Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Semua ini rencanaku.


__ADS_3

''ALIF!!''


Gadis itu langsung berlari kearah orang yang ia rindukan.


namanya Rahmi bukan Humairah, ia masih hidup dipelosok benua lain.


Alif memeluk istri yang ia rindukan. Sudah cukup kebohongan yang ia buat. Situasinya telah berbeda, mereka sudah dapat berbahagia. Penyakit Rahmi sudah sepenuhnya hilang, ia telah dinyatakan sembuh total.


Dari sejak awal naik kapal, ia telah sadar ini rencana mereka. Terungkap siapa yang memberi tahu informasi yang dimiliki oleh Laila, pelakunya tidak lain Adelya. Alif juga tahu bahwa April berencana membunuhnya dipersimpangan jalan menuju dermaga.


Mobilnya tak mungkin meledak karna modifnya yang paling canggih. Alif sendiri yang meledakkannya. Ia memeluk Rahmi dengan erat hingga tak mungkin terluka. Benturan mobilnya yang terlempar membuat Rahmi syok hingga pingsan. Rahmi koma begitu lama karna obat kegilaan dalam tubuhnya telah lama tertanam dan dalam dosis besar.


Saat kecelakaan pertama sebelum terjadinya. Rahmi bertemu April, saat itu mereka mengobrol dan dengan mudah April memasukkan obat tersebut kedalam minumannya. April menggunakan dalih meminta maaf atas perbuatannya yang membuat Rahmi terkena tuduhan percobaan pembunuhan pada Chanaya. Rahmi sangatlah polos ia mudah percaya dengan aktingnya yang jelek.


Saat dikapal Rahmi tertusuk, senjatanya telah dilumuri obat kegilaan. Bila ia tidak mati, ia akan gila hingga lebih baik mati.


Tapi tubuh Rahmi merespon obatnya. Membuatnya melupakan segalanya agar tidak tersiksa dan perlahan-lahan struktur ingatannya berubah.


Butuh waktu menyembuhkannya dan demi keamanannya Alif terpaksa berbohong. Saat itu ingatan Rahmi kembali karna obat penawar berupa serbuk dihirup olehnya ketika bertemu Laila. Namun dosisnya tidak cukup dan dapat menjadi kecanduan obat, memperparah kerusakan sel pada otak bila tidak dikonsumsi. Meski pilihan berat tapi itu pilihan paling baik. Fatimah yang merupakan sepupunya dapat merawatnya dengan baik. Alif mengirim Rahmi saat brankar dikatakan aka diotopsi itu bohong, ia dikirim keluar negeri.


Saat mengenggam tangannya, tangan Rahmi saat itu masih hangat hanya badannya yang dingin. Hal itu adalah perbuatan dika. Meski masih hidup ia dapat membuatnya seperti orang mati.


''Mau pulang, Rah?''


''Tidak.''


Degh.


Senyum Rahmi mengambang. Ia melepaskan pelukannya dan bersikap manis didepan Alif.


''Kita jalan-jalan dulu mumpung masih disini!''


''Pfft, baiklah mari kita jalan.''


Alif mengurus biaya perawatan Rahmi. Selama perjalanan Alif cukup banyak bercerita tentang bagaimana situasi hingga menjadi seperti ini.


''Begitu yah... Jadi April yang merencanakannya,'' ucap pelan Rahmi, ia tidak menyangka akan melihat takdir sepupunya seperti itu.


''Kenapa tidak marah?''


Rahmi tersenyum kemudian mengatakannya dengan perlahan, ''Terkadang hal jahat yang kita lakukan karna lingkungan yang mendukung kita berubah menjadi jahat.''


Alif menghela napas, ia mengusap kepala istrinya dengan pelan.


''Kakakmu sehat... Dia kadang sedih saat teringat tentangmu. Cukup lama ia depresi hingga bagaikan mayat berjalan.''


''Syukurlah kakak sehat... Aku juga kangen mereka... ''


''Gak kangen aku?'' tanya Alif memegang tangan Rahmi.


''Gak tuh!'' ucapnya bohong dengan senyum lebar.


Tak!


''Sakit!'' jerit Rahim karna Alif menyentil jidatnya.


''Dasar, gak mau ngaku.'' Alif tertawa kecil.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai disebuah mansion ditengah kota yang menghadap kearah perkotaan dengan lapangan yang luas.


''Alif beli?''


''Iya... Aku-kan kaya. Suaminya Rahmi Afifah,'' ucap Alif mendekatkan wajahnya dengan senyum sombong.


Nyut!


Rahmi mencubit lengan Alif, ia jengkel dengan suaminya itu. Dia-kan cuma nanya.


''Bercanda, Rah.''


Rahmi melepas cubitannya dan segera masuk kedalam. Luas dan megah, rapi juga bersih rumah yang terawat dengan baik.


