Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Terungkap.


__ADS_3

Disebuah rumah besar, Ryan menatap keluarga yang dulu ia anggap berharga dengan sinis.


''Kelvin! Kamu bersekokol dengan mereka? Katakan padaku apa yang kulihat bohong!''


Kelvin memalingkan wajahnya, ia tidak akan sanggup menatap mata sahabatnya. Disaat pemakaman ia tidak pernah berpikir keputusannya telah merenggut nyawa seseorang.


''Begitu yah... ,'' lirih Ryan.


''Paman harus bertanggung jawab atas semua ini!!!''


Andra menatap keponakannya dan dokumen yang ada didepannya. Bukti transfer, percakapan, bahkan perjanjian diantara mereka telah memberatkan putrinya.


''Nak, maafkan putriku. Ini salahku tidak membimbingnya... maafkan ia kali ini. Lagi pula ia tunanganmu.''


Ryan menyinggungkan senyumnya, ia duduk dikursi paling tinggi juga megah, dibelakangnya telah berdiri asisten juga polisi serta detektif hebat.


''Maafkan? JANGAN BERCANDA!!''


Ryan menatap dengan kebencian.


''Panggil putrimu kemari!! Ia harus membayar perbuatannya!! Kau pikir aku mau tunangan dengan putrimu itu? Ingat asal usul keluarga Mahesa!!! Dia tidak akan memilih menantu sepertinya!''


''Alif!! Jangan lakukan itu!!''


''DIAM!! ADIKKU MATI KARNANYA DAN AKU HANYA DIAM? AKU BERTUNANGAN UNTUK MEMATA-MATAI PUTRIMU YANG BUSUK!''


Deg!


Mereka menodongkan senjata pada Andra. Andra dengan berat hati menyerahkan putrinya.


''Tidak perlu memanggilku... ''


Pandangan mereka beralih pada perempuan yang datang dengan gaun selutut, rambut tergerai dengan senyum bangga-nya.


''Kamu masih bisa tersenyum?''


April hanya memiringkan kepalanya tidak peduli.


''Ternyata kau membohongiku... Kata-kata cintamu palsu, kau memata-mataiku. Menaruh perekam dan cctv disekilingku juga orang-orang yang kau percayai.''


''Tapi apa kau tau? Aku selalu selangkah lebih cepat darimu... ''


Seorang perempuan keluar secara perlahan.


''Heira!!''


''Benar! Kau lihat apa yang Adelya pegang?''


''Itu obat yang akan membuatnya gila. Ho'oh satu lagi, Adikmu gila karna obat yang kuberikan. Aku sengaja memberinya penawar agar bisa memisahkannya dengan suaminya. Cukup sulit juga menghadapi curut kecil itu.''


Alif menggempalkan tangannya, ia berdiri dan mengambil pistol dari sakunya. Ia menondongkannya kehadapan April.


''Tapi semua telah sempurna. Aku telah membunuhnya, perusahaan ayah akan jatuh ketanganku!!''


''Kau tidak takut malah akan jatuh ketanganku?''


''Hahahah!! Kenapa kau percaya diri sekali. Ayah tidak akan menyerahkannya, karna anaknya membutuhkan obat penawar dariku!''


Andra hanya menunduk. Ia memiliki dua istri, yang satu istri pertama yang sah sedangkan istri keduanya adalah hasil satu malam yang tidak sengaja. Orang tuanya tidak mengakuinya sehingga ia hanya bisa menikahinya dalam agama. Deskriminasi, pengucilan, penghinaan, semua dirasakan oleh April hingga ibunya meninggal dalam rumah kosong yang tak memiliki apapun. Ia juga menderita dengan dilema antara cinta atau putrinya. Setelah beberapa tahun kelahiran April. lahirlah anak dari istri pertamanya, menyingkirkan April hingga dianggap tak pernah ada.


''Apa salahnya dengan Adikku!!''


''Salahnya? IA MENGAMBIL HAKKU!! HAK PERUSAHAAN ITU MILIKKU!! TAPI IA DENGAN ANAK MUNAFIK ITU MENGAMBILNYA!!!''


