
Disuatu pagi yang indah. Seorang gadis tengah memandang ke langit yang cerah. Yah, Rahmi baru saja selesai mencuci. Rahmi berjalan dengan senyam-senyum, ia menaruh keranjang pakaian dekat mesin cuci. Kemudian dengan antusias mengambil air untuk menyiram tanaman yang ia tanam. Terlihat tumbuhan hijau telah tumbuh, Rahmi jadi begitu senang dibuatnya.
Sudah berapa hari Alif tidak pernah marah-marah lagi, ia menjadi irit bicara dan hanya memerintahnya.
Rahmi menjatuhkan tubuhnya diatas padang rumput yang hijau. Udara yang segar menyeruak masuk kehidungnya, kicauan burung dan bunga bermekaran.
'Hidup tidaklah begitu buruk,' pikir Rahmi.
...
Cklek.
Deg!
''Ah... A-ab-Abby!!''
Abby menatap menantu-nya begitu lekat. Tubuh yang kurus, tangan yang tak terawat, wajah kusam. Apa yang telah dilakukan anaknya selama ini.
''A-abbyy si-sila-hkan m-mas-suk,'' gugup Rahmi.
Abby masuk kedalam dan duduk diruang tamu. Rahmi berjalan cepat untuk menyiapkan teh.
Rahmi berjalan dengan begitu cepat hingga tidak sengaja menginjak pakaiannya.
Dhuk!.
''Ahkkk!!''
Tuing.
Rahmi membuka matanya satu karna ia tak merasakan apa-apa. Matanya melebar saat melihat Abby menahannya agar tidak terjatuh.
''Ma-MAKASIH!!'' Teriak Rahmi tanpa sadar.
Abby meletakkan nampan diatas meja, kemudian memberi isyarat pada Rahmi agar duduk disebelahnya dengan menepuk-nepuk.
Puk.
Rahmi duduk disebelah Abby menatap sang mertua yang memandangnya dengan tatapan yang ia tak ketahui.
''Rahmi bahagia?''
''Iya Abby!! Rahmi bahagia,'' ucap Rahmi polos.
''Baguslah kalau begitu,'' ucap Abby pelan dengan sedih.
Bahagia? Apa benar menantu-nya bahagia? Dirumah yang begitu besar tanpa pelayan siapa yang membersihkannya.
Abby tau dengan jelas, luka ditangan Rahmi, jidat yang masih terlihat lebam dan wajahnya yang sudah tak secerah saat mereka bertemu. Bahkan mata yang bagaikan matahari itu kini terlihat redup, meski Rahmi tersenyum. Ia dapat menangkap kesedihan didalamnya.
''Rahmi ... Apa yang Rahmi lakukan setiap harinya?''
Rahmi tampak diam sejenak, ia berpikir apa yang harus dikatakan agar tidak terjadi keributan.
''Rahmi ... Melakukan apa saja,'' ucap Rahmi dengan cepat sambil tersenyum cengingiran.
''Benerkah? Abby pengen tau.''
Dengan Antusias Rahmi menarik tangan Abby, menggelilingi rumah. Rahmi menceritakan hal apa saja yang dilakukan-nya.
...
Alif telah sampai dirumah, ia lelah menghadiri berbagai rapat. Alif memasuki rumah, berharap bisa segera istirahat.
''Kau sudah pulang.''
Deg.
Alif menatap suara yang berat yang memekang telinga-nya. Abby dan Rahmi tengah minum teh sambil makan cemilan, kemudian datanglah Alif.
''Duduklah disini,'' ucap Abby melirik putranya.
Alif menatap mereka dengan tajam tanpa bergerak sedikit pun.
''Rahmi ... Ini ambillah,'' ucap Abby tersenyum hangat, kemudian ia memberikan sebuah handphone kepada Rahmi. Karna anaknya itu sudah tidak bisa diharapkan lagi.
''Rahmi, masuklah keruangan yang ada diujung sana. Tutup dengan rapat pintunya,'' ucap Abby menunjuk ruangan yang ada diujung sekali dari sudut rumah.
Rahmi mengangguk dengan cepat dan ia segera pergi kesana.
''Kenapa diam?'' tanya Abby sinis.
''Apa lagi yang ingin Abby katakan?'' tanya Alif tersenyum remeh.
''Dimana sopan santun-mu pada ayahmu?''
''Hilang dengan kekecewaan,'' jawab Alif menantang.
__ADS_1
Alif berjalan pelan dan berdiri dihadapan Abbynya, ia menunjuk kearah pintu menyuruh Abbynya keluar dari rumahnya.
''Abby tidak pernah mengajarkanmu seperti itu!!!''
Alif memalingkan wajahnya kesal. Memang kenapa, itu haknya, ini rumahnya.
''Abby tidak pernah mengajarkanmu jadi anak brengsek ... Abby TIDAK PERNAH AJARKAN ANAK ABBY JADI BINATANG!!!!
''DIAM!!!''
''Apa yang Abby tau!!!''
''Tau? Kamu-kan yang membuat Rahmi bekerja siang dan malam!!! Kamu juga yang membuat luka dikepala dan ditangannya!!!''
Alif terdiam memalingkan wajahnya.
''Kenapa diam? Jawab!!!''
''Binatang saja akan kasihan bila melihat makhluk kecil yang tak berdaya ... Apa kau mau menjadi predator!!!''
