
Rahmi menatap dirinya, kali ini pakaiannya lebih sederhana. Baju selutut, celana yang panjang, kerudung yang tidak terlalu panjang dengan sepatu biru yang indah.
Ia ikut bersama Alif kesebuah tempat.
Ckiittt.
Rahmi turun dari mobil, ia tiba disebuah taman yang indah. Namun taman itu sepi, padahal sangat indah.
Alif turun dari mobil menggunakan kacamata hitam, mungkin silau dengan matahari.
''Mau piknik?''
Alif dan Rahmi mengalihkan pandangan ke asal suara. Mereka melihat Ryan dengan pakaian lebih santai membawa sebuah keranjang berisi makanan.
''Tidak!''
Rahmi yang antusias menjadi menunduk mendengar jawaban Alif.
''Tapi Nona yang disana sepertinya tidak terlalu sependapat,'' ucap Ryan tersenyum penuh kemenangan.
Alif melirik Rahmi gadis itu tampak tidak bersemangat.
''Baiklah. Rahmi ikut Ryan, nanti aku menyusul,'' ucap Alif melangkah pergi.
Rahmi melihat arah pergi Alif, ia pergi kesebuah tempat disebrang taman ini yang sedang melakukan pembangunan.
''Mari Nona cantik."
Rahmi mengikuti arah pergi Ryan. Mereka pergi kesebuah pohon besar. Ryan melebarkan sebuah kain didekat pohon tersebut dan meletakkan keranjangnya. Ryan menyusun makanan yang ada dikeranjang da mempersilahkan Rahmi untuk memakannya.
Tanpa ragu Rahmi memakab biskuit yang ada didepannya.
''Enyam,'' gumam Rahmi tersenyum bahagia.
Entah mengapa ia lebih nyaman dengan Ryan. Padahal ia takut dengan orang asing.
Disela makannya, datang seorang perempuan dengan jas putih membawa sebuah alat.
Ia duduk diantara mereka dan tersenyun hangat. Ryan menatapnya dan menganggukkan kepalanya pelan.
''Nona bisa mengulurkan tangannya?''
Rahmi mengulurkan tangannya dan digenggam olehnya.
''Berapa umur Nona?''
''15 tahun,'' ucap Rahmi cepat.
Ryan tersenyum kecut mendengarnya, ia benar umurnya 15 tahun tapi itu 5 tahun yang lalu. Umur sebenarnya adalah 20 tahun.
''Kapan terakhir kali Nona ulang tahun?''
''Bul-'' Awalnya Rahmi yakin dengan jawabannya, tapi entah mengapa ia tidak bisa menjawab.
Tidak tau malu.
Aib keluarga.
Duri dalam daging.
Anak yang tidak berguna.
Beban keluarga.
Gadis bodoh.
Kehancuran keluarga.
Anak pembawa sial.
Rahmi menutup telinganya, entah dari mana semua suara-suara itu datang.
Plok!
__ADS_1
Ia menepuk tangannya menyadarkan Rahmi. Padahal ia tadi berada disebuah pesta, tapi semua orang menatapnya seolah akan melahapnya. Disana ia menggunakan gaun warna merah, berjalan ditengah kerumanan orang-orang dengan menunduk.
Wajah Ryan tampak buruk, ia sudah tidak dapat mengotrol ekspresinya.
''Pertanyaan terakhir ... Tanggal berapa Nona ulang tahun''
Rahmi diam, ia tidak ingat kapan. Rahmi menggeleng pelan.
''Pada saat malam hari begitu terang, bulan bulat sempurna. Hari ulang tahunmu yang ketiga adalah yang paling indah ... Juga paling sederhana,'' ucap Ryan pelan.
Rahmi menatap Ryan, ia ingin bertanya dari mana ia tau. Tiba-tiba sebuah ingatan masuk kedalam kepala Rahmi.
Degh!
Apa, apa ini?
Rahmi melihat sekeliling. Sebuah tempat yang sederhana, namun begitu luas. Tumpukan kado yang tidak begitu banyak. Ibu yang menggendongnya dan ayah yang setia menemaninya. Rahmi menatap dirinya, ia sangat kecil saat itu.
Seorang anak laki-laki berlari kearahnya dengan senyum begitu lebar.
''Star ...."
Tak!
Rahmi tersadar, mungkin itu adalah ingatannya yang hilang.
Perempuan itu melihat Ryan dan menganggukkan kepalanya. Ia membereskan barangnya yang Rahmi tidak tau kapan ia keluarkan.
'Siapa ... Siapa star ... Siapa aku? Siapa Aku sebenarnya.'
''Mari kita makan lagi,'' ucap Ryan memecah lamunan Rahmi.
Ia punya begitu banyak pertanyaan, tapi entah mengapa ia takut akan jawaban yang akan ia dapat.
Ryan menatap sendu adiknya. Ia tersenyum miris, padahal ulang tahunnya itu sudah lewat beberapa tahun.