''STAR TIDAK PERNAH MEMINTANYA!!''


DOR!!


Satu tembekan melesat. April menggeser tubuhnya, tembakan itu meleset tapi mengenai pipinya.


''Karna Star melihat April mendorong Chanaya.''


Degh!


April mengeraskan rahangnya melihat Kelvin.


''DIAM KELVIN!! KITA DISATU KUBU!! INGAT SEKERTARISMU ADA DITANGANKU!!''


''Kau!!''


''Kalau aku memang kenapa!! Ingat Heira ada ditanganku... Aku bisa membunuhnya dengan mudah. Bukankah dia cukup spesial?''


Ryan berusaha menahan emosinya. Ia tidak bisa mengorbankan Heira demi menangkap April.


''Beritanya akan menyebar jika aku tidak menghubungi mereka. Salinan buktinya sudah kukirim kebeberapa orang. Bila aku tak menghubunginya, dalam hitungan detik kau akan hancur,'' ucap sinis Ryan.


Ryan tak pernah menyangka. Dia harus kehilangan adiknya baru memiliki bukti kuat.


''Andai kau tidak melakukan hal yang sama. Aku tidak akan pernah tau penyebab orang tuaku, pengasuhku juga adikku mati karnamu!''


''Pfft... Lalu apa? Bila aku hancur, akan kusebar formulanya. Ribuan orang akan menggila! DAN ITU KARNA KAMU!!''


DOR!


''Kamu mempermainkanku?'' tajam April, tembakannya meleset tapi hampir mengenainya.


''Bila aku mati, Tina akan gila selamanya. Dan kekasihmu juga akan mati... Bagaimana?''


Ryan menggempalkan tangannya. Ia melempar pistolnya juga senjata lain dari polisi serta detektif.


''Sudah! Apalagi yang kau mau?''


''Hancurkan buktinya!''


Ryan berjalan perlahan, ia enggan sekali menghancurkannya.


''HANCURKAN!!''


''Heghh!!''


Ryan melihat tusukan jarum yang akan segera menembus kulit Heira.


''Baiklah!! jauhkan benda itu!''

__ADS_1


''Adelya!''


PRAK!


Crss.


Buktinya hancur, terbakar habis.


''Ingat baik-baik! Bila aku hancur kalian juga akan hancur.''


Ryan mengalihkan pandangannya, ia benci dengan dirinya yang tak berdaya.


''Agar kau tidak mencari masalah. Aku akan mengikatmu seperti Kelvin.''


''APA?!!!''


''AHKKK!!!''


adelya langsung menjauh. Heira memegang kepalanya yang berdenyut, pandanganya terasa buram! Sesak, menyakitkan.


BRAK!!!


PRAKK!


Heira menghancurkan barang disekitarnya.


''APRIL!!!''


''Akan kuberikan obatnya selama kau bersikap baik juga bertunangan denganku.''


Ryan menahan luapan kemarahan didadanya. Tapi ia tidak punya pilihan lain.


''BAIKLAH!! LEPASKAN HEIRA!!!''


DOR!


Sebuah tembakan melesat.


Cres!!


April melihat bagian bawah perutnya yang mengeluarkan darah.


''B-brengsek!''


CRSS!!


''AHKKKK!!!''


Semua orang terkejut melihat Adelya menusuknya dengan jarum suntik.


''K-kenapa...''


BRAK!!


''Mati? Mati!! AKHIRNYA KAU MATI!!! HAHAHAH!! AKU BEBAS!! AKHIRNYA AKU BEBAS!!!''


Semua orang menatap Adelya dengan pandangan menyeramkan. Perempuan itu telah gila.


''Panggil dokter!!!''


Ryan langsung menghampiri Heira yang menggila.


''Heira!!''


''ARGHHH!!''


PLAK!


Ryan membuat Heira pingsan. April sekarang sekarat apa yang harus ia lakukan.


''PANGGIL DOKTER!!''


