Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Pulang


__ADS_3

''Alif, kita beneran naik pesawat ini?'' tanya Rahmi.


''Iya, Rah. Sudah berapa kali kau menanyakan itu!'' ucap Alif sedikit jengkel.


''Apa?! Masalah?!'' tuding Rahmi kesal.


''Tidak-tidak!'' ucap Alif cepat.


''Ayo naik,Rah.''


Rahmi naik kepesawat kelas elit tersebut. Rasanya malah seperti di hotel bintang lima saat sampai ditempat mereka disebuah ruangan untuk setiap penumpang.


'Apa aku beli pesawat saja,' pikir Alif tidak puas dengan fasilitasnya.


''Alif kenapa?''


''Aku cuma berpikir membeli pesawat pribadi. Ruangannya agak kecil, tak ada dapur, kamar mandinya kurang besar, tak ada ruang ganti, cuma ranjang dan sofa untuk menonton tv,'' ucap Alif menghela napas.


''KAU PIKIR RUMAH!'' sewot Rahmi. Dari tadi ia sudah menahan emosinya.


''Tapi, Rah. Ryan punya pesawat pribadi, loh!'' ucap Alif membela diri bahwa yang ia katakan tak ada salahnya.


''I-iya sih... ,'' ucap Rahmi pelan.


Ia memang selalu terbang dengan pesawat pribadi. Tapi menurutnya itu agak berlebihan.


Tok, tok.


Rahmi berjalan membuka pintu. Terlihat pramugari membawa makanan ke dalam troli.


''Makanan kelas spesial, untuk penumpang VVIP.''


Rahmi mengambil troli berisi makanan, kemudian ia manaruhnya dekat sofa.


''Gak ada kulkas,'' komentar Alif lagi.


Bhuk.


sebuah bantal persegi menimpa wajah Alif. Rahmi melemparnya dengan bantal sofa yang ada didekatnya.


''Syukuri saja! Yang penting sampaikan!'' ucap Rahmi tegas.


Alif menghela napas, ia merebahkan tubuhnya dikasur besar. Rahmi duduk disofa menonton siaran TV.


Tanpa sadar ia tertidur. Alif terbangun karna haus, ia melihat sekitar namun tak menemukan Rahmi.


Alif bangkit mendekat kearah sofa dimana Rahmi menonton tadi. Ia melihat Rahmi tertidur nyenyak disofa. Alif mengambil air kemudian meminumnya. Ia duduk didekat Rahmi kemudian mengangkat kepalanya untuk menjadikan pahanya sebagai alas.


Alif melihat jam ditangannya mereka sebentar lagi akan sampai. Entah apa yang akan terjadi, dia harus menyembunyikan Rahmi sebelum semuanya siap. Statusnya pun sebagai pewaris mengundang banyak perselisihan dari keluarganya.


...


Pesawat akhirnya mendarat ditanah air. Alif membangunkan Rahmi dengan menggoyangkan bahunya.


Rahmi membuka matanya perlahan, yang pertama kali ia lihat wajah Alif. Rahmi refleks bangun melihat sekitarnya.


''Kenapa, Rah?'' tanya Alif bingung.


Rahmi langsung mundur dengan memasang perlindungan pada tubuhnya.


''Loh? Kenapa, Rah?''


Rahmi menggeleng kuat-kuat.

__ADS_1


''Kamu jangan macam-macan!!''


''Hah?! Aku gak ngapa-ngapain Rah!''


Rahmi mencoba mengingat-ingat.


''Kita dipesawat?''


''Iya, memang dimana?''


'Kukira dihotel, kambing!'


''Heheh... Gak! bukan apa-apa kok!''


''Pesawatnya sudah sampai. Mari turun, Rah. Tapi sebelum itu kamu ganti baju dulu,'' ucap Alif membuat Rahmi bingung.


Setelah berganti pakaian, Rahmi dengan cemberut menatap Alif.


''Kok kaya penjahat aja sampe begini banget!'' protes Rahmi tidak terima.


Dirinya disuruh memakai gamis panjang dengan cadar juga topi berenda hitam. Mukanya saja tidak terlihat tapi masa penglihatannya juga harus terhalang renda topi, lalu semua serba hitam. Apa yang akan orang lihat dan katakan!


''Maaf, Rah. Tapi ini buat kepentingan kita,'' ucap Alif.


Ia juga tak beda jauh dengan Rahmi memakai celana hitam, baju hitam, jas hitam, topi hitam, kacamata hitam. Tapi ia tidak terlihat buruk malah terlihat menawan beda dengan Rahmi yang tidak terlihat apapun kecuali hitam semua.


''Sudah, Rah. Aku juga ikut hitam-hitaman buat kamu,'' ucap Alif merasa bersalah.


''Oh! Jadi kamu mau aku kaya gini sendiri! Tega yah kamu, mas!'' ucap Rahmi menirukan sinetron yang ditontonnya.


''Eh? Rah, jangan gitu dong. Gara-gara sinetron nih,'' guman Alif pelan.


