Star! Istri Kecil

Star! Istri Kecil
Sakit


__ADS_3

Disudut ruangan lantai dua, dikamar yang yang gelap. Rahmi memeluk lututnya dengan ketakutan.


Udara didalam ruangan itu begitu dingin ditambah dirinya yang baru tercebur kedalam kolam berenang. Dingingnya lantai terasa menusuk tulang. Rahmi mengigil kedinginan sekaligus panas yang dirasa mulai menjalar hingga kepalanya terasa berdenyut.


Waktu terasa begitu lambat. Kegelapan seolah akan memakannya. Rahmi memeluk lututnya erat, duduk dipojokan tanpa cahaya. Ia tidak dapat melihat apapun gelap tanpa cahaya.


Cklek.


Rahmi mendongkak-kan kepalanya melihat pintu yang terbuka. Terlihat Alif memandangnya dengan hina.


Nyut.


Sakit, hatinya sakit mendapati perlakuan seperti itu. Dia adalah orang terburuk sepanjang masa.


Sret.


Melihat sebuah roti dan air yang dibawanya, tanpa sadar kakinya berlari kesana. Rahmi berlutut sambil mengadahkan tangannya keatas.


Syut.


Cklak.


Alif memberikan makanan itu di tangan Rahmi, kemudian ia kembali menutup pintu itu.


Rahmi meneteskan air matanya, ia bagaikan tahanan. Tapi tahanan sepertinya lebih bahagia darinya.


''Hamp.''


Rahmi menyandarkan tubuhnya ditembok dan memakan roti yang hanya sebesar tangannya. Rahmi memakannya dengan perlahan.


Tes.


Bajunya kembali basah oleh air mata. Dimana letak kesalahannya. Seberapa keras ia berpikir, ia tak menemukan jawaban apapun.


Waktu ... Rahmi tidak tau ini sudah hari keberapa. Tubuhnya terasa lemas, meski Alif sering datang membawakannya makanan.


Satu, dua, tiga ... Rahmi menghitung sudah berapa kali Alif datang.


''Delapan,'' gumamnya.


Delapan hari ... Mungkin ia sudah terkurung selama empat hari.


Dhuk.


'Ngantuk ... Tidur sebentar.. Ti-dak ap-ak-an.'


...


Cklek.


Alif datang kembali membawakan Makanan. Alif mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia telah kurung selama lima hari.


Deg!


Prak.


Alif menjatuhkan nampannya, Rahmi yang selalu berlari mengadahkan tangannya tidak lagi datang. Gadis itu tertidur dalam dinginnya lantai.


Syut.


''Rahmi!! Rahmi!??? Rahmi ....'' Seberapa keras Alif memanggil dan menggoyangkan tubuhnya, Rahmi tidak sadarkan diri.


Tak.


Dung.


Tak.

__ADS_1


''Tuan Anda mau kemana?'' tanya pelayannya.


Alif tak menghiraukannya sama sekali. Ia berlari menggendong Rahmi. Rumah yang selalu Rahmi bersihkan kini dibersihkan oleh tiga orang pelayan.


Brak!


Alif menaruh Rahmi dikursi sebelahnya, dikursi yang dibenci bila Rahmi duduk disebelahnya.


Brum!


Mobilnya melaju kencang, tapi tuhan tidaklah mendukungnya. Kemacetan yang padat serta langit yang mendung. Sulit menerobos jalanan yang macet total.


Alif mengambil handphonenya menelpon seseorang untuk membereskan masalahnya.


''Gw dijalan Kenaya, bukakan jalan dalam lima menit,'' titahnya mutlak.


Tut.


Setelah jalanan terbuka, Alif melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


''Hosh ... ,'' napas-nya tersenggal-senggal dengan pakaian yang basah, ia menerobos hujan.


''Tolong cepat!!! Ada pasien butuh penenganan!!'' teriak suster.


Datanglah brankar dengan dokter serta suster yang lain. Mereka membawa Rahmi menuju ruang UGD.


Alif menunggu diruang tunggu berharap, Rahmi baik-baik saja.


Waktu berjalan cepat menambah rasa cemas Alif karna dokter tak kunjung keluar.


''Allahuakbar ... Allahuakbar.''


Adzan berkumandang dengan indah, langit tak lagi berduka. Ia menampilkan warna kemerah-merahan bahwa matahari akan terbenam.


Saat mendengarkan Adzan Alif diam dalam tubuh gemetaran.


Nasehat Abby tiba-tiba tergiyang dikepalanya.


''Alif ... Apa yang kau lakukan?'' tanya Dika tajam.


''Jangan bilang kau menyiksanya?'' tanya Dika tersenyum miris.


''Kau benar-benar sudah gila ... Aku tidak percaya punya sahabat sepertimu ... Hatiku tidak kuat menjelaskannya, dengarkan saja apa yang dikatakan asistenku,'' ucap Dika berlalu pergi.