Brak!


Pintu rumah terbuka, memperlihakan ribuan polisi juga tentara mengepung tempat itu.


April langsung dibawa kemobil dengan diikuti ribuan tentara. Heira dibawa menggunakan mobil lain.


Pandangan Ryan langsung tertuju pada Alif yang masih memakai pakaian duka walu sudah lewat berhari-hari. Ia juga memegang foto istrinya.


Ryan berlari kearah Alif dan melayangkan pukulannya.


DHUAK.


''APA YANG KAU LAKUKAN!!!''


Alif menyeka bibirnya yang mengeluarkan darah, ia menatap Ryan yang dengan meremahkan.


''Kau tidak becus mengurus masalah.''


''KAU!! Memang apa yang kau bisa?!! ADIKKU MATI KARNA KAU TIDAK MENJAGANYA DENGAN BAIK!''


Plak!


Alif menampar Ryan, Ryan tidak berhak mengatakan apapun tentangnya.


''BRENGSEK!! KAU MEMBUNUHNYA!! PUTRIKU AKAN GILA SELAMANYA!!!''


Andra menerjang Alif.


BRAK!


BHUK.


BHUK!


Mereka terjatuh ketanah, Andra terus memukul wajah Alif. Alif tidak menahannya sama sekali.


''HENTIKAN!!'' Rahmat berusaha memisahkan mereka.


''LEPASKAN AKU!!''


Anak buah Rahmat langsung mengamankan Andra.

__ADS_1


Dilain sisi Kelvin masih tertegun dengan kejadian yang sekejap mata telah terjadi.


TUAN! Seriuslah! kita sedang rapat!!


''Tina... ,'' gumam Kelvin pelan.


Alif bangun, ia menyeka wajahnya yang babak belur.


''Kau... Apa yang akan kau lakukan sekarang!! KORBANNYA SEMAKIN BANYAK!!!''


''KAU KEJAM!!! KAU MENGORBAN NYAWA ORANG LAIN DEMI KEPENTINGANMU!!'' teriak Kelvin menyambar keras baju Alif.


''Tidakkah kita sama? Kau juga mengorbankan Rahmi!! Kau yang juga satu kubu dengannya!! Kau termasuk dalam rencana pembunuhan ISTRIKU!! DERMAGA!! KAU YANG MELAPORNYA BAHWA KAMI DIDERMAGA!!!''


Kelvin tersenyum kecut. Benar, dia termasuk pelaku pembunuhan.


Dia mengetahui segalanya dan hanya diam.


''BERENGSEK!! KAU DIAM SAJA!!'' teriak Ryan mencengkram kerah baju Kelvin.


''Heh... kau juga tidak becus jadi kakak!'' ucap Kelvin menyidir. Ryan memang orang yang tidak peka dan mudah dibodohi hingga tidak sadar melepasnya setelah tau ia bersangkutan dengan rencana pembunuhan adiknya saat dikapal pesiar waktu itu.


BHUK!!


''DASAR KEJAM!!''


BHUK.


BHUK!!


Ryan terus memukul wajah Kelvin hingga hancur. Darah berceceran dimana-mana. Tidak ada yang menghentikannya. Alif hanya menatap tanpa rasa kasihan. Meski Kelvin melakukannya untuk melindungi sekertarisnya.


''CUKUP!! BUKANKAH KAU TIDAK JAUH BEDA RYAN!!'' ucap Alif sinis.


''Apa maksudmu!!'' tajam Ryan.


''Kau bertunangan dengan musuhmu! Dan kau rela tidak memberikan Rahmi keadilan dengan alasan yang sama!!''


''KAU JUGA SAMA ALIF!!''


''Benar!! semuanya benar!! Kau, Kelvin! juga diriku! Kita hanya diam dan lebih memilih mengorbankan RAHMI!''


BHUAK!


Ryan tidak bisa menahan emosinya, ia melayangkan pukulan kepada Alif.


Alif tersenyum meremehkan. Disaat ini mereka hanya bisa menyalahkannya.


