
Pagi datang dan cahaya matahari menyulusup kedalam sebuah rumah.
Rumah yang dihuni oleh tiga orang manusia yang datang dari kota.
Alif duduk dibalkon rumah dengan melihat matahari terbit. Dingin yang menusuk tulang kini terasa hangat.
''Apa yang kau lihat?'' tanya Ryan.
''Langit ...,'' jawab Alif pelan.
Ryan duduk dikursi ia ikut memandang langit. Memang langit disini sangat indah dibanding dikota.
''Mau dengar ceritaku ...?'' ucap Ryan pelan.
Alif tidak menjawab, ia duduk disebelah Ryan.
Melihat Alif tidak mengiyakan juga menolak Ryan tersenyum kecil.
''Dulu ada sebuah keluarga ... yang mayoritas semuanya pembisnis, tak lain juga sebuah keluarga ini. Iya melahirkan penerus seorang putra yang sangat disayang, ia dilatih untuk menjadi sempurna. Hidupnya tidak lebih dari sekedar harapan orang-orang hingga ... Keluarga itu melahirkan anak perempuan, hidupnya yang hanya ada pelajaran, prestasi, jalan ... Menjadi berbeda, ia menemukan hal yang lain dari hidupnya ... Membahagiakan adiknya, menjaga senyumnya hanya berlandaskan itu ia berubah 180 derajat untuk adiknya. Kakak sempurna ia dapatkan dengan mudah, jalannya menjadi lebih mudah, semua terasa indah'' Ryan tersenyum dengan sendu.
''Bukankah itu kau?'' ucap Alif menatap Ryan.
Ryan menatap Alif, entah Alif akan mengerti apa tidak.
''Benar ... Tapi semua tak berlangsung lama, setelah sebuah tragedi yang menyebabkan ia kehilangan kedua orang tuanya,'' tatapan Ryan langsung berubah. Terlihat diwajahnya kesedihan yang mendalam, jujur ia belum bisa berdamai dengan takdir.
Alif tak dapat mengatakan apapun. Kehilangan, ia tau rasanya bagaimana ditinggal orang yang mereka sayangi. Seperti Ryan terkadang ia juga merasa begitu sedih telah ditinggal oleh ibunya sejak ia masih kecil.
''Kau lihatkan saat dirumah sakit ...'' ucap Ryan menatap Alif.
Alif mencoba mengingat apa yang Ryan maksud. Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia paham.
''Rahmi sakit, psikisnya bermasalah ... Umurnya bukan 15 tahun. Tahun ini ia berumur 20 tahun, tapi ingatannya kacau dan berhenti pada saat orang tua kami meninggal. Meski umurnya sudah 20 tapi tubuhnya berhenti tumbuh karna psikisnya'' ucap Ryan mengalihkan pandangannya.
Tes.
''Aku frustasi, lelah. Aku sudah melakukan berbagai cara agar adikku sembuh tapi tak ada yang berubah''. Ryan menunduk dalam, dia adalah laki-laki yang telah kehilangan adik juga keluarganya dalam waktu yang sama.
Meski adiknya bernapas, tapi apa bedanya dengan tidak ketika tidak ada kehidupan dimatanya seolah hanya menunggu kematian.
Ryan kemudian menatap Alif tajam.
''Jangan menambah sakit adikku lagi ... Ini bukan peringatan tapi permohonan,'' ucap Ryan menatap Alif dengan serius.
''Aku tak akan menyakitinya,'' ucap Alif bagaikan sebuah janji.
''Aku pegang kata-katamu,'' ucap Ryan beranjak dari duduknya.
Alif memandang langit. Rasa bersalahnya semakin menjadi setelah mengetahui kenyataan mengenai istrinya.
Nyutt.
__ADS_1
Alif memegang dadanya terasa sakit. Sesak hingga rasanya ia akan mati kehabisan napas.
Bagaimana ia harus merubah segalanya, bagaimana jika tidak ada yang berubah. Semakin Alif berbikir hatinya semakin terluka. Kenapa ia harus sekejam itu pada istrinya saat itu.
''AKHHH!!!''
Tiba-tiba Kelvin keluar dengan wajah berantakan.
''Kita dimana?'' tanyanya setengah sadar.
''Didesa lawu ...,'' ucap Alif menatap Kelvin dari atas hingga bawah.
''Owh iya gw lupa!! Ahkk rasanya mau gila!!'' ucapnya Mengacak-acak rambutnya kemudian masuk lagi kerumah.