Dia yang memeriksa Rahmi. Tubuh yang penuh luka, kekurangan gizi, trauma yang parah. Dia menjadi dokter agar ia bisa menyelamatkan nyawa orang-orang. Bila sahabatnya hampir merengut nyawa orang, apakah ia pantas tak kecewa. Hatinya hancur, tiada sahabat yang baik, hanya sahabat yang kejam.


Dika tiba-tiba berhenti ia berbalik dan berdiri dihadapan Alif. Alif mengangkat kepalanya menatap manik-manik mata Dika.


Plak!


''Aku tidak tau apa penyebabnya tapi kamu harus tau, umur sebenarnya 20 tahun. Kekurangan gizi membuatnya tidak tumbuh selama 5 tahun dan beberapa faktor tentang psikisnya bermasalah.'' Dika menghela napas panjang.


''Sadarlah ... Bila perempuan yang kau sakiti itu adalah Ibu yang paling kau sayang ... Apa kau akan diam saja bila ia dianiaya? Dimana nuranimu? Dimana ajaran yang telah Abbymu tanamkan? Cahaya islam telah hilang dihatimu ... ,'' ucap Dika dengan miris.


''Kau masih tidak sadar ... Kelakuanmu malah menyiksa dirimu. Hatimu memberontak dengan sifatmu. Kau pernah meminta obat tidurkan?! Kau tidak akan pernah bisa tidur karna dosamu terlalu banyak pada makhluk yang seharusnya kau lindungi. Apa kau pikir Aminah akan tetap menyukaimu? Ia akan sangat membencimu. Ia tetap ikhlas kau menikah dan memaafkan Istrimu yang hadir ditengah kalian."


''Cukup!!!''


Dika tersenyum miris menatap sahabatnya yang telah berubah drastis.


''Yah ... Benar, Cinta dan cinta mengubah segalanya ... ,'' ucap Dika tertawa renyah. Kemudian ia kembali melangkah pergi.


Dalam keheningan rumah sakit, tamparan yang diterima Alif begitu terasa. Dia terus diam, meski Rahmi sudah dipindahkan ketempat rawat inap.


Alif berjalan keruangan rawat Rahmi, ia menatap Rahmi yang terbaring lemah dengan wajah yang pucat pasih, tubuhnya lebih kurus.


Perkataan dika melayang dipikirannya bersamaan dengan perkataan abbynya beberapa hari lalu. Bayangan ia menyiksa Rahmi dari awal hingga akhir terbayang dipikirannya.

__ADS_1


....


Syut.


Drap, drap.


'Gelap'


'Gelap sekali ... Dingin, Hiks. Ami ingin pulang.'


Drab.


Drab.


Suara langkah kaki terdengar nyaring. Langkah pelan kini berubah menjadi langkah cepat.


'Kapan ... Kapan kegelapan ini berakhir!!!'


Greb!


Rahmi membuka matanya perlahan. Ia menggerjapkan matanya karna lampu yang begitu silau.


Rahmi memandang seisi ruangan. Putih, bau obat dan tangan terinfus, ia ada dirumah sakit.


Nyutt.


''Ishh.''


Rahmi memegang kepalanya yang terasa berdenyut.


Alif terbangun merasa ada pergerakan disekitarnya. Ia tertidur dengan mengenggam tangan sang istri.


''Kau sudah bangun?''


Deg!


Tubuh Rahmi menggigil ketakutan, ia menengok dengan perlahan.


''Kau tidak apa?''


Tubuh Rahmi ketakutan dengan hebat, ia gemataran dan wajahnya pucat.


'Tidak! Tidak mau!'


Rahmi bangun dan berusaha lari. Namun ia terjatuh karna tubuhnya lemah.


''Rahmi!!''


Alif buru-buru membantu Rahmi. Rahmi memberontak saat tangannya disentuh oleh Alif.


''Tidak!! Pergi!! Jangan!! Jangan!! Hiks.. Siapapun tolong aku!!!'' teriak Rahmi.


Alif tertegun, ia memperhatikan Rahmi yang kacau dengan tubuh ketakutan. Alif melihat tangannya yang gemataran.


Apa yang ia lakukan selama ini.


''Dokter!!!'' Teriak Alif keluar memanggil dokter.


Dokter dan suster segera datang menangani Rahmi.


Dika menatap kasihan kepada sahabatnya terlihat sangat terpukul.


''Karma ... Meski aku tidak punya hak untuk mengatakannya. Tapi ini akibat perbuatanmu, tidakkah kau pernah berpikir anak seusianya bisa bertahan menikah dengan orang asing sudah luar biasa. Kau menyiksanya dengan kejam, ia pasti telah mengalami trauma terberat."


''Cukup! Jangan menambahi lagi ... ,'' ucap Alif pelan.


''Baiklah, karna aku sudah membuka matamu. Biar kubuka lebih lebar lagi. Terima laporan kesehatannya,'' ucap Dika memberikan kertas yang agak tebal kepada Alif.

__ADS_1


Alif menerimanya dan membacanya secera seksama. Lama, sangat lama baru ia membalikkan halaman demi halaman.


__ADS_2