Alif jadi teringat dengan Rahmi, saat itu ia juga menyalahkannya atas apa yang menimpanya.


''Jangan! Jangan sakiti Alif!!''


Semua pandangan langsung beralih kepada gadis kecil yang berjalan dengan susah payah.


''Chanaya!!'' Andra langsung berlari kearah putri kecilnya.


''Saya tidak apa ayah,'' ucap Chanaya melebarkan senyumnya.


''Bagaimana bisa!!'' tanya Kelvin dengan terkejut.


''Tentu saja bisa... Aku sudah menyiapkannya dengan lama. Temanku seorang dokter, dengan Adelya ditimku semua bisa terjadi.''


''Kalau semudah itu kenapa paman tidak melakukannya!!'' tanya Ryan tajam.


''Karna Adelya tidak bisa bergantung dengannya. Aku membutuhkannya untuk mengetahui bahan apa yang April gunakan. Dan Adelya membutuhkanku untuk menstabilkan posisinya juga terlepas dari jeratan April,'' ucap Alif memandang dengan sendu wajah istrinya.


''Kapan kau mengetahuinya?'' tanya Ryan. Ia kalah selangkah dari mereka semua.


''Dari awal aku sudah curiga... Aku selalu sibuk hingga tengah malam untuk meneliti obatnya. Kerja sama dengan perusahaan yang dipegang Adelya sudah lama hingga mudah untuk mendukungnya.''


''Aku sadar diriku dimanfaatkan. Aku juga punya hati nurani. Aku butuh berdiri sendiri, meski April yang manaikkanku keposisi direktur! Diriku selalu dibawahnya, menjadi suruhannya, melakukan kejahatan atas suruhannya! Dia juga bisa membuangku kapan saja demi tujuannya! Aku juga memiliki hal berharga!''


''Tina bisa disembuhkan?!!''


''Yah,'' singkat Alif.


Tes.


Air mata Ryan terjatuh, ia terduduk dengan lemas. Apa gunanya sekarang Ia tidak punya siapapun lagi.


Berita menyebar dengan cepat, kejatuhan April telah diketahui semua orang. Ia dimaki-maki, juga dihina seluruh masyarakat.


...


''Nih obatnya... ,'' ucap Dika memberikan sebotol cairan obat kepada Kelvin.


''Kamu temannya Alif yang meneliti obat kegilaan itu?''


Dika mengangguk. Ia sudah menangani Heira dan akan sadar beberapa saat lagi.


Diruang tunggu itu terasa nostalgia bagi Ryan. Ia melirik Kelvin, Ryan mendekati Kelvin kemudian mengulurkan tangan kepadanya.


''Maaf... Mari berdamai. Bagimu Tina begitu penting, Heira juga penting untuku.''


Kelvin menerima uluran tangan Ryan. Untuk orang-orang yang kita sayangi terkadang kita menjadi gila juga bodoh untuk mereka. Kita mengetahui bahwa itu salah namun tetap menjalankannya hingga hanya akan membuat luka untuk diri sendiri.


...


Beberapa bulan berlalu, April dijatuhi hukuman penjara sampai akhir hayatnya.


''Ayah bawa makanan... Chanaya juga datang kemari melihatmu,'' ucap Andra dibalik kaca dihadapan April.


''BERISIK!! PERGI!! AKU TIDAK MAU MELIHAT KALIAN!!''


Tes.


Air mata April terjatuh. Akhirnya begitu buruk, ia tidak mnedapatkan apapun dan kini dikasihani oleh mereka.


''Sejahat apapun dirimu. Kamu tetap anakku,'' ucap Andra pelan.


Andra menarik Chanaya pergi karna April tidak ingin bertemu dengan mereka.


Chanaya melihat April dari kejauhan. Saat tau dia memiliki kakak lain ibu, ia begitu senang tapi ibunya membenci kakaknya. Chanaya berharap mendapatkan kasih sayang dari kakaknya tapi kakaknya malah membencinya.

__ADS_1


__ADS_2