''Kamar kita mana?'' tanya Rahmi melihat dalam rumah yang berlika-liku.


''Kenapa?'' tanya Alif tersenyum jahil.


''Yah-kan cuma nanya. Aku mau rebahan, sambil melihat handphone! Mana handphoneku?''


Alif menyerahkan handphone Rahmi yang masih baik-baik saja. Mata Rahmi langsung berbinar mendapati handphonenya.


''Buat apa memang?''


''Buat cari cowok ganteng di sosial media.''


''RAHMI!!''


''Ups! Bercanda!!!'' ucap Rahmi berlari naik ketangga dengan Alif yang mengejarnya.


''Cari selingkuhan, Sayang!!'' ucap Rahmi belum berhenti mengusil Alif.


''RAH!!!''


Set.


Alif berhasil menangkap tangan Rahmi. Ia mencengkram kedua tangannya dengan wajah yang didekatkan.


''Bercanda... Jangan marah. Aku cepek mau tidur sambil skrol informasi terbaru tentang perusahaan yang diberikan kakek. Selama inikan aku selalu pinjam punya Fatimah. Jadi, bisa lepasin?''


Alif melepaskannya, tapi tangannya malah berganti menjadi mengenggam tangan Rahmi.


Cklek.


Alif membuka salah satu pintu yang memperlihatkan ruangan luas dengan nuansa hitam putih yang kontras.


Rahmi langsung berjalan kearah kasur merebahkan tubuhnya.


''Gak makan dulu, Rah?''


Rahmi menggeleng, ia sudah terlalu mengantuk. Rahmi tertidur begitu cepat, efek obat yang diminumnya.


Alif tersenyum kecil. Ia berjalan menuju dapur untuk memasak. Meski sederhana tapi sudah cukup untuk mereka berdua.


Alif berjalan kekamar mereka dengan membawa nampan berisi makanan. Saat sampai Rahmi masih tertidur. Wajahnya sedikit pucat dengan tubuh yang sudah agak berubah, tubuhnya terlihat lebih kurus, tingginya bertambah beberapa centi, hal ini menandakan pertumbuhannya yang berhenti kembali normal meski tidak akan mirip orang normal pada umumnya di usianya yang sekarang.


Alif mengoyangkan bahu Rahmi membangunkannya. Meski menolak, tapi Rahmi perlu tenaga untuk kembali beraktivitatas seperti semula.

__ADS_1


Rahmi mengucek matanya, ia bangun dengan muka bantal khas orang baru bangun tidur.


Alif mengambil nampan yang ia letakkan diatas meja kemudian meletakannya didepan Rahmi.


Diatas nampan terdapat sepiring nasi dengan sayur kangkung, tumis udang, ikan asam manis dengan segelas air putih.


Rahmi mendongkak menatap Alif.


''Alif gak makan?''


Alif tersenyum, ia mengambil menyendok nasi dengan lauk yang ada dihadapan Rahmi.


Rahmi membuka mulutnya dan makan dengan perlahan.


''Saya makannya nanti saja kalau kamu sudah makna.''


Rahmi mengambil alih sendoknya. Ia menyendok nasi dengan lauk udang tumis didepannya.


''Aaa!'' perintah Rahmi.


Alif membuka mulutnya dan memakannya dengan sedikit tersipu.


''Kenapa?'' tanya Rahmi melihat ekspresi Alif.


''Tidak ... Rah, kamu gak peka, yah. Itukan sendok bekas kamu makan,'' ucap Alif. Tapi Rahmi masih tidak paham.


''Lalu?''


''Pfft. Gak, bukan apa-apa, Rah.''


Alif mengambil sendok tersebut kemudian menyuapi Rahmi. Rahmi melahapnya tanpa berpikir apapun.


Alhasil mereka malah makan disatu alat makan yang sama.


Entah istrinya itu tidak peka atau bodo amatan.


''Nih minum.''


Rahmi menyisahkan setengah airnya kemudian menyodorkannya pada Alif.


''Alif juga belum minumkan?''


Alif menerima gelas itu kemudian meminumnya hingga tandas.


Puk.


Rahmi menjatuhkan kepalanya dan mengambil posisi terbaik untuk tidur.


''Katanya mau ngecek info terbaru perusahaan,'' sindir Alif yang hanya disenyumi oleh Rahmi.


Alif menggeleng pelan kemudian membawa nampan itu kelantai bawah.


''Tuan! maaf kami datang terlambat!'' ucap pelayan yang baru saja dipekerjakan olehnya.


Alif mengangguk kemudian menyerahkan nampan tersebut. Alif kembali kekamar, ia merebahkan tubuhnya disamping Rahmi. Tempat disebelahnya yang dingin kini terasa hangat.


''Kamu beneran ada disebelahku, Rah.''

__ADS_1


__ADS_2