''TERSERAH ABBY!!!''
Plak.
''KELUAR!!! ALIF TIDAK MENERIMA ABBY!!!''
''ALIF!!!!''
Abby memegang dadanya yang terasa nyeri, anak yang ia besarkan telah dibutakan.
''Kalau begitu Abby akan ambil Rahmi kembali ... ,'' ucap Abby dengan enggan.
Deg.
''GAK BOLEH!!!''
''Kenapa? Dari pada ia disiksa olehmu terus!!!'' ucap Abby tajam.
''Keluar!!! ABBY KELUAR!!!!''
''K-''
''KELUAR!!!''
''...''
''KELUAR!!!''
''Alif... A-''
PRAK!
''KELUAR ABBY!!!''
Melihat putranya yang sudah kekeh dengan keputusan-nya. Akhirnya Abby berjalan keluar, meninggalkan rumah yang ditinggali oleh anaknya.
Diusir oleh anak yang ia besarkan abby tak pernah memikirkan hal seperti itu akan hadir dalam hidupnya.
Nafas Alif tersenggal-senggal. Emosinya benar-benar memuncak.
Sementara disudut ruangan, Rahmi tertidur begitu lelap.
PRAK!!
BRAK!!
CTAR!!
SRET!!
Alif merusak segala barang yang ada disekitarnya. Ia melempar TV dengan kesal, ia menjatuhkan jam besar yang berdiri diruang tamu itu, meja yang terbuat dari kaca dipukul dengan tangannya, meneteskan darah yang begitu deras.
Perlahan ia berjalan keruangan dimana sosok gadis bertubuh kecil tengah tertidur lelap.
Ckat.
Ckat.
Alif berusaha membuka pintu itu tapi terkunci. Kemarahannya menjadi bertambah dengan rasa kesal.
BRAK!
Alif menendang pintu itu hingga hancur. Disana terlihat sosok gadis kecil yang tertidur begitu lelap, terlihat wajahnya yang letih.
''BERANI-NYA KAU!!!''
Rahmi langsung terbangun mendengar teriakan yang memekang telinganya. Ia menatap Alif yang ada didepan-nya dengan keadaan berantakan.
__ADS_1
GREB!!
''Sa-sakit!''
''Hiks ... Sa-sakit...,'' keluh Rahmi.
Alif tidak peduli, ia menarik tangan-nya dengan begitu kuat, menyeretnya keluar ke halaman.
''Dasar kotor!''
BYUR!!
Alif menjatuhkan Rahmi kedalam kolam berenang yang dalam.
'Huk ... Tolong!! Tolong!!'
Rahmi meronta-ronta didalam air. Ia tidak bisa bernapas, napasnya tercekat. Air masuk kedalam mulutnya begitu banyak.
Byur!
Rahmi berhasil naik kepermukaan, ia berusaha berenang kearah tepian.
BYUR!
Tanpa rasa kasihan Alif menahan kepala-nya kedalam air.
'Huk ... Tolong ... Jangan! Rahmi belum mau mati!!!'
Rahmi berusaha memberontak, melepas cengkraman Alif pada kepalanya.
Bhuk!
''Huk-huk''
Alif menariknya dengan paksa keluar dari kolam berenang. Napas Rahmi tersenggal-senggal, tubuhnya terasa lemas setelah perlawanan yang begitu keras.
Sret!
Deg!
''AHKKK!!''
Alif menyeret kaki Rahmi dengan begitu kuat, duri yang ada dirumput, menusuk kulit-kulitnya.
Saat melewati tangga yang ada saat akan memasuki rumah, Alif tersenyum menyeringai.
Dhuk.
''Huk!''
Rahmi berusaha menahan keras dentuman yang terjadi pada kepalanya. Alif terus menyeretnya. Saat sampai di tangga menuju lantai dua, Alif terkekeh menatap gadis yang sudah tak berdaya diseretnya itu.
Deg!
Rahmi berusaha keras memberontak, ia tidak mau diperlakukan seperti itu. Kepalanya bisa pecah.
''Tidak!! Lepas!!!''
Greb!
Cengkraman Alif semakin kuat. Ia dengan perlahan naik keatas, seolah menikmati penderitaan yang Rahmi rasakan.
Tuhan ... Jika engkau adalah sang pencipta yang mencintai. Jika engkau sangat mencintai hamba ... Bawalah hamba dari nereka ini.
Rahmi berusaha keras menahan dentuman yang terjadi pada kepalanya hingga anak tangga terakhir.
Rahmi dengan air mata yang berderai benci, ia sangat benci pada laki-laki yang telah menyiksanya dengan begitu kejam.
Ckelk.
Alif membuka sebuah ruangan kosong yang gelap tanpa jendela, tanpa satupun cahaya yang ada disana.
Brak!
Alif melempar Rahmi kedalam ruangan itu.
''Huk,huk,'' dengan lemah Rahmi berusaha bangkit.
''Renungkanlah kesalahanmu,'' ucap Alif dingin.
Cklak.
''TIDAK!!''
Teriakan Rahmi tidak dihiraukan olehnya sama sekali.
Rahmi berusaha membuka pintu tapi tak ada gunanya. Ia menggedor-ngedor pintu itu tapi tak akan ada yang menolongnya.
__ADS_1
''Hiks ... Kenapa ... Apa salahku.''