencintaimu Rahmi''


Untuk kesekian kalinya ia mengatakan perasaan cintanya sambil menatap foto sang istri yang tersenyum begitu lebar.


...


Degh!


Nyut, nyut.


''Dadaku terasa sakit.. Rasanya ada yang hilang'' gumam Rahmi


''Anda tidak apa?'' tanya Alaska melihat wajah pucat Rahmi.


Tes.


''Kok aku nangis?''


Rahmi mengusap air matanya yang malah turun semakin deras.


''Aa.. A-anda..'' Alaska langsung kelabakan melihat Rahmi semakin menangis.


''Hugh, sakit.. Sakit sekali''


'Rasanya sesak, kosong, hampa...'


Aku mencintaimu.


''Egh!!''


Rahmi memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


''RAHMI!!''


''K-kak... Sakit.. Aku kesakitan'' mohon Rahmi.


Melihat tatapan terluka Rahmi, Heira langsung memeluknya erat.


''Tidak apa-apa semua akan berlalu'' ucap Heira mengusap-usap kepala Rahmi.


''Kak rasanya ada yang hilang''


Heira menghapus air mata yang mengalir deras dari wajah sang adik. Apa yang bisa ia lakukan, dirinya merasa gagal tak dapat melakukan apapun untuk adiknya.


Setelah menangis begitu lama Rahmi tertidur dengan mata sembab.


''Maafkan aku'' gumam Heira.


...


Kelvin duduk dengan gelisah, perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak.


Brak!!


Belum semenit ia berpikir pintu ruangannya terbuka lebar.


Drab!


Greb!


Ryan menarik kerah baju Kelvin dengan kuat.


''Kau!! Apa maksudmu hah??!!!''


Kelvin menelan ludahnya, memang apa yang ia lakukan.


''Apa yang kuperbuat?''


Brak!!


Past!!


Ryan menghempaskan Kelvin dengan kasar kemudian ia melemparkan kertas-kertas didepan wajahnya.


Kelvin melihat kertas tersebut dan membacanya.


Ia tersenyum kecut membacanya.


''Benar.. kapal itu miliku dan aku yang memerintahkannya berlayar kelaut agak jauh dari dermaga''


'Aku memang bodoh telah dimanfaatkan'

__ADS_1


KRTAK.


Ryan menghancurkan papan bertuliskan presdir dimeja Kelvin.


''AKU MENGANGGAPMU TEMAN TAPI INI BALASANMU!!''


Degh!


Kelvin terdiam, ia menunduk sebelum mengangkat wajahnya dengan senyuman miringnya.


''Kau benar... Sayang sekali kau tertipu. Yah dan kau tidak memilki bukti,'' ucap Kelvin santai.


BUGH!


Sebuah pukulan keras mendarat diwajah mulus Kelvin menciptakan guratan lebam ungu biru disana.


''AKU AKAN MENGHABISIMU!!''


BUGH!


BUGH!


BUGH!


BUGH!


Kelvin menerina pukulan bertubi-tubi dari Ryan, ia bahkan tak melawan sekalipun.


GREB!


Kelvin menahan tangan Ryan, wajahnya sudah hancur, tubuhnya terasa perih.


''Kau mau masuk penjara? disini ada cctv''


PLAK!


Ryan menghempaskan tangan Kelvin yang menahannya


BAM!


Ryan pergi dengan membanting pintu dengan keras. Ia meninggalkan perusahaan Kelvin dengan tatapan membunuh.


...


''Sepertinya ia sudah mati...'' gumannya dengan senang hati.


''Bukankah kita harus memastikannya dulu?''


''Hanya orang mati yang akan tau''


Ia tersenyum bahagia. Akhirnya ia akan terbebas dari statusnya yang paling ia benci.


Dhuk


Ia menusuk foto Rahmi berkali-kali dengan seringaian diwajahnya.


Temannya hanya menatap datar sikap yang dilakukannya.


...


Hampir 2 bulan berlalu sejak tenggelamnya Rahmi dan belum ada kabar apapun sampai sekarang.


Alif masih tidak menyerah, ia juga mencari didaratan sekitar.


Ia pergi ketempat-tempat yang memungkinkan istrinya terhanyut terbawa arus laut.


'Rahmi kamu dimana...'


Alif turun dari mobilnya dan mulai mencari Rahmi dengan bertanya kepada orang-orang.


Alif tiba disebuah gerbang yang begitu tinggi. Gerbang tempat latihan bela diri bagian selatan.


HIYAT!!


Mereka terlihat berlatih dengan giat.


''Wahhh kejar aku!!''


Alif mendengar suara yang begitu mirip dengan Rahmi. Ia menggelengkan kepalanya dan melanjutkan pencaharian.


Ia tiba disebuah pasar tradisional. Pasar itu begitu padat.


Alif telah mebulatkan tekad. Ia bertanya kesana kemari diantara desak-desakan orang-orang.


''Permisi, apa anda pernah melihat perempuan seperti ini?'' tanya Alif dengan memperlihatkan foto Rahmi. Ia menggelangkan kepalanya kemudian pergi.


''Permisi''


''Permisi''


Alif tiada henti bertanya kesana kemari dari satu orang ke orang lain.


Dhuak.


Sring!


Alif tidak sengaja bertubrukan dengan seseorang. Orang tersebut menatapnya dengan tajam dan entah mengapa Alif merasa kenal dengan mata tajam itu.

__ADS_1


__ADS_2