...
''Alif kenapa belum datang,'' gumam Rahmi pelan melihat teh yang diminumnya.
''Sibuk mungkin,'' ucap Ryan asal. Ia lebih senang Alif tak datang begitu cepat, ia bisa mengisi harinya bersama adiknya.
''Rahmi mau pergi cari,'' ucap Rahmi beranjak dari duduknya dan segera pergi ketempat Alif.
''Apa?!! Tunggu dulu!!!''
Ryan langsung berdiri mengejar Rahmi.
Pipppp.
''Cih.''
Ryan terlambat Rahmi sudah menyebrang jalan lebih dulu.
Syut.
Ryan menyebrang jalan saat ada kesempatam menyelip diantara kendaraan lain.
Ryan menengok kesana kemari mencari keberadaan Rahmi. Namun nihik ia kehilangan Rahmi.
''Gawat!! disinikan bahaya!!''
Disisi lain Rahmi mencari Alif dengan terus berjalan meski tidak tau ia pergi kemana.
Matanya tiba-tiba menangkap sebuah bunga yang cantik hidup ditengah-tengah tempat yang gersang.
Rahmi berjalan kearah bunga itu dan berjongkok untuk melihatnya lebih jelas.
Rahmi menyentuh bunga itu dan menciumnya.
''Harum,'' gumamnya.
''Meong~''
__ADS_1
''Wah lucu!'' ucap Rahmi menghampiri kucing itu dan mengelusnya.
BAM!!
''Meong!!!'' Kucing itu menjerit dan melarikan diri.
Rahmi terkejut, kakinya terasa lemas. Ia berbalik melihat kebelakang. Bunga itu hancur tertimpa besi raksasa. Bila ia tidak pergi ia mungkin sudah tiada.
Bayangan darah berceceran membuat Rahmi gemetaran ketakutan. Tubuhnya lemas, ia abruk terjatuh ketanah.
Semua orang tampak sibuk dengan kejadian yang terjadi. Semuanya panik dan berisik, tapi Rahmi telah kehilangan indra pendengaran juga perasanya.
''RAHMI!!!'' teriak Ryan. Ia berlari menghampiri Rahmi yang terduduk ketakutan.
Greb!!
''Rahmi!!!??''
Ryan berhenti melangkah, ia terlambat selangkah. Alif sudah tiba lebih dulu dibanding dirinya. Sakit, kesal, marah, sedih, khawatir, semua berkecamuk menjadi satu.
''Rahmi!???'' Alif menguncang tubuh Rahmi, tapi gadis itu tidak merespon sama sekali.
Tuk.
Kepala Rahmi terjatuh, ia kehilangan kesadarannya. Sebelum benar-benar matanya tertutup ia melihat Alif.
'Kenapa ... Kenapa kau bereskpresi seperti itu, Alifkan benci Rahmi ...,' ucap Rahmi dalam hati.
Terlihat begitu jelas diwajah Alif. Wajah yang kesakitan melihatnya, khawatir, sedih juga terluka.
Drab!!
Alif menggendong Rahmi berlari kemobilnya. Ia meletakkan Rahmi disebelahnya, Kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Degh!
Ryan tersadar dari lamunannya. Ia juga segera pergi kemobilnya dan mengikuti mobil Alif.
''Sial!!''
''Tidak berguna!! Gagal!!!''
''Gara-gara kucing sialan itu!!''
''Lain kali tidak akan gagal lagi!!''
...
Alif dan Ryan menunggu didepan Ruang UGD.
Alif melirik Ryan yang tampak lebih khawatir dibanding dirinya.
''Anda sudah bisa pulang Tuan Ryan, Anda tidak perlu mencemaskan istri saya,'' ucap Alif menekankan kata Istri.
Ryan dian saja tak menjawab. Ia lebih memilih berdoa agar Rahmi cepat sadar.
Syut.
Pintu UGD akhirnya terbuka, dokter datang dan bertanya siapa keluarga pasien.
''Saya suaminya,'' ucap Alif melirik Ryan sekilas.
Ryan hanya diam, ia tak bisa mengatakan apa-apa sekarang. Ia harus menutup segala rahasia ini sampai keadaan aman. Ia tidak mau mengambil resiko untuk adiknya. Dari pihak alif mau pun pihaknya sama-sama memiliki musuh, tidak menambah musuh itu sudah sebuah anugerah.
''Pasien hanya syok berat dan beberapa saat lagi akan sadar,'' ucap Dokter.
Alif mengangguk dam ia masuk kedalam ruangan tersebut.
Ia melihat Rahmi yang terbaring dengan lemah.
Tak lama kemudian ia dipindahkan keruangan pasien.
Saat Alif keluar ia sudah tidak melihat Ryan. Ia sebenarnya curiga dengan Ryan juga Kelvin yang mendekati Rahmi secara tiba-tiba.
__ADS_1