Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Tertangkap


__ADS_3

Rahmi bersembunyi disebuah hotel besar dibanding pulang kevilanya. Ia berusaha keras merusak GPS yang ada ditangannya.


Byur.


GPS-nya tidak rusak meski tercelup dalam air. Ia juga berusaha merusaknya tapi begitu keras. Bagaimana Alif memasukkannya ketangannya.


Ting.


Tiba-tiba muncul semacam kode-kode.


''Sandi?''


Rahmi mengotak-atik GPS itu tapi tak ada hasil. Tanpa Rahmi sadari GPS-nya mengirim sinyal dilaptop Alif.


Ting.


Alif melihat pesan yang datang dari GPS yang ada ditangan Rahmi. Alif tersenyum menyeringai melihat Rahmi yang pasti berusaha melepasnya namun tidak mengetahuinya.


'Berpikirlah Rahmi!'


'Kamu dulu jenius, kenapa GPS kecil saja kau tak bisa membukanya!'


Rahmi tiba-tiba teringat dengan sebuah laptop juga kode yang ada di GPS-nya.


'Pasti bisa!'


Rahmi meminta pemilik hotel untuk membelikannya laptop, tangihannya akan dibayar perusahaannya. Untung wajahnya cukup dikenali hingga ia dapat menghubungi sekertarisnya.


Akhirnya laptop baru sampai. Rahmi langsung mengotak-atik laptopnya dengan memasukkan kode-kode yang ada di GPS.


Trak!


''Terbuka!'' seru Rahmi.


Ting.


Disaat bersamaan pesan masuk ke laptop Alif.


Deg!


''Ken, segara kirim orang ke kordinat ini... Kita juga harus bergegas kesana!''


''Aku harus segera pergi dari sini... Tapi kemana? ketempat yang tidak bisa dijangkau siapapun tapi aku masih bisa bebas... ''


''Laut! Untuk sementara aku bisa bersembunyi dikapal pesiar!''


Rahmi bergegas mengemasi barangnya dan pergi.


''Taksi!''


Ia segera naik kemobil menuju dermaga. Alif mengirim surat kehotel tersebut. Ia mengecek cctvnya Rahmi sudah pergi beberapa detik sebelum ia sampai.


Mobil yang berhenti didepannya saat ia sampai hanya ada satu. Alif berusaha keras mengingat platnya.


''Ken, cari mobil dengan plat... ''


Sekertarisnya mengangguk, ia mengecek cctv seluruh jalanan kota.


''Tuan dia menuju dermaga!''


''Kejar! jangan sampai kapalnya berlabuh!''


...


''Makasih, Pak.'' Rahmi memberitahukan namanya dan menyuruhnya keperusahaannya.


Rahmi menggunakan laptopnya untuk membeli tiket kapal dengan uang perusahaannya.


Rahmi naik kekapal dengan layanan VVIP. Saat sampai dikamar, Rahmi merasakan pergerakan yang menandakan kapal telah berlayar.


''Tuan kita terlambat!''


''Hubungi kelvin! Ini dermaga keluarganya! Aku akan menyusup masuk!''


''Tapi bagaimana, Tuan!''


''Lakukan saja!''


Alif melirik jet SKI. Ia menaiki jet SKI tersebut mengejar kapal pesiar.


''TUAN!!'' Ken langsung menghubungi Kelvin sekaligus menyelesaikan keributan yang dibuat Alif menaiki jet SKI tanpa permisi.


Jet SKI yang dikendarai Alif melaju kencang hingga menyamai kecepatan kapal. Tapi ia tidak bisa naik kekapal. Alif mengitari kapal hingga menemukan jendela yang cukup besar untuk ia masuki.


PRAK!


Alif menerobos masuk hingga membuat keributan.


Keamanan langsung mengelilinginya. Alif membersihkan pecahan kaca yang menempel padanya. Ia memperlihatkan kartu namanya.


''Saya akan bayar kerungiannya... ''


''Kami tidak bisa membiarkan anda begitu saja!'' Penjaga keamanan menondongkan pistol kearah Alif.