Rasanya ingin pulang sekarang juga. Dingin yang menusuk membuatnya mengigil dan tidak ada selimut hangat yang biasa ia pakai, kasur yang sempit juga keras, kamar yang berlapisan kayu karna mereka tinggal dirumah kayu, suara angin yang bagaikan bisikan hantu gentayangan, suara kayu tua setiap melangkah, Rumah itu bagaikan rumah hantu bagi Kelvin yang terbiasa hidup mewah.
...
''Kak berasnya habis,'' ucap Rahmi pada Heira.
Haira yang membaca buku sambil tiduran langsung bangun dan melihat tempat beras.
''Yah ... Habis,'' ucapnya pelan.
''Beli beras dimana kak?'' tanya Rahmi.
''Ekhm ... Anu, i-itu ....'' Heira sama sekali tidak bisa mengatakannya.
'Ah syukurlah' ucapnya dalam hati.'
Mana bisa ia bilang uangnya habis, ia memang sudah harus bekerja lagi untuk menghidupi dirinya juga adiknya itu.
''Disebelah barat perempatan jalan dekat penjual telor bebek,'' ucap Heira berjalan kembali ke sofa.
Rahmi mengangguk, ia keluar dari rumah pergi membeli beras.
Syut.
Tanpa diduga ia bertemu Alif dipersimpangan jalan. Mata mereka bertemu, mereka saling menatap seolah berbicara dalam iringan tatapan yang kian terlihat sedih.
Drab!
Rahmi mempercepat langkahnya dan melewati Alif begitu saja.
''Maaf.''
Langkah Rahmi terhenti, namun ia juga tidak berbalik.
Alif menatap pungung kecil yang terlihat rapuh itu yang dapat terluka kapan saja.
''Maaf telah menyakitimu ... Istriku''
__ADS_1
Semua keluar begitu saja dari mulutnya. Alif tulus mengatakannya pada Rahmi.
DRAB!
Langkah Rahmi kian menjauh hingga ia tak sadar bahwa dirinya berlari. Dari pelupuk matanya keluar bening cair, pertahanan yang ia bangun langsung runtuh begitu saja. Ia pikir tak akan bisa memaafkan Alif, tapi mendengar ucapan maafnya telah membuat hatinya melemah.
''Rahmi ... Kau tak apa?'' tanya Daniel. Ia lewat dan tak sengaja melihat Rahmi yang menunjukkan wajah yang menyedihkan.
''Aku tak apa.'' ucap Rahmi mengalihkan pandangannya.
Ia tak mau ada yang melihat pertahanan yang ia pasang runtuh secara perlahan dan hanya menyisahkan dirinya yang menyedihkan.
''Mau beli beras?''
Rahmi mengangguk pelan, ia berjalan dengan pelan sangat pelan hingga daniel jadi merasa sungkan untuk bertanya lebih jauh.
''Rah, kita sudah sampai,'' ucap Daniel pada Rahmi.
Rahmi terus berjalan hingga tida sadar sudah melewati tempat yang akan ia beli beras.
''Makasih,'' ucap Rahmi tersenyum pada Daniel.
Senyum yang Rahmi berikan malah membuat Daniel merasa tertusuk pisau. Senyum tulus yang mengandung luka hingga tak berani untuk menatap matanya.
Daniel pergi dengan perasaan tidak enak karna Rahmi terlihat tidak baik-baik saja.
Setelah membeli beras Rahmi duduk disebuah papan kayu yang lebar. Ia duduk sendiri dengan sejuta hati yang harus ia tata.
'Kenapa baru sekarang ... Istri? Kapan kau menganggapku istrimu ... Alif! AKU BENCI PADAMU!!!' Rahmi meremas pakaiannya. terlihat guratan kemerahan saking kuatnya ia meremasnya.
Tes.
Rahmi mengusap air matanya yang jatuh.
'Jangan menangis ... Jangan menangis untuknya!!!' Sekuat apapun ia berusaha bertahan, air matanya tetap jatuh membasahi pipinya.
''Huk ... Sakit!! Tapi tak ada yang bisa mengobatinya, lukanya berbekas hingga tak dapat ditutupi lagi!!!''
Perlahan Rahmi mulai berhenti menghapus air matanya. Air matanya turun begitu deras, perasaan yang bertumpuk kian pecah begitu saja.
''Bagaimana aku harus memaafkanmu bila lukaku masih terbuka begitu lebar.''
Rahmi menatap tangannya yang memiliki bekas luka. Luka serpihan kaca yang begitu besar.
Tidak berguna!
Pembantu!
Nyutt!
Rahmi memegang dadanya yang terasa sakit.
__ADS_1
''Memaafkan mungkin mudah namun tak mungkin untuk melupakan'' Rahmi menelan salivanya berat, ia sudah tidak meneteskan air mata, pandangannya berubah tajam.