Alif menarik tangan Rahmi untuk segera turun. Mereka langsung jadi pusat perhatian, beberapa orang langsung menyingkir ketika mereka lewat.


'Berasa jadi kaya artis aja. masih mending kalau positif tapi diperlakukan seperti itu dengan pandangan aneh itu menyebalkan.'


Mengesalkannya kenapa harus matanya juga yang tidak boleh dilihat.


''Kenapa mataku gak boleh dilihat orang?''


''Karna matamu cantik, Rah,'' ucap Alif membuat Rahmi mencubit lengannya.


''Bercanda, Rah. Matamu-kan beda, Rah. Makanya aku tutup siapa tau bakal ada yang mengenalinya,'' jelas Alif.


''Bagaimana kalau dikira penjahat dari negara lain?''


''Gak bakal,Rah. Aku punya saham dibandara ini.''


''O-h. Barang kita agk diambil?'' tanya Rahmi melihat Alif terus berjalan hingga keluar bendara.


''Nanti sekertarisku yang ambil. Kita cepet-cepet pulang, soalnya kamu belum minum obat. Mabuk perjalanan nanti kalau minum disekarang.''


Didepan bandara terasa sepi dan terlihat ada beberapa petugas yang melarang orang lewat. Dijalanan telah berjejer beberapa mobil hitam serta tentara.


''Kamu ngapain bikin beginian segala? Katanya sembunyi-sembunyi tapi kalau ginikan bisa ketahuan,'' ucap Rahmi menatap Alif tajam.


''Masa kamu datang gak disambut,Rah. Kamukan spesial, lagian semua sudah aku atur kok,'' ucap Alif menangkup kedua pipi Rahmi dengan gemas.


Rahmi menyingkirkan tangan Alif, terlihat rona merah dipipinya. Ia malu sekali diperlakukan seperti itu di depan umum.


''Ayo cepet pulang! Aku malu dilihatin!'' ucap Rahmi merasakan panas dipunggungnya ditatapi beberapa orang. Selain penampilannya mencolok ia juga harus berada ditengah-tengah tempat yang sepi dan terlihat oleh orang-orang.


''Bukannya aku malah dikira *******? pengamanan dimana-mana, mobil tentara didepan dan pakaiaan hitam-hitam,'' tuding Rahmi.

__ADS_1


Alif mengedarkan pandangannya. Mungkin ia tidak ditangkap petugas bandara tapi pandangan orang-orang tentu beda lagi.


''Mau biar beda gak?'' tanya Alif.


''Beda gimana?''


Syut.


Alif langsung menggendong Rahmi ala bridal style


''Alif!!'' jerit Rahmi.


Jantungnya berdebar-debar dengan rasa malu yang membuatnya ingin cepat-cepat kabur.


''Kalau begini mereka bakal berpikir kita pengantin baru, karna aku posesif jadi wajah istriku ditutup,'' bisik Alif ditelinga Rahmi.


Jantung Rahmi berdengub kencang seperti jantung Alif seolah berada mana yang lebih deg-deg-an.


''Buruan pergi!'' bisik Rahmi lagi.


''Iya.''


Glek.


Rahmi menelan ludahnya saat suara Alif meniup telinganya.


'Malu! Malu banget!! Tolong siapapun sembunyikan aku!'


Bam.


Mendengar suara mobil tertutup Rahmi langsung melepas topi yang membuatnya dalam situasi mengerikan ini.


''Rah, panas?'' tanya Alif sok perhatian padahal gara-gara dia Rahmi jadi begini.


''GAK! Jauh-jauh sana! aku gak mau liat muka kamu!'' ucap Rahmi membalikkan tubuhnya memunggungi Alif.


Mobil berjalan dengan pelan membuat Rahmi gregetan.


''Jalan yang cepat!'' perintah Rahmi.


''Gak! lambat aja!'' sanggah Alif.


''Kamu kok gitu! katanya mau aku minum obat!'' ucap Rahmi berbalik dengan memberi tatapan nyalang kepada Alif.


''Katanya gak mau lihat muka aku?'' tanya Alif menyinggungkan senyumnya.


''Ih! Dasar laki-laki gak guna!'' umpat Rahmi kesal.


''Aku berguna loh sayang. Akukan bisa ngurus perusahaan, bisa main saham, bisa investasi, bisa masak, bisa ngurusin istri dan manja-manjain dia,'' ucap Alif menggoda Rahmi.


''Siapa yang dimanja!!'' sarkas Rahmi.


''Istriku!'' ucap Alif dan langsung mendapatkan templengan dari Rahmi.


''Engakk!!'' malu Rahmi.


''Heheh ... iya, iya, iya Rah,'' ucap Alif mengalah.


''Jangan marah dong kesayanganku.''


Plak.


sebuah lebam merah dipipi Alif akibat tamparan keras dari Rahmi.

__ADS_1


''Sakit, Rah,'' keluh Alif yang hanya dipelototi oleh Rahmi.


Alif hanya dapat tertawa cangung melihat Rahmi ngambek benaran.


__ADS_2