''Kalian lihat fota ini... Ini istriku, ia ada dikapal ini.''


Perkataan Alif tampak membingungkan.


''Kami sedikit bertengkar, jadi ia naik kapal tanpa memberitahuku.''

__ADS_1


Mereka langsung menurunkan senjatanya. Alif terbebas dari tuduhan penyusup berbahaya.


...


Angin berhembus bertiup begitu kencang menerpa wajah Rahmi. Ia teringat dimana saat itu ia berada didalam kapal.


'Mungkin saja Alif yang mencoba membunuhku... Tapi mengetahui aku masih hidup ia pura-pura peduli.'


Rahmi menggelengkan kepalanya pelan, ia masih harus mengurus perusahaannya. Rahmi berkutak dengan laptopnya, ia melihat laporan perusahaan selama ia tidak ada.


Saat itu umurnya baru menginjak 15 tahun dan ia sudah masuk perusahaan untuk belajar menjadi direktur.


Kryuukk.


Perut Rahmi berbunyi untuk meminta makan. Ia melirik jam yang ada dikamarnya.


''Sudah jam sepuluh... Apakah masih ada makanan... ''


Rahmi berjalan keluar mencari makanan, ia menyisiri jalan yang dilalui orang-orang hingga tiba disebuah tempat yang penuh dengan orang-orang menyantap makanan.


''Nona mau makan? Ini-''


Rahmi langsung menunjukkan kartunya.


''VVIP!!''


''Tempat Nona ada dibagian atas...,'' ucapnya menunduk sopan.


Rahmi berjalan mengikuti pelayan tersebut. Ia tiba disebuah tempat yang begitu indah untuk melihat langit yang dipenuhi bintang-bintang.


Rahmi memesan makanan kemudian menyatapnya dengan perlahan. Rahmi memandang laut yang biru kegelapan dengan ombak kecil yang menghantam kapal.


'Apa yang berkelap-kelip dilautan...'


'Degh!


'Jangan-jangan itu cahaya kota!! Bukankah kita baru akan kembali sekitar 4 hingga 6 hari lagi!'


Rahmi menatap sekitar yang sepi, hany dia yang duduk makan padahal tempat itu memiliki beberapa meja.


'Tidak mungkin hanya aku pelanggan VVIP dikapal pesiar yang begitu mewah ini!'


Rahmi melihat kelantai bawah yang perlahan-lahan orang-orang mulai pergi dan menjadi sepi. Tapi anehnya koki dan para pelayan tetap sibuk menata makanan ketroli.


'Jangan-jangan ... Alif!'


Tak.


Rahmi berbalik mendengar suara orang mendekat.


''Ups, aku ketahuan... ''


''Istriku mau kemana naik kapal?''


Glek.


Rahmi menelan ludahnya melihat Alif berjalan perlahan-lahan seolah menanti dirinya untuk ditangkap dengan ketidak berdayaannya.


Drab!


Rahmi langsung berlari pergi. Ia berjalan keluar namun pintu keluarnya terkunci. Rahmi melihat jalan keluar yang lain, ia bergegas kesana.


Brak!!


Pintunya tak bisa terbuka. Ia harus kabur, Alif tak akan membiarkannya begitu saja. Bisa saja saat pulang tangan dan kakinya akan diborgol atau dirantai. Ia tidak mau menjadi seperti hewan peliharaan.


''Tolong keluarkan aku!!!''


Rahmi melihat kearah dapur tapi para pelayan juga koki sudah tidak ada.


''Rah... Ayo pulang,'' ucap Alif dengan suara lembut dengan makna tersirat.


''GAK!! PERGI MENJAUH DARIKU!''


Alif menyipitkan matanya, ia tidak suka sikap istrinya saat ini.


Greb.


Alif mencengkram kedua tangan Rahmi.


''Nurut sama suamimu!''


''Le-''


Rahmi menahan suaranya karna wajah Alif semakin dekat dengannya.


''Jangan macam-macam... Rah. Aku bisa jadi baik dan juga kejam karnamu!''


Set.


Alif menarik tangan Rahmi, ia membuka pintu jalan keluar. Sepanjang jalan tidak ada orang sepi seperti hanya ia dan Alif yang berada dikapal.


Cklek.


Ruang besar diatas kapal yang begitu megah terlihat seperti penjara bagi Rahmi.


Brak.


Pintu tertutup juga dikunci oleh Alif. Alif melepas cengkramannya dari tangan Rahmi.

__ADS_1


''Sakit... Rah?''


Alif melihat lebam merah bekas tarikannya secara paksa.


Plak!


Rahmi menepis tangan Alif dengan kasar, ia memandang dengan jijik.


''Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!''


Degh!


Alif menggempalkan tangannya, matanya memerah menahan amarah.


''Kyak!!''


Alif menarik tangan Rahmi kekamar mandi.


Crasss.


Air shower membasahi mereka berdua.


''Kau jijik denganku? Tapi aku suami yang akan selalu bersamamu!''


''Tanganmu juga kotor... '' sindir Alif pelan.


Rahmi mengigil karna air shower begitu dingin.


''Bersih!''


Brak!


Alif langsung mendorong Rahmi keluar dengan keadaan yang basah kuyup.


''Aku... kotor... ''


Tes.


Meski tak mengatakannya langsung, tapi sindiran Alif menyakiti hatinya.


Rahmi menghapus air matanya, ia mencari sesuatu yang dapat menghangatkannya. Rahmi menggulung tubuhnya dipojokkan dengan menggigil kedinginan serta ketakutan akan ruangan besar yang ditempatinya.


''Rah... ''


Alif keluar dengan rapi, ia memakai baju stelan dengan jas besar.


''Ada baju dilemari bagian bawah.'' Setelah berucap Alif meninggalkan Rahmi begitu saja sendirian.


Alif tampak sibuk disebuah ruangan dimana disana berkumpul orang-orang yang telah dipilihnya.


''Seperti dugaan tuan mereka memiliki masalah.''


...


Rahmi beranjak dan mencari baju yang dimaksud oleh Alif.


Rahmi menahan tangannya yang gemataran agar pakaian itu tidak terjatuh.


Mengapa Alif begitu memikirkannya. Karna tubuhnya kecil tidak semua baju cocok untuknya. Pakaian stel yang ada didepannya adalah warna kesukaannya juga model kesukaannya. Tidak mungkin cuma kebetulan, karna ini kapal pesiar, tidak mungkin mempunyai stelan gamis juga kerudung yang besar seperti itu.


Rahmi memakainya dan ukurannya begitu cocok dengannya seperti dibuat khusus untuknya.


Rahmi terduduk termenung cukup lama hingga tanpa sadar ia tertidur.


Cklek.


Alif menatap seisi ruangan dan mendapati tubuh mungil yang tengah meringkuk didekat lemari.


Mereka sudah harus pergi, tapi ia tidak tega membangunkan Rahmi. Alhasil ia mengendongnya turun dari kapal pesiar.


Saat perjalanan menggunkaan mobil Rahmi baru terbangun.


Degh!


''Kamu dimobil... Kita akan pulang kerumah KITA!''


Rahmi memandang tak suka, ia menjauhkan tubuhnya dari Alif yang memeluknya dari tadi.


''Kenapa? Kau jijik?'' Alif tersenyum sinis.


Rahmi mengalihkan pandangannya, enggan untuk menjawab.


''Setelah ini jangan harap bisa hidup bebas... ''


''Apa maksudmu!! Itu hakku! Negara kita memberi Hak kebebasan sejak lahir!!''


''Terserah padaku! Aku suamimu sekarang!''


''Kalau dengan status kau bisa semena-mena! Aku juga bisa sesukaku!''


''Istri harus mengikuti kata suami!''


''Berhenti membahas hal kuno! Manusia punya hak untuk bebas dan memilih! Penceraian ada untuk orang sepertimu!


''DIAM, RAH!''


''Benarkan? kamu bejat, kejam, tak memiliki hati nurani menganiaya istrinya!''


''RAHMI!!''

__ADS_1


PPPIIIIIIIIIPPPPPP.


__ADS_2